Sejak ayahnya meninggal sebelum ia lahir, Alena hanya memiliki satu orang di dunia ini ibunya, Rania. Rania bekerja apa saja. Tangannya menjadi kasar, tubuhnya semakin lelah, dan keinginannya sendiri berkali-kali ia korbankan. Semua hanya demi satu hal: memastikan Alena tidak pernah merasa kekurangan. Dulu, Alena selalu menunggu ibunya pulang. Dulu, pelukan Rania adalah tempat ternyaman baginya. Namun ketika Alena tumbuh dewasa, semuanya berubah. Ia mulai malu dengan pekerjaan ibunya. Ia menyembunyikan Rania dari teman-temannya, menganggap kasih sayang ibunya sebagai kewajiban, bahkan mengucapkan kata-kata yang tidak pernah bisa dilupakan Rania. Sampai suatu hari, Alena akhirnya menyadari semua pengorbanan yang selama ini tidak pernah ia lihat. Ia ingin pulang. Ia ingin meminta maaf. Ia bahkan sudah menyiapkan hadiah untuk ibunya. Hanya saja, Alena terus berkata— “Besok saja.” Sampai sebuah kabar membuatnya berlari pulang dengan satu penyesalan terbesar dalam hidupnya. Karena ternyata, tidak semua orang diberi kesempatan untuk mengatakan “maaf” untuk kedua kalinya. Jika hari ini masih ada ibu yang menunggumu pulang, jangan tunggu sampai kehilangan untuk menyadari betapa berharganya dia. Karena terkadang, kata “nanti” adalah awal dari sebuah penyesalan yang tidak akan pernah selesai.
Suka & komentar per bab tersedia di halaman baca tiap bab.
Belum ada ulasan.