LIMA SEKAWAN: NOMOR TAK DIKENAL

100%

LIMA SEKAWAN: NOMOR TAK DIKENAL

Pesan itu datang pukul delapan lewat tujuh belas menit malam.

Naya sedang duduk di atas tempat tidur sambil mengeringkan rambut ketika ponselnya berbunyi.

Nomor tidak dikenal.

Awalnya dia tidak terlalu peduli.

Sampai pesan itu dibuka.


Sok populer.


Naya mengernyit.

“Apaan?”

Belum sempat layar dimatikan, pesan kedua masuk


Sok cantik.


Naya mulai merasa aneh.

Lalu pesan ketiga.


Semua orang juga tahu kamu palsu.


Tangannya berhenti bergerak.

Naya menatap layar beberapa detik.

Dia bukan orang yang gampang tersinggung. Komentar nyinyir sesekali bukan sesuatu yang terlalu dipikirkannya. Selama ini hidupnya juga cukup sederhana. Sekolah, teman-teman, keluarga, dan lima sekawan yang sudah bersamanya sejak TK.

Tapi pesan ini terasa berbeda.

Bukan sekadar ejekan.

Ada sesuatu yang membuatnya merasa sedang diperhatikan.

Ponselnya berbunyi lagi


Jangan sok baik.


Naya langsung memblokir nomor itu.

Selesai.

Setidaknya begitu pikirnya.

Lima menit kemudian, nomor baru masuk.


Kenapa diblokir?


Naya langsung duduk tegak.

“Lho?”

Pesan berikutnya muncul.


Aku bisa ganti nomor terus.


Kali ini Naya tidak membalas.

Dia mengambil screenshot dan mengirimkannya ke grup mereka.

Lima Sekawan.

Naya:

Guys, aku diganggu orang.

Tidak sampai sepuluh detik.

Sagara:

Siapa?

Danis:

Hah? Kenapa?

Djanu:

Diteror?

Respati:

Kirim screenshot.

Naya mengirim semuanya.

Beberapa detik kemudian, Sagara menelepon.

“Nay.”

“Iya.”

“Ini sudah berapa kali?”

“Baru malam ini.”

“Nomornya?”

“Sudah aku blokir.”

“Besok kita cari tahu.”

Naya menghela napas.

“Emang bisa?”

Sagara menjawab mantap.

“Bisa.”

Dari sambungan telepon terdengar suara Djanu.

“Kalau gak bisa, kita bikin bisa.”

“Caranya?” tanya Naya.

“Belum tahu.”

Sagara langsung menyahut.

“Makanya diam.”


Besok sore, kamar Naya berubah menjadi ruang investigasi.

Di lantai ada beberapa bungkus makanan, laptop Respati terbuka, buku catatan, dan papan tulis kecil yang entah dibawa Djanu dari mana.

Naya berdiri di depan pintu sambil menatap semuanya.

“Kalian serius?”

Sagara duduk di kursi.

“Serius.”

Danis rebahan di karpet.

“Lumayan. Daripada kita belajar.”

Respati menyalakan laptop.

Djanu memakai kacamata hitam.

Naya menatapnya.

“Kamu kenapa?”

“Biar terlihat seperti detektif.”

“Ini di dalam kamar.”

“Detektif tidak mengenal tempat.”

Sagara mengambil kacamata itu dan melemparkannya ke sofa.

“Kita mulai.”

Respati menulis di papan.

KASUS NAYA

Di bawahnya:

Pelaku?

Motif?

Akses ke nomor Naya?

Kemungkinan hubungan dengan Naya?

Danis memperhatikan tulisan itu.

“Kenapa judulnya besar banget?”

“Biar serius.”

“Kayak skripsi.”

Djanu mengangkat tangan.

“Aku punya tersangka.”

Semua menoleh.

“Siapa?”

“Orang yang paling mungkin.”

Sagara mengangguk.

“Siapa?”

Djanu menunjuk dirinya sendiri.

“Nah, kalau Naya sebenarnya terobsesi sama aku, tapi gengsi mengakuinya?”

Hening.

Respati menatapnya datar.

“Hipotesismu tidak memiliki dasar.”

Djanu mengangguk.

“Berarti masih mungkin.”

Naya mengambil bantal dan melemparkannya.

“Keluar.”


Mereka memulai dari kemungkinan pertama.

Cowok yang pernah ditolak Naya.

Daftarnya tidak terlalu panjang, tapi cukup membuat Danis bersiul.

“Lumayan juga.”

Naya memelototinya.

“Apanya?”

“Daftar mantan calon.”

“Aku gak pernah pacaran sama mereka.”

“Calon mantan.”

“Danis.”

“Iya, iya.”

Satu per satu mereka periksa.

Ada yang sudah punya pacar.

Ada yang sudah pindah sekolah.

Ada pula yang memang pernah ditolak Naya, tapi sekarang malah sering menyapa seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Respati mencoret satu per satu.

“Tidak ada yang cocok.”

Sagara mengangguk.

“Lanjut.”

Kemungkinan kedua.

Cewek yang iri kepada Naya.

Kali ini lebih rumit.

Naya memang cukup dikenal di sekolah.

Dia gampang bergaul, pintar, aktif, dan hampir selalu dikelilingi teman.

Tapi dia tidak pernah merasa sedang bersaing dengan siapa pun.

“Ada yang pernah berantem sama kamu?” tanya Sagara.

“Enggak.”

“Musuhan?”

“Enggak.”

“Pernah bikin seseorang malu?”

Naya berpikir.

“Kayaknya enggak.”

Danis menyela.

“Pernah nolak seseorang di depan banyak orang?”

Naya menoleh.

“Pernah.”

“Siapa?”

“Ya... ada.”

“Berarti masuk daftar.”

Naya menghela napas.

“Aku nolaknya baik-baik.”

Respati mengangguk.

“Bisa jadi orangnya merasa dipermalukan meskipun menurut Naya tidak.”

Sagara menulis nama itu.

Tapi setelah ditelusuri, orang tersebut ternyata sedang sibuk mempersiapkan lomba dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan.

Nomornya juga bukan nomor yang digunakan untuk meneror Naya.

Dicoret.


Sore mulai bergeser menjadi malam.

Kasus itu terasa semakin buntu.

Sampai Respati tiba-tiba berkata,

“Nomornya selalu tidak aktif setelah dipakai.”

Naya menoleh.

“Iya.”

“Berarti kemungkinan besar dia memang sengaja menggunakan nomor yang mudah diganti.”

Danis duduk.

“Jadi orangnya cukup pintar.”

“Belum tentu,” kata Respati.

“Kenapa?”

“Bisa saja dia cuma takut ketahuan.”

Sagara menyandarkan tubuh.

“Yang jelas, dia tahu cukup banyak tentang Naya.”

Semua diam.

Djanu tiba-tiba berdiri.

“Aku tahu!”

“Apa?”

“Pelakunya penggemarku.”

Naya menatapnya.

“Hubungannya sama aku apa?”

“Ya... kamu kan sering sama aku.”

Danis langsung tertawa.

“Masuk akal.”

Sagara memandangnya.

“Kamu jangan mendukung.”

“Tapi kalau dipikir-pikir, memang banyak yang ngefans sama Djanu.”

Djanu tersenyum bangga.

“Nah.”

“Bukan berarti semuanya mau meneror Naya.”

Senyum Djanu hilang.

“Benar juga.”


Keesokan harinya, mereka mulai memperhatikan orang-orang di sekitar lapangan basket.

Djanu memang cukup populer di sekolah.

Sebagai kapten basket, dia sering dikerumuni anak-anak yang ingin menonton latihan atau sekadar ngobrol.

Danis memanfaatkan kemampuan bersosialisasinya.

Dalam sehari, dia berhasil mengetahui siapa saja yang sering datang ke lapangan.

“Gue punya daftar,” katanya sambil menunjukkan catatan.

Sagara melihatnya.

“Ini lengkap banget.”

“Gue kenal banyak orang.”

Respati membaca daftar tersebut.

Kemudian matanya berhenti pada satu nama.

“Anak ini siapa?”

“Yang mana?”

“Rani.”

Danis berpikir.

“Anaknya Pak Bowo, tukang kebun sekolah.”

Naya langsung mengingat.

“Oh... anak kecil yang sering ikut bapaknya?”

“Iya.”

Respati menunjuk satu catatan.

“Dia sering datang setiap sore.”

“Terus?” tanya Sagara.

“Dia juga sering lihat Djanu.”

Djanu langsung tersenyum.

“Fans.”

Danis mengangguk.

“Fanatik.”

“Seberapa fanatik?” tanya Sagara.

Danis membuka galeri ponselnya.

“Aku punya fotonya.”

Foto itu memperlihatkan Rafi berdiri di pinggir lapangan sambil membawa buku kecil.

Di sampingnya ada Djanu yang sedang menandatangani sesuatu.

Naya memperhatikan foto itu.

Kemudian dia berkata pelan,

“Bukannya beberapa hari lalu dia juga pernah lihat aku?”

Semua langsung menoleh.

“Kapan?” tanya Sagara.

“Waktu aku ngobrol sama Djanu di lapangan.”

Respati diam.

Kemudian ia tersenyum tipis.

“Kayaknya kita punya petunjuk.”


Mereka menunggu sampai sore.

Rani datang bersama ayahnya.

Begitu melihat Naya dan Djanu berdiri berdekatan, langkahnya langsung melambat.

Tatapannya berpindah dari Naya ke Djanu.

Lalu kembali ke Naya.

Respati menyenggol Sagara.

“Lihat.”

Sagara mengangguk.

Mereka tidak langsung menuduh.

Sagara mendekati Rafi.

“Rani.”

Anak itu berhenti.

“Iya, Kak?”

“Boleh ngobrol sebentar?”

Rani terlihat gugup.

“Ngobrol apa?”

Sagara menunjukkan screenshot pesan.

“Kamu pernah lihat nomor ini?”

Rani melihat layar.

Wajahnya berubah.

Sedikit saja.

Tapi Respati menangkapnya.

“Kamu tahu?”

Rani diam.

Djanu ikut mendekat.

“Dek.”

Rani menatapnya.

“Kamu suka basket?”

Rani langsung mengangguk.

“Suka banget.”

“Punya pemain favorit?”

Rani tersenyum.

“Kak Djanu.”

Djanu tersenyum bangga.

“Nah.”

Sagara meliriknya.

“Jangan bangga dulu.”

Rani kembali menunduk.

Naya akhirnya bertanya.

“Kamu yang kirim pesan ke aku?”

Anak itu diam cukup lama.

Kemudian mengangguk.

“Maaf, Kak.”

Naya terdiam.

“Kenapa?”

Rani menendang-nendang ujung sepatunya.

“Soalnya Kak Naya selalu sama Kak Djanu.”

Danis langsung menutup mulut.

Sagara menarik napas.

Respati memejamkan mata.

Djanu justru terlihat bingung.

“Terus?”

Rani menjawab polos.

“Aku suka Kak Djanu.”

Djanu menunjuk dirinya sendiri.

“Aku?”

“Iya.”

“Terus kenapa Kak Naya yang diteror?”

Rani menjawab tanpa ragu.

“Karena Kak Naya ganggu.”

Naya mengangkat alis.

“Ganggu?”

“Iya.”

“Padahal aku gak ngapa-ngapain.”

Rani terdiam.

“Ya... tapi Kakak dekat sama Kak Djanu.”

Djanu tiba-tiba terlihat tersentuh.

“Berarti kamu cemburu?”

Rani mengangguk.

Danis akhirnya tertawa.

“Gila. Kita sudah menyelidiki cowok sakit hati, cewek iri, segala macam.”

Respati menambahkan,

“Motif sebenarnya: rebutan idola.”

Sagara menggeleng.

“Kasus paling absurd yang pernah kita tangani.”

Djanu malah terlihat bangga.

“Berarti aku terkenal.”

Naya memandangnya.

“Diam.”


Rani akhirnya meminta maaf.

Dia mengaku mendapatkan nomor Naya dari grup sekolah milik ayahnya dan kemudian menggunakan beberapa nomor berbeda karena takut ketahuan.

Pesan-pesan itu memang sengaja dibuat untuk membuat Naya menjauh dari Djanu.

Bukan karena benar-benar membenci Naya.

Dia hanya kesal.

Dan tentu saja, sebagai anak kelas enam yang sedang mengidolakan kapten basket SMA, cara berpikirnya masih sangat sederhana.

Naya jongkok di depannya.

“Rani.”

“Iya, Kak.”

“Kalau suka sama seseorang, gak boleh bikin orang lain takut.”

Rani mengangguk.

“Maaf.”

“Kalau mau dekat sama Kak Djanu, ya ngomong baik-baik.”

Rani menatap Djanu.

“Boleh?”

Djanu mengangguk.

“Boleh.”

“Boleh minta tanda tangan lagi?”

Djanu tertawa.

“Boleh.”

Rani tersenyum lebar.

Sebelum pergi, dia menatap Naya.

“Kak.”

“Hm?”

“Maaf ya.”

Naya tersenyum.

“Iya.”

Rani berjalan pergi bersama ayahnya.

Lima sekawan itu berdiri dalam diam.

Sampai Danis berkata,

“Jadi... kasus selesai?”

Respati mengangguk.

“Selesai.”

Djanu menepuk dada.

“Kasus ini membuktikan satu hal.”

“Apa?” tanya Sagara.

“Popularitas itu berat.”

Naya langsung mencubit lengannya.

“Aduh!”

Danis tertawa.

Sagara menggeleng.

Respati hanya tersenyum kecil.

Mereka berlima berjalan meninggalkan lapangan.

Lima sekawan.

Seperti biasa.

Selalu bersama.

Selalu ikut campur dalam urusan satu sama lain.

Dan entah bagaimana, selalu berhasil menemukan masalah bahkan ketika mereka tidak sedang mencarinya.

Namun malam itu, ketika Naya membuka ponselnya sebelum tidur, satu pesan baru muncul.

Dari nomor tidak dikenal.

Naya menatap layar.

Jantungnya sempat berdegup lebih cepat.

Pesannya hanya satu kalimat.


Kak Naya, besok jangan lupa lihat pertandingan Kak Djanu. Aku juga mau nonton.


Naya mengernyit.

Lalu tersenyum.

Dia membalas:


Iya. Tapi jangan teror Kakak lagi.


Tiga titik muncul.

Kemudian balasan:


Iya, Kak. Maaf.

?

Naya meletakkan ponselnya.

Kasus selesai.

Setidaknya untuk malam ini.

Karena kalau menyangkut lima sekawan, ketenangan biasanya cuma bertahan sampai seseorang punya ide bodoh berikutnya.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: