Katakomba Afeksi yang Hilang

100%

Katakomba Afeksi yang Hilang

Dan setelah itu, aku tidak lagi takut pada pengkhianatan. Aku takut pada diriku sendiri. Takut pada versi diriku yang lahir dari reruntuhan itu. Versi yang selalu mencurigai ketulusan. Versi yang selalu mencari celah pada kebaikan. Versi yang lebih percaya pada kemungkinan ditinggalkan daripada kemungkinan dicintai. Sebab luka yang paling kejam bukan luka yang membuatmu menangis. Melainkan luka yang mengubah caramu memandang dunia.

Dulu aku percaya manusia seperti taman. Kini aku melihat mereka seperti labirin. Setiap senyum terasa menyimpan jalan buntu. Setiap perhatian terasa memiliki harga tersembunyi. Setiap kedekatan terasa seperti awal dari kehilangan berikutnya. Betapa menyedihkannya itu. Aku jadi penjaga benteng yang bahkan tak lagi ingat untuk apa itu dibangun.

Aku mengunci semua pintu. Lalu mengeluh karena kesepian. Aku membangun tembok-tembok tinggi. Lalu bertanya mengapa tak ada yang bisa menjangkaunya. Aku menjauh sebelum ditinggalkan. Aku membeku sebelum disakiti. Aku pergi sebelum dicampakkan. Dan diam-diam, aku menghukum orang-orang yang tidak bersalah atas dosa yang dilakukan orang lain.

Namun setiap malam, ketika seluruh kebisingan dunia mati perlahan, aku menyadari satu hal mengerikan bahwa pengkhianatan itu belum selesai. Ia masih hidup. Bukan di tangan mereka yang pergi. Melainkan di dalam diriku sendiri. Ia tinggal di setiap keraguan. Di setiap prasangka. Di setiap ketakutan yang terus kuberi makan.

Ia tumbuh seperti lumut hitam di dinding-dinding hati yang lembap oleh kecewa. Dan semakin lama aku memeliharanya, semakin aku menyerupai makam. Dingin. Sunyi. Kosong. Tak layak ditinggali siapa pun. Kadang aku memandang orang-orang yang masih berani percaya, dan aku merasa seperti pengembara yang kehilangan arah.

Mereka masih bisa tertawa tanpa curiga. Masih bisa mencintai tanpa menghitung risiko. Masih bisa membuka hati tanpa membawa daftar luka. Sedangkan aku... aku membawa kuburan ke mana-mana. Membawa nisan-nisan lama ke setiap pertemuan baru. Membawa nama-nama yang telah mengkhianatiku ke wajah-wajah yang bahkan belum sempat kukenal.

Dan itulah yang paling membuatku lelah. Bukan karena aku dikhianati. Tetapi karena sebagian diriku masih hidup di hari itu. Masih berdiri di reruntuhan yang sama. Masih menunggu penjelasan yang tak akan datang. Masih berharap sesuatu yang telah mati dapat hidup kembali.

Padahal waktu sudah lama berjalan. Orang-orang telah berganti. Musim telah berubah. Dan dunia tak pernah berhenti berputar. Kecuali aku. Aku masih berdiri di depan makam kepercayaan itu, jadi penjaga bagi sesuatu yang bahkan tak lagi bisa kuselamatkan.

Dan mungkin... kesedihan yang paling dalam bukan ketika seseorang mengkhianatimu. Melainkan ketika setelah semua itu, kau tak lagi mengenali dirimu sendiri. Karena sebagian dari hatimu ikut terkubur bersamanya. Dan tak pernah benar-benar kembali.


Marion D'rossi

Depok, 26 Juni 2026

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: