Customer Service

Dicintai Ugal-ugalan Sama Mas Bule

Bab 2 dari 3

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Ketemu Lagi

Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.

 Matahari pagi yang menyongsong terasa sangat hangat dan cerah. Seolah memberikan semangat baru kepada penduduk bumi untuk segera beraktivitas dan memulai hari yang baru. Seperti halnya Jane yang tengah memandangi dirinya didepan cermin full body kamarnya.

 

Setelan formal yang dipinjamkan Livia terasa pas ditubuhnya serta sepatu wedges yang membalut kakinya semakin menunjang penampilannya. Namun tampaknya ia harus sedikit merias wajahnya agar terlihat cerah karena warna kulitnya agak pucat. Dihari pertamanya bekerja, ia harus memberikan kesan yang baik agar tidak mempermalukan Livia. Bagaimanapun juga sahabatnya itu sudah memberikan kepercayaan padanya, jadi Jane tidak boleh mengecewakannya.

Tangan Jane dengan terampil membubuhkan make up tipis ke wajahnya dan juga rambutnya ia rapikan. Dirinya beruntung karena tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan pekerjaan di negara ini.

"Jane, udah siap belum?" tanya Livia yang telah membuka pintu kamar Jane.

"Udah, Liv," jawab Jane meletakkan kembali peralatan make upnya dan meraih tas selempang diatas nakas.

"Oh, yaudah. Sarapan dulu, yuk," ajak Livia yang diangguki Jane.

-------

"Nih Jane, lo harus makan yang banyak-banyak. Soalnya boss lo ini spesies langka. Jadi lo perlu asupan nutrisi yang banyak untuk menunjang fisik dan mental lo yang mungkin akan sedikit terganggu nantinya," celoteh Livia sambil meletakkan beberapa roti lapis diatas piring Jane, tidak lupa segelas susu ia siapkan juga.

"Emang boss temen lo ini gimana orangnya?" tanya Jane penasaran.

Livia sesaat bergidik ngeri.

"Dia itu tipe perfeksionis banget, maklum lah yah orang crazy rich. Awalnya gue nggak sengaja temenan sama adeknya yang kemarin nelfon gue. Eh lama-kelamaan gue juga temenan sama tuh orang. Jadilah kalo misal dia lagi di Indo, gue yang di suruh jadi sekretaris sementara dia karena katanya cuman gue yang kebal sama pesonanya. Iyalah wong gue sukanya sama Dante," jelas Livia panjang lebar yang diakhiri dengan senyum malu-malu ketika membayangkan pujaan hatinya.

"Maksudnya dia ganteng banget gitu?" tanya Jane lagi.

Livia mengangguk dengan semangat, "Ganteng banget malahan. Blasteran Australia-Italia. Makanya banyak yang suka ama dia. Oh ya, nanti jangan heran kalau dia bisa lancar pake bahasa indo soalnya dia sama Seth emang sering bolak-balik Indonesia-Australia. Karena cabang perusahaannya disini cukup sukses trus kan Indo sama Aussie deket. Jadi flightnya nggak terlalu lama lah."

"Lo nggak suka juga sama dia?" tanya Jane hati-hati yang dibalas dengusan oleh Livia.

"Nggak ah, selain karena gue sukanya Dante. Calon boss lo itu otoriter bangeet. Mentang-mentang nggak pernah susah jadi suka suruh-suruh orang. Jadilah kerjaan ini gue kasih ke elo karena gue tau lo orangnya penuh dengan stok kesabaran. Cocoklah sama boss lo itu," balas Livia setengah terkekeh.

Dalam hati, Jane agak tidak yakin dengan pendapat Livia. Mendengarnya saja sudah membuat Jane memvisualisasikan jika bossnya itu hanyalah pria arogan yang tidak punya hati dan akan menindasnya nanti. Entah mengapa, bulu kuduk gadis itu agak merinding.

"Tapi tenang aja, Jane. Ini cuman sementara, abis kontrak lo kelar. Lo bisa foya-foya pake gaji dollar lo, puas deh," sambung Livia sambil menyelipkan sebuah semangat kepadanya.

"Bener juga," batin Jane.

Selama hidup di Seoul, Jane sudah terbiasa mengikuti trend mode fashion yang sedang hype. Dan tentunya itu bukan barang murah tapi bernilai fantastis. Sialnya, hal itu sudah mendarah daging di tubuhnya sehingga tanpa ia bisa cegah hasrat untuk berbelanja selalu menyeruak.

Ketika memutuskan untuk memulai hidup baru di negara ini, Jane tidak membawa banyak barang-barang dan uang hanya secukupnya sebab keluarga besar Jane tidak memperolehkannya. Sehingga kesempatan yang diberikan Livia cukup emas baginya. Tidak peduli segalak apapun bossnya, ia akan arungi demi DUIT.

"Oke, Liv. Gue bakal bekerja keras setelah ini dan juga gue menaklukan calon boss gue itu," tekad Jane dengan semangat api yang membara. Jiwanya sedang terbalut dengan keoptimisan yang menyala.

-----

Mobil yang dikendarai Livia dan Jane berhenti di sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Di lobinya banyak karyawan berlalu lalang keluar masuk kedalam gedung. Jane sudah merasa tidak asing dengan keadaan tersebut karena dulunya dirinya juga melakukan hal yang sama saat di Seoul. Dan tidak lama lagi pula, Jane akan bergabung dengan mereka.

"Ayo turun, Jane. Kita udah ditungguin," kata Livia sembari melepaskan seatbeltnya lalu membuka pintu mobil dan tidak lupa membawa tas selempang miliknya.

Jane turut melakukan hal yang sama dan mengikuti langkah ringan Livia yang masuk kedalam gedung tersebut. Jantungnya berdegup kencang ketika kedua kakinya telah menginjak lobi dan seketika perasaan gugup melandanya. Tanpa bisa ia cegah, keringat dingin mengguyur kulitnya dibalik baju.

"Hwaiting, Jane," batin Jane memberi semangat lalu menarik nafas dan membuangnya. Ia akan berusaha keras untuk tidak mengacaukan hari ini.

-------

Ting!

Pintu lift terbuka ketika telah sampai dilanytai 15 yang merupakan lantai teratas di gedung ini serta tempat sang pemilik perusahaan bekerja. Disini tidak banyak pekerja yang terlihat hanya beberapa OB yang sedang membersihkan lantai dan sekitarnya.

Livia dengan segera keluar dari lift dan berjalan menuju tempat yang sudah tidak asing baginya diikuti Jane di belakangnya. Sesekali Jane memperhatikan interior disekelilingnya yang terlihat elegan dan artistik. Ternyata dibalik hiruk pikuk lantai bawah terdapat sebuah tempat bekerja seperti ini. Sangat tenang.

"Seth, gue udah sampe," kata Livia pada seorang pria yang sedang mengerjakan sesuatu pada komputernya.

Pria yang bernama Seth itu kemudian mendongakkan kepalanya menatap Livia yang sedang berdiri didepan meja kerjanya. Netranya lalu beralih menatap seorang gadis yang berdiri di belakang Livia dengan setelan formalnya.

"Jadi dia yang bakalan kerja sama Babas?" tanya Seth.

"Iya. Jane kasih berkas-berkas lo ke dia."

Jane pun mengangguk dan mengeluarkan berkas-berkas yang tadi malam telah ia siapkan dan menyodorkannya pada Seth dengan sopan.

"Hmm... Kalian silahkan duduk," balas Seth mempersilahkan kedua gadis itu untuk duduk sementara dirinya membaca berkas-berkas lamaran Jane. Walaupun dia percaya dengan Livia tapi ia tetap harus mengikuti protokol perusahaan.

Perasaan gugup kembali menyerang Jane tatkala menatap Seth yang terlihat sangat serius meneliti berkas-berkasnya. Suasana mendadak hening dan Jane dapat mendengar dentingan jam dinding. Well, dalam hati Jane tidak akan berbohong jika pria didepannya ini memang sangat tampan dan juga aura sultannya sangat menguar. Terlihat dari cara berpakaiannya, wajahnya, dan caranya membolak-balikan kertas-kertas itu. Pesona cowok western memang sangat susah ditolak. Ditambah ia kagum dengan Seth yang terlihat sangat fasih berbahasa Indonesia seolah memang warga lokal disini.

"Oke, kriterianya memenuhi. Apalagi pengalaman magang dan kerjanya juga bukan di perusahaan ecek-ecek. Sesuai lah sama yang diharapkan Babas," kata Seth menutup map yang berada didepannya dan membuat senyum lima jari terbit di bibir kedua gadis tersebut.

"Kan udah gue bilang kemarin, gue tuh udah hafal selera kalian berdua," kata Livia bangga.

"Tapi giliran Dante lo nol besar," cibir Seth membuat Livia cemberut.

"Goblok," maki Livia pelan.

"Nah, gini nih. Kenapa Dante nggak suka sama lo," ejek Seth membuat Livia semakin kesal.

Pria itu terkekeh pelan karena berhasil membuat wajah Livia memerah karena marah. Ia kemudian mulai membuka lemari meja kerjanya dan mengambil sebuah map hitam.

"Ini kontraknya, baca-baca aja dulu. Disini ada peraturan kerja, perjanjian kerja, sama benefits yang didapat," jelas Seth membuka map itu dan meletakkannya didepan Jane.

Dengan sigap gadis keturunan asli Korea itu mengambilnya lalu membacanya dengan teliti. Seperti yang dikatakan Seth tadi bahwasanya map itu berisi kertas yang memuat kontrak kerja antara dirinya dan perusahaan. Ada beberapa point peraturan kerja yang menurut Jane tidak ada yang salah bahkan dengan perjanjian kerja. Lalu di bagian lembar kedua berisi benefitsnya yang diterimanya sebagai gaji. Dan kedua bolamata Jane hampir keluar saat melihat gaji bulanannya.

Ia digaji 200$ dollar perhari berarti jika satu bulan ia mendapat 6000$. Bagaimana jika ia bekerja selama setahun, mungkin ia bisa membeli beberapa mobil mewah dan juga barang-barang branded. Memikirkannya saja membuat tangan Jane gatal untuk segera membubuhkan tandatangannya.

Drtttt...

Drtt..

Suara telfon yang berdering diatas meja kerja Seth membuyarkan khayalan Jane.

"Halo"sapa Seth.

"...... ".

"Ini orangnya lagi baca kontrak kerja dulu, siapa tau ada yang perlu dinegosiasi," jawab Seth sembari melirik Jane.

"....... ".

"Nggak, bukan Livia tapi temennya. Kemarin malam kan udah gue bilang kalo Livia ada urusan lain" jelas Seth berusaha sabar menghadapi kerewelan kakaknya.

"......... ".

"Eh, jangan gitu dong. Temennya Livia ini kompeten kok. Dia lulusan Universitas terbaik di Korea Selatan trus dia juga magang dan kerja di salah satu perusahaan mitra kita. Dia baru aja mau tandatangan masa mau lo tolak sih."

Jane membulatkan matanya mendengarkan perkataan Seth. Mimpi-mimpinya tadi seakan perlahan-lahan hancur. Jika ia tidak mendapatkan pekerjaan ini maka ia melewatkan kesempatan besar dan ia harus mengucapkan selamat tinggal pada wishlistnya yang hampir tercapai. Tidak! Tidak boleh, ia harus memastikan pekerjaan ini menjadi miliknya.

Maka dengan gerakan yang pasti, Jane mengambil pulpen yang berada di dekatnya dan segera menandatangani kontrak kerja tersebut.

"Dan yah, dia udah tandatangan. Jadi otomatis dia udah resmi kerja disini. Udah yah, nggak usah banyak omong. Bye," kata Seth meletakkan kembali gagang telfonnya yang terasa panas.

"Bagus, Jane," bisik Livia dengan seringaian puasnya.

Seth mengambil kembali map tersebut dan menyimpannya di laci kerjanya. Hah! Akhirnya ia terbebas dari kakaknya karena telah mendapatkan pekerja yang akan menggantikannya.

"Selamat Nona Lee, Anda boleh mulai bekerja hari ini. Untuk detail jobdesknya akan dibahas oleh atasan baru Anda. Silahkan," kata Seth menyodorkan tangannya untuk memberikan selamat.

"Terimakasih Mr. Black atas kesempatannya," ujar Livia membalas jabat tangan Seth.

"Liv, anterin dia kedalam. Takutnya dia nggak sanggup dengan aura Babas, apalagi mungkin dia lagi badmood."

Livia mengangguk, "Jangan lupa ini nggak gratis. Harus ada ongkos calo."

"Iya-iya, entar gue transfer plus gue baik-baikin lo didepan Dante," balas Seth jengah membuat Livia sumringah.

Dengan semangat Livia berdiri dari kursinya dan mengajak Jane memasuki sebuah ruangan yang bersembunyi di belakang pintu yang besar.

Ceklek...

"Good morning, Babas," kata Livia setengah berteriak untuk mengambil perhatian seorang pria yang sedang sibuk dengan berkas-berkasnya.

"Berisik."

Livia terkekeh geli ketika mendengarkan balasan tidak ramah dari Sebastian.

"Nih gue bawain sekretaris baru lo."

Pria itu kemudian mengalihkan pandangan dari berkas yang sedang diperiksanya kearah Livia dan seseorang disampingnya.

"Namanya Lee Jan Hee, tapi panggil aja Jane. Nah Jane, nama dia Sebastian Black alias boss lo," jelas Livia memperkenalkan mereka berdua.

Alis Jane mengerut ketika netranya menelisik wajah atasan barunya. Sepertinya ia pernah melihatnya di suatu tempat tapi dimana? Setelah sekian lama berpikir, akhirnya Jane berhasil mengingatnya.

"Kamu kan yang kemarin nabrak aku kemarin di Bandara," pekik Jane sambil menunjuk wajah Sebastian.

"That's not the right way to talk to your boss," jawab Sebastian dingin. (Itu bukan cara yang tepat untuk berbicara dengan atasanmu).

Kedua mata Jane membulat kearah Sebastian yang menatapnya dengan datar. Bahkan benaknya secara tiba-tiba memutar kejadian kemarin yang merupakan salah satu hari tersial dihidupnya. Dan mungkin akan berlanjut lagi.

"Liv, gue nggak jadi deh kerja disini,"bkata Jane melirik Livia.

"Lah, kenapa?" tanya Livia bingung.

Jane menghela nafas berat.

"Gue nggak bisa kerja bareng cowok menyebalkan kayak dia," tunjuk Jane lagi pada Sebastian. Sedangkan pria itu hanya memutar bola matanya kesal.

"Sstt... Jane lo udah tandatangan kontrak. Itu artinya lo udah resmi kerja disini kalo lo resign sekarang berarti lo harus bayar denda 10x lipat apalagi ini hari pertama lo," bisik Livia.

"Apaa??" kata Jane membelalak. Yatuhan, dimana ia bisa mendapat uang sebanyak itu.

"Makanya tadi Seth nyuruh lo baca kontrak itu," balas Livia.

Glek!

Jane menelan ludahnya dengan kasar. Alamak! Ini namanya maju kena mundur kena. Dia tidak mau bekerja dibawah pria menyebalkan itu tapi ia tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar uang denda. Ini semua karena ketamakannya tadi. Rasanya Jane ingin menangis keras sekarang.

"Kalo Anda tidak mau, silahkan keluar. Dan jangan lupa siapkan uang dendanya," kata Sebastian dengan nada dinginnya yang terasa mencekik Jane.

"Lo juga, Liv. Nggak becus banget jadi orang, gimana Dante mau ngelirik lo kalo kek gini," tambah Sebastian yang seperti menusuk hati Livia. Gadis itu sangat sensitif jika membahas Dante dan sialnya kedua bersaudara ini sangat dekat dengan pria itu sehingga dirinya harus selalu berurusan dengan mereka.

"Yaelah, Bas. Jahat bener. Jangan bawa-bawa Dante dong," balas Livia dengan nada lesu yang sukses membuat Jane merasa tidak enak.

Selain harus membayar denda, reputasi Livia akan buruk jika ia menolak. Padahal sahabatnya itu sudah banyak melakukan hal untuknya dan rasanya tidak etis jika Jane menyusahkannya lagi hanya karena perasaan pribadinya.

"Tidak, saya akan tetap bekerja disini. Maaf atas ketidaksopanan saya barusan, Sir. Saya jamin akan bersikap profesional selama di kantor dan berusaha memberikan seluruh kinerja terbaik saya," sahut Jane sambil menundukkan tubuhnya seperti yang ia lakukan di Seoul ketika menghadap atasannya.

Ruangan hening sejenak, tidak ada yang bersuara. Terlebih Sebastian yang hanya diam di kursi kebesarannya sambil mengetukkan jari telunjuknya diatas meja seolah mempertimbangkan sesuatu. Sedangkan Livia hanya bisa berdoa dalam hati agar setidaknya hari ini Sebastian bisa luluh.

Lama menunggu membuat punggung Jane agak sakit karena terus menunduk. Tapi itu tidak seberapa dengan rasa tegang yang muncul karena pikiran-pikiran negatif yang menguasai benaknya. Apakah pria didepannya ini tersinggung dengan ucapannya tadi. Kalau iya, habislah dirilah.

"Oke."

Sebuah senyuman manis terpatri di bibir Livia. Dan Jane sudah menegakkan kembali tubuhnya dan mengulas senyum tipis. Hah! Akhirnya keberuntungan berpihak padanya.

"Setelah ini, kamu belajar sama Seth tentang seluk-beluk pekerjaan kamu dan semua hal yang berkaitan. Saya tidak mau melihat kesalahan, besok. Cukup untuk hari ini," jelas Sebastian sebelum kembali berkutat pada pekerjaannya.

"Oki doki, Babas. Gue pastiin Jane bakal ngalahin kinerja Seth," pungkas Livia dengan nada ceria lalu menarik Jane untuk keluar dari ruangan tersebut dan menemui Seth. Ia harus memastikan Jane benar-benar sesuai dengan kriteria yang diinginkan Sebastian.

"Hmm," dehem Sebastian singkat.

Blam!

Suara pintu yang tertutup. Pria itu melirik singkat kearah pintu tadi dan sebuah senyuman tipis menghiasi bibirnya.

  

 ~tbc~



Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab