Kucing Ku Berubah Jadi Pacar Ku
Bab 2 dari 10
Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.
Tiga hari berlalu sejak Lina membawa Kael pulang, dan hidupnya mulai berubah dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.
Hari pertama, Lina mendapati sepatu-sepatunya yang biasa berserakan di depan pintu sudah tersusun rapi — berpasangan dengan sempurna. Ia menoleh ke Kael yang sedang duduk di atas meja, menjilat kakinya dengan tampang tak berdosa.
"Kamu yang beresin?" tanya Lina, lalu tertawa sendiri. "Ya nggak mungkin lah. Pasti aku yang lupa."
Hari kedua, Lina pulang dari kerja shift malam dalam keadaan nyaris sempoyongan karena kelelahan. Ia melempar tasnya asal dan langsung ambruk ke kasur tanpa mengganti baju. Saat ia terbangun keesokan paginya, selimut sudah terbentang rapi menutupi tubuhnya — padahal ia yakin seratus persen semalam ia tidur di atas selimut, bukan di bawahnya.
Kael duduk di ujung kasur, menatapnya dengan mata emas yang berkilau terkena cahaya pagi.
"Kael... kamu yang selimutain aku?"
"Miaaw."
Lina menyipitkan mata. "Oke, kamu memang kucing paling aneh yang pernah aku temui."
Tapi hari ketiga — hari ketiga adalah hari yang membuat Lina benar-benar yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kucing pungutannya.
Sore itu Lina sedang menghitung uang receh di atas meja, mencoba merangkai anggaran untuk seminggu ke depan. Dahinya berkerut dalam. Gaji dari minimarket belum cair, dan uang tip dari warung kopi minggu ini lebih sedikit dari biasanya. Ia menghela napas berat.
"Seratus dua puluh ribu untuk tujuh hari," gumamnya. "Tujuh belas ribu per hari. Buat makan aku sama kamu, Kael."
Kael melompat ke atas meja dan duduk di samping tumpukan koin. Ia menatap uang receh itu, lalu menatap Lina. Kemudian ia mengulurkan cakarnya dan — dengan gerakan yang sangat perlahan dan sangat disengaja — mendorong beberapa koin kembali ke arah Lina.
Seolah berkata: Pakai saja untuk dirimu. Aku tidak apa-apa.
Jantung Lina berdegup aneh. "Kael..."
Kucing itu mengeong pelan, lalu melompat turun dari meja dan berjalan ke sudut ruangan — tempat Lina biasa meletakkan piring kecil berisi makanannya. Kael menatap piring itu, lalu berbaring memunggunginya.
Menolak makan.
"Hei, hei, kamu harus makan!" Lina buru-buru menghampiri dan mengelus punggungnya. "Aku nggak akan kelaparan, kok. Jangan kayak gitu dong."
Kael menoleh. Mata emasnya menatap Lina dengan sorot yang begitu sedih — begitu manusiawi — hingga Lina merasakan dadanya sesak. Tidak ada kucing di dunia ini yang bisa menatap seperti itu. Tidak ada kucing yang bisa memahami pembicaraan tentang uang dan memilih untuk tidak makan agar majikannya bisa makan lebih banyak.
"Kamu ini sebenarnya apa, sih?" bisik Lina, suaranya bergetar.
Kael hanya memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya ke telapak tangan Lina.
Malam itu, sesuatu yang lebih mengerikan terjadi.
Lina sedang berjalan pulang dari warung kopi. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Gang menuju kontrakannya gelap dan sepi — lampu jalan di ujung gang sudah mati sejak berminggu-minggu lalu dan tidak ada yang memperbaikinya.
Langkah kaki Lina terhenti saat ia mendengar suara langkah lain di belakangnya.
Berat. Tergesa. Semakin dekat.
"Hei, nona."
Lina menoleh. Seorang pria bertubuh besar berdiri di belakangnya, wajahnya setengah tertutup bayangan. Matanya merah — mabuk, atau sesuatu yang lebih buruk.
"Sendirian aja malam-malam. Nggak takut?"
Lina mundur selangkah. Tangannya meremas tali tasnya. "Saya mau pulang. Permisi."
"Nggak usah buru-buru dong." Pria itu maju selangkah. Tangannya terulur, mencoba meraih pergelangan tangan Lina.
Lina hendak berteriak — tapi sebelum suaranya keluar, sebuah bayangan hitam melesat dari atas tembok.
SRAAKK!
Kael mendarat tepat di wajah pria itu. Cakarnya menyabet dengan kecepatan dan kekuatan yang mustahil untuk kucing seukurannya. Pria itu berteriak kesakitan, mundur terhuyung sambil memegangi wajahnya yang tergores panjang dari dahi sampai pipi.
"KUCING SIAL—!"
Kael mendarat di tanah di antara Lina dan pria itu. Punggungnya melengkung, bulunya berdiri, dan dari tenggorokannya keluar geraman rendah yang tidak terdengar seperti kucing — lebih seperti geraman serigala kecil yang siap membunuh.
Tapi yang membuat pria itu benar-benar lari ketakutan bukan geraman itu.
Mata Kael bersinar terang dalam kegelapan. Emas menyala seperti dua bola api kecil yang melayang di udara. Dan di sekeliling tubuhnya, untuk sepersekian detik, udara bergetar — seolah ada kekuatan tak kasat mata yang memperingatkan: Pergi, atau kau akan menyesal.
Pria itu tersandung kakinya sendiri, jatuh, bangkit lagi, lalu berlari tanpa menoleh.
Keheningan kembali menyelimuti gang itu.
Lina berdiri gemetar, lututnya lemas. Ia merosot ke tanah, dan Kael segera berlari ke pangkuannya, mengeong khawatir sambil menyentuhkan kepalanya ke pipi Lina yang basah oleh air mata.
"K-Kael..." Lina memeluk kucing itu erat-erat, tubuhnya masih menggigil. "Kamu... kamu datang dari mana? Bagaimana kamu bisa di sini? Kamu harusnya di rumah..."
Kael menjilat air mata di pipi Lina dengan lembut, lalu mengeong pelan. Dengkurannya kembali terdengar — hangat, menenangkan, seperti dekapan yang berkata: Aku di sini. Kau aman.
Lina menangis dalam diam, memeluk Kael sepanjang jalan pulang.
Malam itu, sebelum tidur, Lina menatap Kael yang berbaring di sampingnya.
"Kael, aku nggak tahu kamu ini kucing macam apa," bisiknya. "Tapi aku bersyukur kamu ada."
Kael mengulurkan cakarnya dan menyentuh jari Lina — lembut, hati-hati, seperti seseorang yang sedang menggenggam tangan orang yang paling berharga baginya.
Dan di luar jendela, bulan sabit bergerak perlahan menuju purnama.
Empat belas hari lagi, Kael akan menunjukkan wujud aslinya.
Empat belas hari lagi, hidup Lina akan berubah selamanya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya