Lima Sekawan : Djanu, aku......
Seharusnya hari itu menjadi salah satu hari paling menyenangkan dalam hidup Kanaya.
Seharusnya.
Sampai beberapa jam kemudian, dia berakhir di ranjang rumah sakit dengan infus menempel di tangannya.
“Ini semua gara-gara arum jeram.”
Kanaya bergumam sambil menatap langit-langit kamar.
Di kursi sebelahnya, ibunya hanya menghela napas.
“Bukan arum jeramnya. Kamu yang setelah basah-basahan malah duduk di bus dekat jendela terbuka.”
Kanaya memalingkan wajah.
“Itu namanya menikmati angin.”
“Itu namanya cari penyakit.”
Kanaya diam.
Tidak bisa membantah.
Karena beberapa jam setelah sampai rumah, tubuhnya mulai menggigil. Malamnya demam tinggi. Paginya masih belum turun juga.
Dan karena kondisi Kanaya semakin lemas, akhirnya dia dibawa ke rumah sakit.
Yang membuat keadaan semakin menyebalkan, dia bahkan tidak bisa menikmati status sebagai orang sakit dengan tenang.
Ponselnya terus berbunyi.
Djanu:
Nay, masih hidup?
Kanaya membalas malas.
Kanaya:
Belum.
Balasan muncul kurang dari lima detik.
Djanu:
Wah, berarti chat kita dari alam baka.
Kanaya hampir melempar ponsel.
Kanaya:
DJANU.
Djanu:
Hehehe.
Lalu muncul pesan dari Sagara.
Sagara:
Istirahat. Jangan terlalu banyak main HP.
Respati menyusul.
Respati:
Minum air.
Danis:
Danis:
Kalau butuh apa-apa bilang.
Kanaya tersenyum kecil.
Empat manusia menyebalkan itu ternyata benar-benar khawatir.
Dia meletakkan ponselnya.
Kelopak matanya mulai terasa berat.
Suara ibunya semakin jauh.
Dan perlahan Kanaya tertidur.
---
Dalam mimpinya, Kanaya berdiri di sebuah halaman sekolah.
Tapi bukan sekolahnya yang sekarang.
Sekolah itu jauh lebih kecil.
Cat temboknya sudah kusam. Lapangannya tidak seluas sekarang. Bahkan pohon mangga di pojok halaman yang biasanya hanya dia lihat sebagai pohon biasa terlihat jauh lebih besar.
Kanaya melihat dirinya sendiri.
Seorang anak perempuan kecil dengan rambut panjang yang dikuncir dua.
Seragam merah putih.
Tas bergambar kelinci.
Dan wajah yang sangat familiar.
“Itu aku?”
Kanaya dewasa berdiri beberapa meter dari anak kecil itu.
Anak kecil tersebut sedang duduk di bawah pohon bersama empat anak laki-laki.
Sagara kecil sedang berusaha mengatur permainan.
Respati kecil membaca buku.
Danis kecil sibuk memamerkan sesuatu.
Sedangkan Djanu kecil...
Sedang berlari membawa bola.
“Jangan sampai kena!”
BRUK!
Bola itu melayang dan tepat mengenai kepala Kanaya kecil.
Semua anak terdiam.
Kanaya kecil memegang kepalanya.
Djanu kecil langsung berlari menghampiri.
“Kanaya!”
Kanaya kecil cemberut.
“Sakit.”
Djanu panik.
“Maaf!”
Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah permen.
“Ini.”
Kanaya kecil menatap permen itu.
“Buat aku?”
Djanu mengangguk.
“Tapi jangan bilang Sagara. Nanti dia minta.”
Sagara dari kejauhan langsung berteriak.
“Aku dengar!”
Djanu menoleh.
“LARI!”
Keempat anak itu langsung berhamburan.
Kanaya kecil tertawa.
Kanaya dewasa hanya berdiri memandangi mereka.
Ada sesuatu yang terasa aneh.
Hangat.
Seperti menemukan sebuah kotak lama yang selama ini tersimpan di sudut ingatan.
Kemudian adegan itu berubah.
Kanaya kecil duduk sendirian di kelas.
Djanu datang membawa kertas.
“Nih.”
“Apa?”
“Gambar.”
Kanaya kecil membuka kertas itu.
Gambar lima anak berdiri berdampingan.
Gambarnya jelek.
Sangat jelek.
Kepala mereka bulat semua.
Tangan cuma garis.
Kaki seperti lidi.
Kanaya kecil tertawa.
“Ini siapa?”
“Lo.”
“Kenapa rambutku kayak sapu?”
“Kan rambut lo panjang.”
“Ini Sagara?”
“Iya.”
“Ini Respati?”
“Iya.”
“Ini Danis?”
“Iya.”
Kanaya menunjuk satu gambar terakhir.
“Kalau ini?”
Djanu tersenyum bangga.
“Gue.”
Kanaya kecil mengangguk.
Kemudian bertanya polos.
“Kenapa aku berdiri sebelah kamu?”
Djanu mengangkat bahu.
“Biar gampang.”
“Gampang apa?”
“Gampang main.”
Kanaya kecil tersenyum.
Kanaya dewasa menatap dirinya yang kecil.
Dan tiba-tiba dia ingat.
Dulu...
Dia memang pernah menyukai Djanu.
Bukan suka seperti anak SMA.
Bukan perasaan rumit.
Hanya rasa suka sederhana seorang anak kecil kepada anak laki-laki yang selalu membuatnya tertawa.
Djanu yang selalu memberikan permen.
Djanu yang selalu membelanya ketika anak lain mengejeknya.
Djanu yang pernah rela dimarahi guru karena menyembunyikan tas Kanaya supaya dia tidak pulang sendirian.
Perasaan itu bahkan pernah membuat Kanaya kecil menulis sesuatu di halaman terakhir buku gambarnya.
“Kalau besar nanti aku mau nikah sama Djanu.”
Kanaya dewasa langsung menutup wajah.
“Ya ampun...”
Tiba-tiba suara anak kecil terdengar.
“Kak?”
Kanaya menurunkan tangan.
Kanaya kecil berdiri di depannya.
“Kenapa kakak sedih?”
Kanaya terdiam.
“Aku enggak sedih.”
“Bohong.”
Kanaya kecil memang benar-benar dirinya.
Menyebalkan.
Kanaya dewasa berjongkok.
“Kamu masih suka Djanu?”
Kanaya kecil mengangguk malu-malu.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Dia baik.”
Kanaya tersenyum.
“Kalau nanti besar, mungkin kamu akan berhenti suka sama dia.”
Kanaya kecil terlihat bingung.
“Kenapa?”
“Karena nanti kalian berubah.”
Anak kecil itu diam.
Lalu bertanya,
“Kalau berubah, kita enggak berteman lagi?”
Kanaya dewasa terdiam.
Pertanyaan sederhana itu tiba-tiba terasa berat.
Dia menggeleng.
“Enggak.”
“Terus?”
“Kalian tetap bersama.”
“Djanu juga?”
“Iya.”
Kanaya kecil tersenyum lega.
Kemudian menggenggam tangan Kanaya dewasa.
“Berarti enggak apa-apa.”
Kanaya menatapnya.
“Apa?”
“Kalau aku suka sama Djanu.”
Kanaya tertawa kecil.
“Iya.”
Anak kecil itu tersenyum.
Lalu berlari menjauh.
“DJANU!”
Kanaya langsung berdiri.
“Eh, jangan bilang dia!”
Tapi terlambat.
Djanu kecil sudah muncul.
“Kenapa?”
Kanaya kecil menunjuk Kanaya dewasa.
“Itu kakak bilang aku suka sama kamu!”
Kanaya dewasa membeku.
“HAH?”
Djanu kecil menatapnya.
Kemudian tertawa.
“Kanaya suka aku?”
Kanaya dewasa menutup wajah.
“Ya Tuhan...”
Djanu kecil semakin tertawa.
“Kanaya suka aku!”
Tawa itu terdengar semakin keras.
Semakin jauh.
Semakin menggema.
Sampai berubah menjadi suara lain.
“Naya!”
Kanaya membuka mata.
Langit-langit rumah sakit kembali terlihat.
Ibunya berdiri di samping tempat tidur.
“Naya, bangun.”
Kanaya berkedip.
Mimpinya masih terasa begitu nyata.
Dia menoleh ke samping.
Dan langsung melihat empat wajah yang sangat dikenalnya.
Sagara.
Respati.
Danis.
Dan...
Djanu.
“Lo tidur lama banget,” kata Djanu.
Kanaya masih linglung.
“Kalian... ngapain?”
“Menjenguk,” jawab Danis.
Djanu mengangkat kantong plastik.
“Gue bawa sesuatu.”
Kanaya menyipitkan mata.
“Apa?”
Djanu mengeluarkan sebungkus permen.
Kanaya terdiam.
Persis seperti dalam mimpinya.
Djanu mengulurkan permen itu.
“Nih.”
Kanaya menatap permen tersebut.
Kemudian menatap Djanu.
Untuk sesaat, wajah Djanu yang sekarang bertumpuk dengan wajah anak laki-laki kecil dalam mimpinya.
Anak kecil yang dulu selalu memberikan permen.
Anak kecil yang dulu membuat Kanaya kecil tersenyum.
Dan tanpa sadar Kanaya ikut tersenyum.
Djanu mengernyit.
“Kenapa?”
“Enggak.”
“Lo ketawa sendiri.”
“Enggak.”
“Jelas-jelas ketawa.”
Kanaya mengambil permen itu.
“Terima kasih.”
Djanu tersenyum.
“Sama-sama.”
Sagara melihat mereka berdua.
Kemudian bertanya,
“Kalian kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa,” jawab Kanaya cepat.
Respati menatap Kanaya beberapa detik.
“Kamu mimpi?”
Kanaya terkejut.
“Kok tahu?”
“Dari ekspresimu.”
Danis langsung mendekat.
“Mimpi apa?”
“Rahasia.”
Djanu ikut penasaran.
“Jangan-jangan mimpi gue.”
Kanaya hampir tersedak.
“Enggak!”
Jawabannya terlalu cepat.
Semua orang langsung menatapnya.
Djanu menyeringai.
“Berarti mimpi gue.”
“Bukan!”
“Berarti iya.”
“DJANU!”
Kamar rumah sakit mendadak ramai oleh suara tawa.
Kanaya ikut tertawa.
Dan di tengah keributan itu, dia tiba-tiba merasa sesuatu yang selama ini tidak pernah dia sadari.
Perasaan masa kecilnya memang sudah lama hilang.
Dia tidak lagi melihat Djanu sebagai anak laki-laki yang ingin dia nikahi ketika dewasa.
Djanu sekarang adalah sahabatnya.
Teman yang menyebalkan.
Teman yang berisik.
Teman yang kadang membuat kepalanya pusing.
Tapi juga salah satu dari empat orang yang selalu datang ketika dia membutuhkan mereka.
Mungkin memang begitu cara waktu bekerja.
Ia tidak selalu menghapus sesuatu.
Kadang ia hanya mengubah bentuknya.
Rasa suka seorang anak kecil bisa berubah menjadi persahabatan.
Permen yang dulu diberikan karena rasa suka bisa berubah menjadi hadiah kecil dari seorang sahabat.
Dan lima anak yang dulu bermain bersama di bawah pohon akhirnya tumbuh menjadi lima orang yang tetap mencari satu sama lain ketika salah satunya menghilang.
Kanaya kembali memejamkan mata.
Bukan karena demam.
Kali ini karena lega.
Sebelum benar-benar tertidur, dia mendengar suara Djanu.
“Nay.”
“Hm?”
“Kalau sembuh, kita arum jeram lagi.”
Mata Kanaya langsung terbuka.
“ENGGAK MAU!”
Keempatnya tertawa.
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk rumah sakit, Kanaya tertawa paling keras.
Mungkin arum jeram memang membuatnya sakit.
Tapi mimpi malam itu mengingatkannya pada sesuatu yang jauh lebih penting.
Bahwa ada orang-orang yang sudah berjalan bersamanya sejak kecil.
Dan meskipun mereka berubah, tumbuh, jatuh cinta, patah hati, sibuk dengan hidup masing-masing, bahkan saling menyebalkan setiap hari...
Mereka masih tetap lima sekawan.
Kanaya, Sagara, Respati, Djanu, dan Danis.
Lima anak yang pernah berlari di halaman sekolah.
Lima remaja yang sekarang tumbuh bersama.
Dan mungkin, lima orang yang akan terus membawa masa kecil mereka ke mana pun mereka pergi.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya