JALAN PANJANG MENUJU MIMPI
Oleh: Alifa Ramadhina Faiha
Sepatu hitamku mulai terbuka di bagian depannya.
Setiap kali melangkah, aku bisa merasakan solnya sedikit terangkat, seolah-olah sepatu itu ingin mengingatkanku bahwa tidak semua perjalanan bisa ditempuh dengan mudah. Aku pernah berniat meminta sepatu baru kepada Bunda, tetapi niat itu selalu kutunda. Sepatu ini masih bisa dipakai, pikirku. Selama masih bisa membawaku ke sekolah, aku akan tetap menggunakannya.
Pagi itu, ketika aku duduk di kelas VII-I SMPN 27 Bekasi, aku tidak menyangka sepatu yang hampir rusak itu akan membuatku memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada urusan alas kaki.
Bu Laras, guru Bahasa Indonesiaku, berdiri di depan kelas sambil membawa beberapa lembar kertas.
“Anak-anak, kali ini Ibu ingin kalian menulis cerpen tentang sisi gelap pendidikan di Indonesia,” katanya.
Kelas yang semula ramai perlahan menjadi tenang.
“Kalian boleh mengangkat persoalan apa saja. Ketidakadilan, kesulitan mendapatkan fasilitas belajar, perbedaan kesempatan, atau masalah lain yang menurut kalian perlu diperhatikan.”
Aku mulai menulis judul di buku catatan. Namun, sebelum sempat memikirkan ceritanya, Bu Laras mengajukan pertanyaan.
“Menurut kalian, apakah semua anak di Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan?”
Aku mengangkat kepala.
“Seharusnya sama, Bu,” jawab seorang teman.
Bu Laras mengangguk pelan. “Seharusnya, ya. Tetapi, apakah kenyataannya selalu begitu?”
Aku terdiam.
Selama ini, bagiku, sekolah adalah bagian dari rutinitas. Bangun pagi, memakai seragam, membawa bekal, berangkat, belajar, lalu pulang. Kadang aku mengeluh tentang tugas atau ulangan. Aku juga pernah merasa malas bangun pagi.
Namun, aku tidak pernah benar-benar memikirkan bahwa perjalanan menuju sekolah bisa menjadi penghalang bagi seorang anak untuk mendapatkan kesempatan belajar.
Malamnya, aku mulai menulis cerpen. Dalam bayanganku, tokoh utamanya adalah seorang anak yang tinggal jauh dari kota. Ia menghadapi banyak kesulitan, tetapi selalu tersenyum dan tidak pernah menyerah.
Aku merasa ceritaku sudah bagus. Tokohnya kuat, masalahnya menyentuh, dan akhirnya membahagiakan.
Namun, saat kubaca ulang, ada sesuatu yang terasa kurang.
Tokoh itu hanya kugambarkan sebagai anak yang menderita. Aku belum mengenal siapa dirinya, apa yang ia sukai, apa cita-citanya, atau bagaimana caranya menghadapi masalah. Seolah-olah kesulitan adalah satu-satunya hal yang membuat hidupnya menarik untuk diceritakan.
Aku belum menyadari kekeliruan itu sampai mengikuti kegiatan pertukaran cerita antarpelajar secara daring beberapa hari kemudian.
Dalam kegiatan tersebut, aku berkenalan dengan seorang siswi bernama Naya. Ia tinggal di Papua. Ketika kami diminta memperkenalkan diri dan menceritakan minat masing-masing, Naya mengatakan bahwa ia menyukai matematika dan menggambar.
“Aku suka menggambar jembatan,” tulisnya dalam percakapan kami.
Aku sempat mengernyit membaca pesan itu.
“Kenapa jembatan?” tanyaku.
“Karena jembatan menghubungkan dua tempat yang terpisah,” jawabnya. “Aku ingin belajar bagaimana jembatan dirancang supaya aman dan bisa digunakan banyak orang.”
Aku membaca jawabannya dua kali.
Aku tidak menyangka seseorang bisa memiliki cita-cita yang begitu spesifik. Selama ini, ketika ditanya tentang masa depan, aku masih sering menjawab dengan cita-cita yang berubah-ubah. Sementara itu, Naya sudah membayangkan sesuatu yang ingin dipelajarinya lebih jauh.
Aku lalu menceritakan tugas cerpen dari Bu Laras.
“Aku sedang menulis tentang kesulitan anak-anak mendapatkan pendidikan,” tulisku.
Naya tidak langsung menjawab. Beberapa saat kemudian, ia mengirimkan pesan.
“Kalau menulis tentang anak yang kesulitan sekolah, jangan lupa ceritakan juga apa yang ingin ia capai.”
Aku terdiam di depan layar ponsel.
Kalimatnya sederhana, tetapi terasa seperti teguran yang tidak disampaikan dengan marah.
Aku bertanya kepada Naya tentang pengalaman sekolahnya. Ia bercerita bahwa pada suatu pagi, hujan membuat perjalanan menuju sekolah menjadi jauh lebih sulit. Jalur yang biasa dilaluinya menjadi licin, sehingga ia harus berjalan lebih hati-hati. Perjalanan yang biasanya sudah menguras tenaga menjadi lebih lama.
Hari itu ada tes matematika.
“Aku sudah belajar dari malam sebelumnya,” tulis Naya. “Aku ingin mengerjakan soal-soalnya bersama teman-teman. Tapi, aku datang ketika mereka sudah mulai mengerjakan.”
Aku membayangkan Naya berjalan sambil menjaga keseimbangan di jalur yang licin. Di tempatku, hujan memang kadang membuat jalanan macet atau genangan air muncul di beberapa bagian. Namun, aku belum pernah mengalami keadaan yang sama persis seperti yang diceritakan Naya.
Aku tidak ingin menyimpulkan bahwa semua anak di Papua mengalami hal serupa. Aku hanya tahu bahwa bagi Naya, pagi itu menjadi pengalaman yang tidak mudah.
“Terus, bagaimana?” tanyaku.
“Bu Wening mendengarkan penjelasanku. Setelah tahu apa yang terjadi, beliau mengatur supaya aku bisa mengikuti tes pengganti.”
Aku merasa lega membaca bagian itu.
“Syukurlah, berarti kamu tetap bisa mengerjakan tesnya.”
“Iya. Aku berterima kasih kepada Bu Wening,” jawab Naya. “Tapi aku tetap sedih. Aku sudah belajar, dan aku ingin ikut tes bersama teman-teman sejak awal. Aku juga tidak ingin terus khawatir terlambat kalau cuaca buruk.”
Aku berhenti mengetik.
Awalnya, aku mengira masalah Naya selesai ketika gurunya memberinya kesempatan mengikuti tes pengganti. Ternyata, kesempatan mengerjakan tes setelah terlambat tidak serta-merta menghilangkan kesulitan yang harus dihadapinya setiap kali perjalanan menuju sekolah menjadi terhambat.
Bu Wening sudah berusaha membantu. Namun, beliau tidak bisa sendirian memperbaiki jalur perjalanan yang menyulitkan Naya.
Aku kembali membuka dokumen cerpenku. Tokoh yang kutulis masih menjadi anak yang selalu tersenyum meskipun hidupnya penuh masalah.
Aku mulai merasa malu.
Aku telah menulis tentang kehidupan seseorang yang bahkan tidak benar-benar kukenal. Aku membuatnya seolah-olah cukup tersenyum untuk mengatasi semua kesulitan. Padahal, orang yang menghadapi masalah tidak selalu harus tersenyum. Mereka boleh kecewa, takut, marah, dan berharap keadaan berubah.
Lebih dari itu, mereka memiliki cita-cita yang tidak seharusnya tenggelam di balik kisah kesulitan mereka.
Aku menghapus beberapa paragraf.
Lalu kuhapus lagi.
Akhirnya, hampir seluruh cerpenku berubah menjadi halaman kosong.
Aku menatap layar cukup lama. Rasanya menyebalkan harus mengulang tulisan yang sudah kukerjakan. Namun, aku sadar bahwa mempertahankan cerita yang tidak adil hanya karena aku telanjur menulisnya bukanlah pilihan yang tepat.
Aku mengirim pesan kepada Naya.
“Menurutmu, apa yang harus kutulis?”
Naya membalas, “Tulis apa yang benar-benar kamu pahami. Jangan menjadikan kesulitanku sebagai seluruh cerita tentang diriku. Aku memang pernah mengalami pagi yang sulit, tetapi aku juga suka matematika, suka menggambar, dan punya mimpi.”
Aku membaca pesan itu perlahan.
Untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa menulis tentang orang lain bukan hanya soal membuat pembaca merasa sedih. Aku harus memberi ruang bagi tokohku untuk menjadi manusia seutuhnya—memiliki masalah, pikiran, kemampuan, dan harapan.
Aku mulai menulis lagi.
Kali ini, aku tidak menjadikan Naya sebagai tokoh yang hanya menunggu pertolongan. Aku menulis tentang seorang anak yang belajar dengan tekun, menyukai matematika, dan menggambar jembatan di sela-sela kegiatannya. Aku menulis tentang pagi ketika perjalanannya terhambat oleh hujan, tentang rasa kecewanya karena terlambat mengikuti tes, dan tentang guru yang berusaha memberinya kesempatan.
Namun, aku juga menulis sesuatu yang sebelumnya terlupakan: masalah itu tidak selesai hanya karena tes pengganti diberikan.
Tokohku masih berharap agar perjalanan ke sekolah menjadi lebih aman dan tidak terus-menerus membuatnya khawatir. Ia ingin belajar tanpa harus dihantui pertanyaan apakah cuaca akan menghalanginya lagi.
Aku tidak menulis bahwa semua masalah bisa selesai dalam sehari. Aku juga tidak membuat akhir cerita yang seolah-olah satu orang datang membawa solusi untuk semuanya.
Aku ingin pembaca memahami bahwa kepedulian itu penting, tetapi perubahan yang lebih besar juga diperlukan.
Keesokan harinya, aku membawa draf cerpenku ke sekolah. Saat pelajaran Bahasa Indonesia, Bu Laras meminta beberapa siswa membagikan perkembangan tulisan mereka.
Aku memberanikan diri menceritakan perubahan cerpenku.
“Awalnya saya membuat tokoh yang selalu tersenyum meskipun menghadapi kesulitan, Bu,” kataku. “Setelah berbicara dengan seorang teman dari Papua, saya sadar bahwa saya terlalu fokus pada kesulitannya. Saya lupa menulis cita-cita dan pikirannya.”
Bu Laras mendengarkan dengan saksama.
“Lalu, apa yang kamu pelajari dari pengalaman itu?”
“Bahwa kita tidak boleh menganggap semua anak memiliki pengalaman yang sama. Kita juga tidak boleh menganggap mereka hanya sebagai korban keadaan. Mereka punya kemampuan dan keinginan sendiri.”
Bu Laras mengangguk.
“Bagus. Sekarang coba pikirkan satu hal lagi. Apa yang bisa dilakukan seorang guru ketika menghadapi kesulitan seperti itu?”
Aku mengingat cerita Naya.
“Guru bisa mendengarkan, Bu. Kalau ada murid yang terlambat karena mengalami kendala, guru bisa mencari tahu penyebabnya dan membantu supaya murid itu tetap mendapat kesempatan belajar.”
“Betul,” jawab Bu Laras. “Tetapi, apakah guru bisa menyelesaikan semua persoalan sendirian?”
Aku menggeleng.
“Tidak, Bu. Kalau masalahnya berkaitan dengan akses jalan, fasilitas, atau sarana pendidikan, perlu ada dukungan dari banyak pihak.”
“Persis. Kita perlu membedakan hal yang bisa dilakukan seseorang secara langsung dan hal yang membutuhkan perubahan lebih luas.”
Aku mencatat kalimat itu di buku.
Sepulang sekolah, aku mengirimkan draf terbaruku kepada Naya. Aku menunggu jawabannya dengan perasaan gugup. Aku takut ceritaku masih belum menggambarkan pengalamannya dengan tepat.
Beberapa waktu kemudian, pesannya masuk.
“Aku suka bagian ketika tokohnya tetap punya cita-cita,” tulisnya. “Tapi jangan lupa, dia juga boleh merasa lelah. Tidak apa-apa kalau dia ingin keadaan berubah.”
Aku tersenyum kecil.
“Terima kasih, Nay. Aku akan memperbaikinya lagi.”
Aku lalu menambahkan bagian tentang perasaan tokoh yang kadang lelah menghadapi keadaan, tetapi tetap ingin belajar. Aku ingin menunjukkan keberanian tanpa memaksakan tokohku menjadi seseorang yang tidak pernah merasa sedih.
Malam itu, aku kembali memperhatikan sepatuku. Bagian depan solnya masih terbuka sedikit. Aku menekannya dengan jari, lalu meletakkannya di dekat pintu agar siap kupakai ke sekolah esok hari.
Sepatu itu membuatku teringat pada Naya.
Kami memiliki perjalanan yang berbeda. Aku menjalani rutinitas sekolah di Bekasi, sedangkan Naya menghadapi kondisi perjalanan yang pernah membuatnya terlambat mengikuti tes. Aku tidak bisa menyamakan pengalaman kami hanya karena kami sama-sama berstatus pelajar.
Namun, ada satu hal yang menghubungkan kami: kami sama-sama ingin belajar dan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan.
Aku membayangkan gambar jembatan yang pernah diceritakan Naya. Mungkin, baginya, jembatan bukan sekadar bangunan yang menghubungkan dua sisi. Jembatan juga bisa menjadi lambang harapan agar jarak dan hambatan tidak terus-menerus memisahkan seseorang dari kesempatan yang ingin diraihnya.
Aku membuka kembali cerpenku dan membaca paragraf terakhir.
Aku tidak ingin menutup cerita dengan janji bahwa semua persoalan pendidikan akan segera selesai. Aku juga tidak ingin membuat pembaca merasa bahwa rasa iba saja sudah cukup untuk mengubah keadaan.
Aku ingin mengajak pembaca bertanya: berapa banyak anak yang memiliki kemampuan, semangat, dan cita-cita, tetapi harus menghadapi hambatan yang seharusnya tidak mereka tanggung sendirian?
Aku menyimpan dokumen itu, lalu mengirimkan pesan terakhir kepada Naya malam itu.
“Semoga suatu hari nanti kamu bisa merancang jembatan yang kamu impikan.”
Naya membalas dengan gambar rancangan jembatan buatannya. Garis-garisnya masih sederhana, tetapi ia menggambarkannya dengan teliti. Aku memperbesar gambar itu di layar ponselku, memperhatikan setiap bagian yang dibuatnya.
Aku tersenyum.
Mungkin, suatu hari nanti, Naya benar-benar akan belajar merancang jembatan. Mungkin jalannya menuju cita-cita akan panjang dan penuh tantangan. Aku tidak tahu bagaimana masa depannya, tetapi aku tahu bahwa mimpinya layak mendapat kesempatan untuk tumbuh.
Aku juga menyadari bahwa menulis cerpen bukan sekadar menyusun kata-kata indah. Tulisan bisa membuat kita melihat persoalan yang sebelumnya luput dari perhatian, mendengarkan pengalaman yang berbeda dari pengalaman kita sendiri, dan belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi kehidupan orang lain.
Sepatuku mungkin belum baru. Gambar jembatan Naya mungkin masih berupa rancangan sederhana. Namun, keduanya mengingatkanku bahwa perjalanan setiap anak memiliki tantangannya masing-masing.
Aku tidak bisa memperbaiki semua hambatan yang dihadapi Naya. Aku juga tidak bisa menjanjikan bahwa setiap anak akan langsung memperoleh kesempatan yang sama. Tetapi, aku bisa mulai dengan mendengarkan, menulis secara jujur, dan tidak membiarkan cerita tentang kesulitan seseorang menghapus cita-citanya.
Aku menutup buku catatan dan mematikan lampu kamar.
Besok, aku akan kembali ke sekolah dengan sepatu hitam yang sama. Sementara itu, di tempat yang jauh, Naya mungkin akan kembali membuka buku matematikanya atau menggambar rancangan jembatan berikutnya.
Kami berjalan di jalan yang berbeda, tetapi sama-sama sedang menuju masa depan.
Sebab, setiap anak boleh memiliki mimpi yang berbeda. Yang tidak seharusnya berbeda adalah kesempatan untuk mengejarnya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya