Segalamu Adalah Cuaca
/1/ Hujan mu adalah Selimutku
Ada hari-hari ketika dunia menjelma bising yang asing. Orang-orang datang membawa riuh masing-masing, sementara hidup terus menagih ketegaran dari pundak yang mulai letih. Pada hari-hari serumit itu, aku selalu pulang kepadamu.
Bukan ke tempat di mana cinta dan luka saling memaafkan, melainkan kepadamu yang bahkan tak menjanjikan hal apa pun.
Aneh memang, sebab hujan sering dianggap sebagai isyarat muram. Namun tidak denganmu. Hujan mu adalah kemulan—selimut hangat yang menutupi retak-retak yang tak sanggup ku tunjukkan kepada siapa pun. Di bawah rinai, aku menari, menghentak deru seirama jantung luka. Aku meletakkan kepingan lelah di pangkuan waktu, membiarkan tubuh basah ini berdansa dengan gemericik yang jatuh dari pelupuk.
Mungkin itulah sebabnya aku bertahan begitu lama. Sebab setiap kali dunia menolak memahami ku, selalu ada cuaca mu yang menyediakan tempat bagi sunyi yang terasa perih, bercengkrama dengan kehangatan mu.
/2/ Langitmu Menjadi Arah
Ada masa ketika aku begitu pongah dengan sepotong kompas di genggaman. Langkah kaki tak mengenal ragu, dan waktu hanyalah kalimat yang dengan fasih ku terjemahkan menjadi makna. Saat itu, aku percaya, arah akan selalu tunduk padaku.. tetapi keyakinanku berkhianat, perlahan tanpa kusadari, aku mulai membaca takdir melalui perubahan wajahmu.
Jika kau cerah, ku anggap semesta sedang berpihak.
Jika kau redup, seluruh jalan di hadapanku ikut kehilangan warna.
Aku menjelma pelaut yang terlalu sering mendongak ke langit hingga luput memeriksa ombak di bawah lambung perahu sendiri. Segala keputusan, harapan, dan ketakutan, diam-diam ku ukur dari bagaimana pancaroba hatimu berlangsung hari itu.
Sebab bagiku, kau telah menjelma nayanika—sepasang mata yang mendikte ke mana takdir harus ku ayun. Maka, melepaskan mu bukan sekadar perkara berpisah; itu adalah keruntuhan semesta kecilku. Aku kehilangan utara, dan seketika itu pula, seluruh kompas di dadaku seketika terhenti.
/3/ Badaimu Menetap Dalam Dada
Tak ada cuaca yang selalu ramah.
Suatu waktu, angin datang membawa ranting-ranting patah. Awan menggantung rendah, membuat hari-hari terasa lebih sempit daripada biasanya. Ada kalimat-kalimat yang sengaja dibiarkan menggantung, ada jarak yang tumbuh dari hal-hal yang terkunci dalam diam.
Aku berdiri di sana, membiarkan badaimu melintas, percaya bahwa semua akan reda seperti musim-musim sebelumnya.
Namun beberapa cuaca ternyata tidak hanya lewat.
Sebagian memilih menetap.
Ia bersarang dalam dada, membangun ruang sunyi nya sendiri dari puing-puing duka. Cuaca buruk itu telanjur mengubah caraku memandang langit—meninggalkan trauma yang tetap basah, bahkan setelah awan gelap yang merundung perlahan lenyap.
Dan sejak itu aku mengerti, tidak semua luka berasal dari kebencian. Sebagian justru lahir dari tempat yang paling kita agungkan.
/4/ sisa-sisa musim mu
Orang-orang bilang waktu akan membasuh segalanya. Tetapi mereka lupa bahwa ada beberapa orang yang tidak meninggalkan jejak, melainkan iklim.
Bagaimana mungkin aku melupakanmu jika setiap sudut hari masih membawa cuaca mu
Secangkir kopi hangat di pagi hari mengingatkanku pada matahari yang dulu kau titipkan dalam percakapan-percakapan sederhana. Hujan menjelang malam mengingatkanku pada cara kita saling menghangatkan melalui kata-kata. Bahkan kesunyian memiliki aroma yang serupa dengan hari-hari ketika kau memilih menjauh.
Kau mungkin telah beranjak dari banyak tempat, tetapi tidak dari musim yang kau tanam di dalam anila jiwaku.
Dan seseorang tidak pernah benar-benar kehilangan apa yang telah menyatu dengan langit batinnya.
/5/ Segalamu adalah Cuaca
Kini, sunyi membawaku pada sebuah muara yang teramat perih. Aku keliru membaca arah batin sendiri. Selama ini, getar di dadaku bukanlah cinta yang membebaskan, melainkan sebuah kepatuhan buta pada rentetan kalimat absurd yang menyandera jiwaku. Aku tidak sedang berjalan bersamamu; aku hanyalah budak yang menghamba di bawah bayang-bayang kuasamu
Aku menjadikan tawamu sebagai surya, menjadikan kecewamu sebagai gerhana, menjadikan kehadiranmu sebagai musim panen, dan kepergianmu sebagai kemarau yang panjang. Terlalu banyak ruang dalam diriku yang kuserahkan kepadamu, hingga aku lupa bahwa langit tidak pernah dimiliki oleh satu cuaca saja.
Lalu suatu hari aku menengadah.
Dan, untuk pertama kalinya, di balik sisa badai dan jejak cuaca buruk yang kau tinggalkan di kepalaku, aku melihat sekelebat saujana yang asing. Sebuah bentangan luas yang tak lagi berada dalam genggamanmu. Di luar batas kuasamu, aku masih memiliki cakrawala ku sendiri.
Barangkali mencintai bukan berarti menjadikan seseorang sebagai semesta. Barangkali mencintai adalah menerima bahwa setiap cuaca memiliki waktunya untuk datang dan pergi.
Namun hingga hari ini, jika ada yang bertanya mengapa aku begitu mudah mengenali rinai, angin, matahari, dan badai, aku hanya akan tersenyum.
Sebab pernah ada seseorang yang seluruh dirinya menjelma cuaca.
Dan hingga kini, setiap kali langit berubah, aku masih mengira itu adalah kabarmu.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya