Customer Service

Catching Him

Bab 1 dari 2

Bab 2
100%

Bab 1: Jagiya

Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.



Catching Him : 1. Jagiya



Kamis, 30 Jan 25


Senja merapat mengisi sore saat Ivory berdiri di teras toko tempat dia menghabiskan hari selama beberapa bulan terakhir.


Seperti sebelumnya, dia menunduk pamit pada sang owner.


Ketika berbalik, seorang pria tampan telah menunggu di dalam mobil hitam. 


Tidak lebih dari sepuluh menit keduanya telah memasuki halaman rumah yang cukup nyaman untuk disebut sederhana.


"Lelah?" Kaito menatap Ivory dengan rambutnya yang diikat dan sedikit berantakan.


Sisa bulir keringat menjadikan wajah gadis tersebut terlihat berminyak. Gurat lelah memang melekat pada tatapan matanya yang menyayu.


Ivory hanya menjawab singkat. "Sedikit."


Lalu keduanya berjalan masuk. 


"Mau mandi atau makan dulu?" Kaito terlihat tenang seperti biasa.


"Aku mau menggerakkan tubuhku beberapa menit." Gadis itu kembali menyembunyikan senyum. Matanya menatap sekilas pada pria yang menikahinya tiga tahun lalu itu. 


Gurat tenang yang tergambar di wajah pria itu selalu menariknya mendekat secara alami. Namun, ingatan akan tiga tahun lalu kembali mendorongnya mundur.


Masih belum ada harapan, pikirnya.


Dengusan frustrasi tersebut tertangkap oleh Kaito. "Kau tidak harus memaksa tubuhmu untuk."


"Aku tahu. Gomawo, Tuan." Lalu hati gadis tersebut kembali merasakan remasan nyeri.


Terselip keinginan untuk memanggil nama kecilnya--Kaito. Namun, kejadian yang dia alami adalah fakta yang tidak bisa dibantah.


Ivory kembali terdorong mundur dari berpikir lebih--serakah.


"Merasa tidak nyaman?" bisik Kaito yang menahan ujung-ujung jemari Ivory seperti berniat merangkum dengan miliknya.


Namun, sekali lagi ... Ivory harus terbangun. "Tidak. Aku hanya butuh musik yang keras, lalu bergerak."


Gadis itu berlalu meninggalkan pria tampan yang masih berdiri di tempatnya.


Ruangan yang cukup luas di mana lantainya dilapisi kayu menjaga kaki telanjang Ivory agar tetap hangat.


Perlahan dia memasang kain pelindung pada kedua lututnya, lalu membentang alas yoga, sebelum akhirnya menyalakan musik dangdut koplo dengan keras. 


Pintu yang tertutup rapat memblokir suara keluar, hingga yang terlihat dari balik dinding yang terbuat dari kaca tebal tersebut adalah bagaimana cara tubuh berisi Ivory bergerak pelan merespon alunan musik mirip menari.


Musik dangdut koplo khas dengan hentakan gendang yang membius penikmatnya untuk beberapa belas menit mengubur resah di dalam hati gadis itu.


Tubuhnya bergerak dan terlihat sederhana tanpa teori pasti. Hanya berfokus pada gerakan pinggul--memutar setengah lingkaran dan memantul.


Setiap dari mereka hanya terlihat mirip melatih kelenturan otot dasar panggul.


Ketika merasakan setiap otot di sekujur tubuhnya yang stres mengendur perlahan, gadis tersebut mulai mendudukkan dirinya di atas alas yoga.


Ivory terlihat duduk bersimpuh di atas lantai dengan menekuk lutut yang dia buka lebar, melipat kakinya ke belakang, dan menduduki tumit sendiri sementara badannya tegak.


Dari jauh terlihat gadis tersebut sedikit menarik dadanya ke depan hingga posisi panggulnya mirip menungging.


Kaito mulai meneguk ludah kasar. Pria tersebut telah menatap kebiasaan istrinya ini setiap hari. Tapi, setiap hari pula dadanya akan berdegub berantakan. Ivory mulai membius angannya.


Detik berikutnya Ivory terlihat mengangkat sedikit tinggi kedua bongkahan pantatnya untuk kembali menggerakkan pinggulnya memutar perlahan setengah lingkaran dengan menahan otot dasar panggulnya.


Pemandangan yang menyeret aroma seks, karena jelas tergambar cara menyamankan seorang pria ketika mengambil posisi woman on top.


Yeah, ini adalah alasan kenapa setiap sore setelah jam empat Muhib dan Ehan sudah harus meninggalkan rumah utama.


Nakano Kaito harus memblokir pandangan setiap orang. Hanya dia yang akan menikmati untuk menatapi dengan nyaman dengan menyeret sebuah sofa yang sengaja dia letakkan tepat di mana gerakan tubuh Ivory terlihat sempurna.


Tatapan mata pria tersebut masih sama; tenang. Tapi ... dadanya mulai berdebar berantakan.


Namun, Kaito adalah seorang pemburu yang sabar. Dia akan memastikan mangsanya menyerah bahkan tanpa merasa dipaksa untuk.


Secangkir teh hangat, seorang istri yang dipuja menenggelamkan angan pria itu. Meski detik berikutnya dia harus terhenyak ketika siluet indah di depan sana terlihat mengeluh karena lututnya telah terlalu lelah.


Kaito hampir berlari pada Ivory jika seseorang tidak menghentikannya. Matanya menatap tajam pada pria yang memblokir pandangannya.


"Mau merebutnya dariku, Aoi?" Suara berat Kaito seakan bisa merobohkan siapa saja. 


"Saya tidak tertarik, Hyung."


Mizushima Aoi (33) adalah orang termuda dan kesayangan kakek Nakano.


Dia khusus dibawa ke Korea Selatan untuk menjaga Nakano Kaito setelah kedua orang tuanya bercerai 15 tahun lalu. Jadi, sejak muda keduanya telah dibesarkan di Incheon, mereka lebih terlihat mirip orang Korea.


"Tetaplah seperti itu!" Kaito tersenyum tenang.


Lalu tatapan keduanya beralih pada sosok yang mereka bicarakan. Ivory terlihat telah menyelesaikan kesenangannya.


"Sesuatu terjadi?" tanya gadis tersebut dengan senyum ringannya saat langkah kakinya berhenti di depan suaminya.


"Tidak." Kaito beranjak berdiri untuk memberikan sebuah handuk pada istrinya.


Keduanya berjalan meninggalkan Mizushima Aoi yang menikmati sebatang rokok. Pria tampan tersebut tersenyum kaku. "Sama-sama bucin akut," gumamnya lirih.


Kaito berjalan mengekori Ivory menuju halaman belakang di mana set kursi berada. Gadis itu mendudukkan tubuh lelahnya di sana.


"Minumlah!" Kaito menawarkan segelas air putih.


Keringat membasahi setiap inci kulit putih Ivory--yang terlihat menarik Kaito untuk merengkuhnya. Tapi, ingatan tentang pelecehan yang dialami gadis itu lagi dan lagi untuk kesekian kalinya menghentikannya dari berbuat lebih.


"Gomawo." Ivory menerima gelas tersebut. 


Lalu kembali mata Kaito harus menatap adegan seksi yang menariknya untuk mendekat.


Ketika Ivory menelan air, Kaito dapat melihat bagaimana leher jenjang istrinya tergerak indah.


Kaito harus menahan dirinya. Dia berlalu meninggalkan Ivory.


"Mau ke mana?" tanya Ivory tiba-tiba.


Kaito harus menelan ludah kasar. Langkah kakinya terhenti sesaat. "Menyiapkan air mandi untukmu." 


Pria itu berlalu dengan perasaan menggebu, bahkan untuk memanggil istrinya 'Jagiya' sangat sulit."


"Gomawo."


Lamat kata tersebut sampai di telinga yang lebih tua. Lalu dia hanya menjawab dengan deheman singkat. Kaito harus menyembunyikan degub jantungnya yang bergeser sedikit berantakan.


Rumah mereka cukup tenang, tidak ada wanita selain Ivory. Saat menjelang malam hanya ada Mizushima Aoi yang tinggal di kamar paling depan rumah utama.


Yep, Kaito tidak membiarkan istrinya ditatapi oleh pria lain.


Ruangan kamar mandi yang tenang diisi oleh suara gemiricik air keran air hangat yang mengisi bathtub. Pria tampan berusia 35 tahun itu masih menunggu dan menyiapkan setiap hal dengan detail.


Ketika jemari rampingnya mematikan keran air, langkah kaki Ivory telah sampai di belakangnya.


Gadis 10 tahun lebih muda darinya tersebut dengan malas mulai membuka kancing bajunya.


Kaito hanya menelan ludah kasar tanpa berani bersuara atau menunjukkan ekspresi berarti. Mustahil Kaito tidak terpancing, tapi dia harus menjaga gadisnya dengan sangat hati-hati.


Jadi, Kaito membantu Ivory untuk melepas setiap helai kain yang membungkus tubuh gadis tersebut. Dia juga yang menuntun jemari istrinya ketika melangkah masuk ke dalam bathtub.


Meski ... dia cukup sadar setiap hal tentang Ivory akan membuatnya mabuk bahkan ketika tenggorokannya tidak sedang tersentuh alkohol.


"Damn!" bisik Kaito ketika berbalik untuk meninggalkan ruangan yang terasa semakin menghimpitnya.


Dengan identitas Hong Ji-hye atau Nakano Ivory, sebagai siapa pun, gadis yang sedang merendam tubuhnya dalam air hangat itu adalah 'wine' untuk Kaito.


Ivory = berbahaya.


"Tuan Nakano."


"Nde." Langkah kaki Kaito terhenti. Pria tersebut mengeratkan rahangnya.


"Bisakah ... Anda menungguiku sampai selesai?" 


"Tentu, Ivory." Sekali lagi ... seharusnya dia menggunakan kata 'Jagiya'.


Kaito harus mencari bantuan oksigen setelah ini.



tbc






Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab