Customer Service

TELADAN TAK BUTUH PENGHARGAAN

100%

TELADAN TAK BUTUH PENGHARGAAN

TELADAN TAK BUTUH PENGHARGAAN

Karya: Shofil Fikri

 

Fajar belum sepenuhnya membuka mata ketika kokok ayam bersahutan dari kejauhan. Suara tonggeret dan garengpung mengiringi pagi yang perlahan mengusir gelap. Di antara dinginnya udara dan hangatnya selimut, dua pilihan kembali datang: melanjutkan tidur atau menunaikan tanggung jawab.

 

Aku memilih bangkit.

 

Setelah berwudhu, kulangkahkan kaki menuju musala kecil di ujung gang. Lampunya redup. Beberapa sajadah masih terlipat, sementara halaman depan dipenuhi daun kering. Tak seorang pun tampak di dalamnya.

 

Kuambil mikrofon, menarik napas, lalu mengumandangkan adzan.

 

“Allahu akbar, Allahu akbar ….”

 

Suaraku menyusuri gang-gang sempit, melewati rumah-rumah yang jendelanya masih tertutup. Aku tak tahu berapa banyak orang yang mendengarnya. Mungkin ada yang terbangun, ada yang kembali menarik selimut, atau ada pula yang diam-diam bersiap mengambil air wuddu.

 

Beberapa menit kemudian, dua orang jamaah datang. Seorang lelaki tua berjalan tertatih, sementara seorang pemuda masih menguap sambil merapikan sarungnya. Kami berdiri dalam shof yang tak panjang.

 

Tak ada pejabat yang menyambut. Tak ada piagam yang menanti. Bahkan, tak seorang pun mencatat siapa yang pertama kali membuka pintu musholla.

 

Seusai sholat, kubuka kitab al-Adzkar karya Imam Nawawi. Kubaca perlahan, sesekali menjelaskan makna kalimat yang mungkin belum dipahami jamaah.

 

Aku teringat seorang ibu yang pernah berkata bahwa ia jarang mengikuti pengajian secara langsung karena harus menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya.

 

“Walaupun tidak bisa duduk di musholla, saya tetap bisa belajar, Pak. Saya mendengarkan dari dapur sambil memasak,” katanya.

 

Kalimat itu terus tinggal dalam pikiranku. Ilmu tak selalu membutuhkan ruang kelas, papan tulis, atau bangku yang tersusun rapi. Kadang-kadang, ilmu hadir melalui suara yang menemani seseorang bekerja, melalui nasihat singkat, atau melalui tindakan kecil yang diam-diam ditiru orang lain.

 

Pukul 05.15, kututup kitab. Hari masih panjang, sedangkan tugasku belum separuhnya berjalan.

 

Aku pulang, berganti pakaian, merapikan bahan ajar, lalu berangkat menuju kampus. Di sanalah pengabdian yang lain menungguku. Aku tak pernah membayangkan bahwa di tempat yang seharusnya menumbuhkan kejujuran dan kecerdasan, suatu hari aku harus mempertaruhkan keyakinanku sendiri tentang arti pendidikan.

 

---

 

Pukul enam tepat, aku sudah berdiri di depan kelas program intensif bahasa Arab. Mahasiswa mulai berdatangan dengan mata sembap dan wajah yang belum sepenuhnya terjaga.

 

“Baik, kita mulai dengan membaca surat pendek bersama-sama,” kataku.

 

Suara mereka mula-mula terdengar pelan, kemudian menyatu memenuhi ruangan. Setelah itu, kami mempelajari kosakata, menyusun kalimat, dan membaca teks berbahasa Arab.

 

Ada mahasiswa yang cepat memahami materi. Ada pula yang berkali-kali salah melafalkan kata yang sama. Aku mengulanginya tanpa bosan. Bagiku, pendidikan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat sampai, melainkan perjalanan agar setiap orang mampu melangkah dengan bekal yang benar.

 

Menjelang pukul sembilan, kelas berakhir. Lima menit kugunakan untuk sarapan seadanya sebelum bergegas menuju kelas berikutnya, mengajar mahasiswa reguler Fakultas Syariah.

 

Di kelas itu, aku menemukan persoalan yang lebih rumit daripada sekadar memahami materi kuliah. Sebagian mahasiswa belum terbiasa membaca sumber ilmiah, menyusun argumen, atau menuliskan gagasan secara runtut. Ada yang mencantumkan referensi tanpa memahami isinya. Ada pula yang menganggap tugas akhir sekadar berkas yang harus dilengkapi agar bisa diwisuda.

 

Aku tidak ingin langsung menyalahkan mereka. Setiap mahasiswa membawa latar belakang, kemampuan, dan persoalan yang berbeda. Namun, aku juga tak ingin membiarkan ketidaksiapan berubah menjadi kebiasaan yang dibenarkan.

 

Suatu siang, seorang mahasiswa S2 bernama Kamal datang membawa laptop.

 

“Pak, saya ingin meminta tanda tangan persetujuan proposal.”

 

Kubuka berkasnya. Rumusan masalah tidak sejalan dengan metode penelitian. Beberapa paragraf tak memiliki rujukan yang jelas, sementara daftar pustakanya memuat sumber yang belum tentu relevan.

 

“Ini sudah diperbaiki sesuai catatan minggu lalu?”

 

Kamal menunduk.

 

“Belum semuanya, Pak. Tapi teman-teman saya sudah maju. Kalau saya terlambat, wisuda saya juga mundur.”

 

“Bapak memahami kekhawatiranmu. Tapi tanda tangan ini bukan sekadar formalitas.”

 

“Saya sudah hampir tiga tahun kuliah, Pak. Orang tua saya berharap saya segera selesai. Biaya juga semakin berat, dan saya dituntut untuk segera bias bekerja.”

 

Aku terdiam. Di balik permintaannya, ada seorang anak yang ingin membahagiakan orang tuanya, ada keluarga yang menunggu, dan ada masa depan yang terasa semakin dekat sekaligus semakin jauh.

 

“Kita perbaiki bersama,” kataku. “Bapak akan membantu. Tapi kamu harus memahami apa yang kamu tulis.”

 

Ia mengangguk, meskipun wajahnya belum sepenuhnya lega.

 

Aku mengira persoalan selesai sampai di situ. Ternyata, hari-hari berikutnya justru membawaku ke sebuah persimpangan yang jauh lebih sulit.

 

---

 

Dua pekan menjelang batas akhir pengajuan peserta wisuda, sebuah rapat diselenggarakan. Di layar ruang pertemuan terpampang tabel berisi jumlah mahasiswa yang telah menyelesaikan tugas akhir, mahasiswa yang masih tertunda, serta target capaian program.

 

Seorang pengelola menyampaikan bahwa keterlambatan kelulusan perlu ditekan. Ada jadwal wisuda yang harus dipenuhi, laporan kinerja yang harus diselesaikan, dan penilaian institusi yang menuntut perbaikan.

 

Aku memahami kebutuhan itu. Kampus harus dikelola dengan baik. Mahasiswa berhak mendapatkan layanan yang memadai. Dosen juga perlu bekerja secara terukur dan profesional. Namun, di balik angka-angka yang ditampilkan, aku bertanya-tanya apakah seseorang telah memeriksa bagaimana mahasiswa benar-benar belajar.

 

“Mohon semua dosen pembimbing mengoptimalkan kelulusan,” ujar seorang peserta rapat. “Jangan sampai mahasiswa terlalu lama tertahan hanya karena persoalan teknis.”

 

Aku mengangkat tangan.

 

“Kalau persoalannya memang teknis, tentu bisa kita bantu. Tetapi bagaimana jika metode penelitian belum tepat, data belum memadai, atau naskahnya belum memenuhi standar?”

 

Ruangan hening sesaat.

 

“Standar tetap harus dijaga,” jawab seorang pimpinan. “Namun, kita juga harus mencari solusi. Jangan sampai masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan justru menghambat mahasiswa.”

 

Aku mengangguk. Kalimat itu masuk akal. Yang menggangguku adalah kemungkinan bahwa kata solusi suatu saat digunakan untuk membenarkan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.

 

Selesai rapat, seorang rekan menghampiriku.

 

“Jangan terlalu keras, Pak. Kita semua punya target. Kalau mahasiswa terlalu lama, dosen pembimbing juga akan ditanya.”

 

Aku tersenyum tipis.

 

“Aku tidak ingin mempersulit mereka. Aku hanya ingin mereka lulus karena memang sudah layak.”

 

Ia menepuk bahuku, kemudian pergi. Aku kembali ke ruang kerja dengan perasaan yang tak mudah dijelaskan.

 

Di satu sisi, aku ingin mahasiswa segera menyelesaikan studi. Di sisi lain, aku tahu bahwa kelulusan tanpa kemampuan hanya memindahkan persoalan dari ruang kuliah ke masyarakat.

 

Malam itu, aku kembali bekerja di depan laptop. Laporan penelitian, bahan ajar, artikel ilmiah, penilaian, bimbingan tugas akhir, dan dokumen pengabdian masyarakat berbaris menunggu. Aplikasi administrasi meminta pembaruan data. Aplikasi lain belum menampilkan informasi yang sama. Sebuah laporan harus dikirim sebelum batas waktu, sementara naskah mahasiswa masih perlu diperiksa.

 

Aku memijit pelipis.

 

Beban mengajar yang mencapai puluhan satuan kredit semester dalam satu semester, ditambah tugas penelitian, pengabdian, kepanitiaan, pengelolaan jurnal, dan berbagai kewajiban administrasi, membuat waktu istirahat semakin sempit. Persoalan jabatan fungsional, penilaian kinerja, serta hak yang pencairannya kadang tak sesuai harapan turut menambah kegelisahan.

 

Aku bukan manusia yang selalu ikhlas. Aku pernah kecewa. Aku pernah merasa tenaga dan waktu seolah hanya berarti ketika berhasil diterjemahkan menjadi angka.

 

Namun, malam itu bukan tentang diriku. Ada satu nama yang terus muncul dalam pikiranku: Kamal.

 

---

 

Dua hari sebelum batas pengajuan wisuda, Kamal datang kembali. Kali ini wajahnya pucat. Ia membawa laptop, beberapa lembar catatan, dan sebuah amplop berisi dokumen yang sudah kusut.

 

“Pak, saya mohon bantuan.”

 

Aku mempersilakannya duduk.

 

“Proposal saya belum selesai. Kalau tidak disetujui sekarang, saya kehilangan kesempatan ikut wisuda periode ini.”

 

Ia membuka laptopnya. Beberapa bagian memang telah diperbaiki, tetapi masih ada persoalan mendasar pada metode penelitian. Data yang digunakan belum cukup untuk mendukung kesimpulan yang hendak ditarik.

 

“Bagian ini belum bisa dipertanggungjawabkan, Kamal.”

 

Ia menelan ludah.

 

“Kalau Bapak tanda tangan dulu, saya janji akan memperbaikinya setelah itu.”

 

Aku menutup berkasnya.

 

“Bagaimana kamu bisa memperbaiki penelitian yang belum kamu pahami sepenuhnya setelah dinyatakan layak?”

 

Matanya berkaca-kaca.

 

“Bapak tidak tahu keadaan saya. Orang tua saya sudah menjual sebagian barang untuk membiayai kuliah. Saya sudah bilang kepada mereka bahwa saya akan wisuda bulan ini, supaya bias segera bekerja dan mengganti biaya mereka selama merawat dan menguliahkan saya.”

 

Aku terdiam. Untuk pertama kalinya, ketegasanku terasa begitu berat. Aku tahu ada keluarga yang menaruh harapan besar pada selembar ijazah. Aku juga tahu penundaan bukan perkara sederhana bagi mahasiswa yang hidup dengan keterbatasan.

 

“Bapak tidak ingin kamu gagal,” kataku pelan. “Justru karena itu, Bapak tidak ingin kamu lulus dengan membawa sesuatu yang belum bisa kamu pertanggungjawabkan.”

 

“Jadi, Bapak tidak mau membantu saya?”

 

Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada bentakan.

 

Aku menatapnya.

 

“Bapak mau membantu. Tapi membantu bukan berarti menyatakan sesuatu jadi benar ketika kita tahu masih ada yang salah.”

 

Kamal mengambil laptopnya. Ia berdiri tanpa mengucapkan apa-apa, lalu meninggalkan ruangan.

 

Aku duduk lama setelah pintu tertutup.

 

Di luar, suara mahasiswa bercampur dengan langkah kaki dan dering telepon. Kampus berjalan seperti biasa, seolah tak ada seorang pun yang baru saja kehilangan harapan. Aku menatap lembar proposal yang tertinggal di meja, kemudian menunduk.

 

Apakah aku terlalu keras? Apakah keteguhan pada prinsip telah membuatku lupa bahwa pendidikan juga membutuhkan belas kasih?

 

Pertanyaan itu mengikutiku sampai malam.

 

---

 

Pukul sebelas malam, ketika aku hampir menutup laptop, teleponku bergetar. Pesan dari Kamal masuk.

 

Pak, maaf mengganggu. Saya ingin menjelaskan sesuatu. Besok boleh bertemu?

 

Aku menjawab bahwa ia boleh datang setelah kelas pagi.

 

Keesokan harinya, ia hadir membawa naskah baru. Ia terlihat kurang tidur, tetapi kali ini ia tidak langsung meminta tanda tangan.

 

“Pak, semalam saya membaca ulang catatan Bapak. Saya sadar ada bagian yang sebenarnya tidak saya pahami. Saya juga menemukan beberapa sumber yang saya kutip, tetapi belum pernah saya baca dengan benar.”

 

Ia membuka halaman demi halaman dan menjelaskan bagian yang telah diperbaikinya. Masih ada kekurangan, tetapi setidaknya ia mulai memahami mengapa kekurangan itu penting.

 

“Bagus,” kataku. “Sekarang kita periksa lagi bagian yang belum selesai.”

 

Kami bekerja selama hampir dua jam. Aku menunjukkan cara memeriksa kesesuaian rumusan masalah, metode, data, dan kesimpulan. Kamal mencatat, bertanya, lalu mencoba memperbaiki bagian yang keliru.

 

Menjelang siang, ia menghela napas panjang.

 

“Kalau saya tidak ikut wisuda periode ini, orang tua saya pasti kecewa Pak.”

 

“Mungkin mereka kecewa sekarang. Tetapi suatu hari, mereka akan lebih bangga jika kamu mampu mempertanggungjawabkan hasil kerjamu, Kamal.”

 

Ia terdiam.

 

“Bapak juga pernah kecewa karena pekerjaan tidak dihargai?”

 

Pertanyaan itu membuatku tersenyum getir.

 

“Pernah. Berkali-kali. Tetapi kekecewaan bukan alasan untuk membenarkan kesalahan.”

 

Kamal menatapku cukup lama, kemudian mengangguk.

 

Hari itu, ia pulang tanpa membawa tanda tangan yang diinginkannya. Namun, ia membawa catatan perbaikan dan kesempatan untuk mencoba lagi.

 

Aku merasa sedikit lega. Sayangnya, persoalan belum selesai.

 

---

 

Sore harinya, aku dipanggil untuk membicarakan keterlambatan pengajuan mahasiswa bimbinganku. Di meja, sebuah daftar nama terbuka. Nama Kamal tercantum di antara mahasiswa yang belum memenuhi persyaratan.

 

“Bapak sudah mengetahui batas waktu yang ditetapkan,” ujar seorang pengelola. “Kami membutuhkan kepastian. Jika mahasiswa belum bisa maju, mohon segera diselesaikan statusnya.”

 

“Saya sedang membimbingnya memperbaiki penelitian.”

 

“Apakah tidak ada cara agar berkasnya tetap dapat diproses sambil menunggu perbaikan?”

 

Aku menarik napas, sambil terbisikkan dalam hati “astaghfirullah”.

 

“Kalau berkasnya menyatakan bahwa penelitian sudah layak, padahal belum, saya tidak bisa menyetujuinya.”

 

Wajah lawan bicaraku tampak serius.

 

“Tidak ada yang meminta Bapak melakukan pelanggaran. Kami hanya mencari jalan keluar agar mahasiswa tidak dirugikan.”

 

Aku memahami maksudnya. Barangkali ia sungguh ingin membantu. Barangkali ia juga sedang menghadapi tekanan yang tidak kuketahui. Namun, aku harus memastikan bahwa jalan keluar yang kami pilih tidak justru mengorbankan tujuan pendidikan.

 

“Kalau ada mekanisme resmi untuk mempercepat bimbingan atau memberikan kesempatan perbaikan, saya siap membantu,” jawabku. “Tapi saya tidak bisa menyatakan penelitian ini layak sebelum syaratnya terpenuhi.”

 

Percakapan berakhir dengan keputusan bahwa Kamal harus mengikuti jadwal berikutnya jika naskahnya belum memenuhi ketentuan. Aku keluar dari ruangan dengan langkah berat.

 

Di lorong, beberapa mahasiswa sedang bercanda tentang wisuda. Ada yang membicarakan pakaian, undangan keluarga, dan foto bersama. Aku memandangi mereka, lalu teringat Kamal.

 

Di balik sebuah jadwal wisuda, ada banyak cerita yang tidak pernah masuk ke tabel capaian. Ada orang tua yang menunggu. Ada mahasiswa yang takut mengecewakan keluarga. Ada dosen yang harus memilih antara menyenangkan semua pihak atau mempertahankan standar. Ada pula pengelola yang berusaha memenuhi target di tengah berbagai tuntutan.

 

Sisi gelap pendidikan tidak selalu lahir dari seseorang yang berniat jahat. Kadang-kadang, ia tumbuh ketika target menjadi lebih penting daripada tujuan, ketika prosedur dipenuhi tanpa memastikan maknanya, dan ketika orang-orang baik merasa terpaksa mengambil jalan pintas karena sistem membuat jalan yang benar terasa terlalu sulit.

 

Aku tidak tahu apakah keputusanku akan mengubah apa pun. Tetapi aku tahu bahwa jika aku ikut mengabaikan standar, aku akan menjadi bagian dari persoalan yang selama ini kukhawatirkan.

 

---

 

Malam itu, aku pulang lebih lambat daripada biasanya. Si bungsu sudah menungguku di ruang depan.

 

“Papi, besok jadi datang ke sekolahku?”

 

Aku terdiam. Beberapa hari sebelumnya, aku berjanji menghadiri kegiatan sederhana di sekolahnya.

 

“Jam berapa, Nak?”

 

“Pagi. Aku mau Papi melihat aku tampil menari disekolah.”

 

Aku menatap tas berisi pekerjaan yang harus kuselesaikan. Ada laporan yang belum kukirim, naskah mahasiswa lain yang menunggu, dan sejumlah berkas yang tak mungkin selesai sekaligus.

 

Aku berjongkok di hadapannya.

 

“Papi usahakan datang.”

 

Ia mengerutkan kening.

 

“Kalau Papi sibuk terus, kapan Papi melihat aku?”

 

Pertanyaan itu membuatku tak mampu segera menjawab.

 

Aku teringat mahasiswa-mahasiswa yang datang mencariku pada waktu pergantian kelas, pesan yang masuk hingga larut malam, dan pekerjaan yang terus menumpuk. Aku ingin menjadi dosen yang hadir bagi mahasiswa, tetapi hampir lupa bahwa anakku sendiri sedang belajar mengenal dunia dan membutuhkan kehadiranku.

 

Malam itu, setelah anak tertidur, aku menyelesaikan pekerjaan yang benar-benar mendesak. Sisanya kususun berdasarkan prioritas untuk dikerjakan keesokan hari. Aku tidak bisa mengubah seluruh sistem dalam semalam, tetapi setidaknya aku bisa belajar membedakan tanggung jawab yang harus segera ditunaikan dan pekerjaan yang selama ini kuanggap harus selalu selesai sekaligus.

 

Keesokan paginya, aku datang ke sekolah si bungsu.

 

Ketika melihatku di antara para orang tua, ia tersenyum lebar. Ia memulai menari diatas pangung dengan lemah gemulai. Aku bertepuk tangan paling keras di antara suara tepukan tangan yang ada, bukan karena penampilannya yang paling sempurna, melainkan karena keberaniannya berdiri di depan orang banyak.

 

Di perjalanan pulang, aku menyadari bahwa pendidikan bukan hanya soal siapa yang berhasil mencapai target. Pendidikan juga tentang manusia yang sedang bertumbuh, dan manusia membutuhkan waktu, perhatian, serta kesempatan untuk belajar dari kesalahan.

 

Kesadaran itu membuatku semakin yakin bahwa ketegasan harus berjalan bersama kepedulian.

 

---

 

Beberapa pekan kemudian, Kamal mengirimkan pesan. Ia belum dapat mengikuti wisuda periode itu. Namun, naskahnya telah diperbaiki dan siap diperiksa kembali.

 

Pak, saya belum berhasil wisuda bulan ini. Orang tua saya memang kecewa, tetapi saya sudah menjelaskan bahwa penelitian saya perlu diperbaiki. Saya ingin menyelesaikannya dengan benar.

 

Aku membaca pesan itu berulang kali.

 

Tidak ada kemenangan besar. Tidak ada penghargaan untuk dosen yang menolak menandatangani berkas. Tidak ada berita yang mengabarkan bahwa seorang mahasiswa memilih memperbaiki penelitian daripada mengejar jadwal wisuda.

 

Namun, di antara tumpukan pekerjaan dan laporan kinerja, pesan singkat itu terasa seperti cahaya kecil.

 

Aku membalas, Kita lanjutkan bimbingan. Yang penting kamu terus belajar dan bertanggung jawab atas pekerjaanmu.

 

Aku tahu Kamal masih memiliki perjalanan panjang. Aku pun masih harus menghadapi berbagai persoalan: pekerjaan administrasi yang berulang, tuntutan kinerja, keterbatasan waktu, dan penghargaan yang tidak selalu sebanding dengan pengabdian.

 

Aku tidak tiba-tiba menjadi manusia yang tak pernah kecewa. Aku masih bisa lelah, marah, dan mempertanyakan keadaan. Tetapi aku mulai memahami bahwa keikhlasan bukan berarti membiarkan ketidakadilan, dan keteladanan bukan berarti menerima semua beban tanpa batas.

 

Teladan juga berarti berani menyampaikan kritik dengan bertanggung jawab, memperjuangkan perbaikan melalui cara yang benar, dan tetap memperlakukan orang lain sebagai manusia.

 

---

 

Subuh berikutnya, aku kembali berdiri di musholla yang sama.

 

Udara masih dingin. Lampu di sudut ruangan masih redup. Aku mengambil mikrofon dan mengumandangkan adzan seperti hari-hari sebelumnya.

 

Kali ini, ketika iqamat hampir dimulai, seorang anak kecil datang bersama ayahnya. Ia berdiri di shof belakang dengan sarung yang sedikit kebesaran.

 

Seusai sholat, ketika aku hendak membuka kitab al-Adzkar, anak itu mendekat.

 

“Pak, besok saya boleh adzan?”

 

Aku tersenyum.

 

“Memangnya sudah bisa?”

 

“Belum lancar. Tapi saya mau belajar.” Sahut si kecil.

 

“Boleh. Kita belajar bersama.”

 

Anak itu berlari kembali kepada ayahnya. Tak ada tepuk tangan. Tak ada yang mencatat peristiwa kecil itu. Namun, aku merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.

 

Barangkali keteladanan memang tumbuh diam-diam, melalui tindakan yang dilakukan berulang kali, sampai seseorang tergerak untuk melakukan hal yang sama.

 

Aku membuka kitab dan mulai membaca. Jamaah pagi itu tetap sedikit. Hari ini aku masih harus mengajar, membimbing mahasiswa, menyelesaikan penelitian, dan mengurus berbagai dokumen. Persoalan pendidikan belum selesai. Perubahan sistem juga tidak bisa dilakukan hanya oleh satu orang.

 

Namun, aku tak ingin menyerah pada anggapan bahwa segala sesuatu harus dikorbankan demi angka dan laporan.

 

Di luar, fajar mulai menyinari halaman musala. Aku merapikan sajadah, lalu melangkah keluar untuk menyambut hari yang baru.

 

Aku bukan guru besar yang namanya selalu disebut. Aku bukan pendidik yang setiap pengabdiannya tercatat dalam piagam. Aku hanyalah seorang dosen yang masih berusaha belajar, mengajar, dan menjaga kejujuran di tengah berbagai keterbatasan.

 

Aku berharap mahasiswa-mahasiswaku kelak tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga keberanian untuk berkata benar, kesanggupan mengakui kesalahan, dan kemauan memperbaiki keadaan. Aku berharap mereka tidak mengukur keberhasilan semata-mata dari seberapa cepat mencapai tujuan, tetapi juga dari cara mereka mencapainya.

 

Sebab pendidikan kehilangan maknanya ketika kelulusan lebih penting daripada kemampuan, ketika angka lebih penting daripada manusia, dan ketika kejujuran dianggap penghalang bagi keberhasilan.

 

Aku melangkah menuju kampus dengan hati yang belum sepenuhnya tenang. Masih ada persoalan yang harus kuhadapi, masih ada pekerjaan yang belum selesai, dan masih ada perubahan yang mungkin tak sempat kusaksikan.

 

Namun, aku akan terus berusaha melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabku.

 

Penghargaan boleh datang, boleh pula tidak. Jabatan bisa berubah. Angka kinerja bisa berganti. Nama seseorang mungkin akan dilupakan.

 

Tetapi jika seorang mahasiswa belajar untuk jujur karena pernah dibimbing dengan jujur, jika seorang anak berani mencoba karena pernah melihat teladan, dan jika satu tindakan baik menumbuhkan tindakan baik berikutnya, pengabdian itu tidak benar-benar hilang.

 

Aku tak membutuhkan tepuk tangan untuk mempertahankan prinsip. Aku hanya perlu memastikan bahwa ketika kelak berdiri di hadapan mahasiswa, aku tidak mengajarkan sesuatu yang justru kutinggalkan dalam tindakanku sendiri.

 

Sebab teladan tak butuh penghargaan untuk tetap berbuat baik. Ia membutuhkan keberanian untuk melakukan yang benar, bahkan ketika jalan yang benar terasa lebih sulit dan tak seorang pun bertepuk tangan.

 

Selesai.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: