Malam kali ini terasa lebih sunyi dari biasanya.
Entah kenapa isi kepalaku berisik, menggema tanpa henti.
Pikiran-pikiran saling bertabrakan, membuat tubuh bergetar dan dada terasa panas. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Berbagai kemungkinan berputar tanpa jeda. tentang hari esok, tentang segala sesuatu yang mungkin akan terjadi. Rasanya seperti sedang menunggu nasib memilih jalannya.
Untuk pertama kalinya, aku mengambil sebatang rokok dan sebuah korek api.
Kupandangi keduanya cukup lama.
Entah mengapa, malam itu mereka terasa seperti satu-satunya yang mengerti apa yang sedang kurasakan.
Dengan tangan yang dipenuhi amarah dan lelah, kunyalakan ujung rokok itu. Isapan pertama menggores tenggorokan. Hangat. Lalu perlahan berubah dingin. Asap memenuhi paru-paru, sebelum akhirnya kulepaskan pelan ke udara yang bisu.
Aneh.
Bukan karena asapnya.
Melainkan karena setiap helaan yang keluar terasa membawa sedikit demi sedikit kebisingan yang memenuhi kepalaku. Seolah semua yang sesak di dalam sana ikut menguap bersama asap yang larut ke gelapnya malam.
Untuk beberapa saat…
Aku merasa lebih ringan.
Malam masih tetap sunyi.
Jarum jam seolah enggan
meninggalkan pukul dua dini hari.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar…
Yang paling melelahkan bukanlah hidup.
Melainkan isi kepala yang
tak pernah benar-benar diam.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya