Menghanyutkan Serpihan Ingatan
Bab 2 dari 4
Mengalir dalam sunyi
Bagi keira, hidup adalah sebuah sungai panjang, dan dirinya hanyalah selembar daun kering yang pasrah dibawa arus. Dia tidak pernah memilih ke mana harus melangkah, tidak memiliki ambisi, dan tidak tahu akan menjadi apa dirinya di masa depan. Kepasrahan itu bukan bawaan lahir. Itu adalah pelindung yang dia ciptakan setelah dunia yang dia kenal runtuh berulang kali.Semua bermula saat dia berusia tujuh tahun. Adik kecilnya yang baru berusia beberapa minggu meninggal dunia. Rumah mereka di kota seketika berubah menjadi pusaran duka. Ibu mengalami depresi berat, dan Keira dievakuasi oleh Nenek ke desa. Selama tiga hari tiga malam, Keira kecil menangis histeris merindukan rumahnya. Ayahnya sempat menjenguk, namun alih-alih membawanya pulang, Ayah hanya menatapnya dingin dan membiarkannya bersekolah dasar di desa Nenek. Di sana, Keira belajar satu hal: menangis tidak akan mengubah takdir.Namun, arus hidup kembali berubah saat Keira menginjak kelas 1 SMP.Ayah tiba-tiba datang menjemputnya untuk kembali ke kota. Keira mengira dia akan mendapatkan kembali kehangatan keluarga yang hilang. Nyatanya, rumah besar di kota itu terasa lebih dingin dari kuburan. Ayah memperlakukannya seperti orang asing yang menumpang hidup. Tidak ada pelukan, tidak ada tanya tentang bagaimana harinya di sekolah.Puncaknya terjadi pada suatu sore di tahun pertama SMP. Jarak dari sekolah baru keira ke rumah sangat jauh, dan sialnya, tidak ada angkutan umum yang melewati jalur tersebut.Keira terpaksa berjalan kaki berkilo-kilometer di bawah terik matahari, membuatnya terlambat tiba di rumah selama satu jam.Bukannya disambut dengan kekhawatiran, kepulangan Keira justru disambut amarah yang meledak. Ayah tidak mau mendengar alasan tentang jarak atau tidak adanya angkutan umum. Bagi Ayah, terlambat adalah kesalahan mutlak. Sore itu, untuk pertama kalinya, Keira merasakan hantaman fisik. Dia dipukul, dimarahi habis-habisan atas kesalahan yang bukan kehendaknya.Sejak hari itu, Keira mengurung diri di kamar. Rasa hangat yang tersisa di hatinya mati total. Ketakutan akan dipukul lagi membuatnya memberanikan diri meminta satu hal kepada Ayahnya: minta diantar dan dijemput sekolah setiap hari. Bukan karena dia manja, tapi karena itu satu-satunya cara agar dia bisa tiba di rumah tepat waktu dan menghindari amarah Ayah. Hubungan mereka berjalan mekanis dan beku hingga Keira lulus SMP.Begitu lulus, Keira memilih jalannya sendiri atau lebih tepatnya, membiarkan dirinya dihanyutkan kembali ke tempat yang jauh dari Ayah. Dia memutuskan masuk ke sebuah pesantren yang terletak di desa Neneknya.Kini, di lingkungan pesantren yang ramai dengan lantunan ayat dan obrolan para santri, Keira tetap menjadi sebuah pulau yang terisolasi. Dia tumbuh menjadi remaja yang teramat sunyi. Dia hampir tidak pernah memulai percakapan. Jika sang guru atau ustadzah tidak memanggil namanya, Keira hanya akan duduk menyendiri di sudut koridor, menatap langit, atau menatap halaman kitabnya dengan pandangan kosong.Dia menjalani rutinitas harian di pesantren tanpa gairah. Mengikuti salat berjamaah, mengaji, dan membersihkan kompleks pesantren, semuanya dilakukan seperti robot yang patuh. Sebagian memori masa kecilnya tentang wajah ibunya yang tersenyum atau hari-hari sebelum adiknya meninggal bahkan sudah terkikis habis, terhapus oleh trauma masa SMP nya di kota.keira hanya menjalani kehidupannya hari demi hari, mengalir begitu saja, tanpa pernah tahu akan menjadi seperti apa masa depannya kelak. Baginya, masa depan adalah kabut tebal yang tidak perlu dia tebak arahnya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya