Pelabuhan Langit

100%

Pelabuhan Langit

“Eh, bengong.”

Suara Yuna yang tiba-tiba dan renyah memecah keheningan sore. Mentari hanya melirik sekilas. Matanya yang sejak tadi terpaku pada helai-helai daun yang berguguran di taman belakang kampus tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun.

“Kenapa, Tar?” tanya Yuna, merebahkan diri dengan santai di kursi kayu di sampingnya.

“Nggak apa-apa,” jawab Mentari singkat dan datar. Tatapan mata hazel kecokelatannya kembali menerawang jauh.

Yuna terdiam. Ia sudah hafal betul, jika sahabatnya sudah berada di pojok kampus ini sambil merenung, artinya Mentari sedang tenggelam dalam lubang hitam ingatan masa lalu yang sama.

“Nggak mau cerita? Siapa tahu bebanmu jadi ringan,” pancing Yuna lagi.

Mentari tetap membisu. Jemarinya sibuk memainkan ujung benang yang terlepas dari tas. Yuna menghela napas, kemudian memutuskan untuk menghormati kebisuan itu. Ia membuka buku yang sejak tadi dibawanya dan mulai membaca, membiarkan keheningan berbicara di antara mereka.

“Aku rindu Damar,” ucap Mentari tiba-tiba dengan parau.

Yuna menoleh. Tatapannya seketika melunak melihat wajah Mentari. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya erat.

“Seandainya saja waktu Damar pergi, aku lebih berani minta nomor kontaknya. Mungkin sekarang kita masih sering komunikasi, masih main bertiga,” lirih Mentari. Tatapannya kembali jatuh pada daun-daun yang berserakan di tanah. Penyesalan itu terasa nyata, seolah peristiwa tersebut baru saja terjadi.

“Belum tentu juga, Tar. Itu kan waktu kita masih SMP, sepuluh tahun yang lalu,” respons Yuna, mencoba bersikap realistis. “Lagipula, kalaupun kita punya nomornya, apa menjamin persahabatan ini akan terus terjalin?”

“Tapi, setidaknya kita masih bisa ngobrol sama dia,” balas Mentari. Suaranya mengecil, sementara matanya mulai berkaca-kaca.

“Itu sudah sepuluh tahun yang lalu, Mentari. Kalaupun kita bertemu, Damar mungkin sudah tidak ingat kita berdua,” ujar Yuna mengingatkan, walau ia tahu kata-kata itu mungkin terasa menyakitkan.

Mentari hanya menghela napas pasrah. Bahunya turun, seolah seluruh beban yang selama ini dipikulnya ikut jatuh bersama embusan napas itu. Selama sepuluh tahun ini, pencariannya di setiap sudut media sosial selalu berakhir nihil. Laki-laki yang dahulu selalu bermain, tertawa, dan belajar bersamanya saat SMP itu tak pernah lagi ia temukan.

Seseorang yang bukan hanya sekadar teman masa kecil, tetapi juga seseorang yang tanpa sadar telah singgah dan menetap di hati Mentari.

Menjelang senja, setelah berpisah dengan Yuna, Mentari memutuskan mampir ke Cafe Teduh, sebuah kafe bernuansa industrial di pusat kota yang dipenuhi tanaman hijau. Selain mencari kopi, Mentari membuka laptopnya dan mulai mengerjakan deadline babak akhir novel yang harus segera ia kirimkan kepada editor.

Di tengah keseriusannya, saat sedang memikirkan konflik karakter dalam novelnya, sebuah bayangan tinggi jatuh menutupi meja. Seseorang berhenti di hadapannya. Pria itu mengenakan kacamata hitam besar dan tudung hoodie yang menutupi sebagian besar wajahnya.

“Permisi,” ucap berat dan rendah.

Mentari mendongak. Pria itu menyodorkan selembar kartu kepadanya.

“Ini terjatuh di dekat kasir,” katanya.

Mentari terkejut ketika menyadari kartu yang berada dalam genggaman pria asing tersebut adalah KTP miliknya. Ia segera beranjak berdiri dan mengambilnya dari tangan pria bertubuh tinggi itu.

“Astaga! Terima kasih banyak sudah menemukan KTP saya,” ucap Mentari. Jemarinya segera memeriksa kartu tersebut, memastikan tidak ada bagian yang rusak atau hilang.

“Sama-sama,” jawab pria itu dengan suara yang terasa memiliki resonansi khas. “Kalau begitu, saya permisi.”

Pria itu berbalik. Namun, baru tiga langkah, ia menghentikan langkahnya. Sejenak ia terdiam, lalu menoleh kembali ke arah Mentari. Tangannya terangkat untuk menarik tudung hoodie yang menutupi sebagian wajahnya.

“Senang berjumpa kembali denganmu, Mentari,” ucapnya lembut. Suaranya kali ini terdengar lebih hangat sebelum ia kembali berbalik dan pergi meninggalkan kafe, meninggalkan Mentari dalam kebingungan.

Senang berjumpa kembali?

Kembali?

Bukankah seharusnya senang bertemu?

Batin Mentari bergemuruh. Alisnya berkerut, sementara pandangannya mengikuti punggung pria itu sampai menghilang di balik pintu kafe.

Apa aku pernah bertemu dia?

Ia terdiam cukup lama. Mentari mencoba memilah setiap memori, mencari wajah samar di balik kacamata gelap tadi, tetapi tidak menemukan apa pun. Rasa penasaran yang kuat itu akhirnya ia abaikan.

Mentari menutup laptop, memasukkannya ke dalam tas, lalu bersiap meninggalkan kafe dan kembali ke rumah loteng sewanya. Namun, kalimat pria tadi tetap berputar-putar di kepalanya, ikut terbawa pulang sebagai sepotong teka-teki yang sulit diurai.

Malam harinya, di atas atap loteng sewanya yang berangin dan sejuk, ditemani gemerlap bintang yang samar, Mentari membuka buku diary bersampul kain biru yang sudah mulai usang. Ia duduk bersila di dekat pagar pembatas teras, membuka halaman yang sudah penuh dengan tulisan tangannya, lalu mulai menuliskan curahan hatinya.

“Hai, kamu. Langitku.

Bagaimana kabarmu di sana? Di manakah dirimu sekarang? Apakah kamu bahagia? Aku harap demikian.

Tidakkah kamu merindukanku, teman kecilmu ini?

Aku merindukan kenangan masa kecil yang kita lalui. Walau singkat, hanya sekilas, memori tentang tawamu yang renyah itu tidak pernah aku lupakan, seolah terukir abadi.

Damar Langit ...

Seperti namamu yang gagah, seperti kamu yang terbang di atas cakrawala. Begitu pun aku yang selalu menatap langit, berharap menemukanmu di sana. Aku menunggumu di bawah galaksi yang sama.

Jika semesta berkenan dan takdir tidak mempermainkan, semoga kita dipertemukan dalam momen yang tepat, saat hati kita sudah siap. Karena hadirmu adalah tawa pertama dalam duniaku yang tak pernah tergantikan.


—Mentari, yang menunggumu.”


Setelah menuliskan curahan hatinya, Mentari menutup buku itu. Ia berdiri dan melangkah mendekati pagar pembatas teras loteng. Namun, ketika hendak meletakkan diary di atas pagar, tangannya tidak sengaja tergelincir.

Buku itu terlepas dari genggamannya dan jatuh melewati pagar.

Bluk!

“Ahh, bukuku!” desah Mentari panik. Ia buru-buru menjulurkan tubuh melewati pagar untuk melihat ke bawah. Diary-nya sudah tergeletak di tanah.

Mentari segera berlari menuruni tangga yang berderit. Langkahnya terburu-buru hingga hampir tersandung ketika melewati anak tangga terakhir. Namun, baru beberapa langkah menuruni tangga, pandangannya kembali tertuju ke halaman bawah.

Seseorang sudah lebih dulu mendekati diary-nya. Laki-laki itu membungkuk, lalu mengambil buku tersebut dari tanah.

Mentari seketika membeku.

Laki-laki yang sama yang tadi ia temui di kafe.

“Tidak, tidak! Hey, kamu! Jangan dibaca!” teriak Mentari panik sambil mempercepat langkah.

Mentari berlari sekuat tenaga. Dengan napas tersengal dan jantung yang berdegup keras, ia langsung menyambar buku yang sudah terbuka—dan mungkin sudah dibaca—itu dari tangan laki-laki tersebut.

Wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal. Mentari mendekap diary itu erat. “Tidak sopan membaca buku diary orang lain! Itu privasi!” desisnya.

Laki-laki itu hanya terdiam. Tatapannya tertuju pada Mentari dengan pandangan lembut yang meneduhkan, walau sebagian wajahnya masih terhalang kacamata hitam.

Mentari segera berbalik dan memeluk bukunya semakin erat. Bahunya naik turun akibat napas yang belum sepenuhnya teratur.

“Hey, tidak ada kata terima kasih karena sudah mengambilkan bukumu?” ujar laki-laki itu menahan tawa.

Mentari menghentikan langkah. “Tidak ada! Itu salahmu yang membacanya!” jawabnya tanpa menoleh.

Laki-laki itu tertawa kecil.

Suara tawanya renyah dan terasa begitu akrab di telinga Mentari. Bulu kuduknya seakan meremang. Ada sesuatu dari suara itu yang membangkitkan kenangan lama yang sudah bertahun-tahun tertidur.

Laki-laki itu berjalan mendekat. Mentari bisa merasakan kehadiran sosok tinggi dan hangat di belakangnya. Bayangannya jatuh menutupi sebagian tubuh Mentari. Kepala laki-laki itu menunduk, mendekat ke telinganya.

“Aku merindukanmu, Tari.”

Tubuh Mentari membeku. Bisikan yang berat, hangat, dan begitu akrab itu membuat napasnya seolah terhenti. Begitu pula panggilan “Tari”—hanya satu orang yang memanggilnya seperti itu.

Damar Langit. Teman masa kecil. Cinta pertamanya. Seseorang yang ia cari-cari hingga detik ini.

Dada Mentari langsung membuncah. Ia memutar tubuh dengan cepat. Mata hazelnya dipenuhi harap dan kerinduan yang bergolak.

Dengan suara tercekat dan air mata yang mulai menggenang, ia berbisik, “Damar?”

Laki-laki itu tersenyum lembut. Perlahan, ia melepas kacamata hitamnya, kemudian menurunkan tudung hoodie yang menutupi kepalanya. Wajah yang kini terpampang adalah wajah yang lebih dewasa, dengan garis wajah yang lebih tegas, tetapi mata cokelat teduh itu masih sama.

“Hai, Mentari,” sapanya.

Jari-jari Mentari perlahan terangkat, seolah ingin memastikan bahwa sosok di hadapannya benar-benar nyata. Damar meraih tangan Mentari yang gemetar itu dan menempelkannya pada pipinya yang dingin. Laki-laki itu tetap menatapnya tanpa berkedip.

“Kamu … kamu benar-benar Damar Langit?” tanya Mentari dengan suara bergetar.

“Iya, Tari,” jawab Damar, meyakinkan Mentari dengan panggilan kesayangannya yang sangat ia rindukan.

Bendungan air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah. Air mata mengalir membasahi pipinya, membawa serta rasa bahagia dan rindu yang telah menumpuk selama bertahun-tahun. Seseorang yang ia cari, ia rindukan, dan ia tunggu akhirnya kembali hadir di hadapannya. Semesta benar-benar mempertemukan mereka kembali.

“Maaf ya, sudah membuatmu menunggu terlalu lama,” ujar Damar.

Tangan Damar terulur, lalu menarik Mentari ke dalam pelukannya. 

Mentari membalas pelukan itu. Wajahnya tenggelam di dada Damar yang kini bidang dan kokoh. Isak kecil lolos dari bibirnya.

“Kamu ke mana aja? Kenapa baru muncul sekarang?” tanya Mentari dengan parau.

“Aku selalu ada kok,” jawab Damar penuh kehangatan. Tangannya mengusap rambut Mentari dengan lembut. “Aku harus membereskan urusanku, tapi aku tidak pernah lupa rumahku.”

“Rumahmu?” tanya Mentari. Ia sedikit menjauh dan mendongak untuk menatap wajah Damar.

“Di sini,” jawab Damar sambil menunjuk Mentari. “Di hatimu, Tari.” Ia terkekeh geli melihat ekspresi Mentari yang langsung berubah.

Mentari memukul dada Damar dengan malu. “Jangan bercanda, Damar! Kau jahat!” protesnya.

Damar meringis kecil, lalu menangkap tangan Mentari sebelum gadis itu kembali memukulnya. Tangannya kemudian terangkat memegang wajah Mentari, membuat gadis itu menatapnya.

Damar menatap dengan lembut. “Aku tidak bercanda, Tari. Aku memang ada di hatimu. Buktinya, semesta saja masih mengizinkan kita bertemu lagi setelah sepuluh tahun, kan?”

Mentari menunduk. Perlahan, ia mengangguk.

Damar mengangkat dagunya lagi agar pandangan mereka kembali bertemu.

“Jadi, aku benar-benar cinta pertamamu?” goda Damar, mengutip kalimat yang ia baca di buku diary Mentari.

“ Ihhhh, Damar!” teriak Mentari dengan wajah yang memerah. Tangannya kembali memukul bahu Damar dengan malu-malu.

Damar hanya tertawa. Tawa renyah yang begitu dirindukannya. Tatapan dan respons malu-malu Mentari adalah hal yang selama ini ia cari bertahun-tahun.

Nyatanya, kalau memang dia adalah takdirmu, sejauh apa pun jarak memisahkan dan waktu membelenggu, semesta akan selalu punya cara untuk mempertemukanmu kembali.

Seperti bulan yang merindukan malam.

Begitu pun Damar, yang akhirnya menemukan Mentari—pelabuhan rindunya.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: