Pukul empat sore, Nara baru menyadari bahwa sekolahnya ternyata jauh lebih kecil daripada yang ia ingat.
Ia berdiri di depan ruang tata usaha sambil memeriksa pesan dari ibunya. Ia hanya perlu mengambil salinan dokumen kelulusan yang tertinggal. Lima belas menit, kalau petugasnya tidak menghilang ke ruang guru seperti yang sering terjadi dulu.
“Masih suka datang tanpa ngabarin?”
Nara menoleh. Reno berdiri di dekat pintu kelas dengan kemeja yang lengannya digulung sampai siku. Rambutnya lebih pendek daripada terakhir kali Nara melihatnya. Namun, senyumnya masih sama. Senyum orang yang selalu merasa tau sesuatu lebih dulu daripada orang lain.
“Kalau ngabarin dulu, nanti disuruh bikin janji,” jawab Nara.
Reno tertawa kecil. “Masih cerewet.”
“Masih nyebelin.”
Mereka berbasa-basi sebentar. Tentang kuliah Nara, pekerjaan Reno, dan beberapa teman lama yang sudah jarang terdengar kabarnya. Percakapan biasa yang seharusnya selesai tanpa meninggalkan apa-apa.
Lalu seorang siswa lewat di antara mereka.
Sepatu hitamnya sudah usang. Bagian belakang salah satunya tampak miring, sedangkan ujung solnya terangkat sedikit setiap kali ia melangkah.
Nara mengikuti langkah anak itu sampai menghilang di belokan.
Ada sesuatu yang terasa tidak beres.
Bukan karena sepatunya. Ia pernah melihat ratusan sepatu seperti itu. Namun, bunyi sol yang sesekali menghantam lantai membuat dadanya mendadak sesak.
Seperti pernah mendengarnya.
Di tempat lain.
Pada waktu yang tidak bisa ia ingat.
“Nar?”
Nara tersentak.
“Kenapa?”
“Lo ngelihatin apa?”
“Gak tau.”
Reno memandang belokan tempat siswa tadi menghilang. Untuk sesaat, wajahnya berubah. Senyumnya lenyap, digantikan ekspresi yang sulit dibaca.
Kemudian ia menepuk bahu Nara.
“Jangan kelamaan di sini. Banyak yang udah berubah.”
Petugas tata usaha meminta Nara menunggu karena dokumennya belum ditemukan. Ia akhirnya duduk di bangku lorong dekat ruang perpustakaan, membuka ponsel, lalu membiarkan waktu berlalu.
Sampai televisi tua di ujung lorong menyala sendiri.
Layarnya berkedip dua kali. Mula-mula hanya menampilkan semut televisi, kemudian gambar lorong sekolah yang sama, tetapi lebih gelap dan kosong.
Nara menurunkan ponselnya.
Gambar itu bergerak tersendat. Kamera seolah sedang merekam dari sudut langit-langit. Di ujung rekaman, seseorang melintas dengan membawa sesuatu di tangan.
Sebuah sepatu hitam.
Layar mendadak membeku.
Angka putih muncul di tengahnya.
07.23
Nara berdiri.
Angka itu hanya bertahan beberapa detik sebelum layar kembali gelap.
Ia tidak tau apa artinya. Ia bahkan tidak yakin pernah melihatnya sebelumnya.
Namun, telapak tangannya dingin.
Di bawah televisi, seseorang telah menempelkan secarik kertas pada dinding. Nara baru menyadarinya ketika mendekat.
Tulisan di atas kertas itu dibuat dengan tinta hitam.
Kalau kau tidak ingat, cari apa yang mereka hapus.
Nara membaca kalimat itu dua kali.
“Siapa yang iseng begini?”
Tidak ada jawaban.
Dari arah perpustakaan terdengar bunyi pintu ditutup.
Nara menoleh. Koridor kosong.
Ketika ia kembali menatap televisi, layar itu menyala sesaat. Bukan gambar lorong, melainkan foto kelas yang buram. Barisan siswa berdiri di depan papan tulis. Ada satu bagian foto yang menghitam seperti bekas terbakar.
Sebelum Nara sempat melihat lebih jelas, layar mati lagi.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal.
Jangan cari namanya di daftar.
Pesan kedua masuk beberapa detik kemudian.
Cari apa yang membuat mereka menghapusnya.
Nara segera menelepon nomor tersebut. Tidak aktif.
Ia menatap layar ponselnya cukup lama, lalu menyadari sesuatu yang membuat tengkuknya meremang.
Nomor itu tidak memiliki foto profil.
Namun, nama kontaknya sudah tersimpan di ponsel Nara.
07.23
Padahal ia tidak pernah merasa menyimpannya.
Perpustakaan hampir tidak berubah. Rak-rak lama masih berdiri di tempat yang sama, hanya beberapa buku yang telah diganti dengan edisi baru. Komputer di meja pustakawan juga masih menggunakan model yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
Nara meminta izin mencari arsip foto angkatan. Alasannya sederhana, ia ingin melihat foto lama untuk mengenang teman-teman sekolah.
Pustakawan mengizinkannya menggunakan komputer.
Beberapa folder muncul setelah ia memasukkan tahun kelulusannya. Ada foto kegiatan, daftar peserta lomba, dan dokumentasi kelas. Ketika membuka salah satu foto, Nara berhenti bernapas selama beberapa detik.
Barisan siswa berdiri dengan seragam putih abu-abu.
Di antara mereka terdapat ruang kosong yang aneh. Bahu dua siswa di sisi kiri dan kanan tampak saling bertumpuk, seperti seseorang telah dipotong dari foto itu tanpa memperhatikan latarnya.
Nara memperbesar gambar.
Ada bayangan samar di antara kedua siswa itu. Sebagian kecil lengan seragam masih terlihat, tetapi wajahnya hilang.
Ia membuka foto lain.
Orang yang sama tidak ada.
Daftar nama di bawah foto juga tampak janggal. Nomornya berurutan, kecuali satu nomor yang melompat tanpa keterangan.
Nara mencoba membuka arsip cadangan. Sebuah jendela kecil muncul, meminta kata sandi administrator.
“Lagi cari apa?”
Nara hampir menjatuhkan tetikus.
Pak Damar berdiri di belakangnya. Guru itu sudah lebih tua, rambutnya memutih di pelipis, tetapi suaranya masih tenang seperti ketika memanggil siswa yang ketahuan melanggar aturan.
“Foto angkatan, Pak.”
“Untuk apa?”
“Pengen lihat teman-teman lama.”
Pak Damar melirik layar. Wajahnya mengeras begitu melihat foto yang terbuka.
“Arsip sekolah bukan tempat bermain-main.”
“Saya cuma lihat foto.”
“Kalau sudah selesai, tutup komputernya.”
Nara menatapnya. “Pak, kenapa ada bagian foto yang hilang?”
Pak Damar tidak langsung menjawab.
“File lama bisa rusak.”
“Nama di daftar juga lompat.”
“Banyak data yang dipindahkan saat pergantian sistem.”
Jawabannya terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal, seperti kalimat yang sudah sering diulang.
Sebelum pergi, Pak Damar menutup jendela arsip dan berkata, “Ada hal-hal yang lebih baik tidak dibuka kembali. Apalagi kalau tidak ada manfaatnya bagi siapa pun.”
Nara menatap punggungnya sampai menghilang di balik pintu.
Entah mengapa, kalimat itu terasa seperti peringatan.
Atau ancaman.
Reno sedang berada di lapangan ketika Nara menemukannya. Ia duduk di bangku semen sambil memainkan kunci motornya.
“Lo tau soal foto kelas yang dihapus?”
Kunci di tangan Reno berhenti berputar.
“Foto yang mana?”
“Jangan pura-pura.”
“Gue gak tau.”
“Terus angka 07.23?”
Reno berdiri terlalu cepat hingga kunci motornya jatuh.
Nara memungutnya. “Kenapa? Lo tau sesuatu?”
Reno merebut kunci itu dari tangannya.
“Lo seharusnya gak ngurusin hal ini.”
“Kenapa semua orang ngomong begitu?”
“Karena lo gak tau apa yang sebenarnya terjadi.”
“Makanya gue tanya!”
Suara Nara menggema di lapangan kosong.
Reno menatapnya lama. Ada sesuatu di wajahnya yang membuat Nara merasa seolah mereka sedang membicarakan kejadian yang pernah mereka alami bersama, meskipun ia sama sekali tidak bisa mengingatnya.
“Lo pernah bilang gak mau ingat lagi,” kata Reno akhirnya.
Nara terdiam.
“Kapan?”
Reno tampak menyesal telah mengatakannya.
“Lupakan.”
“Gue pernah bilang apa?”
“Pulang aja, Nar.”
Ia berjalan pergi, meninggalkan Nara sendirian di lapangan.
Ketika Nara hendak menyusul, matanya menangkap sesuatu di bawah bangku semen.
Sepotong kertas kecil, terlipat menjadi dua.
Di dalamnya ada gambar denah gudang arsip sekolah dan satu nomor yang ditulis tangan.
23.
Di sudut kertas terdapat gambar daun semanggi kecil.
Nara memasukkan kertas itu ke dalam tas.
Untuk pertama kalinya sejak televisi tadi menyala, ia merasa takut bukan karena sesuatu yang tidak terlihat.
Ia takut karena seseorang tampaknya mengetahui apa yang telah ia lupakan.
Gudang arsip berada di belakang laboratorium lama. Pintu besinya berkarat dan hanya bisa dibuka setelah Nara meminta kunci kepada petugas sekolah dengan alasan mencari dokumen kegiatan angkatan.
Di dalamnya, kardus-kardus ditumpuk sampai hampir menyentuh langit-langit. Bau kertas lembap bercampur debu membuat Nara batuk.
Ia mencari kotak nomor 23.
Di antara map yang menguning, ia menemukan sebuah amplop cokelat tanpa nama pengirim. Isinya berupa lembar inventaris barang yang disita atau ditemukan setelah suatu insiden di sekolah.
Salah satu baris membuat matanya berhenti.
Sepatu sekolah hitam. Sol luar rusak. Ditemukan di dekat tangga belakang.
Kolom tanggalnya telah dicoret. Nomor laporan di bagian atas juga sebagian tertutup tinta.
Namun, di tepi kertas ada catatan kecil yang nyaris tak terbaca.
Rekaman dihentikan pada 07.23.
Nara merasakan tekanan aneh di belakang matanya.
Tangga belakang.
Bunyi sepatu.
Tawa.
Seseorang terjatuh.
Ia memejamkan mata. Sebuah bayangan muncul sebentar, lantai yang licin, tangan yang berusaha meraih pegangan, dan suara seseorang berkata, “Jangan bilang siapa-siapa.”
Nara terhuyung dan berpegangan pada rak.
Ketika membuka mata, ia menyadari ada sebuah foto kecil terselip di dasar kotak.
Foto itu memperlihatkan seorang anak laki-laki duduk di dekat jendela kelas. Rambutnya sedikit berantakan. Salah satu kakinya diposisikan berbeda, dan sepatu hitam di bawah mejanya tampak lebih usang daripada milik teman-temannya.
Di balik foto tertulis satu nama.
Arga.
Nara tidak mengenali wajah itu.
Namun, dadanya terasa sakit seolah nama tersebut telah menunggunya selama bertahun-tahun.
Malam itu, Nara tidak bisa tidur.
Ia mencari nama Arga di akun media sosial lama, grup angkatan, dan arsip kegiatan sekolah. Hampir tidak ada hasil. Beberapa unggahan lama menampilkan nama yang sama, tetapi tautannya telah dihapus. Bahkan foto kegiatan yang sempat disimpan teman-temannya tidak lagi tersedia.
Akhirnya, ia menemukan satu pesan lama dari Mira, teman sekelasnya dahulu.
Kalau suatu hari lo ingat semuanya, jangan salahin diri lo sendirian.
Pesan itu dikirim bertahun-tahun lalu.
Nara menelepon Mira.
Mereka bertemu keesokan harinya di sebuah kedai kecil. Mira datang dengan wajah lelah, seolah sudah menduga percakapan ini akan terjadi suatu hari nanti.
“Siapa Arga?” tanya Nara tanpa basa-basi.
Mira menunduk.
“Lo akhirnya nemuin namanya.”
“Gue pernah kenal dia?”
Mira menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Lo duduk dua bangku di belakang dia.”
Nara menggenggam gelasnya erat-erat.
“Kenapa gue gak ingat?”
“Karena setelah kejadian itu, lo gak baik-baik aja.”
Mira menarik napas panjang.
Arga terlahir dengan kondisi clubfoot pada salah satu kakinya. Ia berjalan dengan cara yang sedikit berbeda dan sering harus menyesuaikan posisi kakinya ketika duduk. Kondisinya tidak menghalanginya untuk tertawa keras, ikut bercanda, atau bermimpi menjadi ilustrator. Ia suka menggambar karakter di sudut buku catatan dan membuat komik pendek yang hanya ditunjukkan kepada beberapa teman.
Namun, di sekolah, sebagian anak menjadikan cara berjalannya bahan ejekan. Sepatunya juga sering menjadi sasaran. Salah satu solnya memang lebih cepat aus, sehingga ia beberapa kali memperbaikinya sendiri dengan lem.
“Dia pernah bikin gambar gue jadi karakter detektif,” kata Mira lirih. “Katanya gue cocok karena suka kepo. Gambarnya jelek banget, tapi gue masih simpan.”
Nara berusaha membayangkan Arga tertawa saat menggambar itu. Anehnya, ia tidak bisa membentuk wajahnya.
Yang muncul justru rasa kehilangan yang tidak memiliki bentuk.
“Terus apa yang terjadi?”
Mira lama tidak menjawab.
“Dia sering dirundung. Kita semua tau. Ada yang menertawakan jalannya, menyembunyikan barangnya, sampai sengaja membuat dia jadi tontonan. Gue pernah lihat. Lo juga.”
Nara menahan napas.
“Pada hari itu, mereka mengejarnya sampai tangga belakang. Reno ada di sana. Beberapa anak lain juga. Arga mencoba pergi, tapi ada yang menghalangi jalannya. Dia didorong.”
“Siapa yang mendorong?”
“Gue lihat Reno mendorong bahunya. Tapi gue gak bisa bilang apa yang terjadi di detik berikutnya dengan pasti. Gue berada di ujung koridor.”
“Terus?”
“Arga kehilangan keseimbangan di dekat tangga. Dia jatuh. Setelah itu semua orang panik.”
Mira mengusap wajahnya.
“Sekolah bilang itu kecelakaan. Mereka bilang tidak ada perundungan yang terbukti, tidak ada yang sengaja menyakitinya. Kami diminta tidak menyebarkan cerita yang belum jelas. Beberapa catatan diganti. Rekaman kamera katanya rusak. Nama Arga perlahan hilang dari dokumen.”
“Dan gue?”
“Lo melihat kejadian itu dari dekat. Lo berteriak. Lo berusaha mendekat, tapi seseorang menarik lo menjauh. Setelah itu lo terus gemetar dan gak bisa tidur.”
Nara mulai menangis tanpa menyadarinya.
“Kenapa gue gak ingat?”
Mira meraih tangannya.
“Karena setelahnya, pihak sekolah membawa lo menemui seorang konselor yang bekerja sama dengan mereka. Lo sedang mengalami trauma berat. Ada sesi hipnosis relaksasi untuk membantu lo mengatasi ketakutan. Gue gak tau persis apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Tapi setelah beberapa sesi, lo mulai mengatakan bahwa semua yang lo ingat mungkin cuma mimpi. Orang dewasa di sekitar lo terus meyakinkan bahwa lo gak liat apa-apa.”
Nara menatap Mira.
“Jadi mereka menghapus ingatan gue?”
“Gue gak tau apakah mereka bisa melakukan itu. Tapi mereka tau lo ketakutan, dan mereka memanfaatkan keadaan itu. Lo berhenti bertanya. Lo berhenti menyebut nama Arga. Dan ketika lo bilang gak ingat, mereka tidak pernah berusaha mencari tau kenapa.”
Nara menutup wajahnya.
Di dalam kepalanya, sesuatu bergerak seperti pintu yang lama terkunci. Ia tidak mendapatkan kembali semua ingatannya. Tidak ada adegan utuh yang tiba-tiba muncul. Hanya suara napasnya sendiri, bunyi langkah kaki, dan sebuah kalimat yang terus berulang.
Gue lihat.
Gue lihat.
Gue lihat.
Nara kembali ke sekolah bersama Mira dua hari kemudian. Kali ini, ia membawa salinan inventaris, foto, pesan lama, dan catatan tentang rekaman yang terputus.
Pak Damar menerima mereka di ruangannya.
“Kami ingin tau mengapa dokumen tentang Arga diubah,” kata Nara.
Pak Damar menyilangkan tangan.
“Sekolah harus menjaga ketertiban. Saat itu situasinya kacau. Banyak kabar beredar yang tidak bisa dipastikan.”
“Jadi nama dan foto dia dihapus untuk menjaga ketertiban?”
“Tidak sesederhana itu.”
“Lalu kenapa rekamannya dihentikan pada 07.23?”
Untuk pertama kalinya, Pak Damar tidak segera menjawab.
Nara meletakkan lembar inventaris di atas meja.
“Angka itu ada di catatan barang dan rekaman. Saya belum tau semua yang terjadi setelahnya. Tapi saya tau ada bukti yang hilang, dan ada anak yang tidak pernah mendapat kesempatan untuk didengar.”
Pak Damar memandang kertas itu. Wajahnya tampak lelah.
“Tidak semua keputusan saat itu benar,” katanya akhirnya. “Kami khawatir nama sekolah akan rusak. Kami berpikir jika persoalannya tidak dibesar-besarkan, semua orang bisa melanjutkan hidup.”
“Semua orang?” suara Nara bergetar. “Arga tidak bisa melanjutkan hidup, Pak.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Nara tidak tau apakah Pak Damar menyesal atau hanya menyadari bahwa ia tidak lagi bisa menyembunyikan semuanya. Namun, ia tidak datang untuk menunggu permintaan maaf.
Ia meminta agar sekolah membuat berita acara tentang bukti yang ditemukan, menjaga dokumen asli beserta salinannya, dan meneruskan laporan itu kepada pihak berwenang untuk ditinjau. Ia juga meminta Reno memberikan keterangan serta menyerahkan kesaksian tertulis tentang hal-hal yang mulai ia ingat dan yang masih belum bisa ia pastikan.
Reno kemudian mengakui bahwa ia pernah ikut merundung Arga dan mendorong bahunya di dekat tangga. Ia tidak bisa memastikan bagaimana Arga kehilangan keseimbangan sesudahnya, tetapi ia mengakui bahwa selama bertahun-tahun ia membiarkan orang percaya bahwa tidak ada perundungan sebelum kejadian itu.
Pengakuannya tidak menghapus kesalahan yang telah terjadi. Tidak pula langsung menyelesaikan seluruh pertanyaan tentang kematian Arga. Namun, untuk pertama kalinya, catatan sekolah memuat keterangan bahwa dugaan perundungan sebelum insiden itu harus diperiksa, bukan diabaikan.
Nara menandatangani kesaksiannya.
Tangannya gemetar, tetapi kali ini ia tidak menarik kembali kata-katanya.
Sebelum meninggalkan sekolah, Nara berjalan sekali lagi melewati lorong tempat televisi tua itu berada.
Layar televisi menyala.
Tidak ada gambar kelas. Tidak ada bayangan seseorang yang melintas. Hanya latar hitam dan satu baris tulisan putih.
07.23 TELAH DITEMUKAN
Nara berdiri mematung.
Ia akhirnya mengerti bahwa angka itu bukan jawaban untuk semua pertanyaan. Angka itu adalah bagian yang hilang dari sebuah rekaman, satu titik ketika sesuatu terjadi dan seseorang memutuskan bahwa dunia tidak perlu melihatnya.
Arga tidak kembali.
Ia tidak berdiri di balik televisi. Ia tidak mengirim pesan dari dunia lain. Yang tersisa hanyalah jejak yang sengaja dibuat sulit ditemukan, dan orang-orang yang akhirnya harus memilih apakah akan terus diam.
Air mata Nara jatuh ketika ia melihat tulisan itu menghilang.
Ia tidak bisa mengingat suara Arga. Ia tidak bisa mengingat leluconnya, gambar-gambarnya, atau bagaimana ia menyebut nama teman-temannya. Ia bahkan tidak yakin akan pernah mendapatkan semua ingatan itu kembali.
Namun, sekarang ia tau bahwa Arga pernah ada.
Ia pernah tertawa. Pernah punya cita-cita. Pernah merasa takut. Pernah berharap seseorang akan berdiri di sisinya.
Dan ia berhak mendapatkan keadilan, sama seperti siapa pun.
Di luar gerbang, seorang siswa berjalan melewati Nara dengan sepatu hitam yang solnya mulai terlepas. Pada tasnya tergantung gantungan kecil berbentuk daun semanggi.
Anak itu melirik Nara sebentar, kemudian mempercepat langkah ketika beberapa siswa di dekat parkiran mulai menertawakan cara berjalan temannya.
Nara menoleh ke arah suara tawa itu.
Ketika ia kembali memandang gerbang, anak dengan gantungan semanggi tadi sudah menghilang di antara kerumunan.
Ponselnya bergetar.
Pesan baru dari nomor tak dikenal.
Terima kasih karena akhirnya mencari.
Nara mengetik balasan.
Siapa kamu?
Pesan itu terkirim, tetapi tidak dibaca.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan baru muncul.
Jangan biarkan nama berikutnya dihapus.
Nara menatap layar sampai huruf-huruf itu tampak kabur.
Di belakangnya, televisi tua di koridor kembali mati.
Kali ini, ia tidak merasa sedang diawasi oleh orang mati.
Ia merasa seseorang yang masih hidup sedang menunggu, di suatu tempat di sekolah itu, apakah dunia akan mengulangi kesalahan yang sama.
Nara memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Untuk Arga, ia memang sudah terlambat.
Tetapi untuk nama berikutnya, mungkin belum.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya