98 : 26 (Sembilan Puluh Delapan : Dua Puluh Enam)
Dua puluh delapan tahun berlalu, namun gema dari jalanan belum sepenuhnya padam. 98 : 26 adalah seimpun catatan getir tentang dua zaman yang saling bertatap muka. sebuah cermin antara luka 1998 dan absurditas 2026.
?Puisi ini menelusuri bagaimana janjinya reformasi perlahan meredup menjadi sandiwara politik, dinasti yang dipoles rapi, dan suara rakyat yang kembali berhadapan dengan barikade besi. Lewat bait-bait yang tajam, sinis, dan tanpa basa-basi, antologi ini merekam ironi sebuah negeri di mana rakyat menggaji penguasanya, tetapi harus menanggung perihnya gas air mata.
Kumpulan mahasiswa, warga sipil bahkan anak sekolah berlari berhambur menyerukan argumen mereka tanpa frasa yang tepat tapi tajam karena terlampau jujur.
?98 : 26 bukan sekadar puisi, melainkan monumen perlawanan atas ingatan yang menolak lupa.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya