Bab 1 dari 13
Bau karat dan tanah basah menyambut tarikan napas pertama Iris Francesca sesampainya ia di ujung dunia. Taksi tua berkarat yang membawanya mendadak meraung, melarikan diri terburu-buru seolah dikejar oleh dosa-dosa masa lalu yang mengendap di balik kabut tebal.
Iris berdiri seorang diri di hadapan gerbang besi Blackwood Academy. Langit senja membentang di atas kepalanya, memerah pekat bagai genangan darah segar yang tumpah di atas kanvas kelabu. Bangunan bergaya Victoria itu menjulang angkuh, menantang langit dengan menara-menaranya yang runcing dan jendela-jendela kaca patri yang gelap, memancarkan atmosfer mencekam yang langsung meremukkan dada.
"Jangan menoleh ke belakang, Nona muda," bisik suara parau sang sopir taksi dari balik jendela yang setengah terbuka, dingin dan menyayat angin malam sebelum kendaraannya melesat hilang ditelan kabut. "Kau pikir kau datang untuk menimba ilmu di sini? Bangunan itu tidak butuh siswi pintar... ia butuh mangsa."
"Tunggu, kemasi barang-barangku!" seru Iris tertahan, melangkah maju saat lampu merah belakang mobil itu lenyap ditelan kegelapan. "Sialan... aku ditinggalkan begitu saja di tempat terkutuk ini."
Iris mengabaikan debar jantungnya yang bergemuruh. Angin malam yang menggigit kulit lengannya yang terekspos langsung menyapa, menciptakan gelombang merinding tajam yang merayap naik dari ujung jemari kaki hingga ke tulang belakang—sebuah sambutan fisik yang erotis sekaligus menakutkan, seolah akademi itu sedang mengulurkan tangan tak kasat mata untuk menelanjangi ketakutannya.
"Dingin sekali," gumam Iris pelan, memeluk tubuhnya sendiri erat-erat. Kain mantelnya sama sekali tidak mampu menepis hawa beku yang merangsek masuk ke pori-porinya. "Apakah ada orang di dalam? Halo?" teriaknya ragu, memecah keheningan hutan.
Dengan langkah ragu namun penuh tekad membara, ia mendorong gerbang besi yang berat itu. Suara logam bergesek memecah kesunyian. Kakinya menapaki halaman rumput liar yang basah oleh embun senja, mendekati teras utama yang diselimuti bayangan panjang.
Tiba-tiba, tanpa ada embusan angin yang wajar, pintu utama berderit terbuka sendiri. Engsel-engsel tua berkarat itu merintih pelan, menghembuskan hawa sedingin es yang langsung menyapu wajah Iris, membelai bibirnya yang sedikit terbuka karena terkejut. Hawa itu begitu intim, begitu hidup, seolah menyentuh lekuk lehernya dengan jemari yang tak terlihat.
"Siapa di sana?" bisik Iris, suaranya bergetar antara takut dan penasaran yang teramat sangat. "Aku... aku murid baru yang terdaftar musim ini."
Brak!
Iris terperanjat hebat, refleks melompat mundur. Sesaat setelah sepatu botnya menginjak lantai batu teras, gerbang besi di belakangnya mendadak membanting menutup dengan suara dentuman memekakkan telinga. Logam itu bergeser sendiri, mengunci rapat tanpa celah.
"Tidak... tidak mungkin!" Iris berbalik, menghantamkan kedua telapak tangannya ke jeruji besi yang kini telah terkunci mati secara gaib. "Buka! Biarkan aku keluar!" teriaknya panik, menarik-narik besi tersebut dengan sia-sia.
Napasnya memburu, menciptakan uap putih di udara malam. Ketika ia berbalik perlahan menghadap pintu utama yang menganga lebar, sebuah suara berat dan rendah bergema di dalam kepalanya, meluncur lembut langsung di telinganya seolah diucapkan tepat di belakang lehernya.
"Kau tidak akan pernah bisa keluar lagi, Iris... pintu itu hanya tunduk pada mereka yang telah menyerahkan jiwanya."
Iris terkesiap, meneguk ludahnya dengan susah payah. Dengan tangan gemetar, ia menengadah, memutar lehernya menyusuri dinding-dinding batu yang menjulang tinggi. Di balik jendela kaca patri lantai tiga yang temaram, sebuah bayangan tinggi berjas hitam berdiri tegak. Siluet itu diam mematikan, mengawasinya dengan mutlak—tatapan penuh kepemilikan yang membuat aliran darah Iris mendadak mendidih di tengah dinginnya malam.
"Tunjukkan dirimu!" tantang Iris dengan sisa-sisa keberaniannya, meski suaranya bergetar hebat. "Apa yang kau inginkan dariku?!"
Bayangan di balik jendela itu tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan mengangkat sebelah tangannya, seolah memberi salam selamat datang kepada mangsa barunya yang paling berharga.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya