Bab 1 dari 1
Di sebuah kamar sederhana beralaskan kasur tipis dengan dinding ruangan terbuat dari anyaman bambu. Terlihat seorang laki-laki paruh baya terbaring lemah diatas ranjang. Sementara perempuan berusia sekitar 40 tahunan dengan busana sederhana terisak pilu di sampingnya.
Tak lama berselang, seorang perempuan berusia 18 tahun muncul dari pintu masuk bersama Mak Comblang pengantin. Perempuan berambut panjang dengan wajah melankolis itu duduk di samping kasur. Jemari lentiknya menggenggam tangan laki-laki paruh baya itu dengan mata berkaca-kaca.
“Pak.. Besok bapak akan dibawa ke rumah sakit untuk berobat.. Amara sudah meminta Pak RT untuk menemani bapak.. Tapi maaf.. Amara tidak bisa menemani Bapak.. Karena Amara harus pergi bersama Bu Nining..”
Perempuan bernama Amara itu melirik Mak Comblang pengantin yang ikut duduk disampingnya. Perkataan Amara tentu saja membuat tangis sang ibu kembali pecah.
“Ya ALLAH.. Jadi.. kamu menerima tawaran Bu Nining, nak..?”
“Iya Bu.. Amara bersedia dijodohkan dengan laki-laki yang ditawarkan Bu Nining.. Semua ini Amara lakukan demi bapak sama ibu.. Biar bapak bisa berobat.. dan ibu bisa punya bekal sepeninggal Amara..”
Tangis ibunda Amara semakin kencang. Dia memeluk sang anak sambil menangisinya. Sementara ayah Amara hanya bisa ikut terisak lirih tanpa bisa berkata apa-apa.
“Maafkan ibu, nak.. Maafkan ibu.. Untuk menyelamatkan kita.. Kamu harus mengorbankan diri kamu sendiri.. Kamu harus menikah dengan laki-laki yang tidak kamu cintai..”
“Cinta bukan segalanya bu.. Amara yakin.. seiring berjalannya waktu.. Amara bakal bisa mencintai suami Amara setelah menikah nanti..”
“Maafkan Bapak.. Nak.. Maafkan Bapak..
“Bapak dan ibu tidak perlu minta maaf.. In sya ALLAH Amara ikhlas.. Semoga suami Amara nanti akan baik sama Amara.. Seperti yang dikatakan Bu Nining..”
Amara melirik Mak Comblang Pengantin yang sejak tadi hanya terdiam. Mak Comblang yang dipanggil Bu Nining itu pun menimpali.
“Calon suami Amara orangnya baik kok bu.. pak.. Ibu dan bapak tidak usah khawatir.. Amara akan baik-baik saja..”
“Tolong doakan Amara ya bu.. Pak.. Semoga ALLAH meridhoi keputusan Amara..”
Ibunda Amara memeluk sang anak sambil berurai air mata. Keduanya saling bertangisan. Begitu juga dengan ayah Amara yang ikut terisak sedih.
***
Sementara itu di sebuah rumah mewah yang ada di Jakarta. Seorang laki-laki berusia 40 tahunan bernama Bima baru saja selesai disuntik insulin oleh dokter pribadinya.
Laki-laki berwajah dingin itu duduk di tepi ranjang sambil merapikan bajunya. Sementara dokter membereskan alat-alat medisnya ke dalam tas.
“Makanya kamu harus segera punya pendamping lagi Bim.. Biar ada yang memperhatikan dan mengontrol pola makan kamu..”
“Kamu ini.. Selalu saja hal itu yang kamu ungkit setiap ketemu aku..”
“Ini untuk kebaikan kamu.. Diabetes itu penyakit seumur hidup. Jadi harus ada yang mengawasi dan merawat kamu..
“Jujur aku masih trauma sama pernikahanku 10 tahun lalu, Al.. kamu bayangkan.. 5 tahun kami menjalani pernikahan.. Tapi apa hasilnya..? Ternyata istriku malah mengkhianatiku sepanjang pernikahan kami..
Bima menghela nafas resah bersamaan dengan kemunculan sang adik, Vina yang membawa minuman dan meletakannya di meja kecil di sudut kamar.
“Dokter Alan gak usah khawatir.. Saya sudah menemukan calon yang tepat untuk Mas Bima..!”
“Oh ya..? Bagus kalau begitu..!” Dokter Alan berpaling pada Bima sambil meneruskan perkataannya.
“Tuh.. kurang baik bagaimana adikmu itu, Bim.. Udah..! Jangan banyak alesan lagi.. Cepetan nikah..!”
Dokter Alan melihat jam tangannya sambil terlonjak kaget. “Aku harus ke rumah sakit lagi nih.. Aku permisi ya.. Assalamualaikum..”
Dokter Alan bergegas pergi. Sementara Bima berpaling pada Vina dengan wajah kesal.
“Kamu ini..! Berapa kali aku bilang..? Jangan jodoh-jodohin aku terus..! Aku gak suka kamu ikut campur urusan pribadi aku..!
“Mas.. Semua ini aku lakukan demi kamu..! Aku tidak bisa selamanya merawat kamu yang sakit-sakitan..! Aku juga harus punya kehidupan sendiri. Kalau terus-terusan mengurus kamu, kapan aku bisa menikah..?”.
“Tapi aku gak mau menikah sama perempuan yang tidak aku kenal..!”
“Nanti juga Mas kenal..! Aku sengaja memilihkan perempuan yang nantinya tidak akan banyak menuntut seperti gadis-gadis kota..! Dia perempuan lugu..! Nantinya dia hanya akan diam di rumah dan merawat kamu..!”
“Tapi tetep saja ini nggak benar Vina..!”
“Sudahlah Mas.. Please..! Ikuti rencana aku kali ini..! Aku jamin.. Kamu akan bahagia bersama dia..!”
Bima terhenyak dalam diam. Dia tidka menyadari kalau sang adik malah diam-diam bergumam dalam hatinya.
“Kamu harus setuju sama rencana aku Bima.. Biar rencanaku buat melenyapkan kamu bisa segera tercapai..! Kamu pasti tahu kan apa tujuan aku..? Aku mau semua harta kamu bisa aku kuasai..!”
***
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya