Bab 1 dari 11
Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.
?"Mo Xuan, serahkan warisan Kaisar Iblis Pencuri Waktu, dan kami akan memberimu kematian yang bersih tanpa rasa sakit!"
?"Jangan dengarkan omong kosongnya! Bajingan kau, Mo Xuan, berhentilah melawan. Hari ini, Aliansi Jalur Lurus telah bergabung sepenuhnya untuk memusnahkan iblis sepertimu dari muka bumi!"
?"Iblis Tua, terkutuklah kau! Berapa banyak nyawa yang harus melayang demi ambisimu yang gila itu?!"
?Di tengah kepungan pasukan yang tak terhitung jumlahnya, Mo Xuan berdiri tegak di atas jurang curam Gunung Cangyun.
Jubah hitamnya compang-camping, berlumuran darah segar yang telah mengering maupun yang masih menetes.
Rambut panjangnya yang acak-acakan menutupi separuh wajah, tertiup kencang oleh angin gunung yang membekukan.
?Meskipun tubuhnya dipenuhi luka fatal dan tenaganya telah terkuras habis setelah pertempuran sengit selama sepuluh hari sepuluh malam, sorot mata Mo Xuan tetap setajam belati. Dingin, kosong, tanpa secercah pun rasa takut.
?Di sekelilingnya, para petinggi dan murid dari faksi jalur lurus berdiri waspada.
Mereka menatap sang "Iblis Tua" dengan campuran emosi yang kompleks: amarah membara, dendam kesumat, namun terselip rasa takut yang mendalam.
?Bahkan ketika Mo Xuan hanya bergeser sedikit, puluhan kultivator hebat itu langsung mundur satu langkah secara serentak karena ngeri.
?Mo Xuan menyibak rambut yang menghalangi pandangannya dengan gerakan pelan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis.
?"Dulu, di awal perjalanan hidupku, aku pernah percaya pada omong kosong tentang jalur lurus. Dan itu hanya membawaku pada kehancuran," suara serak Mo Xuan memecah keheningan angin.
"Ternyata, mereka yang berjubah putih dan bersumpah suci sering kali jauh lebih kotor daripada iblis yang mereka benci. Hati yang dulu penuh harapan kini telah mati, menyisakan satu tekad: mencapai keabadian dengan cara apa pun."
?"Lancang! Iblis keparat, kau masih berani meracuni pikiran!" teriak seorang tetua sekte besar dengan wajah memerah karena murka.
?Mo Xuan tidak peduli. Tatapannya menerawang jauh, menembus kerumunan musuh, mengenang kembali jalan hidupnya yang penuh darah dan air mata.
?"Terlahir di dunia yang hanya menyembah kekuatan, bakat sampah membuatku diperlakukan seperti sampah. Hinaan, caci maki, dan pengkhianatan adalah makanan sehari-hari," gumamnya pelan. "Sungguh ironis... Setelah berjuang mati-matian selama empat ratus tahun, hidup dalam bayang-bayang kematian, aku hanya mampu mencapai tingkat empat tahap awal."
?Ia teringat masa mudanya yang naif, masa ketika ia memohon belas kasihan dan keadilan dari klan yang membuangnya. Betapa bodohnya ia saat itu.
Di dunia ini, kebaikan tanpa kekuatan hanyalah angin lalu. Keadilan hanya milik mereka yang memegang pedang paling tajam.
?Mo Xuan menarik napas dalam-dalam. Ia sudah merasakan manisnya cinta, pahitnya pengkhianatan, dan dinginnya kehilangan.
Ia sudah terlalu lelah, tetapi ia menolak untuk menyerah begitu saja pada takdir murahan ini.
?"Kalian menginginkan ini?" Mo Xuan mengangkat tangan kanannya. Di atas telapak tangannya, sebuah artefak kuno memancarkan cahaya keemasan yang berputar pelan: Bintang Waktu.
?"Artefak Bintang Waktu..." desis seseorang di barisan depan dengan mata bernafsu.
?"Aku tahu aku tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari sini," Mo Xuan tersenyum lebar, tawanya perlahan berubah menjadi gelak tawa yang menggema di seluruh lembah. "Tapi warisan ini milikku! Jika artefak ini benar-benar memiliki kekuatan untuk memutarbalikkan roda takdir dan merobek ruang serta waktu... maka di kehidupan selanjutnya, aku bersumpah akan hidup seratus kali lebih egois demi diriku sendiri!"
?"Cepat hentikan dia! Dia mau menghancurkan artefaknya!"
?"Serang! Bunuh dia sekarang juga!"
?Pasukan musuh panik dan menyerbu secara bersamaan bagaikan air bah. Namun, semuanya sudah terlambat.
?Cahaya menyilaukan yang melampaui terangnya matahari mendadak meledak dari tubuh Mo Xuan, menelan seluruh dunia dalam kepekatan putih yang mutlak.
-------
?Musim dingin kembali menaburkan salju tebal di lereng Gunung Cangyun.
Di kaki gunung yang megah itu, Desa Ran berdiri sebagai pemukiman makmur yang dikelilingi oleh hutan lebat.
?Di tengah desa, sebuah paviliun megah tengah dipersiapkan untuk upacara kebangkitan bakat klan tahun ini.
Anak-anak berlarian riang mengenakan pakaian tebal berbahan kulit binatang, sama sekali tidak peduli pada dinginnya udara.
?"Aku harap tahun ini ada pemuda cerdas yang bakatnya mampu menyaingi Ye Fan, si jenius tingkat A dari Klan Ye sebelah," bisik seorang warga.
?"Benar. Kudengar Ji Xiao Xie dari Klan Ji juga memiliki bakat luar biasa. Semoga klan kita mendapatkan anugerah yang sama," sahut yang lain.
?Di dekat gerbang paviliun, Kepala Klan Ran berjalan perlahan sambil mendengar bisik-bisik para tetua.
?"Tahun lalu, kita hanya memiliki pemuda dengan bakat tingkat B, yang sayangnya tewas diterkam harimau buas di hutan," ucap Kepala Klan dengan nada menyesal. "Aku berdoa tahun ini kita mendapatkan keajaiban."
?Seorang tetua membungkuk hormat. "Kepala Klan, anak dari keluarga Mo memiliki kecerdasan yang luar biasa di atas rata-rata anak seusianya. Meskipun kakaknya dikenal sangat pendiam dan penyendiri."
?Alis Kepala Klan terangkat. "Ah, maksudmu Mo Yue? Anak itu memang cerdas dan berbakat. Jika dia atau kakaknya memiliki bakat tingkat A, itu sudah cukup untuk mengangkat martabat klan kita."
?Sementara para petinggi klan sibuk membicarakan masa depan generasi muda,
di sebuah sudut halaman rumah yang sepi dan terabaikan, seorang pemuda berusia lima belas tahun berdiri mematung di bawah naungan pohon rindang.
?Salju turun perlahan, menempel di atas rambut hitam dan pundaknya.
?"Musim dingin berganti musim semi... Waktu berlalu begitu cepat," gumam pemuda itu. Suaranya tenang, tetapi menyimpan beban berat dari ribuan malam yang panjang.
?Mo Xuan perlahan membuka matanya. Kantung mata tipis menghiasi wajah mudanya, kontras dengan tatapan matanya yang memancarkan kebijaksanaan serta kengerian pengalaman hidup selama empat ratus tahun.
?Ia mengangkat tangannya, memandangi telapak tangan yang mulus tanpa bekas luka, lalu melangkah ke genangan air kecil yang telah membeku di dekatnya.
Wajah di pantulan itu adalah dirinya di masa lalu,sebelum keluarganya membuangnya, sebelum kehancuran Klan itu terjadi, dan sebelum ia menapaki jalan iblis.
?"Artefak Bintang Waktu benar-benar telah hancur, tapi kekuatannya berhasil mengirimku kembali," bisik Mo Xuan pada angin dingin.
?Ia menarik napas panjang, meresapi udara segar tanpa bau darah yang biasa menyengat indranya di masa depan.
Tidak ada kepanikan, tidak ada keraguan. Yang ada hanya ketenangan absolut dari seseorang yang telah mati dan hidup kembali.
?"Ini bukan mimpi. Kesempatan kedua ini adalah milikku," Mo Xuan mengepalkan tangan kanannya erat-erat, hingga buku-buku jarinya memutih. "Di kehidupan sebelumnya, aku dikalahkan oleh bakat yang buruk dan takdir yang kejam. Kali ini, dengan pengalaman empat ratus tahun di kepalaku, aku akan merobek langit dan menundukkan dunia di bawah kakiku!"
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya