Evermore

Bab 1 dari 2

Bab 2
100%

Bab 1: Prolog

Cinta tak selalu hadir dari pertemuan yang megah. Sering kali, perasaan itu tumbuh dari hal yang sederhana—dari ujung bibir yang sedikit terangkat saat berpapasan, tawa renyah yang menyelinap di sela percakapan serius, hingga sorot mata teduh yang seolah mampu menghentikan putaran waktu.

Mulanya, pria itu hanyalah sosok asing bagi Hana. Namun, entah bagaimana, kehadirannya mampu meruntuhkan dinding yang selama ini ia bangun begitu rapat. Rasa itu menyusup ke ruang terdalam hatinya, tumbuh tanpa izin, lalu menjelma menjadi sesuatu yang tak lagi mampu ia kendalikan.

Kehadirannya perlahan menjadi kebiasaan, lalu menghadirkan kenyamanan yang tanpa disadari tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Bersamanya, Hana tak pernah membutuhkan janji-janji muluk. Cukup dengan bahu yang selalu siap menjadi sandaran ketika dunia terasa berat, serta sepasang telinga yang bersedia mendengar segala keluh kesah yang bahkan tak sanggup ia ucapkan.

Dalam kesederhanaan itu, sosoknya menjadi begitu istimewa—seperti dermaga hangat di tengah dinginnya kota Seoul, sekaligus satu-satunya manusia yang mampu merobohkan pertahanan Hana.

Malam di Pantai Jeongdongjin terasa begitu tenang. Deburan ombak menjadi satu-satunya suara yang terdengar, berpadu dengan hembusan angin laut yang membuat ujung hidung Hana memerah.

Hana merapatkan mantel sambil berjalan menyusuri pantai. Butiran pasir lembap tenggelam sedikit demi sedikit di bawah pijakannya. Tak ada percakapan. Hanya suara deburan ombak dan gesekan halus kain mantel yang sesekali bersentuhan. Ia menunduk, memperhatikan bayangan tinggi di sampingnya yang memanjang di atas pasir, tampak kokoh dalam temaram malam.

Embusan angin yang lebih kencang membuat Hana menggigil. Ia refleks merapatkan mantel, berusaha menahan dingin yang menusuk kulit. Langkah di sampingnya ikut terhenti, membuat Hana menoleh dan mendapati sosok itu sudah berbalik menghadapnya.

Tanpa berkata apa-apa, tangan pria itu terulur dan meraih jemari Hana. Hangatnya genggaman itu perlahan mengusir rasa dingin yang sejak tadi menyelimuti tubuhnya.

Tangannya ditarik sedikit lebih dekat, membuat jantungnya berdegup cepat. Hana mendongak dan mendapati sepasang mata biru safir menatapnya dengan penuh kelembutan. Saat itulah ia menyadari, momen yang selama ini dinantikan sekaligus ditakutinya akhirnya tiba.

Lalu, dengan suara rendah dan penuh keyakinan, pria itu berkata, “Aku mencintaimu, Hana-ya.”

Satu kalimat. Tiga kata.

Cukup untuk mengoyak ketenangan dan menenggelamkan Hana dalam badai yang tak terduga.

Semua perasaan yang selama ini Hana kira mampu dikendalikan, kini meluap tak terbendung. Ketakutan, rasa bersalah, dan kegelisahan datang bersamaan. Namun, di antara semua perasaan itu, ada kelegaan yang perlahan memenuhi hatinya. Seolah, momen ini akhirnya menjadi jawaban atas penantian panjang dan doa-doa yang selama ini ia selipkan dalam setiap sujud.

Cinta yang selama ini Hana kira hanya ia rasakan seorang diri, ternyata berbalas dengan perasaan yang sama besarnya. Perasaan yang ia yakini tak pantas untuk dimiliki, kini berdiri nyata di hadapannya.

Hana menatap lurus ke dalam manik mata biru safir itu. Dalam bisikan hati yang bergemuruh, ia mengakui satu hal.

“Ternyata, jatuh cinta padamu benar-benar di luar dayaku.”


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab