Bab 2 dari 5
Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.
Dimas masih membeku di depan deretan monitor.
Ruangan yang beberapa saat lalu terasa biasa kini berubah begitu sunyi. Hanya suara dengungan pendingin ruangan dan kipas komputer yang terdengar samar, seolah seluruh gedung ikut menahan napas.
Pandangannya tidak lepas dari monitor lantai tujuh.
Lorong itu kembali kosong.
Lampu-lampu neon menyala stabil. Pintu-pintu kantor tetap tertutup rapat. Tidak ada seorang pun yang berjalan di sana.
Dimas mengerjapkan mata beberapa kali.
"Aku pasti salah lihat..."
Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai tidak beraturan.
Tangannya masih menggenggam joystick pengendali kamera.
Perlahan, ia menggerakkan kamera ke kiri.
Lalu ke kanan.
Tidak ada apa pun.
Ia memperbesar gambar hingga kualitasnya mulai pecah.
Tetap kosong.
Dimas bersandar di kursinya.
Logikanya langsung bekerja.
Gangguan sinyal?
Kesalahan sistem?
Pantulan cahaya?
Semua kemungkinan itu terasa jauh lebih masuk akal daripada mempercayai bahwa seseorang baru saja muncul lalu menghilang begitu saja.
Ia membuka buku log dan menulis dengan tangan yang sedikit gemetar.
03.03 — Monitor lantai tujuh berkedip. Terlihat sosok menyerupai petugas keamanan. Saat kamera diperbesar, gambar menghilang. Perlu pengecekan sistem.
Dimas menutup buku itu.
Ia menatap jam digital.
03.04
"Besok pagi teknisi harus memeriksa kamera ini," gumamnya pelan.
Namun sebelum sempat berdiri...
Monitor lantai tujuh kembali berkedip.
Sekali.
Gambar bergoyang seperti terkena gangguan.
Lalu...
Sosok itu muncul lagi.
Kali ini lebih dekat.
Jaraknya hanya beberapa meter dari kamera.
Tubuhnya berdiri diam.
Tidak bergerak sedikit pun.
Dimas menelan ludah.
Jantungnya kembali berdegup kencang.
Ia memperbesar gambar sedikit demi
sedikit.
Seragam hitam.
Sepatu boot keamanan.
Senter tergantung di pinggang.
Radio komunikasi di bahu kiri.
Semuanya tampak begitu familiar.
"Aneh..."
Bentuk seragam itu sama persis dengan seragam yang sedang ia kenakan.
Mungkin hanya kebetulan.
Lagipula semua satpam memang memakai seragam yang sama.
Ia kembali memperbesar gambar.
Lencana nama di dada sosok itu mulai terlihat.
Namun gambar terlalu buram untuk dibaca.
Dimas mengatur fokus kamera.
Lensa digital bergerak perlahan.
Gambar menjadi lebih tajam.
Lencana itu akhirnya terlihat.
Napas Dimas seketika tertahan.
Di atas saku dada tertulis satu nama.
DIMAS.
"...Apa?"
Ia spontan berdiri dari kursinya.
Mustahil.
Tidak mungkin ada orang lain memakai seragam dengan papan nama miliknya.
Tangannya mulai berkeringat.
Perlahan...
Dengan gerakan yang nyaris tidak terasa...
Sosok di monitor mengangkat kepalanya.
Wajahnya mulai terlihat jelas.
Dimas mematung.
Mata.
Hidung.
Rahang.
Bahkan bekas luka kecil di pelipis kanan...
Semuanya sama.
Sosok itu...
Adalah dirinya sendiri.
Namun wajahnya dipenuhi darah yang mengalir dari kening hingga dagu.
Tatapannya kosong.
Pucat.
Seolah seluruh kehidupan telah menghilang dari tubuhnya.
Dimas mundur selangkah hingga kursinya bergeser pelan di lantai.
"Ini... tidak mungkin..."
Ia berkedip keras.
Berharap semua itu hanya ilusi akibat rasa lelah.
Namun ketika kembali melihat monitor...
Sosok itu masih berdiri di sana.
Tidak bergerak.
Hanya menatap lurus ke arah kamera.
Seolah...
Menatap langsung ke arah Dimas.
Dimas terpaku.
Ruang kontrol yang semula terasa sempit kini seolah menelan seluruh suara di dalamnya. Dengungan pendingin ruangan menghilang dari kesadarannya. Yang ia dengar hanyalah detak jantungnya sendiri, semakin cepat, semakin keras.
Duk... duk... duk...
Tatapan sosok di monitor tidak bergeser sedikit pun.
Wajah itu...
Adalah wajahnya sendiri.
Tetapi jauh lebih pucat.
Matanya merah karena pecahnya pembuluh darah, sementara darah mengalir dari pelipis hingga ke dagu, menetes perlahan ke kerah seragam.
Dimas menggeleng pelan.
"Tidak..."
"Ini pasti rekaman yang rusak."
Ia segera membuka panel kendali CCTV.
Jarinya menekan beberapa tombol untuk melihat informasi kamera.
Kamera: Lantai 7 - Koridor Timur
Status: Normal
Sinyal: Stabil
Rekaman: Aktif
Tidak ada satu pun indikator yang menunjukkan kerusakan.
Dimas menarik napas dalam-dalam.
Ia mencoba berpikir jernih.
"Kalau ini rekaman lama..."
"...kenapa karena aku memakai seragam yang baru kupakai malam ini?"
Seragam itu masih tampak bersih saat ia mengenakannya beberapa jam lalu.
Tidak mungkin ada rekaman lama yang memperlihatkan dirinya dengan pakaian yang sama.
Logika yang selama ini ia pegang mulai retak sedikit demi sedikit.
Dengan tangan yang masih gemetar, Dimas menggerakkan joystick.
Kamera memperbesar gambar hingga memenuhi layar.
Kini wajah sosok itu terlihat sangat jelas.
Tidak ada kesalahan.
Tidak ada kemiripan.
Itu benar-benar dirinya.
Bekas luka kecil di pelipis kanan.
Alis kiri yang sedikit lebih tebal.
Bahkan bentuk telinganya sama persis.
Perbedaannya hanya satu.
Wajah itu penuh darah.
Tiba-tiba...
Sosok di monitor memiringkan kepalanya perlahan.
Gerakannya kaku.
Tidak wajar.
Seolah sendi lehernya digerakkan oleh seseorang.
Dimas menahan napas.
"Siapa kamu...?"
Tentu saja tidak ada jawaban.
Sosok itu hanya terus menatap kamera.
Lalu...
Perlahan mengangkat tangan kanannya.
Bukan melambai.
Bukan memberi isyarat.
Melainkan...
Mengulurkan telunjuknya lurus ke arah kamera CCTV.
Seolah sedang menunjuk seseorang.
Seolah sedang menunjuk...
Dimas.
Pada saat yang sama—
Brak!
Suara benturan keras terdengar dari luar
ruang kontrol.
Dimas tersentak.
Refleks ia menoleh ke arah pintu.
Ruangan kembali sunyi.
Lalu...
Terdengar suara lain.
Tok...
Langkah kaki.
Pelan.
Berat.
Seolah seseorang sedang berjalan di lorong luar ruang kontrol.
Tok...
Tok...
Tok...
Langkah itu semakin dekat.
Dimas berdiri perlahan.
Matanya bergantian melihat monitor dan pintu.
Kalau ada orang di luar...
Maka seharusnya kamera koridor lantai dasar memperlihatkannya.
Ia segera membuka tampilan kamera koridor.
Kosong.
Tidak ada siapa pun.
Namun...
Langkah kaki itu masih terdengar.
Tok...
Tok...
Berhenti tepat di depan pintu ruang kontrol.
Dimas meraih senter yang tergantung di dinding.
Tangan kirinya mengambil radio komunikasi.
"Ruang kontrol ke pos keamanan," ucapnya pelan.
Hanya suara statis yang menjawab.
Krrrssshhh...
Ia mencoba lagi.
"Pak Hendra? Arga? Ada yang menerima?"
Tetap tidak ada jawaban.
Suara statis semakin keras.
Lalu...
Di sela-sela gangguan itu, terdengar suara yang sangat pelan.
"...mas..."
Dimas membeku.
Ia mendekatkan radio ke telinganya.
"...Di... mas..."
Suara itu terdengar seperti bisikan.
Sangat lirih.
Hampir tenggelam oleh suara statis.
Belum sempat Dimas bereaksi—
Tok... Tok... Tok...
Tiga ketukan terdengar dari pintu ruang kontrol.
Bukan keras.
Justru terlalu pelan.
Seolah orang di luar tidak ingin menarik perhatian.
Dimas menatap pintu itu tanpa berkedip.
Dadanya terasa sesak.
Ia melirik monitor koridor sekali lagi.
Tetap kosong.
Tidak ada siapa pun.
Padahal...
Suara ketukan itu baru saja terdengar.
Perlahan, ia melangkah mendekati pintu.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Tangannya mulai meraih gagang pintu.
Napasnya terasa berat.
Ruangan begitu sunyi hingga suara napasnya sendiri terdengar jelas.
Saat ujung jarinya hampir menyentuh gagang...
Dari belakangnya...
Monitor CCTV mengeluarkan bunyi "bip" pelan.
Dimas menoleh.
Monitor lantai tujuh kembali menyala.
Sosok berdarah itu...
Sudah tidak lagi menghadap kamera.
Kini ia berdiri membelakangi kamera.
Perlahan...
Sosok itu menoleh ke belakang.
Seolah tahu bahwa Dimas sedang melihatnya.
Dan tepat pada saat yang sama...
Gagang pintu ruang kontrol...
Berputar perlahan dari luar.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya