Jadikan Aku Pengantinmu, Bukan Valentine-mu
Untuk kesekian kalinya ponselku berdering. Aku hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada layar laptop.
Bukan. Maksudku berusaha fokus tapi selalu gagal karena bunyi itu sangat menggangu.
Jengkel, kuraih ponsel yang tergeletak di atas kasur dan memencet tanda terima panggilan dengan sedikit kasar. Mungkin jika bisa berteriak, keypad-nya akan protes dan minta diperlakukan lebih lembut, selembut hatiku yang tidak berlaku untuk si manusia pengganggu selama tujuh tahun terakhir dalam hidupku.
"Apa sih maumu?"
"Assalamualaikum, Raina." Nada pembukanya tidak pernah berubah sejak dia berhasil memiliki nomor ponselku. Entah bagaimana caranya, padahal aku rajin sekali mengganti nomor HP dan selalu memblokir semua nomor baru yang dia pakai.
"Menjawab salam itu wajib loh, Rai," sambungnya lagi.
Aku memutar bola mata kesal. “Waalaikumussalam. Sudah, jangan ganggu aku lagi.”
Aku mematikan panggilan. Belum sempat kukembalikan ponsel ke tempat semula, pesannya sudah masuk.
[Udah makan belum?]
Cih, klise banget.
[Mau makan apa? Aku orderin ya.]
Sok tajir! Padahal dia ngekos di seberang kosanku. Hampir tiap hari nongol di warung samping kosanku buat beli tahu tempe, dua iris doang. Sayurnya semangkuk.
[Rai, aku pesenin bakso mercon ya. Kesukaan kamu.]
See? Dia bahkan tahu makanan favoritku.
[Kurirnya udah nyampe tuh, jangan lupa baca doa ya biar setan gak ikut makan. Nggak rela aku tuh buang duit buat setan.]
Emang gue pikirin?
Seperti biasa, kubuka pintu lalu mengode si kurir yang langsung memutar arah menuju kosan seberang.
Tak lama kemudian ....
[Rai, kok ditolak lagi?]
Menyebalkan!
[Sudah kenyang,] balasku akhirnya.
[Ya udah, kalau gitu aku yang makan ya biar nggak mubazir. Mubazir itu temannya setan.]
Bilang aja lapar. Dasar. Mental kere tapi sok peduli cewek.
Biar kuceritakan sedikit masa lalu kami. Dulu aku adalah primadona di sekolah. Ketua OSIS sekaligus siswi teladan. Berbagai lomba kuikuti dengan hasil yang tak mengecewakan.
Aku bertemu dengan Raihan saat kami sama-sama mengikuti olimpiade sains. Dia berasal dari sekolah lain dan jadi juara saat itu, menggeserku ke urutan kedua.
Seminggu setelahnya, dia pindah ke sekolahku dan menjadi idola cewek-cewek. Tampan sih, tapi rasa dongkol karena dikalahkan itu masih ada, jadi aku memisahkan diri dari barisan penggemar.
Rasa dongkolku menjadi-jadi saat dia ternyata cepat sekali menarik perhatian semua orang, termasuk guru-guru. Tiba-tiba saja dia menjabat posisi wakil ketua OSIS, menggantikan Doni, wakilku yang pindah sekolah. Orang-orang membiarkannya merusak tatanan yang ada, bahwa wakil ketua haruslah dia yang punya masa tugas minimal satu semester.
Bukan itu saja, Raihan ternyata menyukaiku.
Astaga, aku dimusuhi gadis-gadis. Sialnya, Raihan pandai sekali bicara. Dia bahkan membuat nama baru untuk kami, Raihana. Sembarangan!
Begitulah, aku membencinya karena kehilangan dominasi, dimusuhi gadis-gadis, juga karena dia selalu bertingkah seolah kami adalah pasangan.
***
Memasuki kampus yang sama ternyata menjadi mimpi burukku. Teman-teman yang berasal dari sekolah kami masih selalu memanggil kami dengan sebutan Raihana.
Menjengkelkan memang, apalagi saat ini aku sedang belajar hijrah.
Mungkinkah Raihan sengaja mengikutiku? Dia ngekos di depan kosanku, selalu ke warung langgananku padahal di samping kosannya juga ada.
[Rai, sudah tidur?]
Tuh kan, dia masih mengirim chat. Ah ya, dia satu-satunya yang memanggilku dengan sebutan Rai seperti panggilan untuk dirinya, orang lain memanggilku Raina atau Nana.
[Sudah. Berhenti mengirim pesan! Dasar pengganggu!]
Kumatikan ponsel lalu tidur. Dan tebak! Satu pesan baru menyambut saat aku membuka mata.
[Bangun, Rai. Anak gadis nggak boleh bangun siang, nanti nggak bisa jadi istri dan ibu yang baik.] Pagi sekali dia merusak mood-ku..
[Bukan urusanmu!] Tak lupa kusematkan emotikon tinju sepuluh biji.
***
"Eh Na, udah dengar gosip terbaru, belum?" tanya Kirei saat kami nongkrong di depan kantin kampus.
"Hus, nggak boleh gibah. Kamu mau makan bangkai?"
"Ini fakta, Na."
"Ya memang gibah itu fakta, kalau fiksi namanya novel, eh. Maksudnya kalau bukan fakta namanya fitnah. Sama-sama dosa," jawabku sambil menuding wajahnya.
"Biasa aja dong, Na." Kirei menggeser telunjukku dari hadapannya.
"Dengerin ya. Raihan ngedeketin kamu karena terpaksa," lanjutnya yang membuatku terkejut.
"Apa maksudmu?"
"Denger-denger sih, Raihan dan teman-temannya bikin challenge, harus bisa ngajak cewek buat Valentinan. Yang gagal bakal dicap nggak normal dan harus mentraktir yang lainnya. Gila nggak tuh?"
"What? Jadi maksudmu Raihan menjadikan aku target buat tantangan bodoh ini?"
Kirei mengangguk.
"Kurang ajar! Ngapain juga dia ikutan cowok-cowok nggak bener itu. Ini tidak bisa dibiarkan," kataku sambil mengepalkan tangan kanan lalu menggosokkannya ke telapak tangan kiri, geram.
"Bener banget, Na. Harusnya Raihan nggak usah ikutan tantangan gitu, toh cara biasa sudah bisa meluluhkan kamu."
Kutoyor kepala Kirei. "Bukan itu maksudku, Dodol! Ini nggak bisa dibiarkan. Acara begini nih merusak moral, tau. Membuka pintu menuju zinah. Kamu tau kan, awalnya cuma ngobrol, lama-lama sentuhan fisik, dan akhirnya bisa berakhir di ... iiih." Kugerak-gerakkan kedua bahuku pertanda jijik.
"Terus kamu mau apa? Mau lapor ke Pak Dekan? Sadar, Na! Ini bukan di SMA. Masalah receh begini gak bakal direspon."
Receh, katanya? Acara ngumpulin dosa dibilang receh?
"Kalau dulu kamu bisa gunakan posisi kamu untuk kampanye anti V-Day, sekarang gak bisa lagi. Lagipula, belum tentu 'kan yang kamu takutkan itu terjadi. Bisa jadi mereka cuma ngobrol biasa. Bisa-bisa malah kita dituduh mengganggu privasi orang."
Geram, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa berharap mereka menjaga batas, meskipun sebenarnya batas itu sudah dilanggar sejak awal. Bukankah batasan semestinya adalah lelaki dan wanita bukan mahram tidak boleh berduaan?
***
Entah mengapa aku terus memikirkan Raihan. Bukan gayanya ikut tantangan bodoh begini. Terus, kalau cuma buat dipamerin, kenapa harus aku? Dari dulu banyak gadis yang mengantri digandeng olehnya. Eh, tapi memang aku belum pernah melihatnya dengan cewek, sih.
Ponselku berbunyi lagi.
[Rai, sudah makan? Kalau belum, mau nggak aku pesanin?]
[Rai, balas dong. Aku serius nih, kamu mau makan apa?]
Kuraih ponselku. Kalau tidak segera bertindak, dia akan mengejar terus. Baiklah, aku punya rencana.
[Temui aku besok jam 10.00 di taman samping masjid! Aku mau bicara.] Akan kubuat dia tak berkutik.
***
"Ingat ya, Ki! Kamu tetap di dekatku. Awas saja kalau kamu ninggalin kami berdua. Nih." Kukepalkan tinju di depan wajah Kirei.
"Kamu mau ngomong apa, sih? Ini juga, ngapain coba bawa galon segala. Kamu mau beli air?" tanyanya sebal karena kusuruh membawa galon lima liter bekas.
"Udah, nanti juga kamu tau. Ayo ah."
Kami berjalan menuju masjid kampus. Sekarang hari Sabtu, tak banyak aktivitas di sana.
Raihan sudah menunggu di bawah pohon.
"Aku nggak mau basa-basi," kataku tanpa menatap wajahnya.
"Aku juga."
"Aku nggak mau pacaran."
Dia diam sejenak. "Kalau pura-pura?"
"Maksudmu?" Aku melotot.
"Eem, itu Rai, anu... pacarannya pura-pura aja. Lewat chat aja, nanti aku liatin ke mereka, ups." Dia refleks menutup mulutnya.
"Apa kau sedang memanfaatkan aku, ha?" todongku dengan galak.
"Enggak kok, aku serius."
"Serius pura-pura? Dasar aneh!"
"Bukan begitu, Rai. Aku serius suka sama kamu. Kamu pikir buat apa semua perhatianku selama ini?"
"Buat tantangan Valentine, 'kan?" Kesal aku mengingat ini.
Dia tampak terkejut.
"Bukan begitu, Rai. Mereka menodongku. Mereka curiga aku nggak normal karena nggak pernah gandeng cewek. Apalagi harus traktir orang sebanyak itu. Maaf ya, Rai."
Alasan apa itu? Apa kabar orang-orang yang teguh memegang Sunnah? Dunia sudah gila, orang berlomba-lomba pamer dosa. Yang teguh menjaga pandangan dan kemaluannya dianggap tidak normal.
"Kenapa harus aku? Ajak saja salah satu cewek yang ngincar kamu!"
"Aku maunya kamu, Rai."
"Enak saja, dosa kok ngajak aku."
"Cuma pura-pura, Rai. Kalau boleh sih, beneran, heheh." Dia cengengesan menyebalkan.
"Sudah kubilang aku nggak mau pacaran, titik."
"Yaaa...," katanya lesu.
"Aku mau langsung nikah."
"Aku siap!"
Mantap sekali nada bicaranya, belum tahu dia apa rencanaku.
"Yakin?"
"Seribu persen. Aku juga nggak mau pacaran, dosa. Kita pacarannya habis nikah aja ya." Busyet, PD sekali dia.
"Ada satu tantangan dan tiga syarat. Dengar baik-baik dan jangan menyela!" tegasku.
"OK."
"Kita mulai dari tantangannya dulu. Ayahku berencana menjodohkanku dengan anak temannya seminggu setelah wisuda. Tiga bulan dari sekarang. Kalau kamu bisa datang lebih awal, kamu menang. Sanggup?"
"Rai, tiga bulan?"
"Lebih awal, Raihan."
"Baiklah, aku sanggup." Besar juga nyalinya.
"Bagus. Sekarang syarat pertama. Aku mau mahar Surah Ar-Rahman."
Meski tak berharap menikah dengannya, boleh dong kuberikan syarat ini. Mana tahu dia langsung mundur.
"Syarat kedua. Berhenti menghubungiku, kecuali saat kamu siap menemui orang tuaku." Aku tidak mau ada acara telpon-telponan beracun.
"Terakhir. Kirei, sini galonnya!"
Sohibku itu mendekat dan menyerahkan galon.
"Ambil ini!" Kusodorkan pada Raihan.
"Kamu mau aku belikan air?" Astaga, polosnya.
"Sembarangan! Itu untuk tabungan kamu. Isi galon itu dengan uang seratus ribuan hingga penuh! Satukan tiap sepuluh lembar, gulung lalu ikat dengan karet!"
Dia ternganga. Galon di tangannya hampir terlepas.
"Aish, aku nggak matre ya, tapi realistis. Biaya hidup mahal, Rai. Itu bisa dipakai buat bayar kontrakan dan isinya, aku tidak mau bergantung pada orang tua. Dan perlu dipertegas, itu tabungan untuk biaya hidup, bukan jujuran. Sanggup?"
Tampak sekali dia mulai lemas.
"Rai, kamu cinta nggak sih sama aku?"
"Nggak."
"Lah, terus ngapain kamu ngasih syarat begini kalau enggak cinta?"
"Untuk ngasih tau kamu, jangan coba-coba mengikat anak gadis orang tanpa kepastian. Kalau kamu suka, berjuanglah, kalau belum mampu maka lepaskanlah. Hidup tidak melulu soal cinta, Raihan. Ada tanggung jawab yang harus ditunaikan. Ada orang tua yang rindu melihat anaknya melepaskan status lajang dengan jalan yang mulia. Aku tidak akan memaksamu. Kalau tidak sanggup, silakan mundur. Aku tidak bisa menunggu di depan pintu yang tertutup saat pintu lain terbuka." Puas sekali rasanya mengatakan ini.
"Begini caramu menolakku?"
"Aku tidak menolakmu, Raihan. Aku memberimu kesempatan."
Raihan diam memandang galon kosong di tangannya.
"Oh aku hampir lupa satu hal penting. Aku mau harta yang halal. Jangan coba-coba mengambil jalan pintas!"
"Raina, apa tidak ada tawaran lain?" Wah, tumben dia menyebut namaku dengan benar.
"Tidak ada, Raihan. Halalkan aku, kuberi kau hatiku."
Dia menatapku sekali lagi, mengangkat galon lalu mendekapnya. "Aku siap!"
Aku melongo. Mana lagi tampangnya serius begitu.
Bagaimana kalau dia berhasil memenuhi ketiga syaratnya?
Giliran aku yang lemas.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya