Customer Service

The Crown

Bab 2 dari 3

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Retakan di Balik Gaun Emerald

Keheningan yang melanda ruangan VVIP restoran fine dining di SCBD itu begitu pekat, hingga detak jarum jam dinding bertema klasik seolah bergema nyaring di telinga setiap wanita di sana. Amplop cokelat tebal yang diletakkan Maya di atas meja marmer Carrara putih berdiri anggun namun mengancam, memancarkan aura kehancuran yang tak terelakkan. Di bawah pendar cahaya lampu gantung Murano, bayangan dari amplop itu tampak memanjang, seolah hendak menelan gaun emerald green mahal yang melekat pada tubuh Vika.


Vika terpaku, bola matanya yang terbiasa memancarkan aura dominasi kini bergetar hebat. Jari-jemarinya yang dihiasi berlian berkarat-karat terasa dingin bagai es. Ia menatap amplop itu seolah-olah benda tersebut adalah bom waktu yang siap meledak dan memusnahkan seluruh kejayaan yang ia bangun selama belasan tahun. Kehidupan mewahnya, status sosialnya sebagai ketua The Crown, kekuasaannya di lingkaran elit Jakarta, semuanya kini digantungkan pada selembar kertas tebal berukuran folio tersebut.


“Apa-apaan ini, Maya?" suara Vika keluar berupa bisikan parau, kehilangan nada anggun yang biasanya ia banggakan. "Kamu jangan coba-coba bikin lelucon murahan di depan kami. Kamu tahu siapa saya, dan kamu tahu betul apa akibatnya kalau kamu berusaha merusak reputasi The Crown!"


Maya tidak sedikit pun gentar. Ia justru menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi berbalut kulit asli, menyilangkan kaki dengan gerakan lambat yang penuh percaya diri. Tatapan matanya yang bebas dari halangan kacamata hitam Celine kini terbuka lebar, memancarkan sinar dingin yang tak tersentuh emosi.


“Lelucon?" Maya terkekeh pelan. "Vika, kalau ada yang lucu di ruangan ini, itu adalah gaun haute couture yang kamu pakai sekarang. Apakah perancang busana terkenal itu tahu kalau gaun seharga tiga ratus juta rupiah itu dibeli menggunakan cek giro yang mundur enam bulan dan berisiko saat dicairkan?"


Clara, yang berdiri tak jauh dari sana, langsung terperanjat. Ponsel pintarnya yang sedari tadi ia genggam hampir saja terlepas. Meski ia sedang panik memikirkan tunggakan cicilan penthouse-nya di Senopati, insting drama dan kehausannya akan skandal langsung terpantik. Mata Clara berbinar antara rasa tidak percaya dan kepuasan terselubung.


"Tunggu... apa maksudmu, Maya?" selak Clara, memajukan tubuhnya ke arah meja. "Cek mundur? Kak Vika... kamu belanja baju mahal pakai uang dingin?"


"Diam kamu, Clara!" bentak Vika, membalikkan wajahnya yang memerah padam karena amarah dan malu yang tak tertahankan. "Jangan ikut campur! Kamu sendiri tidak ada bedanya! Kamu pikir aku tidak tahu kalau semua tas Hermes di lemari kamu itu sebagian besar dibeli secara konsinyasi dan kamu menunggak bayar ke reseller selama berbulan-bulan?"


"Kurang ajar!" wajah Clara mendadak pucat. "Semua tas saya asli dan dibayar lunas! Jangan asal ngomong ya, Vika!"


"Cukup!" suara Maya memotong perdebatan murahan itu bagai pisau tajam yang membelah udara. Suaranya tidak keras, tetapi kepemimpinan yang dipancarkannya memaksa kedua wanita itu mengatupkan mulut rapat-rapat.


Maya menggeser pandangannya dari Vika ke Clara, lalu kembali ke amplop cokelat di tengah meja. "Kalian berdua sama saja. Dua bangkai yang saling menutupi bau busuk masing-masing demi dipuja oleh netizen bodoh dan sesama wanita haus status di kota ini. Kalian memamerkan kekayaan seolah-olah kalian adalah pemilik dunia, padahal fondasi hidup kalian dibangun di atas tanah yang sedang runtuh."


Vika berusaha menetralkan napasnya yang memburu. Sebagai seorang wanita yang terbiasa memegang kendali, ia tidak boleh membiarkan seorang Maya—wanita yang selama ini dianggap hanya sebagai penyedap rasa di arisan The Crown—mengintimidasi dirinya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Vika meraih amplop cokelat itu.


"Aku tidak tahu permainan apa yang sedang kamu mainkan, Maya," kata Vika seraya mencoba membuka perekat amplop tersebut. "Tapi kalau ini cuma gertakan sambal..."


Kata-kata Vika terhenti seketika saat jarinya mengeluarkan setumpuk dokumen dari dalam amplop. Di halaman paling atas, terdapat cetakan dokumen transaksi perbankan lepas pantai (offshore bank accounts) berstempel rahasia, disertai salinan sertifikat tanah dan dokumen pengalihan aset yang memuat nama suaminya, serta nama perusahaan milik suami Clara.


Namun yang paling memukul dada Vika adalah sebuah salinan surat perjanjian investasi bodong berangka tahun 2018. Di lembar paling bawah, tertera tanda tangan suaminya, tanda tangan suami Clara, dan sebuah nama yang sangat Vika kenal: almarhum ayah Maya, Hendra Wijaya.


Seketika itu juga, ingatan Vika melesat kembali ke masa delapan tahun lalu. Masa di mana perusahaan properti suaminya mengalami lonjakan kekayaan secara drastis dalam semalam, sementara sebuah perusahaan manufaktur menengah milik Hendra Wijaya dinyatakan bangkrut secara misterius, menyisakan utang ratusan miliar yang membawa Hendra pada serangan jantung fatal di dalam penjara.


“Kamu... anak Hendra Wijaya?" bisik Vika dengan wajah yang kini pucat pasi bagai mayat. Matanya terbelalak menatap Maya, seolah baru saja melihat hantu dari masa lalu.


Maya tersenyum—sebuah senyuman tipis tanpa kehangatan yang membuat bulu kuduk berdiri. "Akhirnya kamu ingat, Vika. Delapan tahun aku menyimpan nama itu di dasar hatiku. Delapan tahun aku menonton kalian berdua menggunakan uang ayahku untuk membeli gaun hijau itu, jam tangan Rolex bertabur berlian, dan tas-tas kulit buaya yang kalian pamerkan di media sosial."


Clara yang mendengar nama Hendra Wijaya ikut terperanjat. Kenangan buruk yang sangat berusaha ia lupakan mendadak mencuat kembali. Suaminya pernah bercerita tentang sebuah "pembersihan saham" yang mereka lakukan bersama suami Vika untuk menyelamatkan bisnis mereka dari krisis 2018.


"Maya... itu... itu urusan para pria di masa lalu!" gagap Clara, suaranya gemetar. "Kami tidak tahu apa-apa soal bisnis suami kami saat itu! Kamu tidak bisa menyalahkan kami!"


"Tidak tahu apa-apa?" Maya berdiri dari kursinya secara perlahan. Tinggi badannya yang dipadu dengan tumit tinggi membuatnya mendominasi ruangan. "Kalian menikmati setiap rupiahnya! Kalian memakan hasil keringat dan nyawa ayahku! Kalian membangun takhta kepalsuan ini di atas air mata keluarga kami!"


Maya menunjuk ke arah kotak beludru hitam berisikan janji arisan Rp500 juta yang tak pernah ada. "Arisan ini bukan sekadar ajang pamer, bukan? Ini adalah tempat kalian mencuci uang, memutar dana gelap untuk menutupi bunga pinjaman bank yang makin mencekik. Rekening penampung yang kamu bilang bermasalah itu, Vika... sebenarnya sudah diblokir oleh kejaksaan atas laporan yang kubuat tiga hari lalu."


Pernyataan Maya bagaikan petir di siang bolong. Vika hampir saja tersungkur jika ia tidak berpegangan pada tepi meja marmer. Blokir kejaksaan? Jika berita itu bocor ke media, bukan hanya arisan The Crown yang hancur, tetapi seluruh kekaisaran bisnis suaminya akan ambruk dalam hitungan jam. Para kreditur akan memburu mereka, dan kejayaan yang selama ini ia agungkan akan berubah menjadi sel penjara.


"Maya... tolong..." Vika memohon, suaranya yang tadinya sombong kini berubah menjadi ratapan panik. "Kita bisa bicarakan ini secara kekeluargaan. Berapa yang kamu mau? Kami bisa mengembalikannya! Aku bisa minta suamiku..."


"Uang tidak bisa mengembalikan ayahku, Vika," potong Maya dingin. "Uang kalian pun sudah tidak ada. Kalian berdua sudah bangkrut. Kalian hanya cangkang kosong yang terbungkus merek-merek mewah."


Maya meraih kacamata Celine-nya dari atas meja, memakainya kembali dengan gerakan anggun, menutup tatapan tajamnya dari dunia luar. Ia lalu mengambil tas kecilnya dan melangkah menuju pintu keluar ruangan VVIP.


Sebelum memutar gagang pintu mahoni, Maya menoleh sedikit. "Dokumen yang ada di tanganmu itu hanya salinan. Aslinya sudah berada di meja penyidik markas besar kepolisian dan beberapa Pemimpin Redaksi media nasional. Nikmati sisa sore kalian di SCBD, Darlings. Karena besok, nama kalian tidak akan lagi ada di rubrik gaya hidup, melainkan di berita kriminal utama."


Pintu tertutup rapat dengan dentuman halus, meninggalkan Vika dan Clara dalam pusaran kepanikan yang luar biasa. Ruangan VVIP yang mewah itu kini terasa tak ubahnya seperti sangkar emas yang terbakar.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab