Bab 2 dari 16
Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.
Tas besar berwarna lusuh sudah teronggok di teras rumah. Ibunda Amara memeluk sang anak dengan erat sambil menangisinya. Sementara Mak Comblang pernikahan hanya berdiri sambil menatap mereka. Membiarkan kedua anak beranak itu melepas kesedihannya.
“Jaga diri baik-baik ya nak.. Kalau kamu tidak betah.. Cepat pulang.. Jangan menyiksa diri kamu..!”
“Insya ALLAH Amara akan bertahan bu.. Amara tidak ingin ibu dan bapak tambah susah.. Kalian harus sehat dan hidup tanpa kekurangan lagi.. Amara akan tebus kemiskinan kita dengan kebahagiaan..!”
“Terimakasih nak.. terima kasih..”
“Amara pamit ya bu.. Tolong jaga bapak.. Segera kasih khabar kalau ada apa-apa..”
Ibunda Amara mengiyakan. Sementara Amara salim dan mengucapkan salam perpisahan. Setelah itu melangkah pergi bersama Mak Comblang pernikahan.
“Maafkan ibu sama bapak, nak.. Karena kemiskinan kita.. kamu harus mengorbankan masa-masa keemasanmu sebagai perawan ranum yang harusnya kamu nikmati dengan bahagia..”
Tatapan perempuan berbaju sederhana itu berjelaga kesedihan. Kedua bola mata sedihnya menatap sang anak hingga sosoknya menghilang di belokan jalan.
***
Mak Comblang pernikahan membawa Amara ke rumah Bima. Mata Amara langsung terbelalak takjub melihat megahnya fasad bangunan rumah. Perawan lugu itu spontan menghentikan langkah sambil menyapukan pandangan ke sekeliling rumah. Mulutnya tak henti berdecak kagum.
“Subhanalloh.. Ini rumahnya Bu Ning..?”
“Iya..!! Gimana..? Hebat kan..? Kamu bisa bayangkan, sekaya apa laki-laki yang akan kamu nikahi itu..? Mana dia hanya hidup berdua sama adiknya, lagi.. Kamu itu gadis beruntung, Amara..”
“Semoga saja begitu ya bu..”
Mak Comblang pernikahan mengajak Amara ke teras. Kemudian memencet bel pintu. Terdengar Suara bel pintu dengan irama musik klasik menggema dari dalam rumah.
Tak lama berselang, pintu utama terbuka. Vina muncul dengan gaya elegannya yang angkuh. Kemunculan Vina dengan gaya elegannya tentu saja membuat Amara lagi-lagi berdecak kagum.
“Masya ALLAH.. Cantiknya..”
“Ini Nyona Vina.. Amara.. Ayo salim..!” Mak Comblang menyentuh pinggang Amara yang masih terbelalak takjub. Hal ini membuat Amara tersentak dan buru-buru menyodorkan tangannya untuk salim pada Vina.
“Assalamualaikum.. Nyonya.. Saya...”
Srett..! Vina malah nepis tangan Amara dengan arogan.
“Gak perlu..! Aku belum tua-tua banget tauk..? Masa mau kamu gituin..?!”
“Maaf nyonya.. maaf..!” Mak Comblang buru-buru minta maaf dengan wajah ketakutan.
“Masuk..!!”
Dengan suara ketus Vina menyuruh Amara dan Mak Comblang mengikutinya masuk ke dalam rumah. Dengan wajah cemas Amara dan Mak Comblang mengikuti langkah Vina hingga berhenti di depan kamar tamu.
Setelah itu Vina berpaling pada Amara dengan wajah ketusnya.
“Ini kamar kamu.. sekarang kamu masuk dan bersihkan diri kamu.. Aku sudah sediakan baju di dalam lemari.. Kamu ganti baju.. Supaya terlihat lebih pantas..!”
“Iya Nyonya..!”
“Panggil aku mbak..!”
“Iya mbak..”
Amara masuk kamar. Sementara Vina menutup pintu dan menarik tangan Mak Comblang untuk menjauh.
“Kamu yakin, dia perempuan penurut..?”
“Saya garansi 100% nyonya..!” Mak Comblang membuat gerakan meyakinkan dengan jemarinya.
“Berarti dia bakal menuruti semua perintah saya tanpa protes..?”
“Nyonya tenang saja.. Yang penting, dia dan keluarganya dapat uang banyak..! Pasti dia akan mengikuti semua yang nyonya kehendaki..!”
“Bagus..! Memang itu yang saya mau..!”. Vina tersenyum senang mendengarnya. Dia sudah membayangkan semua rencananya akan berhasil dengan gemilang.
Sementara itu di dalam kamar, Amara duduk di tepi ranjang dengan perasaan takjub. Matanya menatap semua kemewahan yang ada di kamar itu.
Beberapa jenak dia mencoba menenangkan hatinya yang penuh dengan kekaguman. Kemudaian jemari lentiknya membuka lemari.
Degghh..! Jantungnya terhenyak. Dilihatnya banyak gaun indah di dalam lemari itu. Dengan gemetar tangannya mengambil satu gaun dan mengepaskannya ke badannya. Lantas masuk ke kamar mandi.
Tak lama berselang muncul lagi. Wajahnya sudah terlihat lebih segar. Gayanya pun berubah elegan. Amara mematut dirinya di depan cermin. Matanya berkaca-kaca penuh haru.
“Ya ALLAH.. Apakah ini bukan mimpi..? Andai bapak sama ibu ada disini.. Dan menikmati semua kemewahan yang aku alami saat ini.. Aku pasti senang sekali..
Tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar. Bersamaan dengan munculnya Vina dengan gaya angkuhnya. Amara berpaling menghadap Vina dengan sikapnya yang begitu santun.
“Mungkin ini akan menjadi khabar tidak mengenakan untuk kamu tentang kakak saya yang akan menjadi suami kamu..!”
Degghh..! Amara tersentak. Tapi dia mencoba untuk bersikap biasa saja dan tetap hormat diantara kalimat Vina yang kembali meluncur dari mulut tipisnya.
“Namanya Bima Atmasasmita.. Dia orangnya dingin..! Tidak pernah bergaul.. kaku.. jadi kamu harus siap kalau dia tidak akan mempedulikan kamu..!”
Amara menelan ludah. Sementara Vina kembali melanjutkan perkataannya.
“Semua orang menganggap dia jahat..! Banyak yang sakit hati sama dia..! Tapi kamu jangan khawatir.. Saya akan melindungi kamu..!”
“Maksud mbak..?” Amara menatap bingung.
“Yah.. Selama kamu menuruti semua kata-kata aku.. Kamu akan aman..! Ingat..!! Apapun yang keluar dari mulut aku, wajib kamu turuti..! Paham..?”
“Iya mbak.. In sya ALLAH.. Saya akan menuruti setiap perkataan mbak..”
“Bagus..!! Bima tidak akan berkutik kalau saya sudah berbicara..!! Camkan itu..!”
Vina mengucapkan kalimat terakhirnya sambil menatap Amara dengan kilat mata penuh rencana.
***
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya