Bab 2 dari 13
Langkah kaki Iris menggema di sepanjang koridor asrama lantai dua yang pengap. Udara di dalam bangunan itu terasa berat, sarat akan debu abad pertengahan dan aroma lilin lebah yang meleleh. Di ujung lorong yang temaram, sebuah pintu kayu berukir cat terkelupas menjadi tujuannya. Kamar nomor 204.
Begitu ia mendorong pintu itu terbuka, seorang gadis dengan rambut cokelat berantakan dan mata terbelalak lebar langsung menyambutnya dengan tatapan penuh paranoia. Clara.
"Kau... kau siswi baru yang diantar taksi tadi?" suara Clara bergetar hebat, nyaris berbisik saat ia bangkit dari tepi ranjang kayunya yang reyot. "Kau sudah gila. Kenapa kau mau datang ke tempat terkutuk ini?"
Iris menutup pintu di belakangnya, mengerutkan kening sambil melepas mantelnya yang basah oleh kabut. "Aku datang atas kemauanku sendiri. Tempat ini lebih baik daripada rumah keluargaku. Kenapa reaksimu seberlebihan itu? Oh iya, aku Iris Francesca,"
Tanpa aba-aba, Clara menerjang maju. Cengkeraman jemarinya pada pergelangan tangan Iris begitu kuat dan mendadak, hingga meninggalkan bekas kemerahan yang menyengat di kulit putihnya. Napas Clara memburu, tersengal-sengal, seolah setiap oksigen di ruangan itu berusaha merampas kewarasannya.
"Kau tidak mengerti!" bisik Clara panik, matanya liar menatap sekeliling dinding kamar seolah ada ribuan mata yang mengawasi mereka dari balik wallpaper yang mengelupas. "Tempat ini hidup, Iris! Bangunan ini bernapas dengan darah dan ketakutan kita!"
"Lepaskan aku. Cengkeramanmu menyakitiku," protes Iris, berusaha menarik tangannya, namun cengkeraman gadis itu justru semakin erat, memancarkan gelombang teror fisik yang menjalar dingin ke dada Iris.
"Dengarkan aku baik-baik," desis Clara, mendekatkan wajahnya hingga napasnya yang dingin menerpa pipi Iris. Suaranya penuh dengan peringatan yang mengerikan. "Jangan pernah keluar kamar lewat pukul dua belas malam. Apa pun yang memanggil namamu di luar sana, itu bukan manusia... tapi sesuatu yang ingin menelanjangimu sampai ke jiwa."
Iris tertegun, menatap manik mata wanita itu yang memantulkan ketakutan murni. "Apa maksudmu? Sesuatu? Siapa yang berkeliaran di malam hari?"
"Guru-guru... penjaga... atau entah apa wujud mereka," lanjut Clara, suaranya melengking tertahan. "Mereka menginginkan lebih dari sekadar nyawa kita. Mereka merayap dalam mimpi, meraba kewarasan kita, sampai kita menyerahkan diri secara sukarela."
"Kau hanya paranoid. Ini cuma sekolah tua," sangkal Iris, meski tenggorokannya mendadak terasa kering dan jantungnya berdegup tak beraturan.
Sebelum Clara sempat membalas, lampu gantung antik di langit-langit kamar berkedip liar. Binar... binar...
"Tidak... tidak sekarang," cicit Clara, melepaskan tangan Iris dan mundur ketakutan.
Plak!
Lampu kamar padam seketika. Kegelapan pekat langsung menelan ruangan itu dalam sekejap, menyisakan hanya bias cahaya kekuningan yang sangat tipis dari sebatang lilin darurat yang meleleh di atas meja rias. Bayangan-bayangan di sudut ruangan mendadak memanjang, menari-nari bagai monster kelaparan.
Iris meraba sisi meja, napasnya mulai memburu seiring atmosfer yang berubah menjadi begitu sensual sekaligus mencekam. "Listriknya padam akibat badai di luar, itu wajar."
"Bukan badai..." suara Clara terdengar amat lirih, nyaris hilang di dalam isak tangisnya. Ia memeluk tubuhnya sendiri di sudut ranjang. "Kau tahu kenapa aku masih di sini, Iris? Kenapa aku tidak pernah terlihat keluar dari gerbang itu?"
Iris menoleh, menatap siluet rekan sekamarnya di tengah temaram cahaya lilin. "Kenapa?"
"Karena aku bukan siswi baru," ucap Clara dengan suara serak yang memecah kesunyian. "Aku seharusnya sudah lulus tahun lalu. Aku sudah mengemas koperku, memegang tiket keretaku... tapi malam sebelum aku pergi, pintu gerbang itu menolakku. Dan dia melarangku melangkah keluar."
"Dia? Siapa yang kau maksud?" tanya Iris tajam, meski bulu kuduknya meremuk kuduk.
"Sang pengawas..." bisik Clara putus asa. "Mr. Zephyr. Pria berjas hitam yang menguasai seluruh koridor ini. Sekali kau menatap matanya, jiwamu dikunci selamanya di sini."
Belum sempat Iris merespons pengakuan gila itu, suasana mendadak membeku. Udara di dalam kamar drop secara drastis, membuat napas mereka mengepul putih di udara.
Tok... tok... tok...
Ketukan lambat, berat, dan penuh otoritas terdengar menggema tepat di luar pintu kamar mereka. Ketukan itu tidak terburu-buru, melainkan berirama, seolah sang pengetuk tahu persis betapa ketakutan dua gadis di dalam sana.
Clara membeku di sudut ranjang, menutup mulutnya dengan kedua tangan untuk meredam isakannya. Ia menggelengkan kepala panik, air matanya tumpah.
Iris menahan napasnya, menatap ke arah pintu kayu yang tertutup rapat. Di detik berikutnya, sebuah hembusan napas yang teramat dingin merangsek masuk melalui celah sempit di bawah pintu, membawa aroma wangi cendana yang bercampur dengan bau kematian yang manis—membuat sekujur tubuh Iris merinding hebat, menyadari bahwa apa pun yang ada di luar sana kini tengah menempelkan bibirnya tepat di sisi lain pintu kamar mereka.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya