SEPATU BOLONG DI BARISAN UPACARA
Namaku Andi. Kelas 6 SD.
Setiap Minggu malam, aku punya ritual yang sama. Mencuci sepatu hitamku satu-satunya. Sepatu yang sudah kutakai sejak kelas 4. Kulitnya sudah retak-retak, warnanya pudar, dan di ujung jempol kanan ada lubang seukuran kelereng. Kalau hujan, air masuk dari situ. Kalau panas, debu masuk.
Ibu bilang, "Tahan dulu ya, Ndik. Bapak belum dapat borongan lagi."
Bapak biasanya jadi buruh bangunan. Dua bulan ini tidak ada panggilan. Semenjak proyek perumahan di ujung kampung selesai.
Senin pagi adalah hari yang paling kutakuti. Bukan karena upacara, tapi karena barisan. Barisan paling depan adalah tempat guru piket berkeliling memeriksa kelengkapan. Topi, dasi, kaos kaki putih, dan sepatu hitam.
"Andi, maju!"
Bu Ratna menunjukku. Semua mata melihat ke bawah. Ke sepatuku yang bolong itu. Aku mencoba menutupinya dengan kaki kiri, tapi Bu Ratna sudah melihat.
"Kenapa sepatumu begini? Kamu tidak menghormati upacara? Di mana disiplinmu?"
Aku diam. Ingin kujawab, tapi lidahku kelu. Apa harus kujawab kalau uang sepatu sudah dipakai untuk menebus LKS yang harganya seratus dua puluh ribu? Apa harus kuceritakan kalau kemarin Ibu tidak makan siang karena uangnya dipakai untuk fotokopi tugas?
"Kamu saya catat. Besok harus ganti. Kalau tidak, tidak boleh ikut pelajaran pertama."
Teman-teman di belakang menahan tawa. Rian, teman sebangkuku, menatapku kasihan.
Pelajaran pertama hari itu adalah Matematika. Aku suka Matematika. Tapi hari itu aku tidak bisa masuk. Aku duduk di perpustakaan sendirian, melihat dari jendela teman-temanku mencatat rumus. Rasanya seperti dihukum karena miskin.
Ini bukan pertama kalinya. Bulan lalu, Siti teman kelasku tidak boleh ikut foto ijazah karena jilbabnya sudah terlalu pendek dan berbulu. Padahal jilbab itu satu-satunya. Minggu lalu, Bagas dipanggil ke ruang guru karena belum bayar uang perpisahan kelas 6. Uangnya lima ratus ribu. Bapak Bagas hanya tukang ojek.
Aku mulai mengerti, sekolah kami punya seragam yang sama. Putih merah. Tapi di balik seragam itu, nasib kami berbeda-beda. Ada yang sepatunya baru setiap semester. Ada yang seperti aku, menambal sepatu dengan lem alteco.
Pulang sekolah, aku melepas sepatu itu di tepi sungai. Aku menangis. Bukan karena diejek, tapi karena lelah.
Bapak menghampiriku. Ia melihat sepatu bolong itu.
"Bapak minta maaf, Ndik."
"Bukan salah Bapak," kataku.
Bapak mengambil sepatu itu. Ia tidak membuangnya. Ia membawanya ke bengkel las di dekat rumah. Di sana, ia meminta sepotong kulit bekas jok motor. Dengan tangannya yang kasar, ia menjahit, mengelem, dan menutup lubang itu. Tidak rapi, tapi tertutup.
"Besok pakai ini dulu. Bapak sudah dapat panggilan kerja mulai Kamis. Minggu depan kita beli yang baru, ya? Yang asli, bukan KW."
Aku memeluk Bapak.
Selasa pagi, aku datang dengan sepatu yang sama, tapi lubangnya sudah tertambal kulit jok motor warna hitam. Teman-teman melihat lagi. Tapi kali ini Rian berkata, "Keren, Di. Kayak sepatu custom."
Bu Ratna lewat. Ia melihat sepatuku. Ia berhenti. Ia melihat jahitan yang tidak rapi itu.
Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengangguk pelan.
Siang itu, saat pulang, ada panggilan dari ruang guru. Aku takut. Kupikir akan dimarahi lagi.
Ternyata Bu Ratna memberiku sebuah kardus. Di dalamnya ada sepatu hitam baru. Ukuran 36, ukuran kakiku. Masih ada label harganya.
"Ini dari koperasi sekolah. Ada program sepatu untuk siswa yang membutuhkan. Ibu baru ingat kemarin. Maaf, ibu tidak tahu cerita sepatumu," kata Bu Ratna. Matanya berkaca-kaca.
Aku ingin menolak, tapi Ibu guru memaksa.
"Pakai. Belajar yang rajin. Sepatu bolong itu jangan dibuang. Simpan. Biar kamu ingat, suatu hari nanti kalau kamu jadi orang sukses, jangan lupa ada temanmu yang masih pakai sepatu bolong."
Aku membawa pulang sepatu baru itu. Di rumah, Ibu menangis. Bukan karena sedih, tapi haru.
Malam itu, aku meletakkan dua sepatu di depan lemari. Satu sepatu baru yang mengkilap, dan satu sepatu lama yang bolong tapi sudah ditambal cinta Bapak.
Aku baru sadar, sisi gelap pendidikan itu bukan hanya tentang gedung yang bocor atau buku yang mahal. Sisi gelap itu adalah ketika kita menilai disiplin dari mengkilapnya sepatu, bukan dari semangatnya anak yang datang ke sekolah meski sepatunya bolong.
Dan sejak hari itu, aku berjanji. Sepatu baruku bukan untuk gaya. Tapi untuk berlari lebih cepat mengejar cita-cita, agar nanti tidak ada lagi Andi-Andi lain yang har
us duduk di perpustakaan hanya karena sepatunya bolong.
Aku masih ingat hari pertama sepatu itu bolong. Saat itu hujan deras. Aku berlari dari gerbang ke kelas dan terpleset di genangan. Sol sepatu kananku terlepas setengah. Aku mencoba merekatkannya dengan lem kertas yang ada di kelas, tapi tidak berhasil. Sejak hari itu lubang itu semakin besar.
Ibu sebenarnya sudah berusaha. Ia membawa sepatu itu ke tukang sol di pasar. Tukang sol bilang jahitannya sudah tidak bisa, kulitnya sudah mati. Harus beli baru. Harga sepatu baru di pasar seratus tujuh puluh lima ribu. Uang sebesar itu bagi kami bisa untuk beras dua minggu.
Di sekolah, aku bukan satu-satunya. Aku mulai memperhatikan. Ada Tono yang kaos kakinya selalu turun karena karetnya sudah longgar. Ada Lina yang tasnya dijahit pakai benang wol warna warni. Kami semua sama, berusaha terlihat sama meski keadaan kami tidak sama.
Puncaknya saat upacara kemerdekaan 17 Agustus. Semua siswa wajib pakai sepatu hitam mengkilap. Aku panik. Sepatuku bolong. Aku mencoba menutup lubang dengan spidol hitam, agar dari jauh tidak terlihat. Tapi saat baris berbaris, lumpur masuk dan spidol itu luntur, kakiku hitam semua.
Setelah upacara, Bu Ratna memanggilku bukan untuk memarahi. Ia bertanya pelan, "Andi, sepatumu kenapa?" Baru kali itu aku bercerita. Tentang Bapak yang menganggur, tentang LKS, tentang Ibu yang menahan lapar.
Bu Ratna terdiam lama.Keesokan harinya, saat aku datang dengan sepatu tambalan kulit jok motor buatan Bapak. Bapak semalaman menjahit sepatuku dengan kulit bekas jok motor hitam yang ia minta dari bengkel las dekat rumah. Jaitannya tidak rapi, tapi kuat dan lubangnya tertutup. Rian melihat dan berkata, "Keren, Di. Kayak sepatu custom limited edition."
Siang itu, saat jam istirahat kedua, ada panggilan dari ruang guru. Aku takut. Kupikir akan dimarahi lagi soal sepatu.
Ternyata Bu Ratna memberiku sebuah kardus coklat. Di dalamnya ada sepatu hitam baru. Ukuran 36, ukuran kakiku persis. Masih ada label harganya dan masih wangi toko. Mereknya sederhana, tapi baru.
"Ini dari koperasi sekolah. Ada program sepatu untuk siswa yang membutuhkan. Sebenarnya sudah ada lama, tapi Ibu baru ingat kemarin. Maaf ya, Andi. Ibu tidak tahu cerita sepatumu. Ibu hanya melihat dari luarnya saja kemarin," kata Bu Ratna. Matanya berkaca-kaca menahan haru.
Aku ingin menolak karena malu, tapi Bu Ratna memaksa. "Pakai. Belajar yang rajin. Sepatu bolong itu jangan dibuang. Simpan. Biar kamu ingat, suatu hari nanti kalau kamu jadi orang sukses, jangan lupa ada temanmu yang masih pakai sepatu bolong."
Aku membawa pulang sepatu baru itu dengan berlari. Di rumah, Ibu menangis. Bukan karena sedih, tapi haru dan lega. Bapak mengelus kepalaku. "Alhamdulillah."
Malam itu, aku meletakkan dua sepatu di depan lemari kayu kami yang sudah lapuk. Satu sepatu baru yang mengkilap, dan satu sepatu lama yang bolong tapi sudah ditambal cinta Bapak dengan kulit jok motor. Dua-duanya adalah sepatuku.
Aku baru sadar, sisi gelap pendidikan itu bukan hanya tentang gedung yang bocor atau buku yang mahal atau pungutan yang tidak jelas. Sisi gelap itu adalah ketika kita menilai disiplin dan hormat hanya dari mengkilapnya sepatu, bukan dari semangatnya anak yang tetap datang ke sekolah meski sepatunya bolong dan hatinya malu.
Dan sejak hari itu, aku berjanji dalam hati. Sepatu baruku bukan untuk gaya atau pamer. Tapi untuk berlari lebih cepat mengejar cita-cita. Agar nanti, ketika aku besar, tidak ada lagi Andi-Andi lain yang harus duduk di perpustakaan sendirian hanya karena sepatunya bolong.
Padahal sepatu itu bukan sekadar alas kaki bagiku. Sepatu itu adalah saksi bisu perjuanganku. Dengan sepatu bolong itu aku pernah juara 2 lomba cerdas cermat tingkat kecamatan. Dengan sepatu itu aku pernah mewakili sekolah untuk lomba pidato. Sepatuku bolong, tapi prestasiku tidak bolong.
Aku ingat pesan Ibu. Ibu selalu bilang, "Sekolah itu bukan soal sepatu baru, Ndik. Tapi soal ilmu. Sepatu bisa bolong, tapi semangat jangan sampai bolong juga." Kata-kata itu yang selalu membuatku kuat setiap kali diejek teman.
Bapak juga pernah bilang sambil menjahit sepatuku, "Bapak mungkin belum bisa belikan kamu sepatu baru sekarang, tapi Bapak bisa ajarkan kamu cara menambal sepatu agar bisa dipakai lagi. Hidup itu begitu, kalau ada yang bolong, jangan dibuang, ditambal, diperbaiki, dipakai lagi sampai benar-benar tidak bisa dipakai."
Sejak kejadian Bu Ratna memberiku sepatu baru, pandanganku tentang guru berubah. Ternyata tidak semua guru menilai dari luar saja. Ada guru seperti Bu Ratna yang mau mendengarkan dulu cerita di balik sepatu bolong itu. Guru yang mengerti bahwa pendidikan sejati adalah memanusiakan manusia, bukan sekadar menuntut kelengkapan seragam.
Hari ini, ketika aku melihat adik kelasku ada yang sepatunya juga mulai robek, aku tidak menertawakannya. Aku menghampirinya dan berkata, "Tidak apa-apa, sepatuku dulu juga begitu." Karena aku tahu, di balik sepatu bolong itu ada cerita perjuangan yang tidak semua orang tahu.
Kini setiap aku memakai sepatu baru itu, aku selalu ingat sepatu bolong tambalan kulit jok motor itu. Kusimpan di bawah tempat tidur, tidak kubuang. Karena sepatu bolong itu yang mengajarkanku arti perjuangan.
Aku berjanji akan menjaga sepatu baru ini dengan baik, belajar lebih rajin, dan kelak membantu teman-teman lain yang sepatunya bolong agar mereka tidak malu lagi.
Kesimpulan:
Akhirnya aku mengerti. Sepatu bolong itu bukan aib. Itu adalah tanda bahwa aku tidak menyerah pada keadaan. Guru yang baik tidak dilihat dari sepatu muridnya yang mengkilap, tapi dari hati yang mau mengerti. Dan pendidikan yang sebenarnya bukan tentang menghukum yang tidak mampu, tapi tentang membantu mereka agar bisa berjalan lebih jauh. Sepatuku dulu bolong, sekarang tidak lagi, tapi semangatku tidak akan pernah bolong.
[TAMAT]
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya