Customer Service

Rintik Memori

100%

Rintik Memori

RINTIK MEMORI

 

Mungkin bagi segelintir orang, hujan hanyalah sebuah fenomena alam semata. Namun bagiku, hujan adalah momen di mana berbagai kenangan tentangnya kembali membanjiriku. Seolah memaksaku untuk mengingat kembali kebersamaan yang pernah kami lalui. Senyumannya, canda tawanya, bahkan luka.

Hari ketika udara terasa sangat menusuk kulit, ditambah air yang mengalir deras berjatuhan dari langit, membasahi tanah, pepohonan, bangunan, juga makhluk hidup di sekitarnya.

Aku turun dari bus saat itu, melangkah masuk ke pintu perpustakaan. Bau buku-buku dan kertas usang menyambut kedatanganku. Aku berjalan mengelilingi rak-rak buku yang tak jauh dari pintu masuk. Mencari koleksi buku fantasi favoritku.

Saat aku merasa tiga buku novel fantasi cukup untuk menghabiskan sisa hari sebelum gelap datang. Aku berjalan keluar dari kumpulan rak, mencari tempat yang cukup sepi untuk aku tempati.

Aku duduk di kursi yang letaknya berada di ujung, menempel di samping jendela. Cukup jauh dari pintu masuk dan dari beberapa meja yang sudah ditempati. Meletakkan buku-bukuku di atasnya. Aku menoleh bertopang dagu, menghadap ke jendela yang menampakkan keadaan dunia luar. Dengan aliran hujan yang tak berniat untuk berhenti dalam waktu dekat, jalanan basah dengan genangan air dan suara cipratan di mana-mana.

Di bawah sana banyak orang berlalu-lalang yang sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Hening, sepi, hanya suara rintikan air hujan yang terus jatuh membasahi sekitar, tak ada keributan.

“Permisi?” Ketukan jarinya menarikku dari lamunan.

“Ya?”

“Boleh aku ikut di meja ini?  Karena kupikir ini tempat yang strategis, hehe…” Dia tersenyum kecil.

“Oh ya. Boleh-boleh.” Aku berusaha tersenyum singkat.

Ia meletakkan tumpukkan bukunya di samping, mengeluarkan laptop dan meletakkannya di atas meja, duduk di depanku.

“Sudah lama di sini?” Tanyanya sambil membuka laptop.

“Ah… tidak juga sih.” Aku tersenyum kembali, berusaha bersikap sewajarnya. Meski tak ingin menanggapi.

“Kamu… dari universitas mana?” Ia menoleh ke arahku.

“Ah… aku dari Lunèa Institute.”

“Oh! Kampus yang khusus perempuan itu kan?” Wajahnya berbinar.

Entah kenapa dia melihatku dengan tatapan seperti itu saat mendengarku. Padahal kampus ini jauh dari kawasan kota dan tidak ada sesuatu yang spesial menurutku. Hanya kampus swasta sederhana yang telah berdiri sejak satu abad lalu oleh kelompok akademisi perempuan dan jarang diketahui oleh media. Jadi, bagaimana dia bisa tahu? Atau… dia hanya berpura-pura? Begitulah pikirku dulu.

Beberapa kilometer dari bangunan kampusku, di sana sudah berdiri universitas yang lebih tua. Kampus elite bangsawan, Raventport University. Kampus yang memang dibangun dengan tujuan untuk mencetak para pemimpin di masa depan. Dia berasal dari sana. Tertera jelas perbedaan kelas di antara kami. Tapi kami tak memedulikan hal itu.

Sudah beberapa tahun kami menjalin pertemanan sejak pertemuan itu. Kami selalu mengunjungi perpustakaan tersebut, entah untuk mengerjakan tugas kuliah bersama, atau hanya untuk pertemuan untuk mengisi kekosongan dalam hati.

“Yuri… kamu itu stalker yang cukup hebat, tahu.” Ia tertawa.

“Menurutmu begitu?” Nada suaraku agak merendah. Senyum kecil terbentuk di wajahku.

“Ya. Buktinya kamu bisa tahu latar belakangku secepat itu, tanpa aku beri tahu loh!” Senyumnya mengembang.

“Diamlah…” Aku mengalihkan pandangan. Bertopang dagu.

Tanpa aku sadari, tangannya sudah mengacak-acak puncak kepalaku.

“Oke-oke. Aku berhenti. Kamu bisa berhenti mengalihkan wajahmu dariku.” Tawanya mereda. “Yuri… kamu itu lucu.” Senyuman kecil terbentuk di wajahnya.

“Apa maksudmu?” Aku berusaha menghapus kemungkinan dalam perkataannya. Pasti bukan itu yang ia maksud.

Ia tersenyum kecil. “Hm. Bukan apa-apa.” Tangannya kembali meraih buku yang sempat ia letakkan beberapa menit lalu. “Ayo ke kampus. Kamu ada ujian kan?”

Aku menepuk jidat. Bagaimana aku bisa melupakan hal sepenting itu? Bergegas merapikan buku-buku pinjamanku dan memasukkannya ke dalam tas.

Dari samping, aku bisa mendengar kekeh kecil yang ia tahan di pipinya.

“Berisik!” Alisku mengerut.

Ia tertawa. “Kebiasaanmu tak pernah terlewat, ya? Bagaimana hidupmu tanpaku?” Ia berdiri. Melangkah menjauhi kursi. Tasnya tersampir di pundak.

“Aku akan baik-baik saja, percayalah.” Kataku, tersenyum kecil.

Ia tertawa lagi. “Baiklah, aku percaya.” Sejenak, ia menghela napas. “Meski aku tahu bagaimana akhirnya.” Ujung bibirnya sedikit terangkat.

Selalu saja. Ia tak pernah melewatkan kesempatan untuk menjahiliku. Entah lewat pesan atau bahkan saat kami berpapasan. Rasanya aku selalu ingin mencubit lengan yang tersembunyi di balik jaket charcoal softshell kesayangannya.

Setelah itu, kami belum sempat bertemu lagi. Kesibukan kami berbeda. Akhir-akhir ini waktuku tersita oleh tugas kelompok yang menumpuk. Bahkan saat liburan semester pun tak ada waktu bagiku untuk bernapas sejenak. Bahan yang dibutuhkan pun agak sulit dicari. Kami berpindah dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain, mencari buku-buku lama berusia belasan tahun.

Terkadang ia mengirim pesan hanya untuk mengingatkanku agar makan meski sedikit. Aku membalas seperlunya. Terlalu lelah untuk sekadar membeli makanan saat seperti ini.

Akhirnya tugas-tugasku pun selesai satu per satu. Aku mendapatkan bayaran yang setimpal setelah menghabiskan liburan semesterku dengan tugas yang menumpuk.

Untuk sejenak, aku teringat padanya. Kami belum berjumpa kembali setelah sekian lama. Dadaku berdegup kencang saat aku meraih ponselku. Mengirim pesan padanya untuk bertemu di perpustakaan yang biasa kami kunjungi siang nanti. Setelah pesan itu terkirim, rasanya paru-paruku terasa lebih ringan. Senyuman terukir indah di wajahku tanpa bisa aku kendalikan. Lalu… tanpa ku sadari, mataku sudah terpejam tak kuasa menahan kantuk.

Tepat ketika matahari menggantung di atas kepala dengan cahayanya yang hangat, langkahku terasa lebih ringan menuju perpustakaan—tempat yang kini lebih berarti bagiku.

Aku duduk di tempat yang sama, dalam suasana yang tak pernah berubah sejak pertama kali aku datang ke sini. Rak-rak buku tersusun rapi, meja dan kursi dengan interior ciri khasnya tetap seperti dulu.

Aku menyesap cappuccino yang sempat aku beli di dekat stasiun, sedikit demi sedikit. Sensasi hangatnya menenangkan pikiran dan tubuhku.

Ada sesuatu yang tidak biasa kali ini. Jantungku tak berhenti berdebar sejak aku mengirim pesan itu. Senyumanku tak juga surut. Bahkan orang-orang di luar sana seolah bisa merasakan hal serupa.

Zee… entah apa yang sudah merasukiku saat ini, namamu selalu terbayang di pikiranku, terukir hangat di hatiku. Apa yang salah denganku kali ini? Kedua tanganku terangkat menutupi wajah.

Ketika ponselku bergetar, nama yang selama ini kutunggu tertera di sana. Aku membukanya perlahan. Senyumku kembali mengembang.

‘Yuri… Maaf. Aku ada rapat keluarga yang tak bisa kuhindari.’ Singkat. Tapi cukup untuk meruntuhkan segalanya.

Aku berusaha tetap tersenyum. Mengetik balasan. ‘Oh, tak apa. Lagipula aku masih ada keperluan juga.’ Pesan terkirim. Aku mematikan layar ponsel. Melangkah keluar.

Di luar, hujan turun begitu saja. Langkahku terhenti. Membaurkan diriku dengan hujan. Aku tak yakin bisa membedakan air mata dengan tetesan hujan di wajahku. Aku tak peduli lagi.

Paginya. Ponselku sudah dipenuhi pesan dari Zee.

‘Yuri. Kamu kehujanan gak semalam?’

‘Aku kaget karena tiba-tiba cuaca berubah’

‘Kamu baik-baik saja, kan?’

Aku menatap pesan-pesan itu, mematikan layar, lalu menenggelamkan wajahku ke bantal.

Beberapa jam berlalu. Syal melingkar menutupi setengah wajahku. Aku melangkah keluar, membiarkan ke mana arah kakiku membawa.

Aku berhenti di atas jembatan. Gemercik air menarik perhatianku saat itu. Mengalir deras tanpa hambatan. Dan saat aku kembali ke rumah, ada surat kabar yang tergeletak di atas karpet tepat di depan pintu masuk. aku mengambil surat kabar itu. Di halaman pertama ditampilkan foto wajah Zee yang dipasangkan dengan seorang wanita terkenal, dituliskan dengan ukuran huruf yang besar. “TUAN MUDA DARI KELUARGA BARON AKAN MENGADAKAN ACARA TUNANGAN DENGAN--”.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: