Anak-Anak Ibu Pertiwi
Ghumaisa Khansa
Anak-Anak Alam
Sejak seribu hari pertama
Kupanggul kau melanglang
Ke biru langit, hijau zamrud
Tempat klorofil meramu cahaya
Putri malu mengatupkan kuncup
Kerbau menunduk di padang basah
Jalak mematuk punggungnya
Rumput-rumput tumbuh berserah
Dari kejauhan penggembala berseru,
"Nak, hendaklah engkau merangkak?"
Kau menjawab dengan seringai bayi
Lalu memeluk dedaunan kembali
Seekor kumbang melintas netra
Menggelinding di sela hari
Nak, semoga yang kau tangkap kelak
Gradasi pada para pendaman
Sifat liat pada tanah basah
Desah angin yang singgah di gendang telinga
Menuntunmu mengenal syukur
Agar tumbuh hikmah
Seindah bunga-bunga yang merekah
Dan kemakmuran
Yang berkelimpahan dalam taman-taman
Pada alam, selamat engkau berkenalan
?
Anak-Anak Kebijaksanaan
Segala yang tercipta,
berpasang-pasangan
Siang dan malam,
Langit dan bumi,
Air dan api,
Darat dan lautan
Air menenangkan bara
Api menghangatkan dingin
Angin membawa benih
Tanah menyimpan kehidupan
Masing-masing menjaga batas
masing-masing memahami tugas
Tak pernah kudengar,
Rumput berkata kepada angin,
“Aku bosan di sini, mari bertukar nasib”
Mereka setia menjadi dirinya
Menjaga keseimbangan
Tanpa saling menjatuhkan
Menjadi tanda bahwa kemuliaan
Bukanlah berada di tempat orang lain
Melainkan menunaikan amanah
pada tempat yang telah digariskan
Sebaik-baiknya, searif-arifnya
Hingga menjadi tambang terberkilau
Pada kotak masing-masing
?
Anak-Anak Kenal Diri
Lihatlah tanah
Ia selalu rendah hati
Meski segala yang tumbuh,
bermula dari punggungnya
Ia tak pernah meminta puji
Ia menerima benih dan akar,
hujan dan kemarau,
bunga dan duri
Ia pun rela diolah,
dicangkul,
disiram,
dibakar matahari
dibentuk oleh musim
Agar kehidupan tumbuh lebih baik
Tanah mengajarkan bahwa
Nilai bukan lahir dari kenyamanan,
melainkan dari kesediaan menjalani proses
Dan ketika segala kembali pulang
Tanah tetap membuka pelukannya
Bagi yang hidup
maupun yang telah kembali
Ke negeri keabadian
?
Anak-Anak Kenal Tuhan
Kita hanyalah setitik
Di atas bola biru
Yang mengitari matahari
Matahari pun hanya satu cahaya
Di antara milyaran bintang
Yang memenuhi Bimasakti
Bimasakti hanyalah seutas benang,
di hamparan gugusan galaksi
Yang membentang
Hingga tak sanggup dibayangkan akal
Namun di dalam dada yang kecil ini,
jantung tetap berdetak, siang dan malam
darah mengalir, susuri arteri dan vena
Tanpa pernah kita perintah
Betapa lembut pengaturan-Nya
Betapa segala bergantung kepada-Nya
Dan betapa tak sampai nalar
Jika semua ini terjadi
Tanpa Kehendak Yang Mahabijaksana
Maka, wahai si kecil kita
Jangan menjadi durjana
Di bumi yang dipijak
Atas izin-Nya
?
Anak-Anak Pemakmur Bumi
Bumi tak pernah jemu
Menerima langkah manusia
Ia menyimpan air,
menumbuhkan pohon,
menghamparkan ladang
Alam menjadi saksi bisu,
Tentang siapa yang menanam,
siapa yang merawat,
dan siapa yang mengabaikan
Maka jadilah manusia
Yang tangannya tak lelah membina
Yang lisannya berkilau mutiara
Yang ilmunya bercahaya
Yang kehadirannya
Membawa manfaat bagi semesta
Hingga kelak
Ketika maut mengetuk pintu
Engkau dapat tersenyum
Karena telah mewariskan
Jejak-jejak kebaikan
Bagi generasi setelahmu
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya