Lampu penerang jalan yang remang memantulkan bayangan genangan air di pelataran Stasiun Manggarai yang mulai beranjak sepi. Hujan lebat yang mengguyur Jakarta sejak pukul enam sore tadi kini tersisa gerimis tipis, meninggalkan aroma tanah basah, dan sisa bahan bakar diesel yang mengendap kental di udara malam. Jam dinding besar bergaya retro yang menggantung di atas barisan pintu mesin tiket elektronik menunjukkan pukul sebelas lewat seperempat.
Reno duduk sendirian di bangku besi bercat hijau yang dingin. Kedua tangannya dimasukkan mendalam ke dalam saku jaket parasut kusam warna biru dongker yang sudah mulai menipis di bagian siku. Setiap kali angin malam berembus menerobos celah-celah peron, dinginnya seolah menembus serat kain dan menusuk langsung ke tulang rusuknya. Ia merapatkan jaket itu, lalu menggeser posisi duduknya agar tak terlalu dekat dengan tetesan air yang jatuh teratur dari seng atap peron yang bocor.
Hari itu terasa seperti marathon tanpa garis akhir. Wawancara kerja ketiganya bulan ini kembali berakhir sebelum sempat berkembang menjadi percakapan yang berarti. Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi seorang manajer HRD berwajah lelah di lantai dua belas sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman untuk memutuskan bahwa Reno tidak memiliki "kualifikasi yang cukup dinamis". Kata-kata itu diucapkan dengan senyum formal yang sangat sopan, namun dampaknya terasa seperti pukulan telak di ulu hati.
Reno merogoh tas punggung kain di pangkuannya. Di balik lipatan kemeja putihnya yang mulai lusuh di bagian kerah, ada selembar formulir penilaian hasil wawancara yang terlipat tiga, serta dompet kulit imitasi yang menipis. Di dalam dompet itu, tersisa dua lembar uang dua puluh ribuan, satu koin lima ratus rupiah, dan kartu petunjuk jalan yang sudah usang. Uang itu hanya cukup untuk membeli tiket kereta komuter perjalanan terakhir menuju stasiun kecil dekat kontrakan sempitnya di pinggiran kota, dan mungkin sepiring nasi goreng magelangan dari gerobak Mang Udin besok malam—itu pun jika ia memilih untuk melompati makan siang.
Reno mendesah panjang. Hembusan napasnya membentuk kabut tipis yang dengan cepat lenyap disapu angin. Rasa lelah yang mengendap di kepala bukan cuma lelah fisik akibat menaiki tangga penyeberangan dan berdiri berjam-jam di dalam gerbong yang sesak saat jam berangkat kerja pagi tadi. Itu adalah jenis kelelahan mental yang akumulatif—rasa penat dari seseorang yang sudah berbulan-bulan mengetuk pintu demi pintu yang tak pernah benar-benar terbuka, sementara tabungan hasil kerja paruh waktu semasa kuliah menguap tanpa sisa untuk membayar sewa kamar dan mie instan.
Di ujung peron, suara dentang besi dan desis angin sayup-sayup terdengar. Namun bukan suara kereta yang datang, melainkan irama langkah kaki yang lambat dan berat.
Seorang pria tua berjalan menyusuri peron. Pakaiannya berlapis: kemeja flanel kotak-kotak kusam yang ditumpuk dengan rompi kain berwarna cokelat tua yang warnanya sudah memudar di sana-sini. Di tangannya, ia memeluk seikat koran edisi sore yang belum terlipat rapi dan sebuah tas kain blacu yang sudah menghitam di bagian bawahnya. Rambutnya yang memutih sempurna mencuat dari balik topi seniman berwarna abu-abu.
Pria tua itu menghentikan langkahnya tepat di depan bangku tempat Reno duduk. Ia memandang Reno sejenak dengan mata cokelatnya yang jernih namun dibingkai garis-garis keriput dalam di sekitar kelopak matanya. Tanpa meminta izin secara verbal, ia menurunkan tumpukan korannya yang belum laku ke atas lantai semen peron yang kering, lalu duduk di ujung bangku besi yang sama, menyisakan jarak sekitar dua meter di antara mereka.
Reno menggeser tubuhnya sedikit ke pinggir, refleks pertahanan diri khas warga kota yang terbiasa menjaga jarak dengan orang asing di tempat umum saat larut malam. Ia kembali menatap lurus ke arah rel kereta api yang meliuk-liuk di bawah cahaya remang-remang lampu mercury, menghilang ditelan kegelapan di belokan menuju depo.
Suara gesekan kain terdengar ketika pria tua itu membuka ritsleting tas blacunya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah termos aluminium tua berdinding perak yang sudah banyak penyok, diikuti oleh dua buah cangkir plastik tebal berwarna hijau pastel.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, kakek itu membuka tutup termos dengan gerakan melingkar yang pelan dan teratur. Begitu tutupnya terbuka, uap putih tebal membumbung ke udara malam yang dingin, membawa serta aroma manis khas teh tubruk melati yang pekat—aroma yang seketika mendominasi baunya minyak rem dan besi basah di stasiun itu.
Kakek itu menuangkan cairan cokelat keemasan itu ke dalam cangkir pertama hingga terisi penuh, lalu mengulangi hal yang sama pada cangkir kedua. Dengan gerakan yang sangat perlahan, seolah takut mengagetkan seekor burung kecil yang hinggap di jendela, ia mengulurkan salah satu cangkir plastik berisi teh panas itu ke arah Reno.
Reno menoleh, matanya mengerjap beberapa kali karena terkejut. Ia menatap cangkir hijau yang mengepul di tangan kakek itu, lalu beralih menatap wajah si kakek.
"Terima kasih, Kek," kata Renno pelan, suaranya agak serak karena sudah beberapa jam tidak digunakan. "Tapi saya tidak punya uang pas kalau Kakek jualan teh. Saya tidak beli."
Kakek itu terkekeh pelan. Dentingan tawa ringannya terdengar seperti suara gesekan daun-daun kering yang tertiup angin.
"Siapa yang bilang jualan?" jawab kakek itu tenang, suaranya parau, dalam, dan membawa kehangatan yang tak terduga. "Bukan untuk dijual, Nak. Hari terlalu dingin untuk melamun sendirian di bangku besi begini. Kalau tehnya ditinggal di dalam termos terus, nanti keburu dingin dan kehilangan jiwanya."
Reno ragu sejenak. Namun, kehangatan uap teh yang terpancar dari cangkir itu seolah memiliki daya tarik magnetis yang sulit ditolak oleh jemarinya yang mulai kaku karena dingin. Ia akhirnya mengulurkan tangan dan menerima cangkir itu.
"Terima kasih, Kek," ulang Reno, kali ini dengan nada yang lebih tulus.
"Sama-sama," balas kakek itu singkat. Ia mengambil cangkir miliknya sendiri dengan kedua belah tangan yang kulitnya tampak seperti kulit kayu tua—penuh dengan pendar-pendar pembuluh darah yang menonjol dan bekas luka kerja keras masa lalu.
Reno menggenggam cangkir plastik itu erat-erat dengan kedua telapak tangannya. Rasa hangat yang menjalar dari dinding plastik tebal itu seketika memberikan sensasi nyaman yang sudah lama tak ia rasakan. Ia mendekatkan cangkir itu ke wajahnya, membiarkan uap melati membilas mukanya yang kusam, lalu menyesapnya perlahan.
Cairan panas itu membasahi tenggorokannya yang kering. Rasa manisnya pas—tidak terlalu menyengat, tetapi cukup kuat untuk memberikan dorongan energi instan, berpadu sempurna dengan sepet khas daun teh lokal yang diseduh mantap. Rasa hangat itu merambat turun ke dadanya, mengikis sedikit demi sedikit rasa sesak yang menghimpit lengkung rusuknya sejak ia melangkah keluar dari pintu kaca gedung Sudirman sore tadi.
Mereka berdua hening selama beberapa menit. Di kejauhan, dentang lonjakan sinyal perlintasan kereta berbunyi tiga kali, menandakan ada kereta barang atau lokomotif langsir yang sedang bergerak jauh di petak jalan sebelah timur. Suara gemericik air hujan yang menetes dari atap ke pipa pembuangan menjadi latar belakang instrumen yang konstan.
"Kereta malam selalu bikin orang kelihatan lebih tua dari umurnya," ujar kakek itu mendadak, menatap lurus ke arah rel. Ia meminum tehnya dengan seruputan kecil yang menikmati setiap tetesnya.
Reno menoleh ke samping. "Maksud Kakek?"
"Lihat saja orang-orang yang nunggu di peron sebelah," jawab kakek itu sambil menunjuk ke arah peron tiga dengan dagunya. Di sana, berdiri dua atau tiga orang pekerja malam—seorang petugas kebersihan dengan seragam jingga yang menyandarkan dagunya di gagang sapu, dan seorang pria berjas hujan plastik murah yang tertidur berdiri sambil memeluk tas laptopnya. "Garis-garis di wajah mereka kelihatan lebih dalam kalau kena lampu kuning stasiun jam segini. Mungkin karena di jam-jam seperti ini, orang tidak sempat lagi pakai topeng penutup lelahnya."
Reno tersenyum tipis, sebuah senyuman hampa yang tidak sampai ke matanya. "Mungkin karena harinya terlalu berat untuk ditutup dengan pura-pura kuat, Kek."
Kakek itu memiringkan kepalanya sedikit, mengamati Reno dari samping. "Lulusan baru?"
"Bisa dibilang begitu," jawab Reno sambil menatap sisa teh di cangkirnya. "Sudah enam bulan lulus. Tapi rasanya seperti tidak kemana-mana. Cuma muter-muter di tempat yang sama. Kirim puluhan lamaran tiap minggu, dipanggil wawancara sekali dua kali, lalu ditolak lagi. Kadang saya mikir, apa yang salah sama saya, ya?"
Kalimat terakhir itu keluar begitu saja dari mulut Reno. Biasanya ia adalah tipe orang yang sangat tertutup, menyimpan seluruh kecemasan dan rasa frustrasinya rapat-rapat di balik tembok gengsi anak muda. Tapi ada sesuatu dari atmosfer stasiun malam ini—dan kedamaian yang dipancarkan oleh pria tua di sebelahnya—yang membuat pertahanannya runtuh dengan mudah.
Kakek tua itu tidak langsung menjawab. Ia mengambil selembar koran dari tumpukannya, membetulkan letak kacamatanya yang berbingkai plastik hitam murah, lalu meletakkannya kembali di pangkuannya tanpa membukanya.
"Kamu tahu, Nak," kata kakek itu pelan, "Dulu waktu saya masih muda, kira-kira seumuran kamu, saya kerja jadi penjaga pintu perlintasan kereta di daerah Purwokerto. Tugas saya cuma satu: turunkan palang kalau ada sinyal, lalu angkat lagi kalau keretanya sudah lewat. Kelihatannya gampang, kan?"
Reno mendengarkan dengan seksama, menyeduh cerita itu sama seperti ia menikmati teh hangatnya.
"Tapi yang paling bikin frustrasi itu kalau keretanya terlambat," lanjut kakek itu. "Kadang sinyal sudah berbunyi, palang sudah diturunkan, mobil dan motor sudah mengular panjang di kiri kanan jalan, semua orang membunyikan klakson karena tidak sabar mau pulang. Mereka marah-marah sama saya, seolah-olah saya yang menahan keretanya di stasiun sebelumnya. Padahal saya cuma penjaga palang. Saya tidak punya kuasa buat mempercepat laju mesin ribuan ton di atas rel itu."
Kakek tua itu menghentikan kalimatnya sejenak, meminum sisa tehnya sampai habis, lalu memegang cangkirnya yang kosong dengan satu tangan.
"Awalnya saya ikut stres. Saya kepikiran tiap kali ada yang teriak maki-maki dari atas sepeda motor. Tapi lama-lama saya sadar satu hal," kakek itu menatap Reno, matanya berbinar lembut di bawah sorot lampu peron.
"Kadang-kadang, menunggu kereta yang datangnya terlambat itu memang bikin kesal setengah mati. Kita merasa membuang waktu, merasa tertahan di tengah jalan basah sementara orang lain sudah sampai di rumah. Tapi kereta itu pasti datang. Jalurnya sudah dibuat, mesinnya sudah dinyalakan dari stasiun awal. Yang penting kita masih ada di stasiunnya, tidak putus asa lalu jalan kaki melintasi rel di tengah kegelapan atau memilih pulang duluan sebelum usahanya selesai."
Kata-kata itu tidak diucapkan dengan nada menggurui. Tidak ada gaya penceramah atau motivasi murah yang kerap Reno baca di media sosial. Kata-kata itu meluncur jujur, sederhana, dan berat oleh pengalaman hidup yang telah teruji zaman.
Reno tertegun. Ia menatap kakek tua di sampingnya tanpa mampu menyela. Pandangannya kemudian beralih ke cangkir plastik hijau di tangannya yang kini tinggal menyisakan kehangatan suam-suam kuku dan sedikit endapan daun teh di dasarnya.
Reno teringat pada hari-hari yang telah berlalu—pada ratusan surel lamaran pekerjaan yang tak pernah dibalas, pada rasa malu setiap kali orang tuanya di kampung bertanya melalui telepon tentang perkembangan pekerjaannya, dan pada ketakutan raksasa yang selalu menghantuinya setiap kali ia terbangun di kamar kontrakan ukuran tiga kali empat meter: ketakutan bahwa ia akan menjadi produk gagal dari roda zaman yang bergerak cepat.
Namun, mendengarkan analogi sederhana tentang stasiun dan kereta terlambat itu, sebuah titik terang kecil seolah meletup di balik kegelapan pikirannya. Mungkin ia memang sedang berada di fase penantian itu. Mungkin jalurnya sedang padat, atau sinyalnya sedang tertahan di blok stasiun sebelumnya. Tapi itu tidak berarti perjalanannya telah berakhir. Artinya, ia hanya perlu bertahan sedikit lebih lama di peron ini.
Suara gemuruh roda besi yang bergesekan kasar dengan rel baja tiba-tiba membahana dari arah utara. Getaran halus merambat naik dari lantai semen peron, merayap ke kaki-kaki bangku besi, dan bergetar hingga ke telapak kaki Reno.
Lampu sorot kuning besar milik lokomotif CC206 membelah kegelapan malam, menerangi titikan air hujan yang masih menggantung di udara. Suara klakson kereta—semoyan 35—membahana keras, memecah kesunyian malam Manggarai. Rangkaian delapan gerbong kereta komuter malam terakhir perlahan masuk ke jalur dua, berdecit panjang saat pengereman hidrolik bekerja, hingga akhirnya berhenti sempurna di depan peron. Pintu-pintu otomatis berbunyi bip-bip lalu terbuka lebar, memperlihatkan interior gerbong yang terang benderang namun hampir kosong melompong.
Reno menghabiskan tegukan terakhir tehnya. Rasa pahit-manis yang khas menempel di pangkal lidahnya. Ia berdiri dari bangku besi, merapikan tali tas punggungnya yang melorot di bahu, lalu mengembalikan cangkir plastik kosong itu kepada kakek tua yang masih duduk tenang.
"Terima kasih banyak untuk tehnya, Kek. Untuk ceritanya juga," kata Reno seraya mengangguk penuh hormat. Ada kehangatan baru di matanya yang sebelumnya kusam oleh keputusasaan.
Kakek tua itu menerima cangkir plastiknya, mengangguk pelan dengan senyum tipis yang penuh pemahaman. "Hati-hati di jalan, Nak. Jangan lupa makan nasi hangat kalau sudah sampai di rumah."
"Mari, Kek."
Reno memutar badan dan melangkah menuju pintu gerbong yang terbuka. Ketika kakinya menyeberangi celah antara batas peron dan lantai gerbong, terasa ada perubahan tak kasat mata dalam dirinya. Beban di pundaknya—selembar formulir penolakan di dalam tas dan sisa uang puluhan ribu di dompetnya—tentu saja belum mendadak hilang atau bertambah. Masalah-masalah besok pagi masih menunggunya dengan setia di tempat yang sama.
Namun, ketika pintu otomatis gerbong mengatup kembali dengan bunyi desis udara dan kereta perlahan mulai bergerak meninggalkan stasiun, Reno menatap ke luar jendela kaca. Di balik jendela yang berembun, ia melihat kakek tua itu kembali memeluk tumpukan korannya, duduk tenang di bangku peron yang mulai meredup lampunya, menunggu entah apa atau siapa dalam kedamaian yang utuh.
Reno menarik napas dalam-dalam, merasakan paru-parunya terisi udara dingin bertemperatur pendingin ruangan gerbong. Ia berjalan mencari tempat duduk di dekat jendela, lalu menyandarkan kepalanya pada kaca yang dingin. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ia tidak lagi merasa cemas membayangkan apa yang akan terjadi besok pagi. Ia siap untuk kembali melangkah, menunggu keretanya tiba, dan menyambut apa pun yang ada di ujung perjalanan.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya