Namanya Pan, tapi semua orang, dari satpam sekolah sampai tukang cilok langganan, memanggilnya PanPan. Umurnya dua belas tahun, murid kelas 7C di salah satu SMP negeri di Kota Batam. Kalau ditanya siapa anak paling manis seangkatan, jawabannya mungkin variatif. Tapi kalau ditanya siapa yang rambutnya paling rapi dengan poni lurus menutupi dahi, kacamata bulat sedikit melorot, dan nilai rapor yang selalu nangkring di posisi pertama, jawabannya cuma satu: PanPan.
Di luar urusan akademik, PanPan juga jago menari. Tari Zapin, tari Persembahan, apa saja yang berbau tradisional Melayu, badannya seperti sudah hafal di luar kepala. Guru kesenian sering bilang, "PanPan ini kalau nari, matanya hidup." Tapi ada satu hal yang membuat mata PanPan mendadak redup setiap kali menunduk ke bawah: sepatunya.
Siang itu, selepas pelajaran olahraga lari pendek, PanPan duduk di pinggir lapangan sambil mengatur napas. Ia baru saja lari 50 meter dengan sekuat tenaga, berharap bisa mencatat waktu terbaik seperti biasanya. Tapi begitu ia menoleh ke bawah, matanya menangkap sesuatu yang bikin jantungnya melorot ke telapak kaki: ujung sepatu kirinya menganga. Bagian solnya terkelupas, seperti mulut yang lagi menguap lebar-lebar, pura-pura tidak peduli dengan pemiliknya yang mendadak panik.
"PanPan, sepatu lo kenapa? Kayak abis digigit buaya," celetuk Rian, teman sekelasnya, sambil terkekeh.
PanPan cuma nyengir kecut. "Lagi belajar bernapas, Rian. Sepatu juga butuh oksigen kali."
Teman-temannya tertawa, tapi PanPan tahu itu bukan tawa yang menyenangkan untuknya. Ia cepat-cepat duduk, menyilangkan kaki supaya bagian yang bolong tidak terlalu kelihatan, seolah itu bisa menyembunyikan masalah yang sebenarnya sudah dia bawa berminggu-minggu.
Bel pulang sekolah berbunyi. Matahari Batam siang itu benar-benar tidak berbelas kasihan, terik, menyengat, membuat aspal jalanan seperti wajan yang baru diangkat dari kompor. PanPan berjalan kaki pulang karena ongkos angkot hari itu sudah ia tabung untuk keperluan lain (baca: tidak ada). Setiap langkah, telapak kakinya yang bagian kiri terasa hangat, lalu panas, lalu seperti diinjak setrika mini yang menyala terus-menerus lewat lubang di sepatunya. Ia berjalan agak pincang, mencoba menumpukan berat badan ke kaki kanan, sambil dalam hati bergumam, "Enak juga ya jadi orang kaya, kakinya nggak pernah kenal rasanya aspal Batam bulan Juli."
Kalau hujan turun, ceritanya lain lagi tapi sama menyebalkannya. Air hujan dengan senang hati masuk lewat sol yang terbuka, membuat kaus kaki PanPan basah kuyup, lengket, dan berbunyi "cplok-cplok" setiap kali ia melangkah. Kadang ia berpikir, mungkin sepatunya ini punya cita-cita jadi kolam renang mini portable.
Sampai di rumah, PanPan langsung mencari ibunya yang sedang mencuci baju di belakang.
"Bu, sepatu PanPan udah bolong. Kalau jalan sakit, kena aspal panas. Kalau hujan, becek dari dalam," katanya, suaranya setengah merengek, setengah berharap.
Ibunya, tanpa menoleh dari cucian, menjawab kalimat yang sudah PanPan hafal luar kepala, "Minta sama bapakmu sana."
Itu jawaban yang selalu sama, seolah sudah direkam dan diputar ulang setiap kali PanPan butuh sesuatu. Minta sama bapakmu. Padahal PanPan tahu betul, bapaknya bukan sosok yang bisa dimintai apa-apa dengan tenang.
Ayah PanPan bekerja serabutan sebagai pemulung, kadang mengumpulkan barang bekas dari pagi sampai sore, kadang cuma pulang dengan tangan kosong dan wajah kusut. Penghasilannya tidak menentu, kadang cukup untuk beli beras, kadang habis untuk hal-hal yang PanPan sendiri tidak berani tanya. Yang lebih membuat PanPan waswas, ayahnya gampang naik darah. Kalau lagi capek atau hasil pulungan sepi, tangannya bisa lebih cepat bergerak daripada mulutnya berbicara baik-baik.
Sore itu, PanPan duduk di teras, menunggu ayahnya pulang dengan perasaan campur aduk—antara berharap dan takut. Ia sudah menyiapkan kalimat di kepala, disusun rapi seperti sedang presentasi di depan kelas: "Pak, sepatu PanPan udah bolong, buat sekolah susah, buat lari juga susah..."
Tapi begitu ayahnya muncul dari ujung gang dengan gerobak kosong dan wajah lelah bercampur kesal, PanPan menelan lagi semua kalimat itu. Ia tahu, hari ini bukan hari yang tepat.
Malam itu, diam-diam, PanPan mengambil uang recehan sisa jajan yang ia sembunyikan di dalam buku tulis, hasil menyisihkan sedikit demi sedikit, meski sebenarnya ia jarang sekali dikasih uang saku oleh ibunya. Rumahnya memang bukan rumah yang berkelimpahan; kadang untuk makan sehari-hari saja harus diatur sedemikian rupa. Dengan recehan itu, PanPan berjalan ke wartel dekat rumah, salah satu dari sedikit wartel yang masih bertahan di tengah gempuran telepon genggam.
"Halo, Tante? Ini PanPan," suaranya pelan, setengah berbisik, seperti sedang melakukan operasi rahasia negara. "Tante, sepatu PanPan udah bolong. PanPan... PanPan nggak enak mau minta lagi, tapi..."
Di seberang telepon, suara tantenya dari Surabaya terdengar hangat, "Nak, kenapa nggak bilang dari kemarin-kemarin? Tante kirim ya besok."
PanPan pulang dari wartel dengan hati yang berbunga-bunga, meski kakinya masih pegal dan sepatunya masih bolong. Malam itu ia tidur dengan doa sederhana: "Tuhan, makasih ya, Tante udah mau bantu. Semoga beneran dikirim."
Keesokan paginya, ponsel butut milik tetangga yang biasa dipakai bergantian berbunyi—sebuah SMS masuk. PanPan yang kebetulan lagi di situ langsung membaca dengan mata berbinar: "PanPan, Tante udah transfer 150 ribu ya, buat beli sepatu. Rajin belajar, sayang Tante di Batam."
PanPan langsung melompat-lompat di tempat, sampai ibunya yang sedang menjemur pakaian menoleh heran. "Kenapa lompat-lompat kayak baru menang lomba lari?"
"Bu! Tante di Surabaya kirim uang! Buat beli sepatu!" teriak PanPan, saking senangnya sampai lupa kalau tetangganya sedang memandang dengan tatapan setengah bingung setengah geli.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, PanPan tersenyum lebar tanpa perlu berpura-pura.
Sepulang sekolah hari itu, PanPan mengajak dua temannya dari kelas 7C, Dinda dan Alya, untuk ikut ke Mall Nagoya. Bukan cuma untuk cari sepatu, tapi juga—kata PanPan sambil terkekeh—"biar sekalian healing, walaupun budgetnya cuma seratus lima puluh ribu."
Di toko sepatu, PanPan mencoba beberapa pasang dengan wajah serius seperti sedang memilih gaun pernikahan. Akhirnya ia menjatuhkan pilihan pada sepatu kets putih sederhana, pas di kaki, dan yang paling penting: solnya masih menyatu dengan rapat, tidak ada tanda-tanda mau menguap seperti sepatu lamanya.
"Akhirnya kaki gue nggak akan kenalan lagi sama aspal," gumam PanPan sambil memeluk kotak sepatu barunya erat-erat, seolah itu adalah piala juara umum.
Karena masih ada sisa uang, PanPan mentraktir Dinda dan Alya es krim di food court, cerita-cerita sambil ketawa-ketawa soal guru olahraga yang suka teriak "AYO SEMANGAT!" padahal sendirinya cuma duduk di pinggir lapangan. Lalu ketiganya mampir makan siang di KFC. Momen mewah yang buat PanPan rasanya seperti makan di restoran bintang lima, walau sebenarnya cuma paket ayam dan nasi biasa.
Sore harinya, mereka pulang naik angkot bertiga, duduk berdesakan sambil menenteng kotak sepatu baru yang PanPan pegang erat-erat di pangkuannya, seolah takut kalau dilepas sedetik saja, sepatu itu akan menghilang seperti mimpi.
Malam itu, sebelum tidur, PanPan menatap sepatu barunya yang berjejer rapi di dekat pintu kamar. Ia teringat semua hal yang sudah dilewatinya. Tawa teman-teman yang menertawakan sepatunya, telapak kaki yang melepuh kena aspal, kaus kaki basah karena hujan yang masuk lewat sol yang bolong, juga jawaban ibunya yang selalu sama setiap kali ia butuh sesuatu.
Tapi malam itu, semua rasanya terbayar. Bukan karena sepatu barunya mahal atau mewah—sepatu itu biasa saja, harganya juga pas-pasan. Tapi karena PanPan belajar satu hal penting: ketika ia merasa tidak ada jalan lagi, ketika orang-orang terdekat tidak bisa diandalkan, ternyata masih ada pintu lain yang terbuka, lewat doa yang sederhana, lewat keberanian untuk meminta tolong, dan lewat orang-orang baik yang Tuhan kirimkan di saat yang tepat.
PanPan memejamkan mata malam itu dengan hati yang lega. Tidak ada yang benar-benar mustahil, pikirnya, selama kita mau berserah dan berani meminta pertolongan, baik kepada manusia, maupun kepada Tuhan yang selalu punya cara sendiri untuk menjawab doa anak-anak kecil sepertinya.
Bionarasi Penulis
Putu Dewi Parasetia adalah seorang penulis lepas yang berdomisili di Surabaya. Ia menaruh perhatian besar pada kisah-kisah keseharian yang sering luput dari sorotan, terutama tentang anak-anak yang tumbuh di tengah keterbatasan namun tetap menyimpan harapan. Melalui cerpen "Sepatu Bolong", ia ingin mengajak pembaca menengok kembali makna kesederhanaan, ketabahan, dan keyakinan bahwa pertolongan selalu punya jalannya sendiri untuk datang. Bagi Dewi, menulis adalah caranya merayakan hal-hal kecil yang ternyata menyimpan makna besar.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya