Kekesalan yang semula mendorong langkah cepatnya menuju kantin kini mulai mereda. Langkah Alya terasa berat, pikirannya masih kacau. Ia tiba-tiba berbelok, mengurungkan niatnya ke kantin, lalu memilih menuju kelas saja. Sepanjang perjalanan, pikirannya tenggelam dalam berbagai persoalan. Tatapannya kosong, langkahnya terus membawanya maju tanpa benar-benar menyadari ke mana ia sedang menuju.
Suara riang memanggil namanya, tetapi Alya sama sekali tidak menyadarinya. Pikirannya terlalu penuh dengan masalah pribadi hingga suara di sekitarnya seakan terdengar samar.
Saat Alya sedang berjalan, sebuah tepukan keras mendarat di bahu kirinya. Tubuhnya tersentak dan langkahnya terhenti. Tangan Alya refleks mencengkeram bagian ujung hijabnya. Ia menoleh dengan napas tercekat. Matanya langsung bertemu dengan sepasang mata hazel milik Harsa.
Tatapan Harsa seolah mengunci pandangannya. Kepala Alya mendadak terasa berat. Bayangan Ganendra yang kembali menghubunginya seketika merusak ketenangan yang baru saja berhasil ia kumpulkan. Napasnya memburu, sementara jemarinya masih menggenggam ujung hijabnya.
Ketika Alya berusaha menormalkan napas, Harsa segera bergerak. Tanpa banyak bicara, ia meraih siku Alya dengan lembut untuk menahan tubuhnya yang masih sedikit gemetar.
Sentuhan sigap Harsa dan caranya mencondongkan tubuh itu begitu mengingatkannya pada Ganendra—laki-laki yang telah merebut hatinya tiga tahun lalu. Laki-laki yang dahinya selalu berkerut cemas ketika Alya sakit atau ketika gadis itu memilih berjalan pergi darinya.
Kala itu, bel istirahat kedua telah berbunyi. Halaman sekolah yang luas seketika dipenuhi keramaian. Gelombang suara dan aroma bercampur menjadi satu: aroma gurih bakso dan manisnya es teh dari kantin, teriakan riang siswa yang berebut bola di lapangan rumput yang mulai menguning, serta riuh tawa yang terdengar dari bawah rindangnya pohon mangga.
Di teras lantai dua gedung utama, jauh dari keramaian itu, Alya duduk sendirian. Hijab putihnya masih tertata rapi, membingkai wajah yang tampak murung. Seragam putih-abu-abunya terlihat begitu rapi, tetapi pandangannya justru tertuju pada keramaian di bawah. Sesekali matanya mengikuti pergerakan siswa yang berlalu-lalang, seolah sedang menunggu sebuah jawaban yang tak kunjung datang.
Alya dikenal sebagai sosok yang selalu memancarkan ketenangan, tetapi pagi itu, ketenangan tersebut terasa begitu gusar. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan, sesekali meremas ujung lengan bajunya. Ada kegelisahan yang terus mengendap di dasar hatinya.
Sebuah kursi kayu tiba-tiba ditarik dengan bunyi berderit keras. Ganendra duduk di sebelahnya. Seragam putihnya dikeluarkan dari celana abu-abu, pakaian yang kusut dan rambut yang acak-acakan, sangat kontras dengan Alya yang serba rapi.
"Kamu nggak jajan, Alya?" tanya Ganendra. Suaranya pelan, sementara matanya mengikuti arah pandangan Alya ke bawah.
Alya menoleh sejenak. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis sebelum ia mengembuskan napas dan kembali menatap lurus ke depan. "Enggak, lagi mager."
Ganendra terkekeh pelan. "Mager apa nitip? Biasanya juga minta dibelikan es teh sama si Tika." Ia menoleh sekilas, seakan sudah hafal betul kebiasaan Alya.
"Nah, itu kamu tahu," balas Alya sambil menunjuk Ganendra. "Lalu, kamu sendiri, Gan? Nggak kumpul sama teman laki-laki di lapangan?"
Ganendra tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi, lalu mendongak menatap langit yang berawan tipis. Kedua tangannya bertumpu di sisi kursi.
"Nggak, lagi males juga," jawab Ganedra acuh.
"Idih, alasan," cibir Alya. Matanya menyipit penuh curiga. Ia tahu betul alasan di balik sikap acuh Ganendra. Laki-laki itu ingin menghabiskan waktu istirahat hanya berdua dengannya. Rutinitas kecil yang tak pernah mereka sepakati, tetapi selalu terjadi sejak kedekatan itu mulai terjalin.
Keduanya kembali tenggelam dalam pikirannya masing-masing sambil menikmati pemandangan dari lantai dua. Dari kejauhan, hamparan sawah hijau terbentang luas. Angin membawa aroma tanah basah dan kesegaran alam yang samar-samar sampai ke teras.
Alya termenung mencari kepastian yang ia butuhkan sekaligus berusaha menepis ketakutan akan perpisahan. Sementara Ganendra... jalan pikirannya selalu penuh teka-teki, untaian kata dan pikirannya begitu rumit, terkadang bisa Alya pahami, terkadang justru membuatnya semakin bingung. Semakin ia mencoba memahami laki-laki itu, semakin kuat pula daya tarik Ganendra.
Angin lembut menerpa wajah Alya. Helai kain hijabnya bergerak ringan tertiup angin. Suara gemerisik dedaunan di pohon bawah terdengar seperti musik latar yang syahdu. Duduk berdua di bawah langit yang sama—adalah momen berharga yang Alya yakini tak akan terulang setelah kelulusan tiba.
Tanpa sadar, jemarinya kembali meremas ujung hijabnya. Rasa sesak perlahan memenuhi ruang dadanya.
Ganendra menoleh, menatap mata Alya dengan penuh ketakutan. "Aku sedang berpikir. Nanti jika sudah lulus, aku akan meninggalkanmu dan kota Bogor ini. Kamu gimana?" tanyanyamberat.
Alya terdiam. Tatapannya terpaku pada halaman sekolah di bawah, seolah membutuhkan waktu untuk mencerna kalimat tersebut. Darahnya terasa berdesir dingin, tetapi ia segera berusaha menguasai diri. Sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya.
"Ah, nggak gimana-gimana. Itu kan hak kamu. Lagi pula, aku di sini baik-baik aja kok," jawab Alya santai.
Ganendra menghela napas panjang. Bahunya turun, seolah napas itu membawa keluar kecemasan yang telah dipendam berbulan-bulan.
"Aku bingung harus bagaimana. Kalau aku di Bogor, aku bisa menjagamu, tapi aku jauh dari Mama. Aku ingin dekat lagi sama Mama karena dari SD aku merantau di sini. Tapi, kalau aku di Bandung, aku memang dekat sama Mama. Tapi ..." Ia berhenti sejenak, menundukkan pandangan. "Aku khawatir sama kamu. Bagaimana hari-hari kamu di Bogor, tidak ada yang menjagamu."
"Kenapa harus mikirin aku, Ganen?" tanya Alya sedikit meninggi. Ia menoleh, menatap Ganendra dengan alis yang mengernyit. "Kenapa kamu merasa itu tugasmu untuk menjagaku? Aku masih ada kedua orang tuaku. Kamu tidak usah memikirkanku. Aku baik-baik saja di sini. Kalau di sisi Mama membuatmu tenang, aku sungguh tidak apa-apa."
"Kamu itu masih perlu dijaga," sanggah Ganendra. Nada suaranya berubah tegas dan keras kepala. Tatapannya tidak lepas sedikit pun dari Alya.
Alya menatapnya kesal. Pipinya mulai memanas, sementara matanya berkaca-kaca. Ia berkedip beberapa kali, menahan air mata yang mulai menggenang. "Aku tahu, Ganen. Tapi, aku juga sadar diri. Aku ini bukan siapa-siapa kamu yang harus kamu jaga."
"Tapi, aku sayang sama kamu," bisik Ganendra. Tatapannya melembut, tetapi kesedihan dan ketakutan akan masa depan masih jelas tertinggal di sana.
"Aku tahu, Ganen. Berkali-kali kamu bilang seperti itu dan berkali-kali pula aku selalu meminta kepastian kedekatan kita ini." Alya menatapnya lurus. Kali ini ia tidak menghindar. Tatapannya seolah menuntut jawaban, memaksa Ganendra menghadapi kebimbangan yang selama ini selalu ia hindari.
Ganendra menghindari tatapannya. Kepalanya menunduk, sementara jari-jarinya memainkan pinggiran celana yang kusut. "Aku tidak mau. Jika nantinya aku gagal menjagamu, aku akan dikenang sebagai mantan. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang istimewa tanpa harus ada label mantan dalam kedekatan kita."
Alya mendengus kesal. Kepalanya menggeleng kecil. Ia lelah. Ia paham maksud Ganendra, tetapi ia juga membutuhkan kejelasan, membutuhkan arah. Hubungan yang terombang-ambing seperti ini justru semakin menyiksanya. Ini adalah kali ketiga ia bertanya, dan kali ketiga pula ia menerima jawaban yang sama gamblangnya, tetapi tetap tidak mampu memberinya kepuasan.
Dengan raut wajah yang bercampur antara sedih, kesal, dan kecewa, Alya bangkit berdiri. Gerakannya cepat dan tegas hingga kursi kayu di belakangnya sedikit bergeser dan berderit.
Ia tidak tahan lagi.
Tepat ketika Alya membalikkan badan, tangan Ganendra bergerak cepat meraih pergelangan tangannya. Jemari laki-laki itu menggenggamnya, menahan langkah Alya.
Genggaman itu terasa hangat, menghadirkan sensasi yang begitu akrab hingga membuat langkah Alya tertahan. Namun kali ini, ia tidak ingin kembali luluh.
Alya tidak menoleh. Napasnya tertahan. Ia hanya berdiri diam, menunggu.
Ganendra beranjak dari kursinya. Tubuhnya mencondong ke arah Alya hingga gadis itu akhirnya terpaksa mengangkat wajah. Pandangan mereka bertemu. Sorot mata Ganendra yang semula penuh ketakutan kini berubah lembut, tetapi rasa sakit masih terlihat jelas di sana.
"Tunggu, Alya," bisik Ganendra.
Alya menggeleng. "Lepas, Ganen. Aku capek."
Tangannya ditarik kuat-kuat hingga terlepas dari genggaman Ganendra. Tanpa berkata-kata lagi, Alya melangkah pergi menuju kantin dengan langkah cepat. Kali ini ia memilih menjauh dari Ganendra yang selalu menyimpan segalanya sendirian dan tidak pernah memberinya kejelasan.
Alya tersentak. Kesadarannya kembali ditarik ke masa kini. Perasaan kesal dan kecewa yang tersisa dari tiga tahun lalu seketika memudar, digantikan oleh kesadaran akan genggaman kuat di sikunya.
Ia menunduk. Harsa berdiri di hadapannya dengan tatapan khawatir, seolah Alya baru saja melamun sangat lama.
"De," seru suara itu sedikit lebih keras, dengan nada riang yang tak juga hilang.
"Woy, De!" Panggilan kedua terdengar lebih mendesak, seolah baru kali ini berhasil menembus pikirannya.
“Ya Allah, Abang! Kaget aku,” sungut Alya. Napasnya masih tercekat ketika ia berusaha menormalkannya. Tangannya kemudian bergerak melepaskan pegangan Harsa dari sikunya.
"Lagian dari tadi dipanggil nggak nyaut," ujar Arka. Ia sedikit membungkuk untuk melihat wajah Alya lebih jelas. "Lagi mikirin apa emang?"
Alya menggeleng. "Hmm, nggak, Bang Arka. Cuma tiba-tiba bengong aja." Ia mengalihkan pandangan sambil merapikan ujung hijabnya.
Harsa tertawa tipis, lalu mencondongkan badan ke arah Alya. "Lagi mikirin laki-laki itu kali," godanya.
Alya segera menepuk pundak Harsa pelan. Matanya melirik Arka dengan was-was. "Bang Harsa!" serunya kecil, seolah memperingatkan sekaligus memohon agar Harsa berhenti bicara.
Arka yang mendengar itu langsung menoleh. Tatapannya jatuh tepat pada Alya, tajam dan menusuk. Melihat sorot penuh penghakiman tersebut, Alya refleks memundurkan langkahnya.
"Ngapain sih harus mikirin dia lagi," desah Arka frustasi. Ia menggelengkan kepala dengan jengkel, lalu berdecak pelan.
Alya membalas tatapan itu, sambil mengangkat dagunya. "Dikira move on gampang?" lirihnya kesal.
Arka yang sudah seperti abang kandungnya sendiri, beranjak dari posisinya dan berdiri di hadapan Alya. Kedua tangannya bertolak pinggang dan wajahnya berubah serius. "De, laki-laki yang baik, yang menerima kamu apa adanya dan suka sama kamu itu banyak. Bukan dia aja. Rugi banget selama tiga tahun ini kamu belum move on sama dia," ceramahnya dengan raut wajah kesal.
"Aku tahu, Bang. Aku tahu." Suara Alya tercekat. Pandangannya turun ke tangannya sendiri. Ia menggosok-gosok ujung jemarinya. "Tapi, laki-laki yang mengerti dan paham tentang aku itu cuma dia. Aku belum nemu laki-laki yang lebih dari dia, Bang Arka."
"Kamu hanya belum menemukannya," sela Harsa. Suaranya menenangkan. Ia mengangkat tangan dan meletakkannya di bahu Alya dengan lembut. "Suatu saat nanti, akan ada seseorang yang menerima segala kekurangan dan egomu, yang menerima tanpa harus melepaskanmu. Yang benar-benar berjuang untuk kamu tanpa harus merelakanmu."
Alya mengangkat wajah. "Apakah seseorang itu ada?" tanyanya penuh keraguan. Matanya mencari kepastian di wajah Harsa.
"Tentu saja ada." Arka mengangguk yakin. Tatapan seriusnya perlahan melunak. "Hanya saja kamu sedang Allah uji dengan kesabaran dalam menanti. Untuk sementara ini, Allah patahkan hatimu lebih dulu karena terlalu berharap kepada dia. Nanti setelah kamu ikhlas dengan rasa sakitmu, Allah datangkan dia untuk menyembuhkanmu."
Alya terdiam. Pandangannya jatuh ke halaman yang terbentang di hadapan mereka. Kata-kata kedua abangnya terus berputar di kepalanya. Mereka berdua adalah pilar baginya—pendengar setia, penasihat bijak, sekaligus teman bermain yang selalu berhasil membuat hari-harinya terasa lebih ringan.
"Aku rasa, aku tidak akan bisa move on," ucap Alya akhirnya. Bibirnya melengkung tipis, tetapi senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya. "Tapi, aku bisa mengikhlaskan rasa yang pernah ada ini. Aku pun tidak mau berlarut-larut pada rasa yang tidak tahu tujuannya."
"Nah, itu benar." Arka mengangguk. Bahunya tampak lebih rileks. Ia mengembuskan napas lega. "Tidak apa-apa. Setidaknya ketika laki-laki itu nanti hadir dalam hidupmu, dia bisa menyembuhkan rasa sakitmu dan membuatmu merasakan kembali apa itu cinta yang sebenarnya. Cinta yang tidak akan pernah meninggalkanmu dan selalu berjuang untukmu."
"Kasian juga kan nanti yang jadi suami kamu kelak, De," tambah Harsa jenaka. "Masa iya kamu nikah sama suamimu nanti, laki-laki itu masih ada di hatimu. Itu namanya gila."
Alya segera menoleh."Yah, nggak dong, Abang. Aku juga mikir. Aku juga tidak mau. Kasian nanti yang jadi suami aku."
Melihat Alya mulai kembali rasional, Arka tersenyum penuh kemenangan. Ia mengangkat tangan dan dengan cepat menepuk puncak kepala Alya dengan gemas. "Pintarnya, dedekku ini."
Alya segera menepis tangan Arka hingga terlepas. Wajahnya mengerucut kesal. Ia berdesis sambil buru-buru merapikan kain kerudung yang sedikit bergeser. "Ihh, berantakan kerudung aku, Bang!"
Arka berdecak pelan sambil memutar bola mata. "Ck, lebay."
"Eh, bukan lebay, yah, Bang. Ingat kamu punya pacar!" Alya memajukan wajah sedikit, memasang ekspresi jahil. "Nggak boleh pegang-pegang aku. Nanti aku dilabrak pula sama Anita," godanya, diikuti tawa kecil yang mengejek.
Arka hanya berdecak kesal ketika nama pacarnya dibawa-bawa. Sementara itu, Harsa tertawa melihat interaksi keduanya yang selalu bertengkar setiap kali bertemu.
Harsa kemudian menatap Alya, lalu tersenyum tulua. "Semoga kelak nanti dipertemukan dengan suami yang baik, yah, De," ucapnya penuh harap.
"Aamiin. Terima kasih, Abang," jawab Alya.
Trka yang sedari tadi diam berceletuk. "Kenapa tidak sama Harsa saja, De?"
Alya dan Harsa serempak menoleh. Keduanya memasang wajah kaget. Alya bahkan menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Eh, sembarangan! Bang Harsa udah punya tunangan, yah!" jelas Alya memperingatkan dengan suara yang sedikit meninggi.
"Dasar gila," celetuk Harsa. Ia mengangkat bahunya, kemudian menggeleng kecil melihat tingkah konyol Arka.
Pernyataan itu sontak memicu luapan emosi Alya. Ia menghentakkan kaki ke tanah, lalu menarik ujung kerudungnya dengan gerakan frustrasi.
"Aaahhhh, kenapa juga hanya aku yang jomblo!" teriak Alya kesal, tidak lagi peduli pada keadaan sekitar.
Harsa tertawa pelan, menutup mulut dengan telapak tangan untuk meredam tawanya. Sementara itu, Arka justru tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang. Raut frustrasi Alya benar-benar menjadi hiburan bagi mereka.
"Makanya cepet punya pacar," celetuk Arka dengan senyum usil.
Alya menatapnya sinis. Kedua tangannya bersilang di dada. Ia tahu betul bagaimana Arka sering mengeluh tentang pacarnya, Anita.
"Dih, punya pacar aja nggak pernah diajak jalan. Ga guna!" ucap Alya sambil tertawa lepas ketika melihat ekspresi Arka yang seketika berubah kesal.
Tanpa menunggu balasan, Alya membalikkan badan dan berlari menuruni tangga.
"Ehh, kurang ajar kamu! Minta dijitak!" seru Arka sambil berlari mengejar Alya sepanjang lorong gedung kampus.
Suara langkah kaki mereka menggema di koridor. Alya berlari sambil tertawa kencang, sesekali menoleh ke belakang untuk mengejek Arka yang semakin mendekat.
Harsa hanya berdiri di tempatnya. Senyum masih bertahan di wajahnya. Ia menggelengkan kepala melihat tingkah dua orang yang paling ia sayangi itu.
Ketika suara tawa dan langkah kaki mereka semakin menjauh, teras lantai dua kembali sepi. Harsa memasukkan kedua tangannya ke saku celana, lalu menatap ke arah tangga yang baru saja dilewati Alya dan Arka.
Tawa seorang kakak yang tulus, yang selalu menyayangi dan siap menjaga adik kecilnya itu, seakan masih tertinggal di teras lantai dua yang kembali sunyi.
Ketika suara tawa dan langkah kaki mereka semakin menjauh, teras lantai dua kembali sepi. Harsa memasukkan kedua tangannya ke saku celana, lalu menatap ke arah tangga yang baru saja dilewati Alya dan Arka.
Namun, di balik senyum yang masih tersisa, ada sesuatu yang tidak ikut pergi bersama tawa mereka. Harsa menundukkan kepala, membiarkan bayangan Alya kembali memenuhi pikirannya. Kata-kata yang baru saja ia ucapkan terdengar begitu mudah ketika ditujukan kepada orang lain, tetapi terasa jauh lebih sulit ketika menyentuh hatinya sendiri.
Ia tahu Alya masih terikat pada masa lalu. Ia tahu luka itu belum sepenuhnya sembuh. Dan ia juga tahu, mungkin selama ini dirinya bukan sekadar abang yang selalu menjaga.
Harsa mengembuskan napas pelan, lalu menatap langit yang mulai berubah warna. Senyumnya perlahan memudar.
“Semoga suatu hari nanti kamu bisa melihatku, De,” bisiknya lirih.
Angin sore berembus melewati teras lantai dua, membawa suara tawa Alya dan Arka yang semakin jauh. Harsa tetap berdiri di sana, menyimpan perasaannya sendirian—seperti Ganendra dulu menyimpan ketakutannya.
Bedanya, kali ini Harsa tidak ingin menunggu sampai semuanya terlambat.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya