Oleh Isrina Sumia
Jadi affiliator, dapat komisi tiap ada yang checkout lewat link Anda.
Perempuan itu menelungkup bagai sehelai daun, mengering dan rapuh. Sesekali suara rintihan terdengar, sudah 24 jam ia terkunci di kandang ayam yang terbuat dari jeruji besi. Pengap, bau dan banyak serangga. Tarikan napasnya terdengar seperti pompa udara yang selalu ditekan. Nyaring tak kunjung usai. Perlahan aku melangkah ke arahnya, menunduk dan melihat pergelangan tangan dan kakinya terikat, wajahnya basah, rambutnya tak karuan. Semua itu dianggap pantas untuk membalas perbuatannya. Tak lama mata kami bertemu, ia melirih seraya meneteskan air mata. "Mas Andra...."
Tak sanggup melihatnya, aku membuang muka dan menetes sudah air mata. Tiba-tiba saja seperti ada bongkahan batu di dada yang membuat napas ini sama tersengalnya dengannya. Dia adalah Asya Diatmika. Sebuah nama yang bermakna gadis pendiam dan baik hati. Nama yang sengaja dan cocok disandingkan olehnya karena setahuku Asya memang pendiam. Ia tak mudah bergaul seperti pemudi lainnya. Gadis itu lebih senang membantu ibunya atau belajar, bahkan ia menguasai Bahasa Arab, kebiasaannya membaca Al-Quran setiap subuh menjelang terang membuatku ragu akan perbuatannya. Anak dari bibiku. Seorang janda yang masih hidup bersama kami di rumah kakek. Dia Asya, anak gadis yang kuanggap dan kusayangi seperti adik sendiri. Dia yang menangis ketika melepas kepergianku ke Jakarta untuk kuliah. Dia Asya yang justru menjadi masalah besar dalam hidupku. Menikahinya demi menyelamatkan nama baik keluarga. Tapi ... siapa yang harus bertanggungjawab atas janin dalam kandungannya? Kenapa harus aku?
Belum ada ulasan untuk buku ini.