Not yet available in the requested language -- showing the original version.
Langkah kaki Aris terasa seberat timah. Air hujan merembes masuk melalui celah sepatunya yang mulai menipis, membasahi kaus kaki dan melipat rasa dingin hingga ke tulang. Di dalam saku jaketnya, sebuah amplop cokelat berstempel perusahaan konsultan ternama telah basah di bagian sudutnya, surat penolakan kerja kelima bulan ini.
Di usianya yang baru menginjak dua puluh lima tahun, Aris merasa seperti pelari yang sudah kehabisan napas sebelum garis finis terlihat. Kota Jakarta di bawah guyuran hujan deras malam itu tampak seperti lukisan cat air yang luntur; samar, kelabu, dan dingin.
Ketika petir menyambar langit malam, Aris menyimpang ke sebuah gang sempit yang belum pernah ia lewati sebelumnya. Ia hanya ingin mencari atap untuk berteduh sejenak. Namun, di ujung gang yang diapit dinding-dinding beton tua itu, sebuah lampu tergantung memancarkan cahaya keemasan yang hangat di atas pintu kayu jati tebal dengan plang kecil bertuliskan; Kedai Kopi & Jam Tua.
Tanpa berpikir panjang, Aris mendorong pintu kayu tersebut. Suara denting bel tembaga terdengar halus, menyambut kedatangannya. Seketika itu juga, kebisingan suara deru mesin kendaraan dan gemericik hujan seolah lenyap terhalang pintu. Udara di dalam ruangan terasa hangat, beraroma kayu manis, cengkeh, dan seduhan biji kopi Arabika yang pekat.
"Silakan masuk, Mas. Hangatkan badannya dulu," suara berat namun ramah menyapa dari balik meja kasir.
Seorang kakek tua berambut putih keperakan sedang mengelap cangkir keramik. Ia mengenakan kemeja flanel bergaris dengan apron kulit cokelat yang tampak lapuk oleh usia. Namanya Pak Satria, seperti yang tertera pada pin kecil di dadanya.
"Terima kasih, Mbah. Saya cuma mau berteduh sebentar... tapi kalau boleh, saya pesan kopi yang paling hangat," kata Aris canggung, sambil menyapu pandangan ke sekeliling ruangan.
Kedai itu tidak besar, namun memiliki nuansa yang sangat unik. Di sepanjang dinding bata merah yang tidak diplester, tergantung puluhan, bahkan mungkin ratusan jam dinding tua. Ada jam pendulum bergaya Eropa, jam kayu jati berukir Jawa, hingga jam waker kuningan berukuran kecil.
Namun, ada satu hal aneh yang membuat Aris menautkan alisnya. Tak satu pun jam di ruangan itu menunjukkan waktu yang sama.
Sebuah jam kayu besar di sudut kanan menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit. Jam waker di meja kasir berhenti pada pukul enam pagi. Sementara itu, jam pendulum di tengah ruangan justru memiliki jarum pendek dan panjang yang terus berputar berlawanan arah jam.
"Unik ya?" tanya Pak Satria sambil meletakkan secangkir kopi hitam yang masih berasap di atas meja kayu tempat Aris duduk.
"Iya, Mbah. Kenapa tidak ada yang mencocokkan jam-jam ini? Apa semuanya rusak?" tanya Aris polos.
Pak Satria tertawa pelan. Suara tawanya tenang, menyerupai gemersik daun kering yang tertiup angin.
"Tidak ada yang rusak, Mas. Jam-jam ini justru menjalankan tugasnya dengan sangat baik," jawab Pak Satria misterius sambil duduk di kursi kosong di hadapan Aris.
Aris menyesap kopinya. Rasa pahit yang pekat berganti menjadi manis buah di pangkal tenggorokannya, perlahan-lahan mengusir rasa menggigil di dadanya.
"Setiap jam di dinding ini," lanjut Pak Satria sambil menunjuk salah satu jam kayu berbentuk segi delapan, "bukan milik saya. Itu milik orang-orang yang pernah singgah di kedai ini."
Aris menatap jam yang ditunjuk Pak Satria. Jarumnya berhenti tepat di angka 05:20.
"Pemilik jam itu adalah seorang ibu," cerita Pak Satria pelan. "Pukul lima lebih dua puluh menit pagi adalah saat anak pertamanya lahir ke dunia. Bagi ibu itu, detik tersebut adalah awal dari segalanya. Ia meminta saya menghentikan jarum jamnya di sana agar ia selalu ingat; tidak peduli seberapa berat hidupnya nanti, ada satu subuh di mana ia merasa menjadi manusia paling bahagia di bumi."
Aris mendengarkan dengan saksama. Matanya bergeser ke jam pendulum berukuran besar yang jarumnya berputar berlawanan arah.
"Kalau yang itu?"
"Ah, itu milik seorang pria tua yang menghabiskan sisa hidupnya dengan menyesali masa lalu," Pak Satria tersenyum tipis, ada raut simpati di matanya. "Dia selalu ingin memutar balik waktu. Jadi, saya buatkan jam yang berputar mundur. Bukan untuk mengembalikannya ke masa lalu, tapi untuk mengingatkannya bahwa terus-menerus menengok ke belakang hanya akan membuat kepala kita pusing dan kehilangan pijakan di masa kini."
Aris menghela napas panjang. Kata-kata sang kakek menusuk bagian terdalam dadanya. Ia kembali teringat amplop basah di dalam saku jaketnya.
"Saya... merasa seperti jam yang rusak, Mbah," bisik Aris tiba-tiba. Pengakuannya mengalir begitu saja, terdorong oleh suasana kedai yang jujur dan menenangkan.
"Saya sudah melamar ke belasan tempat, ditolak bertubi-tubi. Teman-teman sebaya saya sudah punya karir mapan, ada yang sudah beli rumah, ada yang berkeluarga. Sementara saya? Saya merasa tertinggal jauh di belakang. Seolah-olah jarum waktu saya berhenti, sementara dunia di luar terus berlari meninggalkan saya."
Pak Satria tidak langsung menjawab. Ia berdiri, melangkah ke balik meja kasir, dan mengambil sebuah kotak kayu kecil. Dari dalam kotak itu, ia mengeluarkan sebuah jam waker polos tanpa angka, hanya ada dua jarum hitam yang diam membisu.
Ia meletakkannya di hadapan Aris.
"Manusia modern sering terjebak dalam ilusi yang mereka ciptakan sendiri, Mas," ujar Pak Satria lembut. "Kalian mengukur hidup dengan detik orang lain. Kalian panik ketika melihat jam tangan tetangga sudah menunjukkan pukul sembilan, sementara jam kalian baru pukul tujuh."
Pak Satria menyentuh permukaan kaca jam polos tersebut.
"Padahal, waktu setiap orang itu unik. Bunga mawar tidak mekar di jam yang sama dengan bunga matahari. Apakah mawar iri karena matahari mekar lebih dulu? Tidak. Masing-masing menunggu musing yang tepat."
Aris menunduk, menatap bayangan dirinya di atas permukaan cangkir kopi yang tinggal separuh.
"Tapi Mbah... bagaimana kalau waktu saya tidak pernah tiba? Bagaimana kalau saya memang gagal?"
Pak Satria tersenyum hangat. "Ketakutan akan masa depan itu seperti memikul payung di dalam ruangan hanya karena takut besok hujan. Kamu menguras tenagamu untuk sesuatu yang belum tentu terjadi."
Sang kakek kemudian mengambil sebuat kunci kecil dari sakunya dan memutar tuas di belakang jam waker polos itu. Krik... krik... krik... suara putaran pegas terdengar nyaring.
"Coba pegang ini," kata Pak Satria sambil menyerahkan jam tersebut ke tangan Aris.
Aris memegangnya. Ia bisa merasakan getaran halus dari dalam mesin jam tersebut. Jarumnya belum bergerak, namun detak mesin di dalamnya terasa seperti detak jantung yang tenang.
"Jam ini belum menunjukkan pukul berapa pun," kata Pak Satria. "Bukan karena ia rusak, tapi karena pemiliknya yaitu kamu belum memutuskan untuk mulai hidup di saat ini. Kamu terlalu sibuk meratapi jam kemarin yang sudah lewat, dan mencemaskan jam esok yang belum datang."
Aris menggenggam jam kayu itu erat-erat. Terikat oleh kehangatan di kedai itu, ingatan tentang almarhum ayahnya mendadak melintas di pikirannya. Dahulu, sang ayah selalu berkata; "Aris, kalau kamu tersesat di jalan, berhenti sejenak. Jangan terus berjalan sambil menunduk, nanti kamu tidak sadar kalau pemandangan di sekitarmu sebenarnya sangat indah."
Selama bertahun-tahun ini, Aris lupa cara berhenti. Ia selalu berlari, membandingkan kecepatannya dengan orang lain, hingga lupa menikmati setiap tarikan napasnya sendiri.
Perlahan, beban berat yang menumpuk di pundaknya terasa meluruh. Surat penolakan di sakunya tak lagi terasa seperti akhir dunia, melainkan hanya satu bab kecil dari buku cerita hidupnya yang masih sangat panjang.
Aris terkejut. Jam waker polos di genggamannya mulai berdetak. Jarum pendek dan jarum panjangnya mulai melangkah perlahan, menunjukkan pukul sembilan malam lewat dua puluh menit, waktu yang tepat pada malam itu.
"Nah, lihat kan?" kata Pak Satria sambil tersenyum lebar. "Waktumu tidak pernah berhenti, Mas. Kamu hanya perlu mengizinkan dirimu untuk berjalan kembali."
Di luar, suara hujan deras perlahan surut, berganti menjadi rintik-rintik halus yang menetes santai dari langit-langit atap. Udara segar malam hari tercium dari balik pintu yang sedikit terbuka. Aris berdiri, lalu merogoh dompetnya untuk membayar kopi. Namun Pak Satria menggelengkan kepala.
"Kopi malam ini gratis," ujar Pak Satria. "Bayar saja nanti jika kamu sudah menemukan momen berharga yang ingin kamu abadikan di jam tersebut."
Aris tersenyum, sebuah senyuman tulus yang sudah lama tidak menghiasi wajahnya. Ia membungkuk hormat. "Terima kasih banyak, Mbah. Terima kasih atas kopinya... dan jalannya."
Aris melangkah keluar dari kedai. Ketika ia melangkah ke jalanan gang, udara dingin menyapa wajahnya, namun kali ini tidak lagi membuatnya menggigil. Ia memasukkan jam kayu polos itu ke dalam saku jaketnya.
Sebelum membelok ke jalan raya, Aris menoleh ke belakang untuk melihat kedai itu sekali lagi. Namun, yang ada di sana hanyalah dinding tebal berlumut dengan sebuah lampu jalan yang temaram. Pintu kayu dan plang nama kedai itu telah hilang, seolah-olah hanya hadir untuk menyapa mereka yang benar-benar tersesat.
Aris tersenyum kecil. Ia menatap langit malam yang mulai bersih dari awan mendung, memperlihatkan satu dua bintang yang berkilau. Ia menghirup udara malam dalam-dalam, lalu melangkah maju dengan mantap. Waktunya baru saja dimulai.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya