Bab 2 dari 26
Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.
Pagi datang tanpa membawa kehangatan.
Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, menutupi lembah yang berada jauh di luar Kota Elaris. Burung-burung hutan terbang menjauh dari sebuah tempat yang beberapa jam sebelumnya dipenuhi ledakan energi spiritual.
Di antara pepohonan yang terbakar, seorang pemuda berjalan tertatih.
Alden Rael.
Wajahnya pucat.
Tubuhnya dipenuhi luka.
Setiap langkah terasa seperti menghancurkan tulang-tulangnya sendiri.
Namun ia tetap berjalan.
Ia tidak tahu sudah berapa lama dirinya meninggalkan Kota Elaris.
Yang ia tahu hanya satu.
Ia harus hidup.
Jika ingin mengetahui siapa yang membunuh keluarganya, ia harus tetap hidup.
Alden akhirnya menemukan sebuah gua kecil di balik tebing.
Ia masuk tanpa berpikir panjang.
Begitu berada di dalam, ia bersandar pada dinding batu dan perlahan duduk.
"Hah..."
Napas panjang keluar dari mulutnya.
Tangannya gemetar.
Api hitam-keemasan yang muncul dalam prolog telah menghilang.
Namun Alden dapat merasakan keberadaannya.
Api itu berada di dalam jiwanya.
Menunggu.
Mengawasi.
Seolah-olah memiliki kehendak sendiri.
Alden menutup mata.
Ia mencoba memeriksa keadaan tubuhnya menggunakan kesadaran spiritual.
Beberapa saat kemudian, ekspresinya berubah.
"Jiwa Asalku..."
Sebelum malam pembantaian, Jiwa Asalnya dianggap sebagai salah satu yang terlemah.
Namanya adalah Jiwa Tungku.
Bentuknya sederhana.
Sebuah tungku kecil berwarna abu-abu yang hanya mampu menghasilkan sedikit energi spiritual.
Tidak memiliki kemampuan tempur.
Tidak memiliki atribut elemen yang kuat.
Bahkan para tetua keluarga pernah mengatakan bahwa Alden mungkin tidak akan mampu mencapai Ranah Roh seumur hidupnya.
Karena itulah Alden selalu dianggap sebagai pemuda tanpa masa depan.
Namun sekarang sesuatu telah berubah.
Di dalam ruang jiwanya, tungku abu-abu tersebut masih ada.
Tetapi di bawahnya terdapat sebuah nyala api hitam dengan inti emas.
Api tersebut berputar perlahan.
Alden mencoba menyentuhnya dengan kesadarannya.
WUSSH!
Seketika rasa panas menjalar ke seluruh tubuh.
Alden segera menarik kesadarannya.
"Api itu..."
Ia terdiam.
Kemudian sebuah suara mekanis terdengar dalam pikirannya.
[Eternal Black-Gold Flame telah terikat dengan Jiwa Asal.]
[Kemampuan Soul Refinement tersedia.]
[Energi spiritual dapat dimurnikan melalui Api Jiwa.]
Alden mengerutkan kening.
"Soul Refinement..."
Ia belum pernah mendengar teknik seperti itu.
Namun rasa ingin tahunya terlalu besar.
Alden menarik napas.
Ia duduk bersila.
Kemudian mencoba mengaktifkan kemampuan tersebut.
Dalam sekejap energi spiritual dari sekeliling tubuh mulai bergerak.
Kabut di dalam gua berputar.
Energi tersebut perlahan memasuki tubuh Alden melalui pori-porinya.
Biasanya, energi spiritual yang masuk harus melewati meridian sebelum disimpan dalam inti jiwa.
Namun kali ini berbeda.
Energi itu langsung tertarik menuju Jiwa Asalnya.
Menuju tungku.
Dan Api Hitam-Keemasan mulai menyala.
WUSSH!
Energi spiritual yang awalnya keruh perlahan berubah menjadi lebih murni.
Alden terkejut.
"Ini..."
Energi spiritual yang telah dimurnikan mengalir melalui meridian tubuhnya.
Rasa sakit muncul.
Meridiannya terasa seperti terbakar.
Tetapi setelah beberapa saat—
BOOM!
Tekanan spiritual meledak dari tubuhnya.
Alden membuka mata.
Cahaya emas melintas di pupilnya.
"Jiwa Terbangun tingkat empat?"
Ia hampir tidak percaya.
Sebelum kejadian semalam, kultivasinya berada di tingkat tiga.
Hanya dengan beberapa tarikan napas menggunakan Soul Refinement ia menembus satu tingkat.
Alden mengepalkan tangan.
Namun kegembiraan itu hanya berlangsung sesaat.
Ia menyadari sesuatu.
Jika Api Jiwa tersebut benar-benar sekuat itu, mengapa keluarganya masih bisa dibunuh?
Mengapa ayahnya harus mati?
Mengapa dirinya tidak pernah mengetahui kekuatan tersebut sebelumnya?
Dan yang paling penting siapa yang menyegel kekuatan di dalam jiwanya?
Alden memejamkan mata.
"Belum saatnya."
Ia berdiri.
Tubuhnya masih lemah.
"Aku terlalu lemah."
Ia membutuhkan kekuatan.
Dan dunia ini hanya memiliki satu cara tercepat untuk meningkatkan kekuatan.
Monster Jiwa.
Di dunia Soulara, Monster Jiwa merupakan makhluk yang hidup dengan menyerap energi spiritual.
Mereka dapat ditemukan di hutan, pegunungan, lembah, gurun, bahkan lautan.
Semakin lama mereka hidup, semakin kuat inti jiwa mereka.
Ketika Monster Jiwa dibunuh oleh seorang kultivator, energi jiwa yang terkumpul selama hidupnya akan terkondensasi menjadi sebuah benda.
Cincin Roh.
Cincin tersebut akan memiliki warna sesuai dengan usia Monster Jiwa.
Monster Jiwa berusia puluhan tahun menghasilkan Cincin Roh putih.
Ratusan tahun menghasilkan kuning.
Ribuan tahun menghasilkan ungu.
Sepuluh ribu tahun menghasilkan hitam.
Seratus ribu tahun menghasilkan merah darah.
Dan Monster Jiwa yang telah hidup selama jutaan tahun menghasilkan Cincin Roh emas.
Namun mendapatkan Cincin Roh bukan berarti langsung memperoleh kekuatan.
Cincin Roh mengandung kehendak Monster Jiwa.
Jika seorang kultivator menyerapnya tanpa pemurnian jiwanya dapat dihancurkan.
Karena itu, para kultivator biasanya menggunakan teknik khusus.
Sedangkan para Alchemist menggunakan Api Jiwa.
Alden mengingat pelajaran yang pernah diberikan gurunya dahulu.
Seorang Alchemist bukan hanya orang yang mampu membuat pil.
Seorang Alchemist sejati adalah orang yang mampu memahami energi spiritual dan memurnikannya.
Dan sekarang Alden memiliki Api Jiwa.
"Kalau begitu..."
Tatapannya menjadi serius.
"Aku harus mendapatkan Cincin Roh pertamaku."
Alden meninggalkan gua.
Hutan di hadapannya begitu luas.
Pepohonan menjulang tinggi.
Kabut menutupi tanah.
Suara aneh terdengar dari kejauhan.
Grrrr...
Alden berhenti.
Tangannya perlahan terangkat.
Energi spiritual mengalir.
Ia menatap semak-semak di depannya.
"Keluar."
Tidak ada jawaban.
Alden mengaktifkan kesadaran spiritual.
Seketika ia merasakan keberadaan makhluk hidup.
Tepat di sebelah kanan.
WHOOSH!
Seekor binatang menerjang.
Tubuhnya menyerupai serigala, tetapi ukurannya dua kali lebih besar.
Bulu abu-abu.
Mata merah.
Taring panjang.
Alden melompat ke samping.
BAM!
Cakar Monster Jiwa itu menghantam pohon.
Pohon besar langsung retak.
Alden menarik napas.
"Monster Jiwa..."
Ia mengenali makhluk tersebut.
Grey Fang Wolf.
Monster Jiwa berusia sekitar dua puluh tahun.
Cincin Roh putih.
Bagi kultivator kuat, makhluk seperti ini tidak berarti apa-apa.
Namun bagi Alden ini adalah lawan yang sempurna.
Grey Fang Wolf kembali menyerang.
Alden menghindar.
Cakarnya melewati wajahnya.
Alden memutar tubuh dan menghantam sisi tubuh monster tersebut.
DUK!
Pukulannya membuat Grey Fang Wolf bergeser.
Tetapi tidak cukup untuk membunuhnya.
"Pertahanannya kuat."
Alden mundur.
Monster itu menggeram.
Kemudian energi spiritual berkumpul di mulutnya.
Alden menyadari bahaya.
"Teknik Jiwa?"
Serigala itu mengeluarkan raungan.
ROOOARR!
Gelombang energi menghantam Alden.
Alden terlempar.
Punggungnya membentur pohon.
"Damn..."
Ia menghapus darah di sudut bibir.
Monster Jiwa ternyata jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan.
Grey Fang Wolf kembali menerjang.
Kali ini Alden tidak menghindar.
Ia menunggu.
Lebih dekat.
Lebih dekat.
Sampai jarak mereka hanya tinggal beberapa meter.
Alden mengepalkan tangan.
"Soul Refinement."
Api hitam-keemasan muncul di telapak tangannya.
Energi spiritual yang telah dimurnikan mengalir ke seluruh tubuh.
Kemudian Alden bergerak.
BOOM!
Tinju menghantam kepala Grey Fang Wolf.
Monster itu terlempar.
Alden mengejar.
Satu pukulan.
Dua pukulan.
Tiga pukulan.
Pada pukulan terakhir—
CRACK!
Tengkorak monster tersebut retak.
Tubuh Grey Fang Wolf jatuh ke tanah.
Hutan menjadi sunyi.
Alden berdiri dengan napas berat.
Ia menatap monster yang baru saja dibunuhnya.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar membunuh Monster Jiwa.
Beberapa detik kemudian, tubuh Grey Fang Wolf mulai berubah.
Energi spiritual keluar dari tubuhnya.
Kemudian berkumpul di udara.
Cahaya putih muncul.
Sebuah cincin berwarna putih perlahan terbentuk.
Cincin itu berputar di udara.
Alden menatapnya.
"Jadi ini..."
Cincin Roh.
Cincin putih itu bergerak perlahan.
Kemudian melayang menuju tangan kanan Alden.
WUSSH!
Cincin tersebut berhenti tepat di atas telapak tangannya.
Alden merasakan energi liar dari dalamnya.
Ada raungan Grey Fang Wolf di dalam Cincin Roh.
Seolah-olah monster itu masih hidup.
Alden mengerutkan kening.
"Jadi sebelum menyatu..."
Ia mengingat penjelasan gurunya.
Cincin Roh harus dimurnikan.
Alden menatap api di telapak tangannya.
"Eternal Black-Gold Flame..."
Api hitam-keemasan muncul.
Cincin putih bergetar.
WOOOM!
Kekuatan liar meledak.
Alden hampir kehilangan keseimbangan.
"Seperti dugaanku."
Cincin tersebut menolak dirinya.
Jika dipaksa menyatu jiwanya mungkin akan terluka.
Alden duduk bersila di bawah pohon.
Cincin Roh putih tetap melayang di atas telapak tangannya.
Api hitam-keemasan perlahan menyelimuti cincin itu.
WUSSH...
Energi liar mulai terbakar.
Raungan Grey Fang Wolf terdengar dari dalam cincin.
Alden menggertakkan gigi.
"Keluar dari cincin ini!"
Api semakin besar.
Energi spiritual liar perlahan berubah menjadi aliran energi murni.
Namun tiba-tiba—
BOOM!
Cincin itu meledak.
Alden terlempar.
Darah keluar dari hidungnya.
"Ugh!"
Cincin tersebut hampir kehilangan bentuk.
Alden menatapnya.
Ia akhirnya memahami sesuatu.
Api Jiwa memang kuat.
Tetapi dirinya belum cukup kuat untuk mengendalikannya.
Jika terus memaksakan diri yang hancur bukan Cincin Roh.
Melainkan jiwanya sendiri.
Alden mengusap darah di hidung.
Kemudian tersenyum tipis.
"Jadi beginilah jalan seorang Alchemist."
Ia kembali duduk.
Tidak menyerah.
Sekali lagi ia mengendalikan Api Jiwa.
Kali ini lebih perlahan.
Tidak memaksa.
Sedikit demi sedikit.
Api membakar energi liar dari Cincin Roh.
Warna putihnya menjadi semakin terang.
Raungan Grey Fang Wolf perlahan menghilang.
Akhirnya—
TING!
Suara jernih terdengar.
Cincin Roh berhenti bergetar.
[Pemurnian berhasil.]
[Cincin Roh Putih — 27 Tahun.]
Alden membuka mata.
Cincin tersebut kini tenang.
Tidak lagi memiliki kehendak liar.
Ia menatap benda itu beberapa saat.
Kemudian mengangkat tangan.
"Kalau begitu..."
Cincin Roh putih perlahan masuk ke telapak tangannya.
WUSSH!
Energi spiritual mengalir ke seluruh tubuh.
Alden merasakan kekuatan baru memasuki Jiwa Asalnya.
Di dalam ruang jiwanya, Cincin Roh putih mengelilingi tungku abu-abunya.
Berputar.
Perlahan.
Stabil.
Sebuah pola cincin muncul di tangan kanan Alden.
Cincin putih itu kini benar-benar menjadi bagian dari dirinya.
[Cincin Roh pertama berhasil menyatu.]
[Kemampuan Roh diperoleh.]
Alden memejamkan mata.
Informasi mengalir ke pikirannya.
Kemampuan Roh Pertama — Grey Fang Step
Kemampuan yang meningkatkan kecepatan gerak secara drastis dan memungkinkan penggunanya melakukan gerakan mendadak dalam jarak pendek.
Alden membuka mata.
Kemudian ia tersenyum.
Untuk pertama kalinya sejak malam pembantaian senyum itu bukan berasal dari kebahagiaan.
Melainkan keyakinan.
Ia menatap cincin putih di tangannya.
"Jadi beginilah caranya..."
Satu Monster Jiwa.
Satu Cincin Roh.
Satu kemampuan baru.
Namun Alden tahu Cincin putih ini hanyalah awal.
Suatu hari nanti tangannya akan dipenuhi cincin.
Putih.
Kuning.
Ungu.
Hitam.
Merah.
Bahkan mungkin emas.
Dan setiap cincin akan membawa kekuatan yang lebih besar.
Alden berdiri.
Tatapannya mengarah jauh ke dalam hutan.
"Aku membutuhkan kekuatan."
Api hitam-keemasan kembali muncul di telapak tangannya.
"Aku membutuhkan Alkimia."
Ia mengepalkan tangan.
"Dan aku membutuhkan jawaban."
Jauh di dalam hutan sepasang mata ungu tiba-tiba terbuka.
Sesuatu sedang mengamati Alden.
Sebuah aura yang jauh lebih kuat daripada Grey Fang Wolf memenuhi hutan.
Alden perlahan menoleh.
Senyumnya menghilang.
Di antara pepohonan, terdengar suara geraman rendah.
Grrrrrrrr...
Alden merasakan tekanan dari kejauhan.
Tangannya perlahan terangkat.
Cincin Roh putih muncul di tangan kanannya.
Api hitam-keemasan menyala di tangan kirinya.
Ia menatap kegelapan.
"Kalau kau ingin menjadi Monster Jiwa keduaku..."
Alden mengambil posisi bertarung.
"...datanglah."
Dari balik pepohonan sesosok bayangan raksasa melangkah keluar.
Tanah bergetar.
Dan untuk pertama kalinya sejak mendapatkan Api Jiwa Alden berhadapan dengan Monster Jiwa yang benar-benar bisa membunuhnya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya