KILATAN DI GUDANG TUA

100%

KILATAN DI GUDANG TUA

Malam itu, Kanaya sebenarnya tidak berniat mencari masalah.

Ia hanya ingin pulang.

Acara keluarga yang seharusnya selesai pukul sembilan malam ternyata molor hampir dua jam. Dengan rambut panjang yang ia biarkan tergerai dan tas kecil tersampir di bahu, Kanaya berjalan melewati jalan samping sekolahnya.

Sekolah itu sudah gelap.

Hanya beberapa lampu halaman yang masih menyala, menerangi pagar besi dan pepohonan yang bergerak pelan tertiup angin.

Kanaya mempercepat langkah.

Sampai kemudian...

Cahaya itu muncul.

Kelip.

Kanaya berhenti.

Ia menoleh ke arah sebuah bangunan tua di sebelah sekolah.

Gudang lama.

Bangunan yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan. Dindingnya kusam, sebagian ditumbuhi lumut. Jendelanya tertutup papan kayu, pintunya berkarat, dan halaman kecil di depannya dipenuhi rumput liar.

Semua orang di sekolah tahu tempat itu.

Dan semua orang punya cerita masing-masing tentangnya.

Ada yang bilang gudang itu dulu tempat penyimpanan alat olahraga.

Ada yang bilang pernah ada penjaga sekolah yang tinggal di sana.

Bahkan pernah beredar cerita bahwa malam-malam tertentu terdengar suara benda jatuh dari dalam.

Kanaya sendiri tidak pernah percaya.

Sampai malam itu.

Ia melihat cahaya lagi.

KELIP.

Kali ini lebih terang.

Seperti kilatan petir.

Kanaya menatap gudang itu beberapa detik.

Lalu bulu kuduknya berdiri.

"Enggak."

Ia menggeleng sendiri.

"Enggak, Kanaya. Pulang."

Ia berbalik.

Baru berjalan tiga langkah...

KELIP.

Kanaya menoleh lagi.

Dan kali ini, ia melihat sesuatu bergerak di balik jendela papan.

Sebuah bayangan.

Kanaya langsung lari.

Keesokan paginya, empat orang sudah duduk mengelilingi meja kantin.

Sagara menyilangkan kedua tangan di dada.

Respati membaca buku sambil sesekali melirik Kanaya.

Djanu sedang makan tiga gorengan sekaligus.

Danis?

Sedang sibuk membalas pesan dari entah berapa orang.

"Jadi," kata Sagara, "semalam kamu lihat apa?"

Kanaya menarik napas.

"Gudang tua sebelah sekolah."

Djanu berhenti mengunyah.

"Yang katanya ada hantunya?"

"Katanya," jawab Kanaya.

Danis langsung menyeringai.

"Jangan-jangan kuntilanak."

"Kenapa harus kuntilanak?" tanya Respati datar.

"Karena kalau pocong, susah kalau mau foto."

Djanu mengangguk serius.

"Benar juga."

Respati menutup bukunya.

"Kenapa aku berteman dengan kalian?"

Kanaya menahan tawa.

"Lihat, aku serius. Aku lihat ada cahaya dari dalam. Berkedip-kedip."

Sagara menatapnya.

"Jam berapa?"

"Hampir jam sebelas."

Ekspresi Sagara berubah.

"Dan kamu masih berdiri di sana?"

"Sebentar."

"Sendirian?"

Kanaya mengangguk.

Sagara menghela napas panjang.

"Besok-besok kalau melihat sesuatu yang aneh, jangan didekati."

Kanaya tersenyum.

"Tapi kita akan mengeceknya, kan?"

Sagara menatapnya.

Kanaya tersenyum lebih lebar.

Danis langsung menunjuk Sagara.

"Kalau dia sudah senyum begitu, kita enggak punya pilihan."

Djanu mengangkat tangan.

"Aku ikut."

"Kenapa?" tanya Respati.

"Karena kalau ada hantu, aku bisa lari paling cepat."

"Kapten basket kok lari dari hantu."

"Hantu enggak kenal aturan pertandingan."

Mereka berlima sudah berteman sejak TK.

Berbeda kelas, berbeda karakter, bahkan berbeda tingkat kewarasan.

Tapi hampir setiap masalah yang mereka hadapi selalu berakhir dengan mereka berlima.

Sagara adalah pemimpin alami.

Tegas, tenang, dan jarang panik.

Respati lebih banyak diam, tapi otaknya bekerja paling cepat.

Djanu adalah kapten basket sekolah. Tubuhnya paling besar, tetapi kadang isi kepalanya berjalan dengan kecepatan yang berbeda.

Danis adalah pusat gravitasi sosial sekolah. Ganteng, mudah bergaul, dan mengenal hampir semua orang.

Sedangkan Kanaya...

Kanaya adalah Kanaya.

Cantik, pintar, rambut panjang, dan bisa ngobrol dengan siapa saja.

Lima anak yang seharusnya tahu kapan harus berhenti.

Sayangnya, rasa penasaran mereka jauh lebih kuat.

Mereka memilih Jumat sore.

Sekolah mulai sepi.

Sagara membawa senter.

Respati membawa kamera kecil.

Djanu membawa tongkat baseball.

Danis membawa...

"Kenapa kamu bawa parfum?" tanya Kanaya.

"Kalau ketemu hantu, masa aku bau keringat?"

Kanaya menatapnya tidak percaya.

Sagara mengusap wajah.

"Fokus."

Mereka berjalan menyusuri belakang sekolah.

Semakin dekat ke gudang, suasana semakin sunyi.

Pagar tua di belakang bangunan sudah hampir roboh.

Rumput liar mencapai lutut.

Angin membuat ranting-ranting pohon bergesekan.

Krek...

Djanu langsung berhenti.

"Apa itu?"

Respati menunjuk ke bawah.

"Ranting."

"Oh."

Mereka berjalan lagi.

Krek...

Djanu berhenti lagi.

"Kalau ranting kedua?"

"Masih ranting."

"Kalau yang ketiga?"

Respati menatapnya.

"Masih ranting."

"Kalau—"

"Masih ranting."

Danis tertawa kecil.

Sampai tiba-tiba...

BRAK!

Sesuatu jatuh dari dalam gudang.

Mereka semua membeku.

Kanaya refleks memegang lengan Sagara.

Djanu mengangkat tongkat.

Danis mundur dua langkah.

Respati justru maju.

"Jangan."

Sagara menahan bahunya.

Mereka mendengar suara lagi.

Krek... krek...

Kemudian...

KELIP.

Cahaya putih muncul dari celah papan.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Persis seperti yang Kanaya lihat malam itu.

Sagara memberi isyarat.

"Mundur."

Tiba-tiba pintu gudang bergerak.

KREEEKKK...

Terbuka sedikit.

Gelap.

Sangat gelap.

Dan dari dalam terdengar suara...

"Jangan bergerak..."

Kelima anak itu membeku.

Suara itu terdengar berat.

Serak.

Seperti seseorang sedang berbisik tepat di belakang mereka.

Kanaya menelan ludah.

Djanu mulai mengangkat tongkat.

Danis berbisik,

"Kalau aku mati, hapus chat-chatku."

"Kenapa?" bisik Kanaya.

"Rahasia negara."

Respati menunjuk ke depan.

"Diam."

Sesuatu bergerak di balik pintu.

Bayangan tinggi.

Mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Sagara bersiap.

Bayangan itu semakin jelas.

Lalu...

KELIP!

Cahaya menyambar wajah mereka.

"AAAAAA!"

Djanu berteriak paling keras.

Sagara refleks menarik Kanaya.

Danis menutup wajah.

Respati hanya berkedip.

Kemudian terdengar suara lain.

"WOI!"

Lampu dinyalakan.

Dan seorang anak laki-laki muncul sambil memegang kamera.

"Ngapain kalian di sini?!"

Mereka semua diam.

Kanaya menunjuk kamera.

"Kamu..."

Anak itu mengernyit.

"Kenapa?"

"Cahaya itu..."

"Oh."

Ia menoleh ke belakang.

"Lampu flash."

Hening.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Danis akhirnya berkata,

"Jadi..."

Ia melihat ke dalam gudang.

"Ini bukan markas hantu?"

Anak itu tertawa.

"Hantu apaan?"

Mereka masuk.

Dan saat itulah semuanya terungkap.

Gudang tua itu ternyata sudah digunakan selama beberapa bulan.

Di dalamnya ada beberapa meja.

Kursi.

Tripod.

Kamera.

Lampu studio.

Kabel-kabel.

Beberapa foto hasil cetakan tergantung di tali.

Di sudut ruangan bahkan ada sofa tua yang masih cukup layak digunakan.

Kanaya memandangi semuanya dengan mulut sedikit terbuka.

"Ini..."

"Basecamp ekskul fotografi," jawab anak itu.

Sagara mengerutkan dahi.

"Sejak kapan?"

"Sejak awal semester."

"Kenapa kami enggak tahu?"

Anak itu mengangkat bahu.

"Karena enggak ada yang peduli sama ekskul fotografi."

Danis menunjuk dirinya sendiri.

"Aku peduli."

"Enggak pernah datang."

Danis menurunkan tangannya.

"Fair."

Ternyata ruang ekstrakurikuler di sekolah sudah penuh.

Ekskul fotografi tidak kebagian ruangan.

Akhirnya beberapa anggota meminta izin menggunakan gudang lama yang sudah tidak dipakai.

Mereka membersihkannya sedikit demi sedikit.

Mereka memasang lampu.

Membawa meja.

Membuat studio kecil.

Dan cahaya yang Kanaya lihat malam itu?

Hanya lampu flash kamera yang sedang digunakan untuk latihan fotografi.

Sagara menghela napas.

Kanaya tertawa.

Respati menggeleng.

Djanu masih memegang tongkat baseball.

Danis tiba-tiba mengambil satu foto.

KELIP!

"WOI!"

Djanu hampir memukulnya.

Sore itu, mereka berlima akhirnya duduk di sofa tua sambil melihat foto-foto yang terpajang.

Kanaya memperhatikan salah satu foto.

Foto sekolah mereka.

Diambil dari sudut yang tidak biasa.

Gedung sekolah terlihat megah, dengan langit sore berwarna jingga di belakangnya.

"Bagus," katanya.

Anak fotografi itu tersenyum.

"Kami sebenarnya lagi bikin proyek dokumentasi sekolah."

Respati mengangguk pelan.

"Kalau begitu, kenapa tidak pernah publikasi?"

"Enggak ada yang bantu."

Danis langsung berdiri.

"Berarti sekarang punya kami."

Semua menoleh.

"Apaan?" tanya Sagara.

Danis tersenyum.

"Kita bikin proyek bareng."

Kanaya langsung bersemangat.

"Setuju."

Djanu mengangkat tangan.

"Aku bisa jadi model."

Respati menatapnya.

"Kenapa?"

"Karena aku ganteng."

Danis langsung menyahut,

"Bagian itu masih harus diperdebatkan."

"WOI."

Tawa mereka memenuhi gudang.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, bangunan tua yang selalu dianggap menyeramkan itu terasa hidup.

Kanaya menatap ke luar jendela.

Matahari mulai tenggelam.

Ia tersenyum kecil.

Ternyata tidak semua hal misterius menyimpan sesuatu yang menakutkan.

Kadang, di balik pintu tua dan cahaya berkedip, hanya ada sekumpulan anak yang sedang mencari tempat untuk berkarya.

Dan mungkin...

petualangan mereka baru saja dimulai.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: