Makam tanpa Nisan

100%

Makam tanpa Nisan

Entah sejak kapan, dari terakhir kali, setiap tahun aku selalu menunggu bulan ini. Bulan di mana pernah ada seorang anak dilahirkan.

Pertama kali ia lahir ke dunia, ia melihat indahnya dunia. Senyum kedua orang tuanya yang mungkin terlihat begitu bahagia. Tangan mungilnya terangkat, seakan berkata, “akan kupeluk dunia.” Ia menangis, bukan karena duka, melainkan karena bahagia. Karena untuk pertama kalinya, ia menjadi manusia.

30 Agustus.

Hari di mana untuk pertama kalinya kuhirup oksigen. udara yang bahkan belum kukenal namanya, namun menjadi napas pertama yang membawaku tinggal di dunia. Hari di mana untuk pertama kalinya mataku terbuka pada indahnya dunia, sebelum kelak dunia mengajariku bahwa tidak semua yang indah akan tinggal selamanya.

Hari di mana untuk pertama kalinya kurasakan hangatnya pelukan seorang ibu, pelukan yang mungkin saat itu belum kupahami artinya, namun menjadi tempat pertama yang membuatku tahu bahwa dunia pernah terasa begitu aman.

30 Agustus.

Setiap tahun, pernah kutunggu hari itu. Karena hanya di tanggal itulah aku merasa seolah semua mata melihatku. Semua perhatian tertuju padaku. Seolah untuk sehari saja, dunia berhenti berjalan dan memberiku ruang untuk merasa bahwa aku benar-benar “ada.”

Ada namaku di antara ucapan-ucapan.

Ada kehadiranku di antara perhatian.

Dan ada aku, yang untuk sesaat merasa keberadaanku berarti.

Namun entah sejak kapan, aku mulai membenci tanggal tersebut.

Aku sudah tidak menantinya lagi. Karena ada sesuatu yang baru kusadari, setiap kali tanggal itu kembali, selalu ada sesuatu yang ikut pergi bersamanya.

Teman yang tak lagi bersamaku.

Umur keluarga yang perlahan dimakan waktu.

Kenangan yang dahulu begitu dekat, namun sedikit demi sedikit menjadi asing ketika kuingat kembali.

Atau mungkin,

versi terbaik dari diriku.

Versi yang dahulu percaya bahwa dunia akan selalu seindah pertama kali ia melihatnya. Versi yang belum mengenal kehilangan, belum akrab dengan perpisahan, dan belum tahu bahwa bertambahnya usia bukan hanya tentang angka yang bertambah, melainkan tentang hal-hal yang diam-diam berkurang.

Mungkin memang begitu cara waktu bekerja. Ia tidak pernah benar-benar meminta izin ketika mengambil sesuatu dari kita. Ia hanya berjalan, membawa hari-hari pergi bersamanya, sementara kita sibuk menghitung usia dan lupa menghitung apa saja yang telah ditinggalkan.

Sampai akhirnya, setiap 30 Agustus datang, aku tidak lagi menunggu ucapan, pelukan, atau sekadar perayaan.

Aku hanya terdiam, menatap tanggal itu seperti menatap sebuah makam yang tak pernah memiliki nisan.

 


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: