Hujan turun sejak subuh ketika Damar berdiri di depan pagar sekolah.
Sepatunya basah. Ujung celananya menyerap air dari genangan yang mengelilingi halaman. Ia merapatkan tas lusuh ke dada, bukan karena takut tas itu basah, melainkan karena di dalamnya ada selembar surat yang sudah tiga hari ia lipat dan buka berkali-kali.
PEMBERITAHUAN TUNGGAKAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN
Damar hafal setiap kata di surat itu.
Ia juga hafal jumlah yang harus dibayar.
Tiga ratus lima puluh ribu rupiah.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya beberapa kali makan di restoran atau harga sebuah sepatu baru.
Bagi Damar, tiga ratus lima puluh ribu adalah jarak antara dirinya dan sekolah.
Ia tinggal sendirian di sebuah kamar sempit di belakang pasar sejak neneknya meninggal enam bulan lalu. Ayah dan ibunya sudah lama tidak ada dalam hidupnya. Ia bahkan tidak lagi mengingat dengan jelas suara ibunya.
Yang ia ingat hanyalah satu kalimat yang pernah diucapkan perempuan itu sebelum pergi.
“Sekolah yang rajin, Mar. Biar hidupmu jangan seperti Ibu.”
Kalimat itu menjadi semacam janji.
Dan Damar memegangnya terlalu erat.
Ia mendorong pagar sekolah.
“Damar.”
Langkahnya berhenti.
Pak Darma, wakil kepala sekolah, berdiri di dekat pos satpam.
“Ke ruang saya dulu.”
Damar menunduk.
“Iya, Pak.”
Ruang wakil kepala sekolah selalu terasa terlalu dingin.
Pendingin udara berdengung di atas kepala. Di dinding tergantung foto-foto siswa berprestasi. Ada yang memegang piala, ada yang mengenakan medali, ada pula yang tersenyum sambil membawa sertifikat.
Damar pernah berdiri di sana.
Namanya pernah ditempel di papan pengumuman sebagai juara dua olimpiade matematika tingkat kabupaten.
Foto itu masih ada.
Hanya saja, sekarang ia tidak lagi merasa bangga melihatnya.
“Damar,” kata Pak Darma sambil membolak-balik beberapa lembar kertas. “Kamu sudah tahu masalahnya?”
“Sudah, Pak.”
“Administrasi sekolah kamu belum selesai.”
“Saya belum punya uang, Pak.”
Pak Darma menghela napas.
“Sekolah juga punya kebutuhan.”
“Saya mengerti.”
“Kamu siswa pintar. Bapak tidak ingin kamu berhenti.”
Damar menatapnya.
“Kalau begitu saya boleh tetap sekolah, Pak?”
Pak Darma diam sebentar.
“Boleh. Tapi masalah administrasinya harus diselesaikan.”
Damar menggenggam ujung seragamnya.
“Kalau saya belum bisa bayar?”
“Ya, kamu harus cari solusi.”
Solusi.
Kata itu terdengar sederhana bagi orang-orang yang memiliki banyak pilihan.
Damar tidak punya banyak pilihan.
Ia hanya punya satu.
Tetap sekolah.
Hari itu, Damar duduk di bangku paling belakang.
Guru matematika sedang menjelaskan persamaan kuadrat.
“Siapa yang bisa menjawab soal nomor tiga?”
Tidak ada yang mengangkat tangan.
Damar tahu jawabannya.
Ia mengangkat tangan perlahan.
“Damar?”
“x = 4 atau x = -2, Bu.”
“Benar.”
Beberapa teman menoleh.
Guru tersenyum.
“Seperti biasa. Damar memang paling cepat kalau matematika.”
Ada tepuk tangan kecil.
Damar tersenyum.
Namun ketika bel berbunyi, senyumnya hilang.
Di papan pengumuman depan kelas terpampang daftar siswa yang belum melunasi administrasi.
Namanya ada di urutan paling atas.
Di bawahnya terdapat kalimat:
SISWA YANG BELUM MENYELESAIKAN ADMINISTRASI TIDAK DIPERKENANKAN MENGIKUTI KEGIATAN SEKOLAH TERTENTU.
Damar membaca kalimat itu berkali-kali.
Di sebelahnya, seorang teman berbisik.
“Kasihan.”
Yang lain menjawab pelan.
“Makanya jangan miskin.”
Damar pura-pura tidak mendengar.
Beberapa minggu kemudian, sekolah mengumumkan seleksi siswa untuk mengikuti olimpiade tingkat provinsi.
Damar kembali dipanggil.
“Kamu punya peluang besar,” kata Bu Rina, guru matematika.
“Kalau menang, sekolah akan bangga.”
Damar mengangguk.
“Kalau saya menang, Bu, apakah uang administrasi saya bisa dicicil?”
Bu Rina terdiam.
Pertanyaan itu terlalu jujur untuk dijawab dengan kalimat motivasi.
“Kamu fokus belajar saja dulu.”
“Tapi, Bu—”
“Damar.”
Nada suara Bu Rina berubah lembut.
“Jangan pikirkan hal lain.”
Damar menunduk.
“Iya, Bu.”
Ia belajar setiap malam.
Di bawah lampu kecil yang cahayanya sering berkedip, ia mengerjakan soal sampai larut.
Ia tidak memiliki meja belajar.
Ia menggunakan kardus bekas sebagai alas.
Kadang perutnya berbunyi.
Kadang ia tertidur dengan pensil masih di tangan.
Tetapi setiap kali ingin menyerah, ia teringat ibunya.
Sekolah yang rajin, Mar.
Maka ia kembali membuka buku.
Hari seleksi tiba.
Damar mendapat nilai tertinggi.
Namun ada sesuatu yang aneh.
Ketika hasil seleksi diumumkan, nama siswa yang dikirim ke tingkat provinsi bukan Damar.
Melainkan Raka.
Anak pemilik sebuah perusahaan yang menjadi salah satu penyumbang kegiatan sekolah.
Damar berdiri lama di depan papan pengumuman.
Ia membaca daftar itu sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Namanya tidak ada.
“Kenapa kamu masih di sini?”
Damar menoleh.
Bu Rina berdiri di belakangnya.
“Bu…”
“Ada apa?”
“Saya dapat nilai tertinggi, kan?”
Bu Rina diam.
“Kenapa yang berangkat Raka?”
Untuk pertama kalinya, Damar melihat gurunya menghindari tatapan matanya.
“Keputusan sekolah.”
“Karena saya belum bayar administrasi?”
“Bukan begitu.”
“Lalu karena apa?”
Bu Rina tidak menjawab.
Damar tersenyum kecil.
Senyum yang lebih menyakitkan daripada tangisan.
“Oh.”
Ia mengangguk.
“Saya mengerti.”
Malamnya, Damar tidak belajar.
Ia duduk di depan rumah sambil memandangi jalan.
Untuk pertama kalinya, ia bertanya kepada dirinya sendiri:
Untuk apa sekolah?
Bukankah katanya pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib?
Bukankah katanya semua anak memiliki hak yang sama untuk belajar?
Bukankah katanya prestasi adalah hasil dari kerja keras?
Kalau semua itu benar, mengapa hasil akhirnya bisa berbeda hanya karena seseorang lahir dari keluarga yang berbeda?
Damar tidak menemukan jawabannya.
Hari-hari berikutnya menjadi semakin aneh.
Sekolah mulai sibuk mempersiapkan akreditasi.
Semua siswa diminta ikut berbagai kegiatan.
Ruang kelas dicat ulang.
Papan pengumuman dipenuhi sertifikat.
Foto siswa berprestasi dipasang lebih banyak.
Ketika pengawas dari dinas datang, sekolah berubah menjadi tempat yang hampir sempurna.
Guru-guru tersenyum.
Siswa-siswa diarahkan untuk menjawab pertanyaan tertentu.
“Kalau ditanya tentang fasilitas, bilang lengkap.”
“Kalau ditanya kegiatan literasi, bilang rutin.”
“Kalau ditanya apakah ada kendala belajar, bilang tidak.”
Damar mendengar semuanya.
Ia berdiri di belakang kelas sambil memegang buku.
Ketika pengawas masuk, kepala sekolah tersenyum lebar.
“Sekolah kami sangat berkomitmen terhadap pemerataan pendidikan.”
Damar hampir tertawa.
Hampir.
Sebab di sakunya masih ada surat tunggakan.
Hari itu, kepala sekolah mengumpulkan seluruh siswa di aula.
“Anak-anak,” katanya melalui mikrofon, “kalian adalah generasi penerus bangsa.”
Tepuk tangan terdengar.
“Sekolah akan selalu memberikan yang terbaik untuk kalian.”
Tepuk tangan kembali terdengar.
Damar tidak bertepuk tangan.
Matanya tertuju pada banner besar di belakang panggung.
PENDIDIKAN UNTUK SEMUA.
Tiga kata.
Pendidikan.
Untuk.
Semua.
Ia menatapnya lama.
Kemudian ia melihat teman-temannya.
Ada anak yang datang dengan mobil.
Ada anak yang masih membawa bekal.
Ada anak yang setiap bulan harus membayar berbagai macam iuran.
Ada anak yang tidak pernah ikut kegiatan karena tidak mampu membeli seragam khusus.
Ada anak yang berhenti sekolah diam-diam.
Ada pula anak yang tetap datang meski belum makan.
Mereka duduk di ruangan yang sama.
Mengenakan seragam yang sama.
Mendengarkan pidato yang sama.
Tetapi hidup mereka tidak pernah benar-benar sama.
Hari itu, Damar dipanggil lagi.
Kali ini oleh kepala sekolah.
“Damar, kamu anak pintar.”
“Terima kasih, Pak.”
“Kamu tahu sekolah sedang mengejar prestasi.”
“Iya, Pak.”
“Kami ingin kamu mengikuti lomba lain.”
Damar menatapnya.
“Kalau saya menang, apakah saya boleh tetap sekolah meskipun belum bisa membayar?”
Kepala sekolah terdiam.
“Administrasi itu urusan berbeda.”
“Kalau begitu saya tidak mau ikut lomba.”
“Kenapa?”
“Karena saya capek, Pak.”
“Capek?”
Damar mengangguk.
“Saya capek terus diminta menjadi bukti bahwa sekolah ini berhasil mendidik anak miskin, sementara ketika saya membutuhkan sekolah, saya justru dianggap masalah.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Kepala sekolah menatap Damar dengan wajah keras.
“Kamu masih terlalu muda untuk berpikir seperti itu.”
Damar tersenyum.
“Mungkin, Pak.”
Ia berdiri.
“Tapi saya cukup tua untuk tahu kapan saya sedang dipakai.”
Besoknya, Damar tidak masuk sekolah.
Begitu pula lusa.
Hari ketiga, namanya masih ada di daftar absensi.
Hari keempat, guru matematika bertanya kepada teman-temannya.
“Damar ke mana?”
Tidak ada yang menjawab.
Hari kelima, bangku paling belakang kosong.
Hari keenam, kepala sekolah menerima sebuah surat.
Bukan surat permohonan.
Bukan surat izin.
Bukan pula surat pengunduran diri.
Hanya selembar kertas dengan tulisan tangan yang sederhana.
Bapak dan Ibu Guru,
Saya tidak berhenti belajar.
Saya hanya berhenti datang ke tempat yang membuat saya percaya bahwa belajar adalah hak semua orang, tetapi kemudian menghukum saya karena tidak mampu membayar untuk mendapatkannya.
Saya akan tetap belajar.
Mungkin bukan di sekolah.
Mungkin dari buku bekas.
Mungkin dari perpustakaan.
Mungkin dari jalan.
Mungkin dari hidup.
Tapi saya akan tetap belajar.
Karena yang saya inginkan dari pendidikan bukan sertifikat.
Saya hanya ingin kesempatan.
Damar
Bertahun-tahun kemudian, sekolah itu masih berdiri.
Cat temboknya berganti.
Papan namanya diperbarui.
Spanduk prestasi semakin banyak.
Foto para juara memenuhi koridor.
Namun di salah satu sudut perpustakaan, ada sebuah buku matematika lama yang tidak pernah dikembalikan.
Namanya tertulis di halaman pertama.
Damar.
Tidak ada yang tahu ke mana anak itu pergi.
Tidak ada yang tahu apakah ia akhirnya kembali bersekolah.
Tidak ada yang tahu apakah ia berhasil menjadi seseorang seperti yang pernah dijanjikan pendidikan kepadanya.
Tetapi suatu pagi, kepala sekolah menemukan sesuatu di depan gerbang.
Sebuah kardus berisi buku-buku bekas.
Di atasnya terdapat secarik kertas.
Untuk siapa pun yang masih ingin belajar.
Ambillah. Gratis.
Jangan biarkan keadaan membuat kalian percaya bahwa kalian tidak pantas mendapatkan pendidikan.
Kepala sekolah membaca tulisan itu lama.
Lalu ia melihat ke arah gerbang.
Di seberang jalan, seorang anak kecil sedang duduk di atas trotoar sambil membaca buku.
Seragamnya kusut.
Sepatunya berbeda warna.
Tetapi matanya menyala.
Seperti mata Damar dulu.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kepala sekolah merasa bahwa ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada angka kelulusan, sertifikat, piala, dan laporan akreditasi.
Ia akhirnya mengerti.
Sisi paling gelap dari pendidikan bukanlah ketika sekolah kekurangan gedung.
Bukan ketika buku-buku tidak cukup.
Bukan ketika teknologi belum tersedia.
Melainkan ketika seorang anak yang ingin belajar harus terlebih dahulu membuktikan bahwa ia layak untuk mendapatkan kesempatan.
Dan mungkin, selama pendidikan masih mengukur nilai seorang anak dari kemampuan keluarganya membayar, akan selalu ada Damar-Damar lain yang berdiri di depan gerbang.
Membawa buku.
Membawa mimpi.
Dan membawa pertanyaan yang tidak pernah benar-benar dijawab:
“Kalau pendidikan adalah hak semua orang, mengapa saya harus membelinya?”
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya