Gumi

100%

Gumi

Hujan turun sejak sore, membasahi jalan tanah yang membelah kampung kecil di pinggir kota. Di antara suara air yang jatuh dari atap-atap seng, seorang anak laki-laki berjalan sendirian dengan seragam putih abu-abu yang warnanya mulai pudar.

Namanya Gumi.

Usianya enam belas tahun. Ia tinggal di sebuah rumah kecil yang dindingnya terbuat dari papan bekas dan seng. Tidak ada ayah yang menunggunya pulang. Tidak ada ibu yang bertanya apakah ia sudah makan. Tidak ada kakak atau adik yang bisa diajak berbagi cerita.

Gumi sebatang kara.

Sejak nenek yang selama ini merawatnya meninggal dua tahun lalu, ia hidup sendiri. Untuk bertahan, sepulang sekolah ia bekerja apa saja. Mengangkat barang di pasar, mencuci kendaraan, membantu warung, bahkan memungut kardus dan botol plastik yang masih bisa dijual.

Namun, satu hal yang tidak pernah ia tinggalkan: sekolah.

Bagi Gumi, sekolah adalah satu-satunya pintu yang mungkin membawanya keluar dari kehidupan yang selama ini ia jalani.

Setiap pagi, ia selalu datang lebih awal.

Seragamnya tidak pernah benar-benar putih. Sepatunya sudah menganga di bagian depan. Tasnya merupakan pemberian seseorang yang bahkan sudah tidak ia ingat namanya.

Tetapi Gumi selalu duduk di bangku paling depan.

Ia mencatat setiap pelajaran dengan rapi. Ia mengerjakan tugas meskipun sering kali harus melakukannya di bawah cahaya lampu jalan karena listrik di rumahnya sudah diputus.

“Kalau aku pintar, mungkin hidupku bisa berubah,” pikirnya.

Kalimat itu selalu ia ulang setiap kali merasa lelah.

Suatu pagi, wali kelas membagikan pengumuman.

“Bagi siswa yang belum melunasi uang kegiatan sekolah, segera diselesaikan minggu ini.”

Kertas itu ditempel di papan pengumuman.

Gumi membacanya lama.

Ia tahu namanya ada di daftar siswa yang belum membayar.

Besoknya, ketika semua siswa sudah masuk kelas, wali kelas memanggilnya.

“Gumi.”

“Iya, Bu?”

“Kamu belum membayar uang kegiatan.”

Gumi menundukkan kepala.

“Belum ada, Bu.”

“Sudah berapa kali Ibu bilang? Sekolah ini juga punya kebutuhan. Kalau kamu tidak bisa membayar, bagaimana kegiatan sekolah bisa berjalan?”

Gumi diam.

“Saya akan bayar, Bu. Tapi boleh diberi waktu?”

Guru itu menghela napas.

“Jangan terus minta waktu. Kalau memang tidak mampu, jangan ikut kegiatannya.”

Beberapa anak menoleh.

Ada yang tertawa kecil.

Gumi kembali ke tempat duduknya tanpa berkata apa-apa.

Hari itu, ia tidak bisa berkonsentrasi.

Bukan karena pelajarannya sulit.

Tetapi karena untuk pertama kalinya ia merasa bahwa sekolah yang selama ini ia anggap sebagai rumah kedua ternyata memiliki pintu yang tidak bisa dibuka oleh semua orang.




Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan lomba akademik antarsekolah.

Guru memilih Gumi sebagai salah satu peserta.

Ia sangat senang.

Untuk pertama kalinya, ia merasa kemiskinannya tidak menjadi penghalang.

Ia belajar siang dan malam.

Namun sehari sebelum lomba, guru memanggilnya.

“Gumi, kamu tidak jadi ikut.”

Gumi terdiam.

“Kenapa, Bu?”

“Sekolah sudah memilih peserta lain.”

“Tapi saya sudah latihan, Bu.”

“Iya. Tapi yang berangkat hanya siswa yang dianggap paling pantas mewakili sekolah.”

Gumi menatap gurunya.

“Bukankah nilai saya paling tinggi, Bu?”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Guru tersebut tidak langsung menjawab.

Akhirnya ia berkata pelan,

“Gumi, kamu harus mengerti. Ada pertimbangan lain.”

Pertimbangan lain.

Gumi tidak pernah tahu apa maksudnya.

Yang ia tahu, siswa yang menggantikannya adalah anak seorang pejabat daerah yang sering datang ke sekolah dengan mobil mewah.

Hari lomba tiba.

Gumi tetap datang ke sekolah seperti biasa.

Ia duduk sendirian di bangkunya.

Di papan pengumuman, terpampang foto peserta lomba.

Gumi memandanginya cukup lama.

Di bawah foto itu tertulis:

“Siswa Berprestasi Kebanggaan Sekolah.”

Gumi tersenyum kecil.

Bukan karena bahagia.

Melainkan karena ia baru memahami sesuatu.

Kadang-kadang, prestasi tidak cukup.

Kadang-kadang, kerja keras kalah oleh nama belakang.




Bulan berikutnya, masalah lain datang.

Gumi tidak bisa membayar uang sekolah.

Ia sudah bekerja lebih keras. Pagi sekolah, sore bekerja di pasar, malam membantu seorang pemilik warung.

Tetapi penghasilannya bahkan tidak cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Suatu siang, ketika pelajaran sedang berlangsung, seorang petugas tata usaha datang ke kelas.

“Gumi, ikut saya.”

Ia berdiri.

Teman-temannya memandang.

Gumi dibawa ke ruang tata usaha.

Di sana ada beberapa dokumen di atas meja.

“Kamu belum membayar tunggakan.”

“Saya sedang berusaha, Pak.”

“Kamu harus menyelesaikannya.”

“Saya tidak punya siapa-siapa, Pak.”

Petugas itu terdiam sebentar.

Kemudian berkata,

“Kalau begitu, mungkin sekolah bukan tempat yang tepat untukmu sekarang.”

Kalimat itu terasa seperti pukulan.

Gumi menatap dokumen di atas meja.

Ia ingin menangis.

Namun ia menahannya.

“Kalau orang miskin tidak boleh sekolah,” katanya pelan, “lalu kami harus menjadi apa?”

Tidak ada yang menjawab.




Hari-hari berikutnya, Gumi mulai jarang masuk sekolah.

Bukan karena ia tidak ingin belajar.

Ia harus bekerja lebih banyak.

Ia mulai mengangkat barang di pasar sejak subuh. Setelah itu ia berlari ke sekolah. Sepulang sekolah, ia kembali bekerja sampai malam.

Tubuhnya semakin kurus.

Nilainya menurun.

Guru-guru mulai menganggapnya malas.

“Gumi sekarang berubah.”

“Padahal dulu dia anak pintar.”

“Sayang sekali.”

Tidak seorang pun bertanya mengapa.

Tidak seorang pun datang ke rumahnya.

Tidak seorang pun tahu bahwa setiap malam Gumi tidur dalam keadaan lapar.

Suatu malam, hujan kembali turun.

Gumi duduk di lantai rumahnya sambil membuka buku pelajaran.

Air hujan menetes dari atap dan mengenai halaman bukunya.

Ia menutup buku itu.

Kemudian memandangi seragam yang tergantung di dinding.

Seragam yang dulu membuatnya bangga.

Seragam yang sekarang terasa seperti pakaian milik seseorang yang sudah tidak mengenalnya.

Gumi mengambil selembar kertas.

Ia menulis:

“Saya tidak berhenti sekolah karena saya tidak ingin belajar.”

Ia berhenti sejenak.

Kemudian melanjutkan:

“Saya berhenti karena terlalu mahal untuk menjadi anak miskin yang ingin pintar.”

Ia melipat kertas itu.

Tetapi tidak pernah mengirimkannya kepada siapa pun.




Beberapa tahun berlalu.

Sekolah tempat Gumi dulu belajar mengadakan acara besar.

Di halaman sekolah berdiri sebuah spanduk besar:

“Pendidikan untuk Semua.”

Para pejabat datang.

Guru-guru mengenakan pakaian terbaik.

Siswa-siswa berbaris rapi.

Mereka berbicara tentang masa depan bangsa, pentingnya pendidikan, dan kesempatan yang sama bagi setiap anak.

Di luar pagar sekolah, seorang pemuda berdiri sambil membawa kardus bekas.

Namanya Gumi.

Ia mendengar pidato dari kejauhan.

“Tidak boleh ada anak Indonesia yang tertinggal karena keadaan ekonomi.”

Gumi tersenyum pahit.

Ia ingin mempercayainya.

Sungguh.

Namun ia tahu, kalimat itu terdengar jauh lebih indah dari kenyataan yang pernah ia alami.

Ia memandangi gerbang sekolah.

Dulu, ia masuk melalui gerbang itu dengan mimpi menjadi seseorang.

Sekarang ia hanya berdiri di luarnya.

Bukan karena ia tidak punya mimpi.

Melainkan karena dunia pendidikan telah membuatnya belajar satu hal yang tidak pernah tertulis di buku pelajaran:

Bahwa tidak semua anak memulai perjalanan dari garis yang sama.

Ada yang datang ke sekolah dengan kendaraan pribadi.

Ada yang datang dengan bekal lengkap.

Ada yang memiliki orang tua untuk membayar biaya sekolah.

Dan ada yang datang dengan perut kosong, sepatu berlubang, serta harapan yang harus ia pertahankan sendirian.

Gumi mengangkat kardusnya.

Ia berjalan meninggalkan sekolah.

Di belakangnya, spanduk itu masih berkibar diterpa angin.

Pendidikan untuk Semua.

Gumi tidak menoleh lagi.

Karena bagi dirinya, pendidikan memang pernah menjadi pintu menuju masa depan.

Sayangnya, pintu itu tidak selalu terbuka bagi mereka yang paling membutuhkannya.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: