Customer Service

Milikku Sejak Pandangan Pertama

100%

Milikku Sejak Pandangan Pertama

“Sekian perkenalan diri saya dan jawaban atas setiap pertanyaan Bapak,” ujar Bulan dengan tegas dan mantap. Tatapannya tetap tertuju pada pria di hadapannya. “Apakah ada lagi yang ingin Bapak tanyakan?”

Pria yang duduk di kursi itu masih memperhatikan Bulan dengan saksama. Sejak awal wawancara, ia beberapa kali mengamati cara Bulan menjawab setiap pertanyaan—tenang, fokus, dan tanpa terlihat ragu. Sesekali, tatapannya turun pada resume yang terletak rapi di atas meja. Jari-jarinya masih menggenggam pulpen perak yang sejak tadi digunakannya untuk mencatat beberapa hal penting.

“Tidak ada. Saya rasa cukup,” jawabnya dengan tenang seraya bangkit berdiri.

Pandangan Bulan sempat jatuh pada plakat kuningan di atas meja yang bertuliskan Abimana Wicaksana, HRD Polaries Industries.

Abi mengulurkan tangan. “Terima kasih sudah bersedia mengikuti wawancara, Bulan.”

Bulan segera berdiri dan menyambut uluran tangannya dengan tersenyum lembut. “Sama-sama, Pak Abi. Kalau begitu, saya pamit.”

Ia melangkah keluar, lalu menutup pintu ruangan dengan hati-hati. Bulan terus berjalan melewati lobi hingga akhirnya sampai di sudut taman dekat gerbang. Di sana, ia berjongkok dan mengembuskan napas panjang. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan mengendur.

“Ya Tuhan, rasanya jantungku mau copot,” gumam Bulan sambil mengusap dada.

Suara dering ponsel membuat Bulan segera merogoh tas. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mengangkat panggilan dari sahabatnya.

“Alhamdulillah! Pokoknya aman, Mir. Semua lancar!” seru Bulan riang. Senyum lega mengembang di wajahnya. “Semoga kali ini, aku benar-benar diterima kerja. Yuk, kita main. Aku butuh refreshing!”

Setelah percakapan singkat itu berakhir, Bulan berdiri dan melangkah menuju halte bus. Sebelum pergi, ia menoleh ke belakang. Tatapannya tertahan pada gedung perusahaan yang menjulang megah di hadapannya.

‘Semoga aku diterima di perusahaan impianku ini,’ batin Bulan dalam hati. Ia kemudian berbalik dan melanjutkan langkah.

Sore harinya, Bulan dan Amira sedang menikmati waktu bersama di taman kota. Di tengah obrolan, ponsel Bulan bergetar. Ia segera mengambilnya dan membuka pesan yang baru saja masuk. Namun, baru beberapa detik membaca isinya, matanya langsung membelalak.

“Mira ...” panggil Bulan dengan suara bergetar.

Amira menoleh. “Kenapa?”

Bulan mengangkat ponselnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku keterima!”

Amira terdiam sesaat, seolah memastikan ia tidak salah dengar. “Serius?!” serunya, lalu segera mendekat untuk melihat layar ponsel Bulan. Begitu membaca pesan tersebut, wajahnya langsung berubah cerah. “Ahh, Bulan, akhirnya!”

Bulan langsung menggenggam kedua tangan Amira. Keduanya bersorak, lalu tertawa dan melompat kecil. Setelah sekian lama mencari pekerjaan, akhirnya kesempatan yang selama ini ia harapkan datang juga.

Beberapa hari kemudian, Bulan resmi mulai bekerja sebagai staf akuntansi di Polaries Industries. Hari-harinya dipenuhi rutinitas pekerjaan yang ia jalani dengan tekun dan profesional. Tanpa terasa, satu tahun pun berlalu.

Malam ini, Bulan kembali lembur. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, memasukkan data keuangan satu per satu. Sesekali ia berhenti untuk memeriksa lembar rekapan yang menumpuk di sisi meja. Tak terasa, waktu Magrib tiba. Bulan pun meninggalkan meja kerjanya sejenak untuk menunaikan salat. Selesai salat, ia kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya, ditemani cahaya layar komputer yang menerangi meja di hadapannya.

Di tengah konsentrasinya, sebuah pesan masuk ke ponsel Bulan. Ia meraih benda itu dan membuka notifikasi yang muncul di layar.

Pak Abimana:

Bulan, bisa ke ruangan saya sebentar?

Bulan mengernyitkan dahi. Pandangannya beralih dari layar ponsel ke arah ruangan HRD yang berada tak jauh dari meja kerja. Ia tak ingat melakukan kesalahan dalam pekerjaannya, apalagi sampai harus dipanggil oleh atasannya di tengah lembur seperti ini. Setelah menyimpan ponsel ke dalam tas, Bulan beranjak dari kursi dan berjalan menuju ruangan Abi.

Sesampainya di depan pintu, Bulan mengetuknya pelan. “Permisi, Pak.”

“Masuk,” ucap suara serak dibalik pintu. 

Bulan membuka pintu. Abi tampak duduk membungkuk di kursinya dengan kedua tangan menopang dahi. Sesekali pria itu memijat pelipisnya, sementara napasnya terdengar berat.

“Ada apa, Pak?” tanya Bulan hati-hati.

Abi mengangkat kepala. Tatapannya tertuju pada Bulan, lalu ia menyandarkan punggung ke kursi. Wajahnya tampak lesu, dengan mata memerah dan rahang yang sedikit mengeras. Ia menarik napas, berusaha meredakan rasa tidak nyaman yang mengganggunya.

“Kamu bisa bawa mobil?” tanya Abi.

Bulan mengangguk cepat. “Bisa, Pak.”

“Bisa tolong antar saya ke apartemen? Setelah itu saya pesankan taksi untuk kamu.”

Bulan terdiam sesaat, mempertimbangkan permintaan atasannya. Tatapannya beralih pada wajah Abi yang tampak semakin lesu. “Baik, Pak. Mau pulang sekarang?”

Abi mengangguk. “Sekarang, bisa?”

“Baik. Kalau gitu, saya bereskan meja sebentar,” ucap Bulan sambil berjalan keluar ruangan.

Bulan kembali ke meja kerjanya dan mulai merapikan dokumen yang masih berserakan. Setelah menyimpan hasil pekerjaannya, ia mematikan komputer, kemudian memeriksa kembali meja untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Tasnya diraih, lalu ia melangkah menuju ruangan Abi.

“Mau saya bantu, Pak?” tawar Bulan.

Abi menggeleng cepat. “Tidak usah, saya bisa sendiri.”

Abi berdiri dengan hati-hati. Bulan sedikit mendekat, berjaga-jaga kalau-kalau pria itu kehilangan keseimbangan. Setelah memastikan Abi mampu berdiri dengan baik, Bulan mengikutinya menuju lift. Langkah atasannya itu tampak lebih lambat dari biasanya. Sesekali, Bulan melirik ke arahnya, memperhatikan setiap gerakannya.

Setibanya di area parkir, Bulan segera membuka pintu mobil dan mengambil tempat di kursi pengemudi, sementara Abi duduk di sampingnya. Perjalanan menuju apartemen berlangsung dalam keheningan. Jalanan kota mulai lengang, hanya menyisakan suara mesin mobil dan alunan musik instrumental dari radio.

Di tengah perjalanan, Bulan melirik ke arah Abi. Pria itu tampak memejamkan mata dengan dahi berkerut, sementara satu tangannya menekan pelipis. Melihat kondisinya, Bulan mengurangi kecepatan mobil. Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah apotek yang masih buka dan tenda bubur ayam di pinggir jalan, tepat saat mobil mendekati persimpangan. Ia segera menyalakan lampu sein dan membelokkan mobil ke tepi jalan, mencari tempat yang cukup aman untuk berhenti.

"Pak, saya belikan bubur dan obat sebentar, ya,” ujar Bulan sembari melepas sabuk pengamannya.

Abi membuka mata dan menoleh ke arahnya. Bibirnya sempat terbuka, tapi Bulan lebih dulu meraih tasnya dan membuka pintu mobil.

“Sebentar saja, Pak,” tambahnya sebelum menutup pintu dan bergegas menuju apotek di seberang jalan.

Beberapa menit kemudian, Bulan kembali ke mobil dengan membawa sebungkus bubur hangat dan kantong berisi obat. Ia meletakkan keduanya di kursi belakang, lalu kembali duduk di kursi pengemudi. Setelah memastikan Abi sudah duduk dengan nyaman, Bulan melajukan mobil menuju kompleks apartemen tempat tinggal atasannya itu.

Setibanya di basement, Bulan memarkirkan mobil di area yang tersedia. Ia turun, kemudian berjalan mengikuti Abi menuju lift. Langkah pria itu masih tertatih dan sesekali ia terlihat memegangi dinding. Bulan berjalan di sampingnya, sesekali melirik untuk memastikan keadaan Abi.

Setelah lift berhenti di lantai tujuan, Abi berjalan menuju unit apartemennya. Ia memasukkan kata sandi pada panel pintu, lalu mendorongnya hingga terbuka. Tanpa banyak bicara, pria itu melangkah masuk dan langsung menuju kamar.

Bulan menyusul sambil membawa bubur dan obat yang tadi dibelinya. Ia meletakkan keduanya di atas nakas, tepat di samping tempat tidur Abi.

“Pak, lebih baik makan buburnya dulu, sedikit aja, terus minum obat,” ujar Bulan sambil menggeser kotak bubur ke dekat Abi.

Abi menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Matanya kembali terpejam, sementara kepalanya bersandar pada bantal. “Nanti aja, saya mau tidur.

Bulan menatap pria itu. Tangannya yang semula merapikan wadah bubur terhenti. Melihat Abi yang bahkan tampak kesulitan untuk sekadar membuka mata, ia mengurungkan niat untuk segera pulang.

“Mau ... saya suapi?”

Bulan spontan menutup mulutnya setelah pertanyaan itu terucap. Ia menunduk, menyadari betapa lancangnya tawaran tersebut untuk seorang atasan.

Kenapa aku menawarkan hal seperti itu kepada atasan sendiri?

Abi kembali membuka mata dan mendapati Bulan tampak salah tingkah di hadapannya. Ia memperhatikan perempuan itu sejenak, lalu menjawab dengan suara serak, “boleh.”

Bulan mengangkat wajah. “Oh ... i-iya. Baik, Pak.”

Ia segera membuka wadah bubur dan mengambil sendok. Setelah meniupnya sebentar, Bulan menyodorkan suapan pertama kepada Abi. Pria itu menerimanya tanpa banyak bicara. Bulan melanjutkan suapan demi suapan, sesekali meniup bubur agar tidak terlalu panas.

Malam semakin larut. Suara pendingin ruangan berpadu dengan bunyi samar kendaraan dari kejauhan, mengisi keheningan kamar. Di sela-sela menyuapi Abi, Bulan beberapa kali mengamati wajah pria itu, memastikan kondisinya tidak semakin memburuk.

Setelah bubur itu habis, Bulan meletakkan sendok dan merapikan wadah makanan. Ia kemudian mengambil kantong obat dari atas nakas dan meletakkannya di dekat Abi.

“Kalau gitu, saya pamit pulang yah, Pak. Jangan lupa minum obatnya.”

“Terima kasih, Bulan,” jawab Abi dengan suara yang terdengar lebih jelas dibandingkan sebelumnya.

Bulan mengangguk, lalu melangkah menuju pintu. Namun, saat melewati ruang tengah, pandangannya tertuju pada sebuah bingkai besar yang terpajang di dinding. Ia menghentikan langkah, kemudian berbalik untuk mengamati foto di dalamnya. Semakin lama diperhatikan, semakin jelas sosok gadis berseragam putih abu-abu yang berdiri di tepi pantai.

Bulan sontak membelalak. Gadis dalam foto tersebut adalah dirinya sendiri.

Tangan Bulan refleks menutup mulut. “Ya ampun ...” gumamnya dengan tatapan tak lepas dari bingkai itu. “Kenapa foto aku ada di sini?”

Ia mendekat dan mengamati foto tersebut lebih saksama, berusaha mengingat kapan gambar itu diambil. Suasana pantai dan seragam yang dikenakannya mengingatkan Bulan pada masa sekolah, saat ia menghabiskan waktu bersama teman-temannya di tepi laut.

Apa waktu aku ke pantai sama teman-teman dulu, aku pernah bertemu Pak Abi?

Bulan mengerutkan kening, mencoba menggali ingatan tentang peristiwa itu. Namun, tak satu pun kenangan yang muncul dengan jelas. Pandangannya beralih ke arah kamar Abi. Ia ingin sekali menanyakan asal-usul foto tersebut, tapi urung mengingat atasannya harus beristirahat. Rasanya tidak pantas membangunkan hanya untuk menanyakan sesuatu yang bahkan belum tentu bisa dijawab saat itu.

Akhirnya, Bulan memilih meninggalkan apartemen dengan membawa rasa penasaran yang belum terjawab. Sepanjang perjalanan pulang, bayangan foto dirinya semasa sekolah terus terlintas di benaknya. Ia masih tak habis pikir bagaimana foto itu bisa berada di apartemen Abi, terlebih karena ia sama sekali tidak mengingat pernah mengabadikan momen bersama pria tersebut.

Hari-hari berikutnya terasa janggal bagi Bulan. Bayangan foto dirinya yang terpajang di dinding apartemen Abi terus muncul setiap kali ia berusaha berkonsentrasi. Ditambah lagi dengan percakapan singkat malam itu, Bulan menjadi canggung setiap kali berpapasan dengan atasannya. Ia bahkan sengaja memilih jalur lain agar tidak perlu melewati lorong menuju ruangan HRD.

Pagi itu, Bulan duduk di meja kerjanya dengan pandangan tertuju pada layar monitor. Jemarinya sibuk mengetik, tapi pikirannya terus kembali pada foto yang belum juga menemukan penjelasan. Ia berusaha mengalihkan perhatian dengan menyelesaikan laporan, meski rasa penasaran itu masih mengusik benaknya.

“Bulan, kamu dipanggil Pak Abi,” ujar Hana, rekan kerjanya, yang tiba-tiba muncul di samping meja.

Bulan mendongak dan menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”

“Iya. Pak Abi minta kamu datang ke ruangannya sekarang.”

Jantung Bulan berdegup cepat. Ia meremas jemari jung kemeja blus nya, lalu mengembuskan napas panjang. Setelah merapikan beberapa berkas di atas meja, ia bangkit dan berjalan menuju ruangan Abi dengan ragu.

Setibanya di depan pintu, Bulan mengetuk pelan. Tak lama kemudian, suara Abi terdengar dari dalam, mempersilahkannya masuk.

“Permisi, Pak.”

Bulan membuka pintu dan melangkah masuk. Abi tampak duduk di balik meja kerjanya. Begitu menyadari kedatangannya, pria itu meraih remote yang terletak di atas meja, lalu menekan sebuah tombol. Kaca jendela ruangan pun perlahan berubah buram, membatasi pandangan dari luar.

Bulan mengalihkan pandangan ke arah jendela, memperhatikan perubahan itu dengan sedikit kebingungan. Namun, ia tak sempat menanyakan apa pun begitu melihat Abi bangkit dari kursinya dan berjalan ke sisi meja. Pria itu menyandarkan tubuh di tepi, lalu mengarahkan pandangan kepada Bulan yang masih berdiri di hadapannya.

“Bulan.”

“Iya, Pak?”

Abi meletakkan kedua tangannya di saku celana, lalu mengamati Bulan yang berdiri di hadapannya. Gadis itu tampak beberapa kali mengalihkan pandangan, seolah mencari sesuatu untuk diperhatikan selain dirinya.

“Kenapa kamu menghindari saya?” tanya Abi penasaran.

Bulan sontak mengangkat wajah. Nggak kok, Pak.”

Sebelah alis Abi terangkat. Ia memiringkan kepala sedikit, memperhatikan Bulan yang buru-buru memalingkan wajah. Sudut bibirnya bergerak tipis, tapi ia tidak langsung menanggapi penyangkalan itu. 

“Jangan bohong,” ujar Abi.

Bulan menunduk. Ia menggeser tumpuan tubuhnya, lalu kembali merapatkan jemari. Ada banyak hal yang ingin disampaikan, tapi tak satu pun yang keluar dari mulutnya.

“Apa karena foto yang ada di rumah saya?” tanya Abi telak.

Pertanyaan itu membuat Bulan terdiam. Rona merah mulai menjalar di pipinya, sementara pandangannya terpaku pada ujung sepatu. Ia tak menyangka Abi akan membahas foto tersebut lebih dulu, padahal selama beberapa hari terakhir, ia justru berusaha menghindari percakapan tentang hal itu.

Abi menyilangkan kedua tangan di depan dada. Ia membiarkan keheningan mengisi ruangan selama beberapa saat, memberi Bulan kesempatan untuk menjawab. Namun, ketika gadis itu masih belum bersuara, ia kembali membuka percakapan.

“Kenapa tidak bertanya langsung kepada saya?” tanya Abi dengan lembut.

Bulan perlahan mendongak. Ia sempat menatap Abi, kemudian kembali menunduk saat mata mereka bertemu. “Boleh?” tanyanya ragu.

Abi tersenyum tipis. “Tentu saja.”

Bulan menarik napas panjang dan merapikan posisi berdirinya. Kedua tangannya kini saling bertaut, sementara ia berusaha menyusun pertanyaan yang sejak beberapa minggu ini terus mengusik pikirannya.

“Apa saya dan Pak Abi pernah bertemu di pantai?”

“Pernah,” jawab Abi singkat.

Bulan mengerutkan dahi. Ia mengangkat satu tangan, menyentuh dagunya, lalu berusaha menggali ingatan. “Tapi, kenapa saya tidak ingat sama sekali?”

Abi tersenyum kecil. Pandangannya beralih ke jendela buram di belakang Bulan. Ia terdiam, seolah sedang menyusun kembali potongan kenangan yang telah tersimpan selama bertahun-tahun. “Waktu itu saya sedang mengambil foto pemandangan,” tuturnya. “Tidak jauh dari tempat saya berdiri, ada sekelompok siswi yang sedang bermain bersama. Salah satunya kamu.”

Bulan menyimak tanpa menyela. Kepalanya sedikit miring, sementara jemarinya bergerak gelisah. Ia mencoba membayangkan kembali suasana pantai yang pernah dikunjunginya bersama teman-teman sekolah, tapi ingatan itu masih terasa samar.

“Kamu sedang berusaha mengambil foto bersama teman-temanmu,” lanjut Abi. Ia kembali mengarahkan pandangan kepada Bulan. “Sepertinya, kalian kesulitan mendapatkan foto yang bagus, jadi saya menawarkan bantuan.”

Bulan mengangkat wajah. Sebuah gambaran samar mulai terlintas—dirinya yang berkumpul bersama teman-teman, bergantian mengambil foto, lalu meminta bantuan seseorang yang kebetulan berada di sekitar pantai.

“Lalu...?” tanya Bulam, kali ini sedikit lebih antusias.

“Kamu memberikan ponselmu kepada saya. Setelah itu, saya mengambil beberapa foto kalian.”

Mata Bulan membesar. Ia spontan mengangkat tangan, menunjuk Abi dengan terbelalak. “Jadi ... waktu itu Bapak yang memotret kami?”

Abi mengangguk pelan.

Bulan menatapnya lekat. Ia mengusap kening, lalu terkekeh kecil saat potongan ingatan itu mulai terasa lebih jelas. “Pantas saja wajah Bapak terasa tidak asing.”

Bulan kembali menatap Abi, kali ini dengan rasa penasaran yang semakin besar. Meski mulai memahami bagaimana pria itu mengenalnya, masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab—mengapa foto dirinya dicetak dalam ukuran besar dan dipajang di apartemen atasannya itu.

“Tapi, kenapa foto saya dicetak sebesar itu dan disimpan di rumah Bapak?” tanya Bulan penasaran.

Abi terdiam sejenak. Jemarinya mengetuk permukaan meja satu kali, lalu berhenti. Ia mengalihkan pandangan sesaat, kemudian kembali menatap Bulan yang masih menanti jawabannya.

“Karena foto itu mengingatkan saya pada sebuah pertemuan yang cukup berkesan,” ucap Abi. “Waktu itu, saya hanya membantu kamu dan teman-temanmu mengambil foto. Setelah itu, saya menyimpan salah satu hasilnya sebagai kenang-kenangan.”

Bulan mengerutkan dahi. “Kenang-kenangan?”

Abi mengangguk. “Iya, saya tidak menyangka pertemuan singkat itu akan membawa kita bertemu lagi bertahun-tahun kemudian.”

Bulan terdiam, mencoba memahami maksud perkataan Abi. Ia masih belum sepenuhnya mengerti mengapa foto tersebut dicetak begitu besar dan dipajang di apartemennya.

“Bertahun-tahun kemudian, saya bertemu kamu lagi di Polaries Industries,” lanjut Abi. “Awalnya, saya sendiri terkejut saat menyadari bahwa kamu adalah gadis yang fotonya saya pajang.”

Bulan menatap Abi. Ingatan tentang pertemuan mereka di pantai mulai tersusun, meski beberapa bagian masih terasa samar. Pikirannya kembali pada foto yang terpajang di apartemen pria itu. Ia lalu mengalihkan pandangan pada atasannya, mencoba memahami satu hal yang sejak tadi mengganjal di benaknya. “Jadi, selama ini Bapak sudah tahu kalau saya adalah perempuan yang fotonya Bapak pasang?”

“Iya.”

Bulan mengerutkan dahi. “Lalu, kenapa Bapak tidak pernah mengatakannya?”

Abi menghela napas. Ia menurunkan kedua tangannya dari tepi meja. “Saya tidak ingin membuat kamu merasa tidak nyaman, apalagi posisi saya adalah atasanmu.” Ia berhenti sejenak, memperhatikan Bulan yang menyimak tanpa berkedip. “Saya tahu ada batas yang harus dijaga. Karena itu, saya memilih untuk tidak membahasnya.”

Bulan menunduk. Penjelasan Abi membuatnya memahami alasan pria itu menyimpan cerita tersebut selama ini. Namun, setelah mengetahui semuanya, masih ada satu hal yang mengganjal pikirannya. Ia mengangkat wajah dan kembali menatap Abi.

“Lalu, sekarang?”

Abi membalas tatapannya. Kali ini, ia tidak segera menjawab. Pandangannya tertahan pada Bulan yang berdiri dengan raut penuh tanya. Beberapa saat kemudian, ia menarik napas, lalu membuka suara. “Sekarang, saya hanya ingin jujur sama kamu.”

Bulan terdiam. Jemarinya yang tadi bergerak gelisah kini berhenti, sementara Abi tetap berdiri di sisi meja, menjaga jarak di antara mereka.

“Saya menyukai kamu, Bulan. Perasaan itu tumbuh setelah kita kembali bertemu dan saling mengenal di sini.” Abi menatapnya dengan tenang. “Tapi, saya tidak ingin memaksa kamu untuk membalasnya.”

Bulan menahan napas. Ia sama sekali tidak menduga percakapan yang awalnya hanya ingin menjawab rasa penasarannya tentang foto itu akan berujung pada pengakuan seperti ini. Pandangannya sempat jatuh ke lantai, lalu kembali terangkat saat Abi melanjutkan perkataannya.

“Saya juga tidak meminta jawaban sekarang. Kalau kamu bersedia memberi saya kesempatan, saya ingin mengenal kamu lebih jauh. Kita jalani saja pelan-pelan, tanpa terburu-buru.”

Bulan merapatkan kedua tangannya. Ia menunduk, mencoba mencerna perkataan Abi sekaligus memahami perasaannya sendiri. Ada keraguan yang masih tertinggal, membuatnya membutuhkan waktu untuk menentukan jawaban.

“Hmm ... sejujurnya, saya belum pernah sedekat ini dengan laki-laki,” ucap Bulan setelah terdiam sejenak. Lalu, ia menatap Abi. “Jadi, kalau saya membutuhkan waktu untuk mengenal Bapak lebih jauh, apa Bapak tidak keberatan?”

Senyum tipis muncul di wajah Abi. “Nggak apa-apa, kamu tidak perlu terburu-buru.”

Bulan memperhatikan ekspresi pria itu. “Bapak yakin?”

“Yakin.” Abi mengangguk kecil. “Saya akan menghargai waktu yang kamu butuhkan.”

Bulan menggigit bibir bawahnya, kemudian mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan. Senyum kecil mulai menghiasi wajahnya. “Baiklah.”

Ekspresi Abi tampak melunak mendengar jawaban itu. “Terima kasih, Bulan.”

Bulan menunduk, berusaha menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di pipinya. Abi terkekeh pelan melihat reaksinya, lalu mengubah posisi berdirinya agar kembali menghadap meja.

“Kalau begitu, jangan terlalu khawatir. Kita mulai dengan saling mengenal saja.”

“Baik, Pak,” jawab Bulan setelah menghela napas lega. Kali ini, ia mampu membalas tatapan Abi tanpa keraguan yang sama seperti sebelumnya.

Rasa penasaran yang selama beberapa hari terakhir mengusik pikirannya kini mulai menemukan jawaban. Bulan akhirnya mengetahui bagaimana foto dirinya bisa berada di apartemen Abi dan alasan pria itu mengenalinya sejak awal. Meski pengakuan tersebut masih menyisakan banyak hal untuk dipikirkan, setidaknya ia tak lagi harus menebak-nebak sendiri.

Pertemuan singkat di masa lalu telah membawa keduanya kembali berhadapan pada waktu yang tak pernah direncanakan. Bagi Bulan, hubungan itu belum perlu diberi kepastian. Masih ada waktu untuk mengenal Abi lebih jauh, memahami perasaannya sendiri, dan menentukan langkah yang ingin diambil. Sebab, tidak semua hubungan harus dimulai dengan kepastian. Ada kalanya, semuanya cukup berawal dari sebuah foto, sebuah ingatan, dan kesempatan untuk saling mengenal kembali


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: