Lelaki yang Selalu Mengalah

100%

Lelaki yang Selalu Mengalah

Namanya Arga.

Ia bukan lelaki yang pandai mengungkapkan perasaan. Ia tidak tahu bagaimana cara meminta seseorang untuk tinggal ketika orang itu mulai menjauh. Ia juga tidak pernah pandai menjelaskan bahwa di balik diamnya, ada begitu banyak hal yang sebenarnya ingin ia katakan.

Namun, Arga tahu satu hal: ia mencintai Nadira.

Dengan seluruh hati yang ia punya.

Sejak awal hubungan mereka, Arga selalu berusaha menjadi seseorang yang bisa diandalkan. Ketika Nadira marah, Arga yang meminta maaf. Ketika mereka bertengkar, Arga yang lebih dulu menghubungi. Ketika ada perbedaan pendapat, Arga yang memilih mengalah.

Bukan karena ia selalu salah.

Bukan pula karena ia tidak punya harga diri.

Ia hanya takut kehilangan.

"Kenapa kamu selalu ngalah?" tanya Nadira suatu malam.

Arga tersenyum kecil.

"Karena aku nggak mau kita kalah sama ego masing-masing."

Nadira terdiam.

Jawaban itu terdengar sederhana. Tetapi bagi Arga, kalimat itu adalah bentuk cinta yang paling jujur.

Sayangnya, cinta tidak selalu membuat seseorang dihargai.

Semakin lama, Nadira semakin terbiasa dengan pengorbanan Arga. Ia menganggap Arga akan selalu mengerti. Akan selalu memaafkan. Akan selalu kembali.

Jika Nadira berkata kasar, Arga menahannya.

Jika Nadira mengabaikannya, Arga menunggu.

Jika Nadira memilih pergi ketika sedang marah, Arga tetap membuka pintu untuk kepulangannya.

Bahkan ketika orang-orang bertanya mengapa ia bertahan, Arga hanya menjawab,

"Karena aku mencintainya."

Padahal ada banyak malam ketika Arga menangis sendirian.

Bukan karena ia membenci Nadira.

Justru karena ia terlalu mencintainya.

Ia sering memandangi layar ponselnya, menunggu satu pesan sederhana.

Sudah makan?

Jangan lupa istirahat.

Maaf kalau aku tadi keterlaluan.

Namun pesan-pesan itu hampir tidak pernah datang.

Yang datang justru keheningan.

Dan Arga selalu menjadi orang pertama yang memecahnya.

Suatu malam, pertengkaran mereka kembali terjadi.

"Aku capek sama kamu, Ga," kata Nadira.

Arga terdiam.

"Aku merasa kamu terlalu banyak menuntut."

Arga menundukkan kepala. Padahal selama ini ia bahkan hampir tidak pernah meminta apa-apa.

Ia hanya ingin dihargai.

Ia hanya ingin didengarkan.

Ia hanya ingin sekali saja, ketika hatinya terluka, ada seseorang yang berkata, "Aku tahu kamu sakit."

Tetapi malam itu Arga kembali mengalah.

"Maaf."

Hanya itu.

Nadira pergi meninggalkannya.

Pintu tertutup.

Dan untuk pertama kalinya, Arga tidak mengejar.

Ia duduk sendirian di ruang tamu dengan dada yang terasa sesak.

Air matanya jatuh perlahan.

Bukan karena Nadira pergi.

Tetapi karena untuk pertama kalinya Arga menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan:

Ia sudah terlalu sering mengorbankan dirinya sendiri demi mempertahankan hubungan yang hanya ia perjuangkan seorang diri.

Pagi datang.

Arga tetap pergi bekerja. Tetap tersenyum kepada orang-orang. Tetap menjalani hidup seperti biasa.

Namun ada sesuatu yang berubah.

Ia mulai belajar bahwa mengalah tidak selalu berarti mencintai.

Kadang, mengalah hanya membuat seseorang terbiasa menyakiti kita.

Hari-hari berlalu.

Nadira akhirnya kembali.

Seperti biasanya.

Ia datang dengan mata sembap dan suara yang lebih lembut.

"Maaf, Ga."

Arga menatapnya.

Dulu, satu kata itu sudah cukup membuatnya melupakan semuanya.

Tetapi kali ini tidak.

"Aku masih sayang sama kamu," kata Arga pelan.

Nadira tersenyum, berharap semuanya akan kembali seperti dulu.

"Tapi aku nggak mau lagi mencintai kamu dengan cara membenci diriku sendiri."

Senyum Nadira perlahan menghilang.

"Aku selalu mengalah karena aku pikir itu cara menjaga hubungan kita. Aku selalu diam karena takut kata-kataku menyakitimu. Aku selalu memaafkan karena aku takut kehilanganmu."

Arga menarik napas panjang.

"Tapi ternyata, selama ini aku kehilangan diriku sendiri."

Nadira menunduk.

"Aku nggak pernah tahu kamu sesakit itu."

Arga tersenyum getir.

"Karena aku nggak pernah menunjukkan."

"Kenapa?"

"Karena aku selalu ingin kamu bahagia."

Hening.

Untuk pertama kalinya, Nadira melihat Arga bukan sebagai lelaki yang akan selalu bertahan.

Ia melihat seorang lelaki yang selama ini mencintainya dengan begitu tulus, tetapi diam-diam terluka berkali-kali.

"Aku masih mencintaimu," kata Arga.

Air mata Nadira jatuh.

"Tapi cinta saja ternyata nggak cukup."

Arga tidak pergi dengan kebencian.

Ia juga tidak pergi karena sudah tidak mencintai.

Ia pergi karena akhirnya mengerti bahwa seseorang boleh mencintai dengan sepenuh hati tanpa harus kehilangan harga dirinya sendiri.

Beberapa bulan kemudian, Arga duduk sendirian di sebuah kedai kecil.

Ia melihat pasangan muda di meja sebelah. Sang lelaki memberikan jaketnya kepada kekasihnya ketika udara mulai dingin.

Arga tersenyum.

Dulu ia mengira cinta adalah tentang siapa yang paling banyak berkorban.

Sekarang ia tahu, cinta seharusnya tentang dua orang yang sama-sama menjaga.

Bukan satu orang yang terus mengalah sementara yang lain terus mengambil.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk dari Nadira.

"Aku berharap suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi, ketika kita sudah sama-sama menjadi lebih baik."

Arga membaca pesan itu lama.

Kemudian ia mengetik:

"Semoga."

Tidak lebih.

Ia menyimpan ponselnya kembali.

Untuk pertama kalinya, Arga merasa tenang.

Ia masih mencintai Nadira.

Mungkin akan selalu begitu.

Tetapi kini ia tahu, mencintai seseorang dengan sepenuh hati tidak berarti harus membiarkan diri sendiri terluka tanpa batas.

Sebab terkadang, bentuk cinta yang paling dewasa bukanlah bertahan.

Melainkan tahu kapan harus berhenti mengalah.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arga memilih dirinya sendiri.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: