RUMAH YANG PELAN-PELAN MENJADI ASING
RUMAH YANG PELAN-PELAN MENJADI ASING
Wira Nawasena
Aku pulang pada hari Selasa. Tidak ada yang istimewa dari hari itu. Bukan hari ulang tahun ibu. Bukan hari raya. Bukan pula hari ketika seseorang meninggal atau dilahirkan.
Hanya Selasa.
Hari yang terlalu biasa untuk menjadi kenangan, tetapi justru kelak akan menjadi salah satu hari yang paling sering kuingat.
Bus yang kutumpangi berhenti di terminal pukul empat sore. Aku turun membawa satu ransel, sebuah koper kecil, dan kepala yang penuh oleh sesuatu yang tidak bisa kuberi nama.
Sudah sebelas bulan aku tidak pulang. Sebelas bulan ternyata cukup untuk membuat sebuah kota berubah.
Toko kelontong di ujung jalan sudah berganti menjadi minimarket. Warung makan tempatku biasa membeli nasi goreng sudah tidak ada. Pohon mangga di depan rumah Pak Harun telah ditebang. Jalan yang dahulu terasa panjang ketika kulalui dengan sepeda sekarang tampak pendek.
Atau mungkin aku yang telah berubah. Aku berjalan menuju rumah. Rumah itu masih berwarna hijau pucat. Catnya mengelupas di beberapa bagian. Pagar besinya berkarat. Pot bunga ibu masih berjajar di dekat teras. Semuanya terlihat sama.
Namun ada sesuatu yang terasa berbeda. Aku berdiri di depan pagar beberapa saat. Kemudian menyadari bahwa aku tidak langsung masuk. Dulu, rumah adalah tempat yang tidak perlu mengetuk. Sekarang aku berdiri di depannya seperti tamu.
Aku membuka pagar. Engselnya mengeluarkan suara panjang. Ibu muncul dari pintu. Ia mengenakan daster bermotif bunga dan sandal rumah. Wajahnya tampak lebih kurus. Rambutnya lebih banyak putih. Aku tersenyum.
“Ibu.”
Ia tidak langsung menjawab.
Ia hanya melihatku.
Kemudian berjalan mendekat dan memelukku.
“Kenapa tidak bilang mau pulang?”
“Biar kejutan.”
Ibu melepaskan pelukan.
“Badanmu kurus.”
Aku tertawa.
“Biasa, Bu.”
“Kamu makan tidak teratur?”
“Teratur.”
Ibu menatapku.
Aku tersenyum.
“Sedikit tidak teratur.”
Ia menggeleng.
Kemudian mengambil koperku.
“Masuk.”
Aku mengikutinya.
Dan untuk beberapa langkah pertama, rumah itu terasa seperti rumah.
Kamar lamaku masih ada. Poster-poster masa kuliah masih menempel di dinding. Rak buku masih berisi buku-buku yang sebagian sudah tidak pernah kubuka. Di sudut meja, ada sebuah celengan berbentuk babi yang kubeli ketika SMA. Aku tertawa melihatnya.
“Ini masih ada?”
Ibu yang sedang merapikan selimut menjawab,
“Kenapa dibuang?”
“Sudah jelek.”
“Biar saja.”
Aku menyentuhnya.
Ada retakan kecil di bagian kepala. Aku tidak ingat kapan retakan itu muncul. Mungkin ketika aku masih sekolah. Mungkin ketika adikku menjatuhkannya. Mungkin karena waktu.
Aku duduk di kasur. Kasur itu terasa lebih kecil. Padahal dulu aku bisa tidur melintang di atasnya.
Aku melihat meja belajar. Dulu aku menghabiskan berjam-jam di sana. Mengerjakan tugas. Membaca buku. Menulis surat cinta yang tidak pernah kukirim. Membayangkan hidup akan menjadi seperti apa setelah aku dewasa.
Aku dulu berpikir ketika sudah dewasa, aku akan meninggalkan rumah ini dan tidak akan pernah merasa ingin kembali.
Ternyata manusia sering salah memahami keinginannya sendiri.
Malam pertama di rumah terasa aneh. Ayah pulang pukul tujuh. Ia membuka pintu, melihatku, lalu tersenyum.
“Sudah pulang?”
“Iya, Yah.”
Ayah menepuk bahuku.
“Bagaimana di kota?”
“Baik.”
“Kerjaan?”
“Baik.”
“Kamu?”
Aku terdiam sebentar.
“Baik.”
Ayah mengangguk.
Satu kata. Satu kebohongan. Kami makan malam bersama. Ibu memasak ayam goreng; Sambal; Sayur bening; Tempe.
Makanan yang sama seperti dulu, Namun percakapannya berbeda.
Dulu meja makan penuh oleh cerita. Tentang sekolah, tentang guru, tentang teman, tentang nilai ujian, tentang siapa yang bertengkar denganku.
Sekarang kami makan dalam diam.
Ayah sesekali menonton berita dari televisi. Ibu bertanya apakah sambalnya terlalu pedas. Aku menjawab tidak.
Tidak ada yang bertanya mengapa aku pulang. Padahal mereka pasti tahu. Aku baru saja kehilangan pekerjaan tiga minggu sebelumnya. Perusahaan tempatku bekerja melakukan pengurangan karyawan. Namaku ada di dalam daftar.
Aku tidak menceritakannya kepada siapa pun. Bukan karena malu kehilangan pekerjaan. Aku hanya tidak ingin pulang sebagai anak yang gagal.
Aku ingin pulang sebagai seseorang yang berhasil. Ternyata hidup tidak peduli pada keinginan itu.
Malam semakin larut. Aku keluar ke teras. Ayah sedang duduk sendirian. Ia memegang gelas kopi.
“Belum tidur?”
“Belum.”
Aku duduk di sebelahnya. Kami memandang jalan. Sepi. Sesekali motor lewat.
“Ayah masih suka duduk di sini?”
“Masih.”
“Setiap malam?”
“Hampir.”
Aku mengangguk.
Aku baru sadar bahwa selama sebelas bulan aku tidak pernah bertanya tentang kebiasaan ayah. Dulu aku selalu mengira rumah akan tetap berjalan meskipun aku pergi.
Dan memang berjalan. Hanya saja orang-orang di dalamnya ikut menua.
“Yah.”
“Hm?”
“Kenapa tidak pernah telepon?”
Ayah tersenyum.
“Takut mengganggu.”
Aku tertawa kecil.
“Telepon anak sendiri kok takut mengganggu?”
“Kadang kamu sibuk.”
Aku terdiam.
Tiba-tiba aku teringat. Panggilan tak terjawab Dari ayah Pukul 21.13 Sebelas bulan terakhir Ada beberapa.
Aku selalu berpikir akan menelepon kembali. Besok; Lusa; Nanti kalau sudah senggang.
Ternyata “nanti” adalah salah satu tempat paling ramai di dunia.
Banyak hal mati di sana.
Percakapan.
Pertemanan.
Kesempatan.
Bahkan beberapa hubungan.
“Ayah sebenarnya mau bilang apa waktu itu?”
Ayah menatap jalan.
“Tidak ada.”
“Serius?”
“Cuma mau dengar suara kamu.”
Aku tidak menjawab.
Ayah menyeruput kopi.
Aku melihat tangannya.
Urat-uratnya semakin jelas.
Kuku-kukunya kasar.
Ada bekas luka kecil di jempol.
Tangan yang dahulu mengikat tali sepatuku. Tangan yang mengajariku memegang pensil. Tangan yang pernah mengangkat sepeda motorku ketika jatuh.
Tiba-tiba terlihat sangat tua.
Dan untuk pertama kalinya aku takut.
Bukan takut kehilangan pekerjaan.
Bukan takut gagal.
Aku takut suatu hari nanti aku pulang dan tidak lagi menemukan ayah di kursi itu.
Hari-hari berikutnya berjalan pelan.
Aku mulai membantu ibu membersihkan rumah.
Membetulkan lampu kamar mandi.
Mengantar ayah ke bengkel.
Membeli kebutuhan dapur.
Hal-hal kecil.
Hal-hal yang dahulu tidak pernah kuanggap sebagai bagian dari kehidupan.
Suatu pagi, ibu memintaku mengantarnya ke pasar.
Kami berjalan kaki.
Di tengah perjalanan, ibu berhenti.
“Kenapa?”
“Capek.”
Aku melihat wajahnya.
“Naik ojek saja.”
“Tidak usah.”
Aku baru sadar langkah ibu tidak lagi secepat dulu. Dulu aku harus berlari kecil untuk mengimbanginya. Sekarang aku berjalan pelan supaya ia tidak tertinggal.
Kami sampai di pasar.
Ibu membeli sayuran.
Aku membawa kantong-kantong belanja.
Di perjalanan pulang, ia berkata,
“Kalau kamu nanti kerja lagi, jangan lupa makan.”
Aku tersenyum.
“Iya.”
“Jangan terlalu memaksakan diri.”
“Iya.”
“Kalau uang habis, bilang.”
Aku menoleh.
“Ibu tidak perlu khawatir.”
Ia tersenyum.
“Ibu memang pekerjaannya khawatir.”
Aku tertawa. Kalimat itu terdengar lucu.
Tetapi entah kenapa, sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkannya.
Mungkin benar. Ada pekerjaan yang tidak pernah tercantum dalam surat keputusan.
Menjadi ibu.
Tidak ada jam kerja.
Tidak ada cuti.
Tidak ada pensiun dari rasa khawatir.
Sore itu aku membersihkan gudang. Aku menemukan sebuah kardus lama. Di atasnya tertulis namaku. Aku membukanya.
Ada buku rapor SD.
Medali lomba.
Surat dari sekolah.
Foto-foto lama.
Satu foto membuatku berhenti.
Aku sedang berdiri di depan rumah.
Masih kecil.
Seragam merah putih.
Gigi depan ompong.
Di sampingku ada ayah dan ibu.
Mereka tersenyum.
Aku mencoba mengingat hari itu.
Tidak ingat.
Aku melihat rumah di belakang kami.
Catnya masih baru.
Pagar belum berkarat.
Pohon mangga masih tumbuh besar di samping teras.
Aku membalik foto.
Ada tulisan tangan ibu:
“Hari pertama masuk SD. Semoga anak kami tumbuh menjadi orang baik.”
Aku menatap kalimat itu.
Bukan menjadi orang sukses.
Bukan menjadi orang kaya.
Bukan menjadi seseorang yang memiliki jabatan.
Hanya:
orang baik.
Aku duduk di lantai gudang.
Dan tiba-tiba aku merasa sangat lelah.
Selama bertahun-tahun aku mengejar banyak hal.
Nilai.
Gelar.
Pekerjaan.
Gaji.
Pengakuan.
Aku sibuk menjadi seseorang.
Sementara orang tuaku hanya pernah meminta satu hal yang jauh lebih sederhana. Agar aku menjadi orang baik.
Malam itu aku membuka laptop. Membuat daftar pekerjaan. Aku memperbarui CV; Mengirim beberapa lamaran. Kemudian menutup laptop.
Untuk pertama kalinya aku tidak merasa harus segera pergi dari rumah. Aku membuka pintu kamar.
Rumah dalam keadaan gelap.
Lampu ruang tengah masih menyala.
Ibu tertidur di sofa.
Televisi menyala tanpa suara.
Aku mengambil selimut dan menyelimutinya.
Ia terbangun sedikit.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Besok jangan lupa beli telur.”
Aku tersenyum.
“Iya, Bu.”
Ia kembali tidur.
Aku berdiri beberapa saat.
Melihat wajahnya.
Ada garis-garis kecil di sekitar matanya.
Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.
Atau mungkin aku pernah melihatnya, tetapi terlalu sibuk untuk memperhatikannya.
Seminggu kemudian aku mendapat pekerjaan baru.
Tidak besar.
Gajinya tidak sebanyak pekerjaan sebelumnya.
Kantornya tidak tinggi.
Tidak ada gedung kaca.
Tidak ada pemandangan kota.
Tetapi cukup.
Aku memberi tahu ibu.
Ia menangis.
Aku tertawa.
“Kenapa menangis?”
“Tidak apa-apa.”
“Ini cuma pekerjaan.”
Ibu menggeleng.
“Bukan itu.”
“Lalu?”
Ia mengusap matanya.
“Ibu senang kamu tidak menyerah.”
Aku diam.
Ternyata selama ini aku mengira orang tua akan kecewa ketika aku gagal. Padahal mungkin yang mereka takutkan bukan kegagalanku. Mereka takut aku berhenti setelah gagal.
Hari keberangkatanku tiba. Aku memasukkan pakaian ke koper. Kali ini ibu tidak banyak bicara. Ia hanya berdiri di pintu kamar.
“Apa lagi yang ketinggalan?”
“Sepertinya tidak ada.”
“Obat?”
“Ada.”
“Dokumen?”
“Ada.”
“Uang?”
“Ada.”
“Kalau kurang?”
“Telepon ibu.”
Ibu tersenyum.
Aku mengangkat koper.
Ketika melewati ruang tengah, aku melihat meja makan.
Kursi ayah.
Kursi ibu.
Kursiku.
Semuanya masih di sana.
Aku tiba-tiba ingin menangis.
Bukan karena harus pergi.
Karena aku baru menyadari bahwa suatu hari nanti, mungkin kursi-kursi itu tidak akan lengkap lagi.
Rumah tidak pernah benar-benar menjadi tua. Penghuninya yang menua. Dan kita sering menyadarinya terlambat.
Di depan pintu, ayah menungguku.
Ia memberikan sesuatu.
Kunci.
“Kunci rumah.”
Aku melihatnya.
“Buat apa?”
“Biar kalau pulang tidak perlu tunggu dibukakan.”
Aku menggenggam kunci itu.
Dingin.
Kecil.
Tetapi terasa lebih berat daripada koper yang kubawa. Aku memeluk ayah; Kemudian ibu.
“Jangan lama-lama lagi,” kata ibu.
Aku mengangguk.
“Iya.”
Aku berjalan menuju pagar. Beberapa langkah kemudian aku menoleh. Rumah itu masih sama.
Cat hijau pucat; Pagar berkarat; Pot bunga; Jendela kamar; Atap tua.
Tetapi kali ini aku tidak merasa asing. Aku justru mengerti sesuatu. Rumah tidak pernah berubah menjadi asing.
Kitalah yang terlalu lama pergi sampai lupa bagaimana caranya pulang.
Aku memasukkan kunci ke saku.
Kemudian berjalan menuju jalan raya.
Bus akan datang beberapa menit lagi. Di dalam saku, kunci rumah bergesekan dengan ponsel.
Dua benda kecil.
Satu untuk membuka pintu.
Satu untuk menghubungi orang-orang yang menunggu di baliknya.
Aku berharap, kali ini, aku tidak terlalu sering menggunakan kata “nanti”.
Karena semakin dewasa, semakin aku mengerti bahwa beberapa hal tidak menunggu.
Orang tua tidak menunggu.
Waktu tidak menunggu.
Rumah tidak menunggu.
Dan suatu hari nanti, mungkin kita akan pulang membawa keberhasilan yang selama ini kita banggakan, tetapi tidak ada lagi seseorang yang membuka pintu untuk mendengarnya.
Bus datang.
Aku naik.
Dari jendela, rumah-rumah bergerak mundur.
Kota kecil itu perlahan menjauh.
Aku melihat rumahku sampai akhirnya hilang di tikungan.
Untuk pertama kalinya dalam perjalanan pulang dan pergi yang entah keberapa, aku tidak merasa sedang meninggalkan rumah.
Aku hanya sedang belajar bahwa pulang bukan selalu tentang tempat.
Pulang adalah tentang orang-orang yang membuat kita tidak perlu menjelaskan mengapa kita datang dengan wajah lelah.
Tentang tangan yang masih menyiapkan makanan meski kita sudah dewasa.
Tentang suara yang tetap bertanya apakah kita sudah makan.
Tentang seseorang yang mungkin tidak mengerti seluruh perjalanan kita, tetapi tetap menyisakan kursi.
Dan mungkin, pada akhirnya, rumah adalah satu-satunya tempat di dunia yang masih mengenali kita bahkan ketika kita sendiri sudah lupa siapa diri kita.
Aku memejamkan mata.
Di dalam saku, kunci rumah masih kugenggam.
Aku tersenyum.
Kali ini, aku berjanji tidak akan menunggu terlalu lama untuk pulang.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya