Sepatu yang Tak Pernah Sampai Sekolah

100%

Sepatu yang Tak Pernah Sampai Sekolah

Rafi selalu percaya bahwa sekolah adalah tempat orang-orang menemukan masa depan.

Setiap pagi, ia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung miring di dinding kamar kontrakannya. Ia merapikan seragam putih abu-abu yang sudah beberapa kali ditambal. Kerahnya mulai menguning. Bagian sikunya menipis. Tetapi Rafi selalu berusaha membuatnya tampak rapi.

Bukan karena ia ingin terlihat hebat.

Ia hanya tidak ingin ada yang tahu bahwa seragam itu adalah satu-satunya seragam yang ia punya.

Rafi tinggal sendirian sejak kelas dua SMP. Ayah dan ibunya meninggal dalam waktu yang tidak terlalu jauh. Tidak ada saudara yang bisa menampungnya. Tidak ada rumah keluarga yang bisa ia datangi ketika uangnya habis.

Satu-satunya peninggalan orang tuanya hanyalah sebuah rumah kecil yang kemudian terpaksa dijual untuk membayar utang dan biaya hidup.

Sejak saat itu, Rafi belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah:

bahwa menjadi anak yatim bukan hanya berarti kehilangan orang tua.

Kadang-kadang, itu juga berarti kehilangan kesempatan.




Pagi itu, Rafi berangkat sekolah dengan berjalan kaki.

Jaraknya hampir lima kilometer.

Sepatu hitam yang ia kenakan sudah terbuka di bagian depan. Setiap kali menginjak jalan yang basah, air masuk ke dalamnya. Ia pernah mencoba memperbaikinya dengan lem, tetapi lem murah itu hanya bertahan tiga hari.

Di depan gerbang sekolah, Rafi berhenti sebentar.

Ia melihat teman-temannya turun dari motor, diantar orang tua, atau keluar dari mobil.

Ia kemudian melihat sepatunya sendiri.

"Yang penting masih bisa dipakai," gumamnya.

Lalu ia masuk.

Di kelas, guru matematika sedang menjelaskan tentang persamaan kuadrat.

Rafi duduk di bangku paling belakang.

Ia berusaha mencatat.

Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di kelas.

Di dalam tasnya hanya ada satu buku tulis. Uang sakunya hari itu tinggal dua ribu rupiah.

Dua ribu rupiah harus cukup untuk makan.

Kalau tidak cukup, ia bisa menahan lapar.

Yang tidak bisa ia tahan adalah biaya sekolah.

"Rafi."

Suara guru membuatnya tersentak.

"Iya, Bu?"

"Uang kegiatan sekolah kamu belum dibayar."

Seluruh kelas mendadak terasa lebih sunyi.

Rafi menundukkan kepala.

"Besok, Bu."

"Besok lagi, besok lagi. Sudah berapa kali Ibu bilang?"

Rafi diam.

"Kalau memang tidak mampu, jangan cuma diam. Orang tua kamu bisa datang ke sekolah."

Beberapa anak menoleh kepadanya.

Rafi menggigit bibir.

"Ibu saya sudah meninggal, Bu."

Kelas kembali sunyi.

Guru itu terdiam beberapa detik.

Tetapi kemudian hanya berkata,

"Pokoknya minggu ini harus diselesaikan."

Rafi mengangguk.

"Baik, Bu."

Ia kembali menatap buku.

Di halaman yang sama, ia menulis satu kalimat kecil:

Aku akan tetap sekolah.




Sore harinya, Rafi tidak langsung pulang.

Ia bekerja di sebuah warung makan dekat pasar. Membersihkan meja, mengangkat galon, mencuci piring, dan membuang sampah.

Upahnya tidak banyak.

Tetapi dari sanalah ia membayar makan, listrik, dan kebutuhan sekolah.

Pemilik warung kadang memberinya makanan sisa.

Rafi tidak pernah mengeluh.

Baginya, makanan yang masih bisa dimakan tetap merupakan makanan.

Malam itu, setelah bekerja, ia membuka buku pelajaran di kamar.

Lampu kamarnya berkedip-kedip.

Rafi menguap.

Matanya berat.

Tetapi besok ada ulangan.

Ia terus membaca.

Sampai akhirnya ia tertidur dengan kepala di atas buku.




Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan program beasiswa.

Rafi merasa memiliki harapan.

Ia memenuhi semua persyaratan.

Nilainya bagus.

Kehadirannya hampir sempurna.

Ia bahkan memenangkan lomba menulis tingkat sekolah.

Rafi mengumpulkan semua dokumen dan menyerahkannya.

"Bu, saya boleh ikut beasiswa ini?"

Petugas administrasi melihat berkasnya.

"Surat keterangan penghasilan orang tua mana?"

Rafi terdiam.

"Saya tidak punya orang tua."

"Ya, tapi harus ada wali."

"Saya tinggal sendiri."

Petugas itu menghela napas.

"Kalau begitu, harus ada surat keterangan dari kelurahan. Terus surat kematian orang tua. Kartu keluarga. Dan dokumen lainnya."

Rafi mengangguk.

"Baik, Bu."

Ia pulang dan mengurus semuanya.

Satu dokumen.

Dua dokumen.

Tiga dokumen.

Ia bolak-balik ke kantor kelurahan, sekolah, dan tempat fotokopi.

Uang yang seharusnya digunakan untuk makan habis untuk mencetak dan mengurus dokumen.

Namun akhirnya berkasnya lengkap.

Ia menyerahkannya lagi.

Rafi menunggu.

Seminggu.

Dua minggu.

Sebulan.

Kemudian pengumuman keluar.

Namanya tidak ada.

Beasiswa itu diberikan kepada siswa lain.

Rafi membaca daftar tersebut berkali-kali.

Ia mencari namanya sampai baris terakhir.

Tidak ada.

"Kenapa?" tanyanya kepada seorang guru.

"Kuotanya terbatas."

"Tapi nilai saya..."

"Iya, Rafi. Kamu bagus."

"Terus kenapa saya tidak dapat?"

Guru itu diam sebentar.

"Kamu harus mengerti. Ada banyak pertimbangan."

Rafi mengangguk.

Ia tidak bertanya lagi.

Di luar ruangan, ia duduk di tangga sekolah.

Untuk pertama kalinya, ia merasa sekolah bukan lagi tempat yang membawanya menuju masa depan.

Sekolah terasa seperti sebuah pintu.

Dan ia tidak memiliki kunci untuk membukanya.




Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat.

Rafi mulai sering terlambat.

Bukan karena malas.

Ia harus bekerja lebih lama karena uangnya semakin sedikit.

Suatu pagi, ia datang lima belas menit setelah bel berbunyi.

Guru piket menghentikannya.

"Kenapa terlambat?"

"Kerja, Pak."

"Kerja apa?"

"Di warung."

"Kalau mau sekolah ya sekolah. Jangan menjadikan pekerjaan alasan."

Rafi menunduk.

"Iya, Pak."

Ia berjalan ke kelas.

Di sana, ia mendapati seorang teman sedang mempresentasikan tugas kelompok.

"Rafi, bagian kamu mana?"

Rafi terdiam.

Ia lupa mengerjakannya.

Semalam ia bekerja sampai hampir tengah malam.

"Maaf."

Temannya menghela napas.

"Kalau memang tidak bisa ikut kerja kelompok, bilang dari awal."

Rafi hanya mengangguk.

Hari itu ia mendapat nilai nol.

Bukan karena ia tidak mampu.

Ia hanya tidak memiliki waktu yang sama dengan anak-anak lainnya.

Dan di situlah Rafi mulai memahami sesuatu.

Di sekolah, semua orang dinilai dengan ukuran yang sama.

Tetapi tidak semua orang memulai dari garis yang sama.




Suatu malam, Rafi pulang dengan membawa sepasang sepatu baru.

Bukan sepatu mahal.

Hanya sepatu hitam sederhana yang ia beli dari hasil menabung selama berbulan-bulan.

Ia meletakkannya di samping tempat tidur.

Sepatu lamanya ia pandangi cukup lama.

Bagian depannya sudah terbuka.

Solnya hampir terlepas.

Namun sepatu itu telah membawanya berjalan ribuan kilometer.

Ke sekolah.

Ke pasar.

Ke tempat kerja.

Ke rumah sakit ketika ibunya sakit.

Ke pemakaman ayahnya.

Dan kembali ke sekolah setelah semuanya selesai.

Rafi mengambil sepatu itu.

Ia memegangnya erat.

Kemudian ia menangis.

Bukan karena sepatu itu rusak.

Tetapi karena ia sadar, selama ini ia memang tidak pernah meminta banyak.

Ia hanya ingin belajar.

Hanya ingin lulus.

Hanya ingin memiliki kesempatan yang sama.

Tetapi bahkan kesempatan sederhana itu terasa mahal bagi anak sebatang kara seperti dirinya.




Beberapa bulan kemudian, Rafi lulus.

Nilainya cukup baik.

Namanya tidak pernah masuk daftar siswa berprestasi.

Tidak pernah mendapat penghargaan.

Tidak pernah dipanggil ke atas panggung.

Tidak ada foto dirinya terpampang di dinding sekolah.

Namun pada hari kelulusan, Rafi berdiri di depan gerbang sekolah lebih lama dari biasanya.

Ia melihat bangunan itu.

Tempat yang pernah membuatnya bahagia.

Tempat yang pernah membuatnya malu.

Tempat yang pernah memberinya ilmu.

Dan tempat yang berkali-kali mengingatkannya bahwa kemiskinan dapat menjadi hukuman yang tidak tertulis.

Rafi lalu berjalan pulang.

Dengan sepatu barunya.

Sendirian.

Tidak ada ayah yang menunggu.

Tidak ada ibu yang memeluk.

Tidak ada keluarga yang mengadakan syukuran.

Tetapi untuk pertama kalinya, Rafi tersenyum.

Ia tidak tahu akan menjadi apa dirinya nanti.

Ia hanya tahu satu hal:

Ia berhasil sampai di garis akhir meskipun sejak awal tidak pernah diberi garis start yang sama.

Dan mungkin, itulah sisi gelap pendidikan yang sering tidak terlihat.

Bukan tentang sekolah yang tidak mengajarkan ilmu.

Bukan tentang guru yang tidak peduli.

Tetapi tentang sistem yang terkadang lupa bahwa di balik seragam yang sama, ada anak-anak yang membawa kehidupan yang sangat berbeda.

Ada yang datang ke sekolah setelah sarapan.

Ada yang datang setelah bekerja.

Ada yang membawa buku lengkap.

Ada yang hanya membawa harapan.

Ada yang pulang dijemput orang tua.

Dan ada yang pulang sendirian.

Seperti Rafi.

Dengan sepasang sepatu yang pernah bolong, tetapi tidak pernah menyerah membawanya menuju masa depan.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: