Bab 2 dari 2
Pagi datang tanpa benar-benar membawa cahaya ke dalam ruangan William De Luca. Tirai tebal masih tertutup, membuat sinar matahari yang mulai muncul di luar hanya mampu menyelinap tipis melalui celah kain gelap. Di atas meja maIahoni yang sama, Bayangan Sang Raja masih terbuka, seolah buku itu telah menjadi satu-satunya benda yang mampu menahan perhatian seorang pria yang biasanya tidak pernah membiarkan sesuatu menguasai pikirannya. William berdiri di dekat jendela dengan secangkir kopi hitam yang tidak disentuh sejak beberapa menit lalu. Matanya terlihat lelah, tetapi wajahnya tetap tidak menunjukkan apa pun. Selama bertahun-tahun, orang-orang mengenalnya sebagai pria yang tidak mudah kehilangan kendali. Tidak peduli seberapa buruk keadaan, William selalu tahu apa yang harus dilakukan. Namun kali ini berbeda. Sebuah novel telah masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.
Pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun masuk dengan langkah hati-hati. Namanya Marco, salah satu orang yang paling lama bekerja untuk William dan termasuk sedikit orang yang diizinkan masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk berkali-kali. Ia membawa sebuah map hitam di tangan. Ketika melihat William masih berdiri di depan jendela, Marco tidak langsung berbicara. Ia tahu atasannya belum tidur. Semua orang di rumah itu mengetahuinya. Selama tiga malam terakhir, William hanya keluar dari ruang kerjanya untuk minum kopi, menerima beberapa panggilan penting, lalu kembali membaca buku yang sama.
“Sudah selesai?” tanya William tanpa menoleh.
“Sudah, Tuan.”
Marco meletakkan map di atas meja. “Kami mengumpulkan informasi awal tentang Bella.”
William akhirnya berbalik. Pandangannya langsung jatuh pada map tersebut. Ia berjalan perlahan menuju meja, mengambilnya, lalu membukanya. Foto pertama adalah foto Bella yang tampaknya diambil saat menghadiri sebuah acara buku. Perempuan itu tersenyum ke arah kamera. Rambutnya jatuh melewati bahu, dan tidak ada sedikit pun ekspresi takut di wajahnya. Foto berikutnya memperlihatkan Bella sedang menandatangani buku untuk pembaca. Foto lainnya memperlihatkan dirinya duduk di sebuah kafe sambil menulis. Tidak ada yang aneh. Tidak ada pengawal. Tidak ada pria mencurigakan di sekelilingnya. Tidak ada simbol organisasi kriminal. Tidak ada tanda bahwa perempuan itu hidup di dunia yang William kenal.
“Nama lengkap?”
Marco menyebutkannya.
“Usia?”
Marco menjawab.
“Pendidikan?”
Jawabannya normal.
“Riwayat keluarga?”
Normal.
“Hubungan dengan organisasi kriminal?”
“Tidak ditemukan.”
William membalik halaman berikutnya. Semakin ia membaca, semakin ia tidak menyukai apa yang dilihatnya. Bella benar-benar terlihat seperti seorang penulis biasa. Ia tumbuh jauh dari dunia yang sedang William selidiki. Ia tidak pernah diketahui bepergian ke tempat-tempat yang berkaitan dengan organisasinya. Ia tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang namanya tercantum dalam jaringan William. Tidak ada rekening mencurigakan. Tidak ada komunikasi rahasia yang ditemukan. Bahkan riwayat pekerjaannya menunjukkan bahwa sebagian besar hidup Bella dihabiskan di antara buku, laptop, penerbit, dan berbagai acara literasi.
“Tidak ada?” William bertanya.
“Tidak ada yang mencurigakan.”
William menatap Marco beberapa detik. “Kau yakin?”
“Kami memeriksanya dua kali.”
William kembali melihat foto Bella. Perempuan itu sedang tersenyum sambil memegang salah satu salinan Bayangan Sang Raja. Senyum yang sangat biasa. Terlalu biasa untuk seseorang yang berhasil menulis rahasia organisasi William dengan ketepatan seperti itu.
“Justru itu yang membuatku tidak percaya.”
Marco diam.
William mengambil buku dari meja dan membukanya pada beberapa halaman yang telah ia tandai. “Lihat ini.”
Marco mendekat.
William menunjuk salah satu bagian. “Deskripsi rumah di tepi danau.”
Marco membaca beberapa kalimat.
“Kami tahu tempat ini,” katanya akhirnya.
“Bukan hanya itu.”
William membalik beberapa halaman. “Ada transaksi yang digambarkan di sini. Lokasinya benar. Waktunya hampir benar. Bahkan orang yang hadir dalam pertemuan tersebut memiliki karakteristik yang sama.”
Marco mengerutkan kening.
“Dan ada satu lagi.”
William membuka halaman tempat nama itu muncul.
“Crow.”
Wajah Marco berubah.
Ruangan kembali sunyi.
“Tidak mungkin,” katanya pelan.
William menatapnya. “Itulah yang ingin kuketahui.”
Marco membaca bagian tersebut sekali lagi. “Berapa banyak orang yang mengetahui nama itu?”
“Tidak banyak.”
“Apakah mungkin ada seseorang dari dalam?”
“Pasti ada.”
Jawaban William terdengar begitu tenang hingga justru terasa lebih mengerikan.
Ia menutup buku itu.
“Mulai sekarang, jangan beri tahu siapa pun bahwa kita sedang menyelidiki Bella.”
Marco mengangguk.
“Dan jangan sentuh perempuan itu.”
Marco tampak sedikit terkejut. “Tuan?”
William menatapnya dingin. “Aku ingin tahu dari mana informasi itu berasal. Kalau Bella benar-benar tidak tahu apa-apa, aku ingin mengetahui siapa yang menggunakan namanya.”
“Dan jika dia berbohong?”
Tatapan William berubah tajam.
“Kalau dia berbohong, aku sendiri yang akan menanganinya.”
Marco mengangguk dan keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, William kembali sendirian. Ia menatap buku itu cukup lama sebelum duduk. Tangannya bergerak menyentuh sampulnya. Ada sesuatu yang mengganggunya sejak pertama kali membaca novel tersebut. Bukan hanya karena detailnya benar, tetapi karena cara penulis menggambarkan tokoh utama terasa terlalu personal. William seperti sedang membaca versi fiksi dari dirinya sendiri.
Ia membuka halaman pertama.
Tokoh bernama William De Luca muncul di sana sebagai seorang pria yang mewarisi kerajaan kriminal keluarganya setelah kematian ayahnya. William dalam novel itu digambarkan dingin, sulit mempercayai orang lain, dan selalu selangkah lebih maju dari musuhnya. Ia tidak memiliki banyak teman. Ia hanya memiliki orang-orang yang setia karena takut, hormat, atau kepentingan.
William membaca deskripsi itu dengan rahang mengeras.
“Omong kosong,” gumamnya.
Tetapi ia tahu sebagian besar deskripsi tersebut benar.
Yang membuatnya lebih tidak nyaman adalah satu bagian yang bahkan belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Dalam novel itu, tokoh William memiliki kebiasaan berdiri di depan jendela pada malam hari ketika sedang memikirkan masalah besar.
William perlahan mengangkat kepalanya.
Ia memang sedang berdiri di depan jendela beberapa menit lalu.
Bagaimana Bella bisa tahu?
Ia menutup buku itu lagi.
Untuk pertama kalinya, William merasa perempuan bernama Bella itu bukan sekadar penulis yang terlalu banyak melakukan riset.
Ada seseorang di belakangnya.
Seseorang yang mengetahui kehidupan William.
Seseorang yang mungkin sengaja memilih Bella sebagai alat.
William mengambil ponselnya dan menelepon nomor lain.
“Periksa semua komunikasi Bella selama satu tahun terakhir.”
“Semua komunikasi?”
“Semua.”
“Termasuk pesan pribadi?”
“Semua.”
William berhenti sebentar.
“Cari siapa pun yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya sebelum novel itu diterbitkan.”
Panggilan berakhir.
William bersandar di kursinya. Matanya kembali pada buku di hadapannya.
Ia tahu satu hal dengan pasti.
Bella bukan target utama.
Belum.
Namun jika ada seseorang yang menggunakan Bella untuk membongkar rahasianya, maka perempuan itu telah ditempatkan tepat di tengah perang yang bahkan tidak ia ketahui sedang berlangsung.
---
Di sisi lain kota, Bella sama sekali tidak mengetahui bahwa hidupnya sedang diperiksa oleh salah satu pria paling berbahaya di dunia kriminal.
Pagi itu, ia duduk di ruang kerja sambil menatap layar laptop. Secangkir kopi berada di sebelah tangannya. Beberapa lembar catatan memenuhi meja. Sejak bangun tidur, ia sudah menerima puluhan pesan mengenai novel barunya.
Namun ada satu hal yang membuat pikirannya sedikit terganggu.
Salah satu wawancara kemarin kembali muncul di media sosial.
Seorang wartawan bertanya dari mana Bella mendapatkan inspirasi untuk menulis dunia mafia yang begitu detail.
Bella masih ingat jawabannya.
“Riset dan imajinasi.”
Ia tersenyum kecil ketika mengingatnya.
Memang hanya itu.
Bella tidak pernah bertemu mafia.
Tidak pernah berurusan dengan transaksi gelap.
Tidak pernah melihat pembunuhan.
Ia hanya seorang penulis yang terlalu suka menggali detail untuk membuat cerita terasa nyata.
Ia membuka dokumen baru dan mulai mengetik.
Namun setelah beberapa kalimat, tangannya berhenti.
Entah mengapa, ia tiba-tiba merasa seperti sedang diperhatikan.
Bella menoleh ke arah jendela.
Tidak ada siapa pun.
Hanya jalanan di bawah apartemennya dan beberapa kendaraan yang lewat.
Ia menggeleng dan kembali ke laptop.
“Paranoid,” gumamnya.
Bella tidak tahu bahwa beberapa kilometer dari tempatnya berada, seorang pria sedang menatap fotonya.
Dan ia juga tidak tahu bahwa penyelidikan terhadap dirinya baru saja dimulai.
William De Luca belum pernah bertemu dengannya.
Belum pernah mendengar suaranya secara langsung.
Belum pernah melihat ekspresi wajahnya selain dari foto.
Namun ia sudah mengambil satu keputusan.
Ia akan menemukan kebenaran tentang Bella.
Apa pun yang harus dilakukan.
Karena bagi William, ada dua kemungkinan.
Bella adalah perempuan paling berbahaya yang pernah masuk ke dalam hidupnya.
Atau seseorang telah menjadikan Bella pion dalam permainan yang jauh lebih besar.
Dan William tidak pernah membiarkan pion bergerak tanpa sepengetahuannya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya