Beyond The Code

Bab 1 dari 5

Bab 2
100%

Bab 1: PROLOG

Ingatan itu terputus. Terakhir yang dirinya ingat, sesaat sebelum kesadaran menghilang, orang asing menanyakan alamatnya. Ia menjawab seadanya, lalu melangkah pulang membawa belanjaan mingguan. Di tengah hiruk-pikuk kota, ia bahkan sempat berhenti sejenak, terkekeh membaca grup chat teman-temannya yang merencanakan reuni akhir tahun.

"Kalian jadi datang?"

"Iya, tapi tunggu jadwal liburku ya, mumpung musim dingin."

Sebagai yatim piatu, Katarina terbiasa mandiri. Kerabat yang menampungnya sejak balita, setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan dan menghabiskan dua bulan dalam koma sebelum mati otak, telah memberinya kebebasan. Ironisnya, kematian orang tuanya yang mendonasikan organ merek, justru memberinya inspirasi aneh. Katarina merawat tubuhnya dengan disiplin, seolah mempersiapkan diri untuk warisan yang sama, menjadi pendonor saat otaknya kelak mati. Baginya, itu semacam tugas mulia yang memberinya ilusi kendali atas hidup.

Namun, kendali itu sekarang lenyap.

Pandangannya gelap oleh kain penutup, melilit matanya terlalu kencang. Pelipisnya berdenyut sakit, kelopak mata bahkan sulit untuk dibuka. Kedua pergelangan tangannya terikat kaku di atas kepala, disusul pergelangan kakinya yang bernasib sama. Udara dingin menggigit kulitnya yang nyaris telanjang. Andai mulutnya tidak dibungkam lakban yang merekat menyakitkan, ia pasti sudah menjerit histeris.

"Sudah bangun?" Suara berat itu menggema tepat di sebelahnya. Katarina membeku karena dirinya mengenali suara itu. "Apa kabar? Masih ingat aku? Empat tahun... dan kabar yang kudengar tentangmu kurang menyenangkan. Kamu tahu tidak, kalau aku tidak pernah bisa tidur nyenyak karena memikirkanmu?"

Mikael!

Kasur berderit saat pria itu duduk di tepiannya. Suara itu memantul di dinding, mengonfirmasi imajinasi Katarina bahwa ruangan ini kosong. Hanya ada dirinya dan ranjang besi ini dan tentu saja Mikael.

"Bertahun-tahun aku mencarimu. Setelah kita mengakhiri... apa itu? Hubungan tanpa label? Kamu terlihat lebih bahagia tanpaku. Apa selama bersamaku, kamu tidak dapat sedikit pun kebahagiaan?" Nada Mikael merendah, terdengar sangat terluka. "Aku sudah memberikan semuanya. Soal tempat tidur, loyalitas, kasih sayang... tidak ada laki-laki yang bisa memanjakanmu sepertiku. Jadi, mengapa? Mengapa kamu pergi tanpa sepatah kata pun? Mengapa kamu diam, seolah aku tidak pernah berarti?"

Percuma, batin Katarina. Aroma alkohol menguar dari napas pria itu. Mikael tidak akan pernah paham dari mana kekacauan ini bermula.

"Sejak kamu pergi, semuanya jadi kacau." Pria itu memaksa tubuh Katarina berguling, lalu menarik kasar penutup mata dan merobek lakban di mulut gadis itu. "Bisa berikan aku satu alasan?"

"Tidak ada."

Mikael mendengkus, lalu tertawa pelan. Katarina akhirnya bisa melihat wajah pria itu. Masih sama rupawannya, masih sama berbahayanya seperti terakhir kali mereka mengakhiri hubungan ranjang tanpa status itu.

"Aku suka rambutmu. Terlihat lebih dewasa," ucap Mikael, jemarinya menyentuh ujung rambut Katarina.

"Kamu juga masih tampan. Seolah waktu berhenti."

"Pujianmu selalu menghibur."

"Kenapa? Tersinggung dipuji?"

"Jangan bilang kamu merayuku cuma supaya aku melepas ikatan ini. Benarkan, Sayang?" Katarina memiringkan wajah, menatap Mikael dengan tatapan datar yang nyaris terlihat jijik.

Mikael justru tersenyum, seolah tatapan itu adalah sesuatu yang menggemaskan. "Kalau bukan Sayang, enaknya aku memanggilmu apa?"

"Terserah. Aku tidak pernah melarang."

"Maduku?"

"Lucu. Kamu pikir aku semanis itu?"

"Jauh lebih manis. Gula, mungkin?" Mikael terkekeh, menatap Katarina seolah gadis itu adalah sesuatu yang manis hanya untuk dibayangkan dan dinikmati. "Lalu, bagaimana kalau kita bernegosiasi?"

Katarina memaksa napasnya tetap teratur sambil memindai ruangan yang ternyata kosong. Tidak ada jendela. Hanya ada satu pintu kayu yang tampaknya tidak terkunci. Jika ia mau, ia bisa saja menerima "negosiasi" itu, melucuti senjata Mikael, dan berlari. Tapi ke mana? Ia buta arah. Jika kabur tanpa perhitungan, ia pasti tertangkap.

Toh Mikael tidak akan membunuhku, pikirnya. Dia terlalu obsesif untuk memilikiku.

Tapi, siapa yang bisa menjamin? Katarina tahu betul, hati manusia adalah tempat paling gelap untuk bersembunyi. Otak yang terobsesi bisa mengambil kesimpulan gila tanpa mempedulikan konsekuensi. Berharap pada rasionalitas Mikael sama saja dengan mencari oksigen di ruang hampa.

"Negosiasi macam apa?" tanya Katarina akhirnya.

Mikael tersenyum. Jemarinya yang hangat mengusap pipi Katarina dengan kelembutan yang mengerikan, kontras dengan situasi mereka yang mencekam. Sentuhan itu memancing memori-memori yang seharusnya sudah Katarina kubur, membiarkan gairah yang seharusnya mati kembali meracuni logikanya.

"Kamu tahu kenapa aku sangat menggilaimu?" bisik Mikael. "Kamu selalu tenang. Kamu tahu posisimu, kamu tidak bertindak ceroboh. Tapi satu kesalahanmu, Kat... kamu tidak pernah percaya padaku."

"Kamu tahu kenapa aku tidak percaya padamu?"

Rahang Mikael mengeras. Ia menatap tajam ke manik mata Katarina. Gadis yang terikat dan tak berdaya ini masih berani menantangnya, tanpa sedikit pun terlihat gentar di tengah situasi yang seharusnya meluluhkannya.

Katarina menatap balik, lalu tersenyum tipis.

"Karena aku tidak mau mempertaruhkan nyawaku yang berharga ini padamu, Tuan."


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab