Customer Service

Sukses? Bagi Dong.

100%

Sukses? Bagi Dong.

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

KRINGGGG - drrr - KRINGGG - drrr - KRINGGG

Suara dering alarm itu berbunyi lagi. Aku menghembuskan nafasku sekali lagi, memaksa otot mataku untuk membuka.

“Berat sekali ya, Tuhan,” ucapku dengan hembusan nafasku yang entah sudah berapa kalinya.

“Ah, capeknya,” tambahku, yang belum apa-apa saja sudah capek. Berapa kali aku harus melakukan ini? Hah? Kenapa ada namanya sekolah? Kenapa aku harus bangun pagi-pagi untuk sekolah?

KRINGGGG - drrr - KRINGGG - drrr - KRINGGG

“Sialan, HP-ku ke mana, ya?”

Kucoba mencari. Tubuhku yang setengah sadar ini mengangkat bantal dan guling, selimutku. Kok nggak ada, sih? Aneh... Mana ya, oiii? Kuobrak-abrik semuanya.

KRINGGGG - drrr - KRINGGG - drrr - KRINGGG

“IYA, IYA, SABAR!”

Ini mana HP-nya, lagipula... Ku berusaha membuka mataku yang setengah watt ini untuk terbuka sepenuhnya. Menolehkan kepalaku ke kiri dan kanan.

Ah, itu kayaknya... di ujung kasur.

Kuambil dan kumatikan alarmnya.

Jam berapa pula ini?

Ah... 6.30.

Oh, masih pagi.

Kududuk dulu. Santai dulu, ye, nggak? Masih pagi, masih bisa merasakan hari baru. Menyiapkan hati untuk memulai hari yang baru.


.

.

.


JAM SETENGAH TUJUH??? OH, TIDAKKK, KESIANGANNN!

Bangun, oi, badan! Bangun kamu, Raynard! AYO, SEKOLAH! Ini sudah setengah tujuh, kan? Harus bangunnya jam 5.30! Oh, oh, oh!

Larilah badanku ini ke bawah sambil teriak, “MAMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, KESIANGANNNNN! TOLONGGGG DIRIKU INI! AH, TIDAKKKKKKKKKKKK!!”

Dan yang kudapat bukan pertolongan, melainkan lemparan handuk tepat di mukaku yang ganteng ini.

“MANDI SANA, KAMU! BURU! UDAH MAU BERANGKAT INI?”

“SIAP, MA! LAKSANAKAN!”

Ayo, kaki, buru ke kamar mandi. Banjur-banjur, muter-muter di tempat, guyur-guyur, sabunan, sampoan, sikat gigi.

Cepat, ayo cepat, Raynard. Anggap aja kamu Flash. Cepatttt!

Terdengar suara dari luar.

“UDAH KELAR BELON MANDINYA?”

“IYA, BENTAR, MAA!”

Larilah aku keatas mengambil baju seragam putih biru itu. Tanganku bergerak dengan lihai. Kancing mulai terpasang, ikat pinggang terpakai, kaus kaki sudah di kaki. Tangan kananku bergerak ke arah rambut, menyisirnya sedemikian rupa. Yang penting kelihatan bagus. Rapi.

Oh, tidak lupa, dasiku. Jangan lupa, entar kena minus poin.

“RAYNARD, AYOO!”

“IYA, MAAA!”

Ucapku sambil turun tangga ke bawah mengambil tas, lalu berkata kepada poto pigura di pojok ruangan. Aku membungkukkan badan dan kepalaku ke bawah, “Raynard pergi sekolah dulu, ya, Pah. Doakan Raynard selalu. Dadah, Papah!” Tanganku melambai ke arahnya dan berjalan ke luar rumah, kumasukkan kakiku ke sepatu, memakai tas di punggung, lalu meloncat menaiki motor Mama.

Mama kalau bawa motor kencang banget, tapi yang penting kita berdua sampai dengan selamat, emang emak-emak gitu. 

Tidak terasa, sudah sampai di sekolah. Banyak anak-anak yang lagi cipika-cipiki sama orang tuanya. Aku pun turun dari motor dan memeluk Mamaku yang masih tiap hari membenarkan dasiku dan menyisir rambutku agar lebih rapi.

Lalu, ia memegang pundakku dan berkata, “Sekolah yang benar, ya, Nak.”

“Siap, Ma. Dadah, hati-hati, Ma!” teriakku kepada Mama yang motornya makin kecil kelihatannya.

Fyuhh, kembali lagi ke sekolah, deh. Senin seperti biasanya. 

Ku berjalan menuju ke kelasku di lantai 3. Membuka pintu, lalu masuk dan duduk di mejaku di baris pertama, persis di depan meja guru.

“Wih, tumben, Pak Ketu agak kesiangan, nih.”

“Haha.. kesiangan juga belon telat ini.”

“Tetep aja tumben. Biasanya dari kelas dikunci, udah siap depan pintu.”

“Haha, iya, nih. Tadi bangunnya telat, ahahah,” jawabku. “Lagipula, tumben lu udah di sini aja? Biasanya harus manjat-manjat dulu, Do.”

Aldo, temanku sang seksi olahraga, bilang, “Iya, nih. Tadi Bapak mau berangkat pagian, ke kantor. Hari pertama dia, jadi harus pasang muka dulu.”

“Oh, gituu... Emang kalau hari pertama harus apa itu, ya, namanya... fers- apasih?”

“First impression.”

“Iya, itulah.”

“Makanya belajar tuh yang bener,” kata Siska, cewek paling pintar tapi paling galak di satu sekolah, atau dunia kali. Dia wakil ketua, lagipula, jadi ya… dinamikanya gitu.

Lonceng sekolah pun berbunyi. Semua murid kembali ke tempat duduknya masing-masing. Terdengar suara langkah sepatu hak atau sepatu apalah itu, ada haknya pokoknya, yang terdengar makin dekat setiap detiknya hingga ia sampai di depan pintu. Ia membuka pintu kelasku dan mengambil satu langkah ke depan.

Kumundurkan kursiku, bergerak berdiri, dengan suara lantang, berseru, “Bersiap!” Semua murid berdiri. Langkah hak tersebut bergerak ke tengah kelas, badannya menghadap ke arah kita semua.

“Memberi salam,” lanjutku sambil membungkukkan kepala, dan serentak semua mengucapkan, “Selamat pagi, Bu Guru.” Yang langsung dibalas dengan “Selamat pagi, semua,” kata Bu Tika.

Pelajaran pertama di Senin yang awal ini adalah matematika... Kelas berlangsung seperti biasa, seperti ya.. yang biasa. Ada tugas, tanya jawab, mengerjakan soal di depan, begitu lah pokoknya. Begitu terus, rutinitas yang sama hingga ke pelajaran sebelum istirahat di hari ini.

Karena yang enak dari sekolah hanyalah istirahat.

Dan sekarang waktunya istirahat.

YEYYYY!

Murid-murid langsung pada keluar ke kantin, melainkan aku tidak. Ada suara tarikan bangku di sebelahku, Aldo. Yang tumben-tumbennya juga keluarin bekal. Kita berdua makan dari bekal buatan orang tua kita. 

“Do?”

“Iya? Kenapa?”

“Jadi ayahmu dah dapet kerja?”

“Iya, kemarin Jumat baru dapet suratnya. Gajinya gak gede-gede banget sih, tapi Bapak dah bersyukur banget.”

Lalu ada suara cewek nyeletuk.

“Terus itu bekal bapakmu yang buat, Do?”

“Iya, Bapak yang buat. Katanya mau mulai hari baru dengan rutinitas baru.”

“Ohhh...”

Kita bertiga makan bekal masing-masing sambil bicara tentang kehidupan. Contohnya ini, Siska nyeletuk lagi.

“Ibumu masih kerja di puskesmas, Ray?”

“Iya, masih. Mama udah kerja di situ dah, hmm... 8 tahunan kali, ya. Kurang tahu juga sih, tapi udah lama lah…. Kata Mama sih gajinya oke, kerjanya ya berat, cuman oke aja. Cuman mungkin minusnya jauh banget dari rumahhhh... Makanya aku kena imbasnya. Biasanya dateng pagi buta ke sekolah...”

“Oh, gituu. Dia gak ada niatan pindah ke yang lebih dekat, Ray?”

“Gak ada sih. Dulu dah pernah gw tanya, gak mau pindah ke yang lebih dekat? Terus kata Mama, bakal susah... buat nyari kerjanya.”

“Iya, susah. Bapakku aja baru kerja lagi setelah 5 tahun nganggur. Kata Bapak, sekarang nyari kerja susah. Makanya dia bilang suruh aku sekolah yang pinter.”

“Tapi emang sulit sih sekarang, Do. Abangku kan baru lulus kuliah... Masa pas lamar kerja, maunya perusahaan yang pengalamannya udah senior, eh gajinya minim. Ditolak mulu dia, katanya gak ada pengalaman.”

“Lah, tapi kan Sis, abangmu lulusnya apa cum laude? IPK nya tinggi kan? Lagi pula kerja untuk nyari pengalaman, bukan sih?”

“Iya, cum laude.  Tapi kata abang, sistemnya sekarang gitu. Kerja sekarang udah harus pengalaman. Makanya aku terima kan sekarang jadi wakil ketua kelas, siapa tahu bisa membantu di kemudian hari.”

“Ehh, sulit amat...”

Lalu, topik bicara pun ganti ke PR, ke game atau tontonan kita bertiga. Dan tanpa disadari, lonceng sekolah kembali berbunyi menandakan jam istirahat selesai. Semua kembali ke mejanya dan melanjutkan pelajaran-pelajaran yang entah apa gunanya di masa depan.

“Anak-anak, kalian sekarang kelas 3 SMP. Nah coba, untuk kelas hari ini, Bapak kasih satu tugas saja. Coba tulis di buku catatan masing-masing, nanti kalau besar mau jadi apa?”

Kuambil pulpenku, menggoyang-goyangkannya, menatap catatanku, dan mulai menulis, “Nanti jika aku besar mau jadi...”

Ku terdiam. Jadi apa? Jadi orang pintar? Jadi orang yang sukses?

“Jangan cuma tulis jadi orang sukses, ya, anak-anak. Harus detail. Coba bikin rentetan tujuan dan langkah-langkahnya, atau kalian juga bisa tulis mau jadi apa. Bentuknya konkret, ya.”

Konkret... cita-cita. Apalah ini. 

Pikiranku kembali ke kata-kata Aldo sama Siska tadi. Bahkan Mamaku juga ngomong begitu.

“Sekolah yang benar, sekolah yang rajin, sekolah yang pintar.”

Benar apanya? Rajinnya harus gimana? Pintar apanya?

Buktinya, abang Siska pintar banget. Cum laude, IPK-nya tinggi, tapi kerjanya susah.

Papanya Aldo juga dulu orang pintar. Namun, setelah kena PHK, malah nganggur bertahun-tahun.

Dan Mama juga begitu. Kata Mama, dia cuma punya ijazah SMK. Sudah bagus ada yang mau menerima dia, walau cuma bagian resepsionis.

Nah, kalau begitu, apa gunanya sekolah, dong?

Apa gunanya pendidikan tinggi-tinggi kalau tidak bisa menjamin kehidupan?

Nanti, kalau aku sudah besar, tentu mau jadi orang sukses. Tapi apa batas orang dikatakan sebagai orang sukses? Apakah Mamaku bisa dikatakan sebagai orang sukses, walau gajinya standar dan jabatannya gak naik-naik? Walau kerjanya udah lama banget dan udah niat banget. Jauh, loh, tiap harinya. Rela pergi subuh, pulang malam.

Atau kayak Bapaknya Aldo. Orang sukses dulunya, lalu kena musibah, dan sekarang sukses? Dapet kerja baru lagi.

Atau kayak abangnya Siska. Sukses dia di pendidikan, sering ikut lomba, menang pula, mau itu internasional atau nasional. Pernah diundang ke mana-mana, tapi apa... jadinya? Kata Siska aja dia gak dapet kerja-kerja.

Apa sukses di pendidikan menjamin kita sukses di pekerjaan, di kehidupan?

Kenapa jawaban atau nasihat orang-orang selalu, “Ya, makanya sekolah yang bener. Sekolah yang rajin, sekolah ini, itu.”

Kalau sekolah aja tidak bisa membantu di kemudian hari...

Lalu apa fungsi sekolah? Mengisi waktu saja, membuang duit untuk bersekolah? Kenapa anak-anak tak diajarkan materi yang akan berguna? Gak tau itu apa, tapi kan mungkin bisa dibuat sesuai dengan kebutuhan?

Aku mengambil pulpen-ku kembali, menghadapkannya di atas lembar catatan. Mataku masih tertuju pada tulisan, “Nanti kalau aku sudah besar, aku mau menjadi orang yang...” bisa membuktikan bahwa aku bisa jadi sukses.

Sekarang aku ketua kelas, waktuku masih panjang, aku masih bisa belajar, berubah.

Jadi, kutorehkanlah semua pemikiranku di catatan ini. Aku memberi bukti keluargaku saja, tentang Mamaku dan Papaku. Semua sudah bekerja dengan pendidikan yang sudah mereka lalui. Mungkin pinteran Papaku dibanding Mamaku. Tapi Papaku malah pergi meninggalkanku dulu. Apa itu artinya dia tidak sukses? Karena kalau dia sukses, artinya di-

Kucoret bagian itu, dan kuganti kata-katanya, bahwa aku masih mau percaya bahwa pendidikan dan sekolah itu penting. Mungkin itu sebabnya Mamaku gak bisa dapat jabatan tinggi karena dia cuma lulusan SMK. Tapi kalau gitu, kenapa abangnya Siska belum dapat kerja juga?

Kata dia, memang sistemnya gitu. Berarti mungkin harus lebih butuh banyak perjuangan kali, ya? Kayak pengorbanan. Mamaku harus bangun subuh-subuh, Bapaknya Aldo harus kena musibah dulu. Mungkin itu kali, ya.

Aku terdiam sejenak.

Mungkin untuk sukses memang harus berjuang.

Jadi, aku tulislah aku ingin menjadi orang yang seperti itu. Alangkah bagusnya jika aku bisa merasakan semuanya, ikut lomba, menang atau kalah, ikut organisasi. Pintar atau bodoh gak masalah. Karena yang dibutuhkan kan perjuangan ama pengalaman, kan?

Semua itu pengalaman, kan?

“Oke, waktunya lima menit lagi, ya, anak-anak. Kalau ada yang sudah, boleh dikumpulkan ke depan.”

Kulihat banyak yang udah jalan ke depan. Apakah mereka semua sudah kelar menulis cita-citanya?

“Bingung, kah, lu, Ray?”

“Iya, nih, Sis. Bingung. Tapi mo gimana, harus tetep ditulis, kan?”

“Sama, gw juga tadi muter-muter nulisnya. Semoga aja dapet nilai yang oke.”

“Yang penting mah gak remedial aja sih, gw mah. Kalo remed, ntar gw gak jadi orang pintar dong.”

“Tugas gini ada skornya juga, kah? Gak sulit tuh nilainya?”

“Iya, yah, nilainya gimana tuh, lah.”

“Bukan urusan kita sih. Guru lebih pinter dari kita, makanya dia guru, kita murid.”

Kukumpulkan catatanku, lalu melihat guruku duduk dan bertanya, “Sudah semua?”

“Sudah, Pak.”

“Kalau begitu, bebas dulu kalian. Bapak mau baca coretan-coretan kalian.”

Jadilah para murid, kami bebas ria, berkumpul bersama teman-temannya, saling menanyakan apa isi coretan masing-masing. Tapi semua dari yang kutanya atau kudengar tidak ada yang punya jawaban yang konkret. 

Ada beberapa yang bilang dirinya mau jadi polisi, tapi hanya tahu harus ikut akademi sendiri, sedangkan olahraga untuk menjaga tubuh saja dia malas.

Ada yang mau jadi dokter, tapi sekolah dokter lama, takut gagal.

Ada yang mau jadi guru, tapi gajinya kecil, gimana mau hidup...

Akhirnya, pada nulis mau jadi karyawan dengan gaji stabil. Atau jadi orang biasa aja tapi punya duit, entah gimana caranya. Ada yang mau membanggakan orang tua, mau menaikkan derajat orang tua, dan yang mengatakan mau sekolah lagi.

Karena dengan sekolah lagi yang dipikirkan hanya nilai dan nilai. Ada rutinitas, ada aturan. Kalau salah, remedial. Kalau kurang, minus poin.

Beda sama kehidupan setelah lulus. Beda sama abangnya Siska, bapaknya Aldo, sama Mamaku sekarang. Mereka harus menjalani kehidupannya sendiri, mencari langkahnya sendiri.

“Ehem, oke, duduk, anak-anak. Bapak sudah baca semuanya, dan jawabannya oke lah. Ini bapak bagikan ya satu-satu.”

Kubuka punyaku dan terlihat di pojok kanan atas dengan pulpen merah, 80. Masih A sih, gak papa. Lalu ada catatan kecil di belakangnya, “Semoga kamu bisa memenuhi cita-citamu ya, Raynard. Bapak doakan kamu bisa jadi orang sukses.”

Sukses..?

“Kalau sudah semua, sudah cukup kelas hari ini, ya.”

Ku berdiri sambil mengucap salam, “Bersiap!” “Memberi salam”, membungkukkan badan, “Terima kasih, Bapak Guru.”

Namun, pikiranku masih ke kata sukses... sukses... Katanya tadi tidak boleh nulis jadi orang sukses, disuruh berpikir konkret, lalu diberi nilai 80 dan, “Semoga cita-citamu tercapai, semoga jadi orang sukses...”

Siska bertanya, “Dapet berapa lu, Ray?”

“80, lu?”

“80 juga.”

“Aldo, lu berapa?”

“80 juga.”

“Yang lain?”

“80.”

“Sama semua ini ya, berarti...”

“Jirr, cita-cita kita cuman 80 semua. Masih masuk kategori A sih, cuman kek... apa kali... malah catatannya semua semoga kamu jadi orang sukses.”

“Jadi sukses itu apa?”

“Coba lu tanya deh ke Pak Guru, apa maksudnya?”

“Lu mo nilai kita dikurangin?”

“Ya nggak, nanya aja. Kenapa 80, terus kenapa jadi orang sukses?”

Tapi sebelum aku bisa bertanya, guru mata pelajaran selanjutnya sudah datang. Dimulai lagi rutinitas memberi salam, dan ini guru sosiologi.

“Oh, muka kalian kayak kebingungan. Ada apa? Abis pelajaran Pak Doli?”

...

“Tentang cita-cita, ya? 80 semua kah nilainya?”

“Iya, Bu. Kok Ibu tahu?”

“Pak Doli selalu gitu, 80 semua, dan ditambah harapannya semoga kalian semua bisa sukses, bukan?”

“Iya, Bu.”

“Kalian mau nanya kenapa itu 80 dan kenapa gitu?”

“Iya, Bu.”

“Kalau nanya, nanti nilai kalian dikurangi gimana? 80 gitu-gitu kan masih A.”

“Gak mau dikurangi sih, Bu. Ntar kalau gak A, rata-rata saya jelek dong, Bu. Penasaran aja sih, Bu, sebenarnya.”

“Hm... mungkin alasannya kenapa kalian dikasih 80 dan A karena walau kalian bingung, kalian masih dikasih A, toh. Masih bisa melanjutkan rekor nilai bagus.”

“Terus suksesnya, Bu? Tadi katanya gak boleh nulis sukses aja, tapi malah didoain jadi orang sukses.”

“Nah, yang itu, carilah sendiri. Apa pun itu, akan beda-beda buat kalian. Dah-dah, jangan dipikirin. Ntar aja itu. Sekarang, bukalah buku cetak halaman 113.”

Semua murid lanjut membuka buku cetak dan belajar. Pertanyaan dan rasa penasaran itu semua dilupakan.


KRINGGGG - drrr - KRINGGG - drrr - KRINGGG

Suara dering alarm itu berbunyi lagi. Aku menghembuskan napasku sekali lagi, memaksa otot mataku untuk membuka. Seperti yang kulakukan sejak dulu. Rutinitas.

Umurku sekarang 23 tahun, aku sudah lulus kuliah. Sudah dapat kerja juga. Tidak besar gajinya, cuman dekat rumah. Mamaku sudah pensiun.

KRINGGGG - drrr - KRINGGG - drrr - KRINGGG

“IyaaAA sabarrrr” “Mana sih HP-nya”

Kumatikan alarmnya, lalu kulihat jam. 6.30. Masih pagi, masuk kerjanya kan jam 08.30. Ku berjalan ke bawah, melihat ada bekalku yang sudah siap, dan sosok mamaku yang menyapu di depan rumah.

Ku kembali ke rutinitas, mandi yang bersih, tidak guyur-guyur sembarangan, sabun setiap titik. Lalu, kembali ke atas, ke kamar, berganti baju seragam. Seragam kantor, tidak ada dasi seperti zaman sekolah, adanya lanyard kantor. Tapi sisanya kurang lebih sama.

Sudah beres, ku jalan ke bawah, ke pojok ruangan.

“Pah, Raynard pergi kerja dulu ya, Pah. Tolong doakan semoga hari ini Raynard bisa kerja dengan baik, semoga Raynard jadi orang sukses ya, Pah.”

Kuambil tas dan memasukkan kakiku ke sepatu, minta salam kepada Mama, yang berkata, “Kerjanya yang bener ya, Nak.”

“Iya, Bu. Raynard pergi dulu ya, Bu.”

Lalu berangkatlah aku naik motor. Sesampainya di kantor, ada dua suara familiar.

“Wih, Pak Ketu datangnya bisa pagi lagi.”

“Diem kau, Do.”

“Mending kepagian, daripada telat, ntar potong gaji.”

“Nah tuh, Siska tahu.”

Masuklah kami ke ruangan kerja, memberi salam ke semua karyawan di sana, dan bekerja saat kulihat jam sudah 08.30. Terdengarlah suara ketikan pada keyboard atau suara telepon. Hingga jam menunjukkan jam 12.00. Jam istirahat. Jam yang paling disukai karyawan. Dan kita bertiga masih membawa bekal masing-masing.

“Mata gw pegel liatin tabel-tabel.”

“Sama nih, banyak banget, yaoloh.”

“Aku kemarin dapet tawaran beasiswa S2.”

“Terus kamu ambil, Sis?”

“Nah, itu aku bingung sih sebenarnya, Do.”

“Takut gak bisa dapet kerja ya nanti.”

“Nah, itu bener tuh, Ray. Kata abangku, kalau mau sekolah lagi, gak apa-apa, tapi harus terima realita bahwa di Indonesia susah. S1 aja susah, apalagi S2.”

“Haha, iya, karena cita-cita kita hanya nilai 80, ya, dan gurunya aja suruh kita nyari itu sukses, ya.”

“Apakah kita dah sukses sekarang?”

“Belon.”

“Aku juga ngerasa gitu.”

“Tapi sampai kapan?”

“Sampai kita sukseslah.”

“Apapun itu kan katanya beda-beda.”

“Sukses kah? Kalau tahu begitu, mending dulu gak usah sekolah, terus bimbel.”

“Yakan, mending langsung kerja, biar banyak pengalaman, ahaha.”

“Sulit kali ya.”

“Tapi lu nyesel gak sekolah dulu, Sis? Do?”

“Nyesel gak nyesel sih, Ray.”

“Haha, sama kalau gitu.”

Jam di HP sudah jam 13.00. Waktunya kembali kerja. Mengejar kesuksesan.


Jadi sukses itu apa?

Coba cari sendiri ya, kalau udah dapet, boleh lah bagi-bagi.


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: