Bab 2 dari 10
Not yet available in the requested language -- showing the original version.
Ratna memasukkan ponsel ke saku setelah membaca balasan Bimo. Suaminya sudah setuju pulang lebih dahulu, sedangkan pekerjaannya di lantai itu masih menyisakan satu ruang rapat dan beberapa gelas yang harus dikembalikan ke pantry.
Saat mendorong troli keluar dari ruang rapat, Ratna melihat Juna berjalan dari arah ruang kerjanya. Dia menggeser troli agar tidak menghalangi jalan.
“Malam, Pak.”
Juna menghentikan langkah. Tatapannya sempat tertahan pada Ratna sebelum berpindah ke perlengkapan di atas troli.
“Belum selesai?”
“Sedikit lagi.”
“Hati-hati pulangnya.”
“Iya, Pak. Terima kasih.”
Juna berjalan menuju lift tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Ratna melanjutkan pekerjaannya. Percakapan singkat semacam itu bukan hal istimewa. Selama beberapa bulan bekerja di firma tersebut, dia sudah beberapa kali berpapasan dengan Juna. Laki-laki itu tidak banyak bicara, tetapi setidaknya selalu menyapa dan tidak pernah memperlakukan petugas kebersihan seolah mereka tidak terlihat.
Hampir empat puluh menit kemudian, Ratna akhirnya turun ke basement. Motor Bimo sudah tidak berada di tempatnya, persis seperti yang mereka sepakati. Dia mengganti sepatu kerja, menyimpan perlengkapan, lalu menghampiri motornya sendiri.
Mesinnya tersendat dua kali sebelum menyala.
Ratna mengembuskan napas sambil memandangi panel depan. Sudah sejak bulan lalu dia berniat membawanya ke bengkel, tetapi selama motor itu masih bisa digunakan, biaya servis terus kalah oleh kebutuhan rumah yang lebih mendesak.
Gerimis mulai turun ketika Ratna meninggalkan gedung. Jalan menuju rumah cukup lengang, membuat perjalanan malam itu terasa lebih singkat. Begitu sampai, dia melihat lampu ruang depan masih menyala dan motor Bimo terparkir di teras.
“Mas?”
Bimo duduk di meja makan dengan laptop terbuka di depannya. Dia masih mengenakan kemeja kantor dengan dua kancing teratas terbuka dan lengan yang digulung sampai siku. Tidak ada berkas di meja, sedangkan layar laptopnya hanya menampilkan halaman kosong.
“Kok belum tidur?” Ratna meletakkan tas di kursi.
“Belum ngantuk.”
Ratna menatap jam dinding. Bimo biasanya sudah mandi dan berganti pakaian jika pulang lebih dahulu. Malam ini gelas di depannya masih penuh, seolah sejak tiba dia hanya duduk di tempat yang sama.
“Kamu belum mandi?”
“Nanti.”
“Ada kerjaan?”
Bimo melirik laptop, kemudian menutupnya. “Nggak.”
Jawaban itu membuat Ratna kembali memperhatikannya. “Terus kenapa duduk di sini pakai laptop?”
“Cuma lagi mikir.”
“Mikirin apa?”
Bimo tidak segera menjawab.
Ratna mengambil air minum dari dapur dan berdiri di sisi meja. Dia tidak terbiasa mengorek setiap perubahan suasana hati suaminya. Selama lebih dari sepuluh tahun menikah, mereka telah melewati cukup banyak malam ketika salah satu dari mereka terlalu lelah atau kesal untuk menjelaskan apa pun.
Namun kali ini Bimo bukan sekadar diam. Tatapannya beberapa kali berpindah kepada Ratna, lalu menjauh begitu Ratna menangkapnya.
“Ada masalah di kantor?” tanyanya.
“Nggak ada.”
Jawaban itu datang terlalu cepat.
Ratna meneguk airnya, lalu meletakkan gelas di meja. “Kalau kamu belum mau cerita, ya sudah. Tapi jangan bilang nggak ada apa-apa kalau mukamu seperti itu.”
“Aku cuma capek.”
“Kamu pulang duluan.”
“Capek nggak harus karena pulang malam.”
Ratna menahan balasan yang hampir keluar. Nada Bimo belum cukup keras untuk disebut membentak, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa pertanyaan apa pun tidak akan mendapat jawaban malam ini.
“Ya sudah. Aku mandi dulu.”
Dia baru mencapai ambang kamar ketika Bimo memanggilnya.
“Ratna.”
Ratna menoleh. “Apa?”
Bimo tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi keraguan di wajahnya berlangsung terlalu lama. Ketika akhirnya berbicara, kalimat yang keluar justru tidak berhubungan dengan semua pertanyaan Ratna sebelumnya.
“Kamu besok masuk seperti biasa?”
“Iya.”
“Nggak ada jadwal lain?”
Ratna mengernyit. “Nggak ada. Kenapa?”
“Nggak apa-apa. Cuma tanya.”
“Kamu dari tadi aneh.”
Bimo memalingkan wajah ke laptop yang sudah tertutup. “Aku bilang aku cuma capek.”
Ratna masih menatapnya beberapa detik. Bimo tidak pernah menanyakan jadwal kerjanya tanpa alasan, terlebih ketika mereka berangkat menuju gedung yang sama hampir setiap pagi.
Namun suaminya jelas tidak berniat memberi penjelasan.
Setelah mandi, Ratna kembali ke kamar dan menemukan Bimo sudah berbaring membelakanginya. Kemeja kantor tergeletak di kursi, sedangkan lampu di sisi tempat tidur masih menyala.
Ratna duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambut. “Motorku tadi susah dinyalakan lagi.”
“Iya, nanti Sabtu aku bawa ke bengkel.”
Jawaban itu terdengar seperti Bimo yang biasa. Mungkin karena itulah Ratna tidak segera melanjutkan pembicaraan. Di antara tagihan, pekerjaan, dan rumah yang harus terus diurus, mereka terbiasa menunda banyak hal sampai memiliki waktu atau uang untuk membereskannya.
Ratna mematikan lampu dan berbaring. Beberapa menit berlalu tanpa suara selain gerimis yang mengenai atap dan dengung kipas dari sudut kamar.
Di sebelahnya, Bimo belum tidur. Napasnya terlalu pendek dan tubuhnya beberapa kali bergerak, seolah posisi mana pun tidak terasa nyaman.
Ratna memejamkan mata, tetapi pertanyaan yang sejak tadi ditahannya tetap tinggal.
Apa yang dibawa Bimo pulang dari kantor malam ini?
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya