YANG TAK PERNAH DINILAI
PENULIS: FERNANDA THERESIA ANAPAH
Hujan turun ketika bel pulang sekolah berbunyi. Kirana berjalan pelan sambil memeluk tasnya yang sudah mulai rusak. Jahitan di bagian samping tas itu hampir terlepas, tetapi ia belum bisa meminta tas baru kepada orang tuanya.
“Tasmu sudah mau jebol, Kirana!” seru seorang teman. “Beli yang baru, dong!”
Beberapa anak tertawa. Kirana hanya menunduk dan mempercepat langkahnya. Mereka tidak tahu bahwa tas itu masih dipakainya karena keluarganya harus mengutamakan kebutuhan yang lebih penting.
Di kelas, Kirana bukan murid yang sering mendapat nilai tertinggi. Nilainya biasa saja, kadang bagus, kadang juga tidak. Karena itu, sebagian teman menganggapnya tidak punya kelebihan. Padahal, ada satu hal yang sangat ia sukai: menulis cerita.
Di buku tulis lama, Kirana menyimpan tokoh-tokoh yang hidup dalam pikirannya. Ia menulis tentang anak-anak yang tidak didengarkan, sekolah yang hanya melihat angka di rapor, dan mimpi yang dianggap terlalu tinggi hanya karena seseorang tidak memiliki banyak uang.
Suatu hari, sebuah pengumuman ditempel di papan sekolah: LOMBA MENULIS CERPEN TINGKAT NASIONAL UNTUK PELAJAR.
Kirana membacanya berkali-kali. Ia ingin ikut, tetapi ia takut ceritanya tidak cukup bagus.
Namun, ia belum tahu bahwa kesempatan itu akan membawanya pada pengalaman yang mengubah hidupnya.
Keesokan harinya, Kirana masih memandangi pengumuman lomba yang ditempel di papan sekolah. Ia membaca setiap barisnya berulang kali, seolah berharap ada sesuatu yang berubah.
“Bu, kalau ikut lomba ini harus bayar?” tanyanya kepada Bu Ratih, guru Bahasa Indonesia.
“Tidak, Nak. Pendaftarannya gratis. Tapi kamu harus menulis cerpen sendiri dan mengirimkannya sebelum batas waktu.”
Kirana terdiam. Ia ingin sekali mencoba, tetapi ada hal lain yang memenuhi pikirannya.
“Kalau saya kalah, bagaimana, Bu?”
Bu Ratih tersenyum tipis. “Kalau kamu kalah, kamu tetap punya cerita. Kalau kamu tidak mencoba, kamu bahkan tidak akan tahu sejauh mana kemampuanmu.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Kirana sampai ia pulang.
Malamnya, ia membuka buku tulis bersampul biru yang sudah hampir habis. Di rumah kecilnya, suara kipas tua terdengar berderit. Ibunya sedang menghitung uang belanja, sementara ayahnya baru pulang bekerja dengan wajah lelah.
Kirana memandangi halaman kosong di depannya.
Ia ingin menulis tentang anak-anak yang sering tidak diperhatikan. Tentang mereka yang dianggap biasa saja hanya karena nilai rapornya tidak sempurna. Tentang anak-anak yang ingin mengikuti kegiatan sekolah, tetapi harus mengurungkan niat karena keadaan keluarga.
Namun, ia takut ceritanya tidak cukup bagus.
“Kamu belum tidur?” tanya Ibu dari pintu kamar.
“Belum, Bu. Kirana mau ikut lomba menulis.”
Ibu mendekat dan melihat buku di tangan putrinya. “Kalau itu yang kamu suka, coba saja. Ibu mungkin tidak bisa membelikan banyak hal, tapi Ibu bisa mendoakanmu.”
Kirana mengangguk. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum.
Malam itu, ia mulai menulis.
Kirana memberi tokoh utamanya nama Arunika.
Arunika adalah seorang anak yang duduk di bangku paling belakang. Ia tidak pernah menjadi juara kelas, tidak mempunyai perlengkapan sekolah yang bagus, dan sering dianggap tidak memiliki masa depan.
Padahal, Arunika menyimpan banyak cerita.
Ia melihat seorang teman menangis karena diejek. Ia melihat murid lain tidak bisa mengikuti kegiatan sekolah karena tidak mempunyai uang. Ia juga melihat ruang kelas yang atapnya bocor ketika hujan turun.
Semua itu ditulis Kirana dengan hati-hati.
Ia tidak ingin membuat tokoh-tokohnya terlihat menyedihkan. Ia ingin menunjukkan bahwa mereka juga memiliki harapan, keberanian, dan kemampuan yang mungkin belum pernah diberi kesempatan.
Setiap malam, Kirana menulis setelah membantu ibunya. Kadang ia harus berhenti karena lampu rumah mati. Kadang ia mengulang satu paragraf berkali-kali karena merasa kalimatnya belum tepat.
Di sekolah, beberapa teman mengetahui bahwa ia mengikuti lomba.
“Serius kamu ikut? Memangnya menulis bisa bikin kamu menang?” ejek seorang murid.
Temannya tertawa.
Kirana menunduk, tetapi kali ini ia tidak menutup bukunya.
“Aku tidak tahu bakal menang atau tidak,” jawabnya pelan. “Tapi setidaknya aku mencoba.”
Jawaban itu membuat mereka terdiam sesaat.
Beberapa hari kemudian, Kirana menyerahkan naskahnya kepada Bu Ratih untuk diperiksa. Gurunya membaca halaman demi halaman tanpa berkata apa-apa.
Kirana mulai gelisah.
“Bagaimana, Bu?”
Bu Ratih menutup naskah itu.
“Masih ada beberapa bagian yang bisa kamu perbaiki. Tetapi kamu tahu apa yang paling Ibu suka?”
Kirana menggeleng.
“Kamu menulis sesuatu yang benar-benar kamu pedulikan.”
Mereka memperbaiki beberapa kalimat, memperjelas alur, dan memeriksa ejaan. Setelah itu, Kirana mengirimkan naskahnya dengan nama lengkapnya sendiri.
Saat menekan tombol kirim, tangannya terasa dingin.
Ia tidak tahu apakah ceritanya akan dibaca banyak orang. Ia hanya berharap ada seseorang yang mau mendengarkan.
Dua minggu kemudian, pengumuman finalis lomba diterbitkan.
Kirana membuka halaman pengumuman melalui ponsel ibunya. Koneksi internet beberapa kali terputus, membuatnya harus memuat ulang halaman itu.
Lalu, ia melihat namanya.
KIRANA — FINALIS
Ia membaca tulisan itu berkali-kali.
“Bu! Kirana masuk final!”
Ibunya segera menghampiri. Ayahnya yang sedang beristirahat ikut melihat layar ponsel.
Malam itu, mereka merayakannya dengan makan malam sederhana. Tidak ada kue atau hadiah mahal, tetapi Kirana merasa sangat bahagia.
Untuk pertama kalinya, sesuatu yang ditulisnya mendapat pengakuan dari orang lain.
Beberapa hari kemudian, para finalis diumumkan kembali bersama hasil penilaian akhir. Kirana membuka pengumuman itu dengan jantung berdebar.
Namanya tidak ada di daftar pemenang.
Ia membaca dari peringkat pertama sampai terakhir. Tidak ada.
Kirana mencoba meyakinkan dirinya bahwa mungkin memang ada peserta lain yang lebih baik. Ia berusaha menerima hasil tersebut.
Namun, saat membaca komentar penilaian, ia menemukan sesuatu yang aneh. Beberapa alasan yang diberikan untuk menolak cerpennya tidak sesuai dengan isi naskah yang ia kirimkan.
Salah satu komentar menyebut bahwa ceritanya tidak memiliki penyelesaian konflik. Padahal, bagian akhir cerpennya justru membahas bagaimana tokoh utama dan teman-temannya mencari jalan keluar dari masalah di sekolah.
Kirana membuka kembali berkas naskah aslinya.
Ia memeriksa setiap halaman.
“Bu Ratih, boleh Kirana bertanya sesuatu?”
Esok harinya, ia menunjukkan perbedaan tersebut kepada gurunya.
Bu Ratih membaca komentar penilaian dengan saksama. Wajahnya berubah serius.
“Kita tidak boleh langsung menuduh siapa pun,” katanya. “Tetapi kalau ada ketidaksesuaian, kamu berhak meminta penjelasan dengan cara yang baik.”
Kirana mengangguk.
Ia tidak ingin membuat keributan. Ia hanya ingin tahu apakah ceritanya benar-benar dinilai berdasarkan isinya.
Dengan bantuan Bu Ratih dan persetujuan orang tuanya, Kirana mengirimkan permintaan peninjauan kepada panitia lomba.
Ia melampirkan naskah asli, komentar penilaian, serta bagian-bagian yang menurutnya perlu diperiksa kembali.
Hari-hari berikutnya terasa panjang.
Beberapa orang menyarankannya untuk melupakan saja hasil lomba itu.
“Sudahlah, Kirana. Kamu sudah masuk final. Itu juga bagus,” kata seorang teman.
Kirana tahu temannya tidak bermaksud jahat. Namun, baginya, persoalan ini bukan sekadar tentang mendapatkan juara.
Ia ingin percaya bahwa setiap peserta memiliki kesempatan yang sama.
Seminggu kemudian, panitia mengirimkan balasan. Mereka menyampaikan bahwa ada ketidaksesuaian dalam proses penilaian dan akan melakukan pemeriksaan ulang terhadap sejumlah naskah.
Kirana membaca pesan itu bersama Bu Ratih.
“Berarti mereka akan memeriksanya lagi, Bu?”
“Iya. Sekarang kita tunggu prosesnya.”
Pemeriksaan berlangsung beberapa hari. Panitia kemudian mengumumkan bahwa mereka menemukan pelanggaran dalam proses penilaian: ada salah satu juri yang memberikan perlakuan istimewa kepada peserta tertentu karena hubungan pribadi. Akibatnya, penilaian tidak dilakukan secara adil.
Panitia menyatakan bahwa hasil tersebut tidak dapat dipertahankan. Mereka meminta maaf kepada seluruh peserta dan melakukan penilaian ulang dengan tim yang berbeda.
Kirana membaca pengumuman itu dalam diam.
Ia tidak merasa senang karena seseorang melakukan kecurangan. Ia justru sedih karena peserta lain mungkin telah mengalami hal yang sama tanpa pernah mengetahui alasannya.
Tetapi ia juga lega.
Setidaknya, kali ini, ada yang bersedia memeriksa kebenaran.
Tiga hari kemudian, hasil penilaian ulang diumumkan.
Kirana sedang membantu ibunya merapikan pakaian ketika ponselnya berbunyi.
Pesan dari Bu Ratih muncul di layar.
Buka pengumuman lombanya sekarang, ya.
Kirana segera membuka tautan yang dikirimkan.
Di bagian paling atas, tertulis nama pemenang utama.
JUARA I — KIRANA
Ia membeku.
Dibacanya lagi nama itu, lalu dibacanya sekali lagi. Ia bahkan memastikan bahwa nomor peserta yang tercantum benar-benar miliknya.
“Bu...” suaranya bergetar.
Ibunya menoleh. “Kenapa, Nak?”
“Kirana menang.”
Ibunya menghampiri dan membaca layar ponsel itu. Ayahnya ikut mendekat. Sesaat kemudian, mereka bertiga saling berpelukan.
Kirana menangis, tetapi bukan hanya karena mendapatkan juara.
Ia teringat tas lamanya. Tawa teman-temannya. Malam-malam ketika ia menulis dengan mata mengantuk. Ketakutannya saat mengirim naskah. Dan hari ketika ia hampir percaya bahwa suaranya memang tidak cukup berarti untuk didengar.
Keesokan harinya, Bu Ratih mengumumkan kemenangan Kirana di kelas. Beberapa teman mengucapkan selamat. Ada pula yang hanya diam.
Murid yang pernah mengejeknya menghampiri saat jam istirahat.
“Selamat, ya,” katanya singkat.
“Terima kasih,” jawab Kirana.
Ia tidak meminta mereka menyesal. Ia juga tidak ingin membalas ejekan mereka.
Kirana hanya berharap suatu hari nanti, mereka mengerti bahwa seseorang tidak seharusnya dinilai dari keadaan keluarganya, barang yang dipakainya, atau angka yang tertulis di rapornya.
Hadiah lomba itu sangat berarti bagi keluarganya. Namun, yang paling berharga bagi Kirana adalah sesuatu yang tidak bisa dibungkus dalam kotak hadiah: keyakinan bahwa karyanya layak dibaca.
Ia pulang membawa sertifikat, hadiah, dan sebuah janji kepada dirinya sendiri.
Ia akan terus menulis.
Bukan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih hebat daripada orang lain, melainkan untuk memberi tempat kepada cerita-cerita yang sering diabaikan.
Tahun-tahun berlalu.
Kirana tumbuh menjadi seorang perempuan dewasa. Ia masih menyimpan buku tulis bersampul biru yang dulu digunakan untuk menulis cerpen pertamanya.
Sampulnya semakin pudar. Beberapa halamannya menguning. Namun, ia tidak pernah membuangnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Kirana mulai mengirimkan tulisan ke berbagai penerbit. Tidak semuanya diterima. Ada naskah yang ditolak, ada cerita yang harus diperbaiki, dan ada masa ketika ia merasa ingin berhenti.
Akan tetapi, ia selalu mengingat alasan pertamanya menulis.
Ia ingin bercerita tentang orang-orang yang jarang diberi kesempatan untuk berbicara.
Bertahun-tahun kemudian, sebuah penerbit tertarik pada naskah novelnya yang berjudul Anak yang Tidak Dipilih.
Novel itu menceritakan kehidupan Arunika, seorang anak yang dianggap biasa saja oleh lingkungannya. Arunika menghadapi keterbatasan ekonomi, perundungan, fasilitas sekolah yang kurang memadai, dan penilaian yang tidak adil.
Namun, cerita itu bukan hanya tentang penderitaan. Arunika juga belajar memperjuangkan haknya, menerima bantuan orang-orang yang peduli, dan menemukan keberanian untuk menyuarakan kebenaran.
Novel tersebut diterbitkan dan perlahan mendapatkan pembaca.
Banyak orang mengirimkan pesan kepada Kirana. Mereka mengatakan bahwa mereka mengenal seseorang seperti Arunika. Ada yang mengingat teman sekelasnya, ada yang teringat masa kecilnya sendiri, dan ada pula yang baru menyadari bahwa anak yang pendiam di sudut kelas mungkin menyimpan cerita yang tidak pernah mereka ketahui.
Kirana membaca pesan-pesan itu satu per satu.
Ia merasa bahwa semua malam panjang yang pernah dilewatinya tidak sia-sia.
Pada suatu sore, Kirana diundang ke sebuah acara literasi untuk berbicara tentang novelnya.
Di hadapannya duduk banyak orang: pelajar, guru, orang tua, dan para penulis muda. Di atas meja, sebuah buku Anak yang Tidak Dipilih terletak terbuka.
Seorang pewawancara mengajukan pertanyaan.
“Tokoh Arunika terasa sangat nyata. Apakah ia terinspirasi dari seseorang yang benar-benar ada?”
Kirana memandang sampul novelnya.
“Arunika adalah tokoh fiksi,” jawabnya. “Tetapi perasaan yang ia alami bukan sesuatu yang asing bagi saya.”
Pewawancara menunggu.
Kirana melanjutkan, “Saya pernah melihat anak-anak yang dianggap tidak mampu hanya karena nilainya biasa saja. Saya pernah melihat seseorang diejek karena keadaan keluarganya. Saya juga pernah merasa bahwa apa yang saya sukai tidak cukup penting untuk diperhatikan.”
Ia berhenti sebentar.
“Dulu, saya pikir saya harus menjadi juara dulu agar orang-orang mau mendengarkan saya. Sekarang saya mengerti bahwa setiap anak layak didengarkan, bahkan sebelum mereka memenangkan apa pun.”
Ruangan menjadi hening.
Seorang pelajar mengangkat tangan.
“Kalau boleh tahu, apakah Arunika akhirnya berhasil membuktikan dirinya?”
Kirana tersenyum kecil.
“Arunika tidak harus menjadi orang paling hebat untuk membuktikan bahwa dirinya berharga. Ia hanya perlu mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan menjadi dirinya sendiri.”
Setelah acara selesai, Kirana kembali ke rumah dan membuka buku tulis bersampul birunya.
Di halaman terakhir, ia menemukan kalimat yang pernah ditulisnya bertahun-tahun lalu:
Barangkali suatu hari nanti, ada seseorang yang membaca ceritaku dan merasa bahwa dirinya tidak sendirian.
Kirana mengambil pena dan menambahkan satu kalimat di bawahnya.
Hari itu akhirnya datang.
Ia menutup buku tersebut dengan hati yang tenang.
Dulu, ia adalah anak yang duduk di bangku belakang, membawa tas lama, dan menyimpan cerita yang hampir tidak pernah didengar siapa pun.
Kini, ia menjadi penulis yang membantu orang lain menemukan suara mereka sendiri.
Dan ia akhirnya memahami sesuatu yang dahulu sulit dipercayainya: nilai seseorang tidak pernah bisa ditentukan hanya dari angka, penghargaan, atau pendapa
t orang lain.
Sebab, bahkan anak yang tidak pernah dipilih pun tetap memiliki cerita yang pantas dibaca.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya