Bab 1 dari 10
Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.
“Berikan istrimu untuk saya.”
Bimo Kusuma Ardi menatap laki-laki di hadapannya, menunggu tanda bahwa kalimat itu hanya bentuk penghinaan yang sengaja dilemparkan untuk mempermainkannya. Arjuna Putra Mahesa tidak tersenyum. Tangannya tetap berada di atas map terbuka yang sejak tadi membuat tengkuk Bimo basah oleh keringat.
“Maaf, Pak Juna.” Bimo menahan suaranya agar tidak meninggi. “Bapak bilang apa?”
“Kamu mendengarnya.”
“Ratna istri saya.”
“Saya tahu.”
Bimo merasakan darah naik ke wajahnya. Beberapa menit lalu dia masih mencoba menjelaskan uang yang diterimanya dan informasi perkara yang telanjur diberikan kepada pihak lawan. Sekarang kesalahannya sendiri seperti disingkirkan dari percakapan, digantikan permintaan yang jauh lebih menjijikkan.
“Kalau Bapak mau memecat saya, silakan. Saya juga bisa mengundurkan diri.” Bimo menunjuk map di atas meja. “Tapi jangan bawa istri saya ke dalam masalah ini.”
Juna menutup salah satu lembar bukti yang menampilkan catatan komunikasi Bimo. “Mengundurkan diri tidak menghapus apa yang kamu lakukan.”
“Saya akan kembalikan uangnya.”
“Lalu informasi yang kamu jual?”
Bimo terdiam. Tidak ada jawaban yang bisa membuat informasi itu kembali menjadi rahasia.
Sebagian besar pegawai telah pulang. Dari balik dinding kaca ruangan Juna, kantor tampak hampir kosong. Beberapa lampu sudah dimatikan, tetapi Bimo masih bisa mendengar suara roda troli petugas kebersihan dari lantai yang sama.
Ratna mungkin masih bekerja di luar sana.
Pikiran itu membuat permintaan Juna terasa semakin menjijikkan. Istrinya berada di gedung ini tanpa mengetahui bahwa namanya baru saja digunakan dalam percakapan tentang suap yang bahkan tidak pernah dia ketahui.
“Saya sedang butuh uang waktu itu,” kata Bimo. “Saya khilaf. Tapi Ratna tidak tahu apa-apa.”
“Saya tidak bilang dia tahu.”
“Lalu kenapa dia?”
Juna tidak menjawab.
Bimo condong sedikit ke depan. “Apa sebenarnya yang Bapak inginkan dari istri saya?”
“Kamu sudah mengerti.”
“Saya mau dengar Bapak mengatakannya.”
“Tidak perlu.”
Rahang Bimo mengeras. Selama bertahun-tahun bekerja di firma ini, dia mengenal Juna sebagai orang yang jarang bicara dan tidak suka memamerkan statusnya sebagai anak pemilik perusahaan. Hari ini Bimo melihat sesuatu yang berbeda. Juna tidak perlu meninggikan suara atau menjelaskan maksudnya dengan terang-terangan. Map di atas meja sudah cukup untuk memaksakan kehendaknya.
“Ratna bukan barang yang bisa saya berikan.”
“Kalau begitu, jangan.”
Juna memasukkan kembali lembar-lembar bukti ke dalam map.
Gerakan itu membuat kemarahan Bimo tersendat. “Apa yang Bapak lakukan?”
“Meneruskan masalah ini.”
“Kepada siapa?”
“Orang-orang yang perlu mengetahuinya.”
Juna menutup map, lalu menggesernya ke sisi meja. Tidak ada ancaman tambahan. Dia hanya memperlihatkan bahwa kesempatan Bimo bernegosiasi telah berakhir.
“Pak Juna, tunggu.”
Tangan Juna berhenti.
Bimo membenci kepanikan yang terdengar dalam suaranya sendiri. Namun begitu bukti itu keluar dari ruangan, keputusan tidak lagi berada di tangan satu orang. Firma bisa memecatnya, klien dapat membawa perkara tersebut ke jalur hukum, sementara cicilan rumah dan kebutuhan hidup tidak akan berhenti hanya karena penghasilannya hilang.
“Saya sudah bekerja di sini hampir sepuluh tahun,” katanya. “Beri saya kesempatan untuk membereskan ini.”
“Kesempatannya sudah saya berikan.”
“Itu bukan kesempatan.”
“Karena kamu tidak menyukai syaratnya?”
“Karena Bapak meminta istri saya!”
Suara Bimo memantul di ruangan yang tertutup. Dia menoleh sekilas ke arah dinding kaca, memastikan tidak ada orang yang berdiri cukup dekat untuk mendengar. Ketika kembali menghadap Juna, ekspresi laki-laki itu tidak berubah.
“Saya nggak akan memberikan Ratna kepada siapa pun,” lanjut Bimo dengan suara lebih rendah. “Kasih saya waktu. Saya akan cari jalan lain.”
“Tidak ada jalan lain yang saya tawarkan.”
“Saya akan menemukannya sendiri.”
Juna menatapnya beberapa saat, kemudian melirik jam di pergelangan tangan.
“Sampai besok sore.”
Bimo tidak langsung merasa lega. Dia tahu dirinya belum mendapatkan penyelesaian, hanya penundaan.
“Kalau saya belum mendapatkannya?”
“Map ini tidak lagi berhenti di meja saya.”
Bimo memandangi map tersebut. Seluruh hidupnya kini seolah terlipat di dalam benda tipis itu: pekerjaannya, rumah yang masih dicicil, nama baik yang dibangunnya selama bertahun-tahun, dan kemungkinan pulang kepada Ratna dengan pengakuan bahwa semua itu bisa hilang karena perbuatannya sendiri.
“Kenapa Ratna?” tanyanya sekali lagi.
Juna menarik map itu mendekat. “Besok sore, Bimo.”
Percakapan mereka selesai.
Bimo keluar dari ruangan dengan langkah cepat. Kantor sudah semakin sepi, hanya menyisakan beberapa meja dengan layar komputer yang masih menyala. Suara roda troli kembali terdengar dari ujung lorong, tetapi tidak ada Ratna di sana.
Ketika pintu lift terbuka, Bimo segera masuk dan menekan tombol lantai dasar. Dia menyandarkan tubuh ke dinding logam, mencoba memikirkan seseorang yang bisa dimintai bantuan atau alasan yang cukup kuat untuk membuat Juna berubah pikiran. Tidak satu pun muncul.
Ponselnya bergetar sebelum lift sampai di bawah.
Nama Ratna terlihat di layar.
Ratna:
Mas, aku masih lama. Kamu pulang duluan aja, nanti aku pulang sendiri.
Bimo membaca pesan itu dua kali. Ratna masih berada di gedung yang sama, menyelesaikan pekerjaannya seperti malam-malam biasa. Dia tidak tahu tentang uang yang diterima Bimo, bukti di meja Juna, ataupun permintaan yang menjadikan tubuhnya sebagai harga.
Jempol Bimo sempat tertahan di atas layar. Dia bisa mencari Ratna sekarang, tetapi tidak tahu harus memulai pengakuannya dari mana. Dari suap yang diterimanya, ancaman perkara hukum, atau kalimat yang baru saja disampaikan Juna?
Pintu lift terbuka di lantai dasar.
Bimo mengetik balasan sebelum melangkah keluar.
Bimo:
Iya. Hati-hati pulangnya.
Dia memasukkan ponsel ke saku dan meninggalkan gedung sendirian.
Besok sore, Juna menunggu jawabannya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya