Alunan musik lembut yang dimainkan oleh orkestra kecil di sudut ruangan mengisi setiap celah ballroom The Grand Teater. Ballroom megah itu seolah disulap menjadi kebun musim semi abadi. Dekorasi bunga peony putih salju menjulang tinggi, tersusun apik di atas vas-vas kristal, berpadu dengan tirai kristal yang memantulkan cahaya keemasan dari chandelier raksasa. Aroma bunga bakung dan lily of the valley menguar di udara, menciptakan atmosfer yang sakral sekaligus romantis.
Di tengah keramaian para tamu yang anggun, Kalindra tampak menonjol. Rambut panjangnya berwarna dark caramel bergelombang anggun di atas bahu, kontras dengan slip dress satin berwarna blush pink yang membalut tubuhnya. Ia memeluk erat Ana, sang mempelai wanita, yang tampak memesona dalam balutan gaun pengantin A-line berwarna putih
“Ana, selamat menempuh hidup baru, Sayang. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah,” bisik Kalindra tulus. Setelah itu, ia mengecup kedua pipi Ana dengan hangat dan penuh rasa sayang.
Ana membalas dengan mata berkaca-kaca. “Makasih banyak, Kalindra. Aku senang banget kamu datang.”
Kalindra kemudian beralih kepada Bima, suami Ana sekaligus teman akrabnya sejak SMA. Ekspresi lembut di wajahnya seketika berubah. Sorot mata hazel-nya menajam, menatap Bima dengan penuh ancaman.
“Dengar baik-baik, Bima,” ujar?Kalindra dengan suara rendah, tegas, dan nyaris berbisik. “Aku tidak main-main. Jaga Ana dengan seluruh jiwa ragamu. Jangan pernah ada KDRT, jangan pernah selingkuh, dan jangan pernah buat dia nangis. Paham?”
Bima yang sudah hafal betul sifat Kalindra, hanya memutar bola matanya sambil tersenyum geli. “Ampun, Lin! Ini udah yang kesebelas kalinya kamu bilang. Janji! Aku nggak akan nyakitin Ana.” Ia lalu menatap Kalindra dengan usil. “Jadi, Kalindra, kapan giliran kamu nyusul?”
Kini giliran Kalindra yang jengkel. Ia menghela napas panjang, lalu membuang muka, seolah pertanyaan itu merupakan topik yang paling ingin ia hindari.
“Insya Allah, bulan depan,” jawabnya sambil menahan senyum nakal.
Ana tersentak. Ia langsung mencengkeram lengan Kalindra dengan mata membesar. “Serius?! Sama siapa?!”
Kalindra mencondongkan tubuh ke arah mereka berdua, lalu berbisik dramatis, “Sama Kim Seokjin!”
Tawa renyahnya langsung meledak. Ia segera melarikan diri, meninggalkan Ana dan Bima yang hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa pasrah melihat tingkah sahabat mereka yang tak pernah berubah.
Kalindra berjalan menuju area prasmanan, menjauh dari pusat perhatian. Ia mengambil piring porselen, memilih smoked salmon dan beberapa potong cake stroberi. Setelah itu, ia bergabung dengan meja teman-teman SMA-nya, menikmati makanan sambil sesekali menanggapi obrolan Danar dan Arumi tentang masa-masa ketika SMA.
Tiba-tiba, suara nyaring Fina dari belakang membelah suasana ballroom yang semula damai.
“WIRA!”
Tubuh Kalindra seketika menegang. Jemarinya yang memegang garpu terhenti, sementara cengkeramannya pada tali tas selempang kulit di bahunya mengerat. Nama itu seolah menyentuh luka lama yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
Wiratama.
Nama yang menjadi racun sekaligus satu-satunya penawar yang masih ia rindukan setelah sepuluh tahun.
“Jadi datang ke nikahan Bima dan Ana, Wira?” tanya Fina lagi dengan nada riang.
“Iya,” jawab suara itu singkat.
Nada suaranya persis seperti yang Kalindra ingat: dalam, tegas, dan entah mengapa, tetap terasa hangat.
“Aku mau nyapa Bima dan Ana dulu.”
Kalindra menunduk. Ia pura-pura sibuk memperhatikan tekstur smoked salmon di piringnya, seolah makanan itu jauh lebih menarik daripada suara yang baru saja mengusik ketenangannya. Dalam hati, ia hanya berharap sosok itu segera berlalu atau setidaknya tidak menyadari kehadirannya.
“Lin, jadi kamu ikut, kan, reuni di vila habis ini?” tanya Arumi sambil menepuk pundaknya.
Kalindra tersentak dan mengangkat wajah. “Ja ja... jadi, Rum,” jawabnya terbata.
“Tuh, Lindra ikut. Kamu juga ikut, ya, Wira?” Arumi menoleh ke belakang, ke arah Wira yang baru saja kembali.
Wira terdiam. Matanya yang gelap tertuju pada punggung Kalindra yang tampak kaku. “Iya,” jawabnya singkat, tetapi tegas.
“Akhirnya setelah sepuluh tahun Wira mau ikut reuni juga!” seru Danar di sampingnya. Ia kemudian menatap Kalindra dengan senyum lebar. “Oh iya, Lin. Kamu nggak mau sapa Wira?”
Celetukan spontan itu langsung dihadiahi pukulan pelan dari teman-teman yang lain. Mereka menyadari atmosfer tegang yang tiba-tiba muncul di antara keduanya.
Kalindra menarik napas panjang. Jemarinya meremas dress, berusaha menata kembali kepingan perasaan yang sudah berantakan. Dengan hati-hati, ia membalikkan tubuh dan menatap Wira, mencoba menyembunyikan badai yang berkecamuk di dadanya.
“Hai, Wira. Gimana kabar kamu?” tanya Kalindra pelan.
Wira menatap mata hazel Kalindra cukup lama. Tatapannya begitu intens, seolah ingin membaca setiap pikiran dan perasaan yang berusaha disembunyikan perempuan itu di balik wajah tenangnya. Suasana di antara mereka menegang, hanya dipecahkan oleh sayup-sayup lagu “Perfect” milik Ed Sheeran dari pengeras suara.
“Baik. Kamu?” jawab Wira datar dan singkat.
“Baik juga,” balas Kalindra cepat. Ia segera mengalihkan pandangan, tak tahan dengan sorot mata Wira yang seolah mengunci pergerakannya.
“Teman-teman, aku ke kamar mandi sebentar. Nanti kalo udah mau berangkat ke vila, hubungi aku,” pamitnya.
Kalindra segera beranjak meninggalkan meja. Langkahnya tampak tergesa-gesa, hampir seperti sedang melarikan diri dari sesuatu yang tidak bisa ia hadapi.
Di dalam kamar mandi yang kebetulan sepi, Kalindra bersandar pada dinding marmer yang dingin. Ia menatap bayangannya di cermin besar. Wajahnya terlihat pucat, matanya sedikit memerah, dan napasnya memburu.
Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang. Setelah menarik napas dalam, ia menahannya selama empat hitungan, lalu mengembuskannya perlahan.
Jangan nangis. Jangan sampai dia tahu.
Kehadiran Wira, hanya dalam hitungan detik, sudah berhasil meruntuhkan pertahanan yang ia bangun dengan susah payah selama sepuluh tahun.
Tiga ketukan terdengar di pintu.
“Lin, kita mau otw sekarang. Aku tunggu di lobi, ya,” panggil Fina.
“Iya, Fina! Sebentar. Nanti aku nyusul!” jawab Kalindra setengah berteriak.
Setelah merasa cukup mampu mengendalikan dirinya, Kalindra merapikan rambut dan dress-nya sebelum keluar dari kamar mandi. Saat berjalan menuju lobi, sebuah SUV hitam metalik berhenti tepat di depannya. Jendela belakangnya terbuka.
“Masuk, Lin! Di depan, ya. Di belakang udah penuh,” kata Haris riang.
Kalindra mengangguk, lalu membuka pintu depan. Namun, gerakannya terhenti ketika pandangannya jatuh pada kursi kemudi.
Wira duduk di sana, memegang setir dengan kedua tangan, menatap lurus ke depan. Lalu, Kalindra kemudian melirik ke kursi belakang. Haris, Damian, dan Gilang sudah berjejalan di sana. Tidak ada ruang sedikit pun.
Haris menyadari keraguan Kalindra. “Nggak usah cemas, Lin. Di belakang udah sesak. Kamu mau berdempetan sama tiga cowok?”
Kalindra segera menggeleng.
“Ayo, Lin! Masuk! Nanti kita ketinggalan rombongan!” seru Gilang dari tengah.
Dengan ragu dan jantung yang kembali berdebar, Kalindra masuk lalu duduk di kursi depan. Aroma parfum khas Wira langsung menyeruak, membuatnya tanpa sadar menahan napas sesaat. Ia segera memasang sabuk pengaman dan menatap lurus ke depan.
Mobil melaju dengan kecepatan stabil, membelah jalanan sore. Suasana di dalam mobil hening dan dipenuhi ketegangan. Haris, Damian, dan Gilang sesekali saling melirik serta berbisik tanpa suara, seperti sedang menyusun strategi. Wira tetap fokus menyetir, sementara Kalindra berusaha menghindari kontak mata dengannya.
Sudah menjadi kebiasaan Kalindra untuk mengantuk setiap kali naik mobil. Rasa kantuk mulai menyerang dengan kuat. Ia menggelengkan kepala dan sesekali mencubit pipinya sendiri, tetapi usahanya tidak banyak membantu.
Akhirnya, kepalanya bersandar pada kaca mobil. Matanya tertutup sempurna.
Dari sudut matanya, Wira melirik sekilas untuk memastikan Kalindra sudah terlelap. Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Tidur, ya, dia?” bisik Haris, yang mengetahui kebiasaan Kalindra.
Damian menyandarkan kepala, lalu menatap Wira melalui kaca spion dengan ekspresi kesal.“Selama ini kau ke mana, Wira? Nggak kangen sama kami?” bisiknya.
“Emang nggak kangen sama Kalindra?” celetuk Gilang.
Damian dan Haris langsung menjitaknya.
“Pakai nanya lagi!” sahut mereka serempak.
Wira hanya melihat mereka melalui kaca spion. Ia tidak menjawab dan tetap fokus pada kemudi. Namun, senyum di wajahnya tidak menghilang, seolah menyimpan rahasia dan rencana yang hanya diketahui oleh dirinya dan teman-temannya.
Sayup-sayup, Kalindra mendengar namanya dipanggil.
“Lin, bangun. Udah sampai,” ucap Haris.
Kalindra tersentak. Ia segera mencopot sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Kakinya masih terasa mati rasa. Saat turun dan mencoba berdiri, tubuhnya limbung dan kehilangan keseimbangan. Seketika, sepasang tangan kokoh memegang pundaknya, menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
“Hati-hati,” ujar Wira. Suaranya terdengar lebih tegas, dengan nada kekhawatiran yang tidak berhasil ia sembunyikan.
Kalindra terkejut. Matanya melebar ketika merasakan sentuhan hangat di pundaknya. “Terima kasih,” bisiknya.
Ia memegang pergelangan tangan Wira untuk menyeimbangkan diri, lalu segera melepaskannya begitu tubuhnya sudah kembali stabil.
Mereka berjalan menuju vila, sebuah bangunan klasik mewah yang menghadap langsung ke lautan biru. Arsitekturnya megah, dengan sepuluh kamar tidur luas, kolam renang yang berkilauan, lapangan luas, serta playground mini yang menghadap pemandangan laut menakjubkan.
Setelah berkeliling dengan takjub, mereka berkumpul di ruang tengah untuk pembagian kamar dan tugas.
“Baik, teman-teman. Pembagian kamar sudah selesai,” jelas Haris yang mengambil peran sebagai ketua. “Sekarang kita pembagian tugas untuk dua hari ini.”
Haris mengangkat sebuah kotak undian besar. “Di kotak ini ada kertas tugas. Siapa yang masak, cuci piring, belanja, hingga beres-beres. Kertas yang sudah diambil tidak boleh diganti dan tidak boleh protes!”
Setelah semua mendapatkan kertas masing-masing, mereka segera membacanya. Wajah Kalindra berubah masam. Alisnya berkerut, sementara bibirnya mengerucut membaca tugas yang tertera.
“Aku mau ganti!” protesnya keras.
“Eh, nggak bisa dong! Kalau kamu ganti, nanti semua orang ganti lagi,” tolak Damian.
Kalindra menatap Haris penuh tuduhan. “Ini pasti akal-akalanmu, Ris!”
“Astaga, Lin! Nggak, lah! Kan kamu yang ambil sendiri!” Haris membela diri dengan wajah pura-pura polos.
Gilang merebut kertas dari tangan Kalindra. Ia membacanya, menahan tawa, lalu melirik Haris dan Wira. “Cuma belanja bahan makanan sama Wira doang, kok, Lin. Kenapa protes?”
Damian ikut menimpali. “Emangnya kalau kamu belanja sendiri dengan bawaan sebanyak itu sanggup? Lagian kamu juga nggak bisa bawa mobil. Kalopun bukan kamu, pasti orang lain, tapi tetap harus sama Wira juga.”
Kalindra menatap tajam ke arah Haris, Damian, dan Gilang. “Yaudahlah!” ucapnya kesal.
Ia menjatuhkan diri ke sofa, lalu menyilangkan tangan di depan dada. Dari sudut matanya, ia melihat senyum samar Haris dan Damian. Kalindra semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sedang mereka rencanakan. Saat ia memejamkan mata, Haris kembali memanggilnya.
“Lin, belanja sekarang, ya.”
“Sekarang?!” Kalindra membuka mata dengan terkejut.
“Ya iya, dong. Nanti kita makan malam sama apa kalo belanjanya besok?” jawab Haris dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat.
Kalindra menghela napas, lalu berjalan menuju Wira yang sedang mengobrol dengan teman-temannya. “Ayo,” katanya jengkel dengan suara ketus.
“Ke mana?” Wira menatapnya polos.
“Belanja buat makan malam,” jelas Kalindra.
“Oh.”
Mereka berdua kemudian berjalan menuju mobil Wira yang terparkir di depan vila. Di supermarket, mereka bergerak terpisah dan menjaga jarak. Kalindra memilih sayuran serta daging, sementara Wira mencari makanan ringan dan minuman. Saat melewati lorong buah, Kalindra melihat stroberi yang mengilap dan mencium aroma durian yang menggugah selera.
“Hemat, hemat, Kalindra ...” bisiknya kepada diri sendiri sambil menahan keinginan untuk mengambilnya.
Setelah itu, ia melanjutkan langkah menuju lorong makanan ringan. Di sana, matanya langsung tertuju pada cokelat kesukaannya.
“Jangan boros, Lin. Jangan boros ...” gumam lagi, lalu menarik tangannya kembali.
Di belakang Kalindra, Wira yang baru saja kembali mendengar gumaman itu. Ia hanya tersenyum kecil. Ia masih ingat betul kebiasaan Kalindra yang selalu berdebat dengan dirinya sendiri ketika berhadapan dengan makanan kesukaan.
Saat berada di kasir, setelah semua barang untuk tiga puluh orang selesai dihitung, Wira meletakkan satu keranjang tambahan di atas konter. Keranjang itu berisi dua kotak stroberi, dua kotak durian, dan lima batang cokelat kesukaan Kalindra.
“Tote bag-nya dipisah, ya, Mbak,” jelas Wira kepada kasir.
Melihat isinya, Kalindra segera menoleh. Matanya membesar penuh tanya.
“Buat kamu,” ucap Wira dengan suara lembut dan dalam.
Mata Kalindra langsung berbinar. Ia tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. “Terima kasih, Tama,” ucapnya spontan.
Panggilan kesayangan itu keluar begitu saja setelah sekian lama.
Wira terdiam sesaat.
Tama.
Panggilan yang merupakan kependekan dari Wiratama. Hanya Kalindra yang memanggilnya demikian. Kenangan masa SMA, saat mereka berpacaran di balik pohon beringin, melintas cepat di benaknya. Senyum Wira melebar, sementara matanya memancarkan kehangatan yang selama ini dirindukan Kalindra.
Dua hari yang singkat berlalu dengan cepat, dipenuhi tawa, barbeque di tepi kolam renang, dan cerita lama yang menghangatkan. Malam ini adalah malam terakhir. Mereka dibebaskan dari jadwal yang sudah ditentukan, sehingga inilah saatnya menikmati kebebasan.
Udara malam terasa dingin, diiringi alunan ombak yang menghantam pantai. Kalindra berjalan di tepi pantai tanpa alas kaki, membiarkan pasir basah dan dingin menyentuh telapak kakinya. Alunan ombak yang bergulung di hadapannya membuat suasana malam terasa tenang. Namun, ketenangan itu terusik ketika ia menyadari adanya bayangan yang memanjang di atas pasir, mengikuti langkahnya. Kalindra pun menghentikan langkah.
“Mau sampai kapan kamu mengikutiku terus, Wira?” tanya Kalindra kesal tanpa menoleh.
“Aku, kan, menjalankan tugas yang ada di kertas,” jawab Wira tenang. Langkahnya berhenti beberapa meter di belakang Kalindra.
“Mana ada?” Kalindra menoleh dengan ekspresi tidak percaya. Ia yakin alasan itu hanyalah dalih konyol.
Wira menghela napas panjang, lalu mengeluarkan kertas yang sudah terlihat lusuh dari saku celananya. Kalindra segera merebutnya dan membaca tulisan tangan yang tertera di sana.
Mengikuti ke mana pun Kalindra berada.
“Ini gila! Ini pasti ulah Haris dan Damian!” teriak Kalindra sambil mengangkat kertas tersebut. Kekesalannya semakin memuncak.
Wira tertawa pelan. Tawanya hangat, membuat hati Kalindra sedikit melunak meskipun ia masih berusaha mempertahankan wajah kesalnya.
“Jangan ketawa. Aku masih marah sama kamu,” ucap Kalindra sambil membalikkan badan dan berjalan menjauh.
“Kalin,” panggil Wira.
Panggilan spesial yang hanya ia gunakan itu membuat Kalindra menghentikan langkah. Jantungnya berdebar kencang, bahkan lebih kuat daripada sebelumnya.
“Kalin,” ulang Wira.
Ia berjalan mendekat dengan langkah tenang.
“Setelah sepuluh tahun aku menghilang, masih adakah satu kesempatan lagi untukku?”
“Nggak ada,” jawab Kalindra cepat. Suaranya bergetar, meskipun ia berusaha mempertahankan pertahanannya.
Wira kini berdiri tepat di belakangnya. “Benarkah?” bisiknya.
Suara seraknya terdengar dekat sekali di telinga Kalindra.
Kalindra terdiam. Ia memejamkan mata, menahan tangis yang mulai memenuhi pelupuknya. Wira kemudian berjalan memutar hingga berdiri tepat di hadapannya.
Kalindra membuka mata. Air mata sudah membasahi pipinya. Pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh seketika.
“Kenapa setelah sepuluh tahun, kamu baru datang menemuiku?!” teriak Kalindra. Suaranya pecah, melepaskan semua rasa sakit yang selama ini terpendam.
Wira menatapnya dengan mata penuh penyesalan. “Maaf.”
“Kalau kamu benar-benar sayang, harusnya kamu berikan alasannya! Bukan tiba-tiba pergi dan kembali seolah tidak terjadi apa-apa!”
Wira mengalihkan pandangan ke arah pantai. “Tanpa aku bilang pun kamu tahu sendiri alasanku, bukan? Bagaimanapun, aku ingin bersanding denganmu sebagai seorang laki-laki yang tidak ingin menyusahkan wanitanya nanti. Bukan hanya sekadar menumpang hidup.”
“Aku sudah bilang, Wira! Itu Papah dan Mamah yang kaya, bukan aku! Aku nggak peduli soal harta! Aku cuma peduli kamu ada di sisiku!” balas Kalindra. Air matanya mengalir semakin deras.
Wira menggeleng pelan. “Kamu nggak ngerti. Om dan Tante pasti ingin anak kesayangan mereka hidup nyaman. Begitu pun jika aku mempunyai anak perempuan. Aku pergi untuk memperbaiki derajatku. Aku ingin bisa memberikan apa saja yang kamu inginkan, membelikan apa yang kamu mau, dan membawamu pergi ke mana saja tanpa memikirkan masalah keuanganku. Aku tidak ingin kamu merasakan susah. Cukuplah aku yang merasakan itu.”
Kalindra menatap Wira dengan air mata yang terus mengalir. Pria di hadapannya ternyata masih memikirkan dirinya, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu. Ia mengorbankan perasaannya sendiri demi kebahagiaan Kalindra di masa depan.
Wira meraih tangan Kalindra, lalu menghapus air matanya dengan ibu jari. “Aku minta maaf. Maaf jika aku pengecut karena pergi tanpa penjelasan yang layak.”
Ia menatap Kalindra dengan penuh harap. “Jadi, masih adakah kesempatan untukku, Kalin?” tanyanya lagi dengan suara yang bergetar hebat.
Kalindra menatapnya, berusaha mencari kejujuran dan ketulusan di mata Wira.
“Lagipula, kamu nggak akan bisa jadi milik orang lain selain diriku,” kata Wira tiba-tiba dengan nada sombong. Senyum jahil muncul di sudut bibirnya, memecah ketegangan di antara mereka.
Kalindra langsung memukul dada Wira. “Ihh! Lagi serius-serius malah bercanda!”
Wira tertawa renyah. Tawa itu merupakan suara yang sudah lama tidak didengar Kalindra.
“Memang seperti itu! Om dan Tante sudah berjanji, mereka akan menolak semua lamaran pria mana pun. Mereka hanya akan menyetujui aku, asal aku kembali setelah menepati janji untuk meningkatkan derajatku. Haris, Damian, dan Gilang adalah mata-mata yang mengawasimu diam-diam.”
“APA?!” Kalindra terkejut setengah mati. “Jadi selama sepuluh tahun aku jomblo, ada campur tangan kalian?”
Wira mengangguk, lalu menunjuk ke arah jembatan kayu yang menjorok ke laut. “Lihatlah.”
Di bawah cahaya bulan, siluet teman-teman mereka terlihat sedang berbaris rapi. Dua sosok di antara mereka membuat Kalindra terkejut. Kedua orang tuanya berdiri di sana, tersenyum bahagia dan melambaikan tangan ke arah mereka.
Wira kembali menatap Kalindra. Matanya berbinar penuh cinta, memantulkan cahaya bulan yang jatuh di permukaannya. Ia kemudian berlutut dan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam. Ketika kotak itu dibuka, cincin berlian berwarna pink cerah tampak berkilauan.
“Kalin, Wiratama yang sekarang sudah siap bersanding denganmu. Maukah kamu menikah denganku?”
Kalindra menutup mulutnya. Ia tidak mampu berkata-kata. Air mata kembali mengalir, kali ini membawa kebahagiaan yang selama ini ia tunggu.
Teriakan riuh teman-teman dari atas jembatan terdengar jelas.
“TERIMA!”
“TERIMA!”
Kalindra menoleh ke arah orang tuanya. Papanya mengangguk dengan senyum bangga. Lalu, ia kembali menatap Wira. Senyumnya merekah di antara air mata haru dan bahagia.
“Aku mau, Tama. Aku mau!” jawabnya mantap.
Wira tersenyum lega. Air mata sempat menetes di sudut matanya, melambangkan akhir dari perjuangan panjang yang telah ia lalui.
Ia segera bangkit, memeluk Kalindra dengan erat, lalu mengangkat tubuh perempuan itu dan berputar bahagia di bawah rembulan, di tepi samudra yang menjadi saksi.
Setelah badai kerinduan dan perpisahan, Kalin akhirnya kembali bersandar pada Tama. Sebuah perjalanan panjang membuktikan bahwa dalam setiap kisah cinta, rumah sejati selalu ada di dalam hati orang yang tepat, meski harus melalui jarak dan waktu yang memisahkan.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya