Customer Service

Sebelum Pagi Menemukan Kita yang Berbeda

100%

Sebelum Pagi Menemukan Kita yang Berbeda

Sebelum Pagi Menemukan Kita yang Berbeda

Wira Nawasena

 

Malam terakhir kami habiskan di sebuah warung kopi kecil yang bahkan tidak memiliki nama.

Hanya ada papan kayu bertuliskan kopi, mie, rokok, dan cerita yang menggantung miring di depan pintu. Lampunya terlalu kuning, kursinya terlalu keras, dan suara motor dari jalan raya tidak pernah benar-benar berhenti.

Tapi entah mengapa, kami selalu datang ke sana.

Aku, Arga, Naya, dan Bima.

Empat orang yang pernah merasa bahwa persahabatan adalah semacam perjanjian tanpa tanggal kedaluwarsa.

Malam itu Arga akan berangkat ke Jakarta.

Pukul lima pagi.

Ia mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan rintisan setelah berbulan-bulan mengirimkan CV ke berbagai tempat. Jakarta bukan kota yang pernah ia impikan, katanya. Tetapi ia sudah terlalu lama menunggu sesuatu datang ke kota kecil ini.

"Kalau aku nggak berangkat sekarang, mungkin lima tahun lagi aku masih duduk di sini," katanya.

Bima tertawa.

"Memangnya salah kalau lima tahun lagi kita masih duduk di sini?"

Arga ikut tertawa.

Aku tidak.

Aku hanya menatap gelas kopi yang sudah dingin.

Ada sesuatu yang tidak mampu kukatakan malam itu.

Mungkin karena aku tahu, keberangkatan Arga bukan sekadar tentang berpindah kota.

Ada beberapa orang yang ketika pergi, membawa sebagian kecil dari kehidupan kita bersamanya.

Dan kita baru menyadarinya setelah mereka benar-benar tidak ada.

Kami bertemu sejak kelas dua SMA.

Arga adalah orang pertama yang berani menyontek pekerjaanku tanpa merasa bersalah.

Naya adalah orang pertama yang menangis ketika kami gagal memenangkan lomba debat antarsekolah.

Bima adalah orang yang selalu datang terlambat tetapi paling marah kalau ada orang lain yang datang terlambat.

Aku sendiri tidak pernah tahu apa peranku.

Mungkin hanya orang yang selalu berada di antara mereka.

Kami tumbuh bersama.

Mengerjakan tugas di perpustakaan.

Makan gorengan di depan sekolah.

Menabung sedikit demi sedikit untuk menyewa lapangan futsal.

Berjalan kaki pulang ketika uang kami habis.

Bertengkar karena hal-hal kecil.

Berbaikan tanpa pernah benar-benar meminta maaf.

Ketika kuliah, hidup mulai memisahkan kami sedikit demi sedikit.

Naya memilih jurusan kedokteran.

Bima bekerja sambil kuliah.

Aku mengambil jurusan yang membuat orang-orang bertanya, "Nanti kerja jadi apa?"

Arga paling sering berpindah tempat.

Ia pernah menjadi barista.

Pernah menjadi admin toko daring.

Pernah menjadi pekerja lepas.

Pernah hampir menyerah.

Tetapi malam itu ia akhirnya punya tiket bus di saku dan alamat kantor di layar ponselnya.

"Kita tetap begini, kan?" tanya Naya tiba-tiba.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Kami tahu pertanyaan itu bukan tentang malam itu.

Ia sedang bertanya tentang masa depan.

Tentang apakah setelah semua orang memiliki pekerjaan, pasangan, kesibukan, dan kehidupan masing-masing, kami masih akan menemukan alasan untuk duduk bersama.

"Ya," jawab Bima cepat.

"Kita bakal tetap begini."

Arga mengangguk.

Aku tersenyum.

Tetapi diam-diam aku tahu, jawaban itu terlalu mudah.

Pukul 04.37 pagi, kami berdiri di terminal.

Bus Arga belum datang.

Udara dingin.

Lampu-lampu terminal membuat semuanya tampak pucat.

Arga membawa satu koper hitam dan sebuah tas ransel.

Naya memberinya obat-obatan yang sebenarnya tidak perlu.

Bima memberinya uang yang ditolak Arga tiga kali sebelum akhirnya diterima.

Aku hanya memberikan sebuah buku.

Buku catatan kosong.

"Untuk apa?"

"Katanya mau jadi penulis."

Arga membuka halaman pertama.

Aku sudah menuliskan sesuatu di sana.

Kalau suatu hari nanti kita berubah, semoga kita masih mengenali nama masing-masing.

Arga membaca kalimat itu lama.

Kemudian menutup buku.

"Jangan lebay."

Aku tertawa.

"Pergi sana."

Ia memeluk kami satu per satu.

Ketika sampai padaku, pelukannya sedikit lebih lama.

"Jaga diri."

"Kamu juga."

Bus datang.

Arga naik.

Kami melambaikan tangan.

Bus bergerak perlahan.

Dan dalam beberapa menit, kendaraan itu hilang di antara lampu-lampu jalan yang masih menyala.

Kami masih berdiri.

Tidak ada yang bicara.

Sampai Bima berkata,

"Besok kita nongkrong lagi."

Naya tertawa kecil.

"Besok?"

"Iya."

Kami tahu itu bohong.

Tetapi tidak ada seorang pun yang ingin membantahnya.

Minggu pertama, grup kami masih ramai.

Arga mengirim foto gedung kantor.

Naya mengirim foto pasien yang tidak boleh kami komentari.

Bima mengirim keluhan tentang dosen.

Aku mengirim foto kopi.

Kami masih saling membalas.

Minggu kedua, mulai berkurang.

Bulan kedua, percakapan berubah menjadi ucapan ulang tahun.

Bulan ketiga, grup itu lebih sering menjadi tempat orang membaca pesan tanpa membalas.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada yang saling meninggalkan.

Kami hanya mulai sibuk menjadi orang lain.

Arga bekerja sampai malam.

Naya semakin sibuk dengan kuliah dan rumah sakit.

Bima mulai menjalankan usaha kecil bersama saudaranya.

Aku sibuk dengan tugas, tulisan, dan berbagai hal yang tidak pernah benar-benar selesai.

Pada suatu malam, aku membuka kembali percakapan grup kami.

Pesan terakhir berasal dari Arga.

Libur panjang nanti pulang. Kita ketemu.

Pesan itu dikirim tiga bulan lalu.

Aku mengetik:

Jadi pulang?

Tidak ada jawaban.

Aku menghapusnya.

Mengetik lagi.

Masih hidup, Ga?

Aku menghapus lagi.

Akhirnya aku hanya mengirim:

Jangan lupa kopi.

Arga membalas dua jam kemudian.

Masih inget.

Aku tersenyum.

Setidaknya ia masih mengingat sesuatu.

Enam bulan kemudian, kami bertemu lagi.

Tidak di warung kopi.

Tidak di terminal.

Tidak di tempat yang dulu.

Kami bertemu di sebuah restoran yang dipilih Naya karena katanya tempat itu "lebih nyaman."

Aku datang paling awal.

Kemudian Bima.

Naya datang dua puluh menit kemudian.

Arga datang paling terakhir.

Ia terlihat berbeda.

Rambutnya lebih rapi.

Bajunya lebih mahal.

Cara bicaranya berubah sedikit.

Bukan menjadi sombong.

Hanya berbeda.

Kami berbicara tentang pekerjaan.

Tentang gaji.

Tentang biaya hidup.

Tentang orang-orang baru.

Tentang siapa yang menikah.

Tentang siapa yang pindah.

Tentang siapa yang sudah membeli kendaraan.

Tentang siapa yang mendapat promosi.

Kami tertawa.

Tetapi rasanya seperti membaca ulang buku yang pernah sangat kita sukai, lalu menyadari bahwa kita tidak lagi mengerti mengapa dulu begitu menyukainya.

Di tengah percakapan, Bima tiba-tiba bertanya,

"Kalian masih ingat nggak waktu kita hampir diusir dari perpustakaan?"

Kami tertawa.

"Karena berisik?"

"Karena tidur," jawab Naya.

Arga tertawa paling keras.

Aku ikut tertawa.

Untuk beberapa detik, kami kembali menjadi empat anak SMA yang tidak punya banyak uang tetapi merasa memiliki seluruh dunia.

Kemudian ponsel Arga berdering.

Ia mengangkatnya.

"Iya, Pak."

Nada suaranya berubah.

Profesional.

Serius.

Kami diam menunggu.

Lima menit kemudian ia kembali duduk.

"Maaf. Urusan kantor."

"Tidak apa-apa," kata Naya.

Aku memperhatikannya.

Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa sedang melihat seseorang yang sangat kukenal tetapi sudah tidak sepenuhnya kukenal lagi.

Malam itu, setelah semuanya pulang, aku berjalan sendirian.

Kota terasa berbeda.

Padahal jalan-jalannya masih sama.

Toko yang sama.

Lampu merah yang sama.

Warung yang sama.

Tetapi mungkin kota tidak pernah berubah.

Kitalah yang berubah ketika terlalu lama meninggalkannya.

Aku berhenti di depan warung kopi lama.

Papan kayunya sudah diganti.

Tulisan kopi, mie, rokok, dan cerita sudah tidak ada.

Sekarang warung itu memiliki nama baru.

Lebih modern.

Lebih menarik.

Lebih cocok untuk difoto dan diunggah.

Aku duduk sendirian.

Memesan kopi.

Pemilik warung bertanya,

"Sendirian, Mas?"

Aku mengangguk.

Dulu, pertanyaan itu tidak pernah ada.

Karena kami selalu datang berempat.

Aku mengambil ponsel.

Membuka grup kami.

Ada banyak pesan yang belum kubaca.

Tentang pekerjaan.

Tentang keluarga.

Tentang ulang tahun.

Tentang rencana yang batal.

Tentang kehidupan yang terus bergerak meskipun kami tidak sempat memperhatikannya.

Aku hampir mengetik sesuatu.

Tetapi kemudian berhenti.

Mungkin tidak semua hubungan harus diselamatkan dari perubahan.

Ada orang-orang yang memang hadir untuk menemani satu bagian hidup kita.

Bukan seluruhnya.

Dan itu tidak membuat kebersamaan mereka menjadi kurang berarti.

Beberapa minggu kemudian, Arga mengirim pesan pribadi.

Gue mungkin nggak pulang lagi tahun ini.

Aku membaca pesan itu.

Kenapa?

Kerjaan. Terus mungkin gue bakal pindah apartemen.

Aku mengetik:

Selamat.

Ia membalas:

Gue takut kita makin jauh.

Aku menatap layar cukup lama.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga mengatakan sesuatu yang sebenarnya.

Aku menjawab:

Kita memang sudah jauh.

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Kemudian:

Terus gimana?

Aku tersenyum kecil.

Ya jangan pura-pura dekat.

Ia tidak membalas beberapa menit.

Kemudian muncul satu pesan.

Gue kangen masa itu.

Aku tahu maksudnya.

Aku juga kangen.

Tetapi masa lalu bukan rumah yang bisa kita tempati kembali.

Ia hanya tempat yang sesekali kita kunjungi melalui ingatan.

Aku mengetik:

Aku juga.

Lalu kutambahkan:

Tapi kita nggak harus kembali jadi orang yang sama untuk tetap saling mengingat.

Kali ini ia langsung membalas.

Iya.

Pagi datang beberapa jam kemudian.

Aku belum tidur.

Dari jendela kamar, langit mulai berubah warna.

Gelap perlahan menjadi abu-abu.

Kemudian biru.

Kemudian sedikit jingga.

Aku teringat malam terakhir kami di terminal.

Saat itu kami berjanji akan tetap menjadi seperti dulu.

Sekarang aku mengerti, mungkin janji itu memang tidak pernah bisa ditepati.

Kami berubah.

Arga berubah.

Naya berubah.

Bima berubah.

Aku juga.

Kami punya pekerjaan yang berbeda.

Kota yang berbeda.

Masalah yang berbeda.

Ketakutan yang berbeda.

Bahkan cara kami tertawa pun mungkin sudah tidak sama.

Tetapi ada sesuatu yang tetap tinggal.

Ingatan tentang empat orang yang pernah berjalan bersama ketika hidup masih terasa sederhana.

Tentang kopi murah.

Tentang uang yang selalu kurang.

Tentang mimpi yang terlalu besar.

Tentang malam-malam ketika kami percaya bahwa persahabatan akan menyelesaikan semuanya.

Ternyata tidak.

Persahabatan tidak menyelesaikan hidup.

Ia hanya pernah membuat hidup terasa sedikit lebih ringan.

Dan mungkin itu sudah cukup.

Aku menutup tirai.

Pagi akhirnya menemukan kami berbeda.

Bukan karena kami saling kehilangan.

Melainkan karena kami akhirnya tumbuh menjadi orang-orang yang dulu belum kami kenal.

Aku mengambil ponsel.

Membuka grup yang sudah lama sunyi.

Lalu mengirim satu pesan:

Selamat pagi, orang-orang asing yang pernah sangat kukenal.

Beberapa detik kemudian, Bima membalas.

Pagi, manusia menyebalkan.

Naya mengirim emoji tertawa.

Lima menit kemudian Arga membalas:

Masih ingat kopi?

Aku tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada yang perlu kami janjikan.

Tidak perlu mengatakan akan selalu bersama.

Tidak perlu berjanji tidak akan berubah.

Kami hanya perlu tahu bahwa pernah ada masa ketika kami saling menemukan.

Dan meskipun pagi telah membawa kami ke jalan yang berbeda, sebagian kecil dari kami masih tinggal di sana.

Di sebuah warung tanpa nama.

Di sebuah meja yang terlalu sempit.

Di antara empat gelas kopi yang pernah membuat kami percaya bahwa dunia akan selalu menyediakan waktu untuk kami.

Padahal dunia tidak pernah berjanji demikian.

Kami saja yang dulu terlalu muda untuk mengetahuinya.


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: