Perfect Holidays

Bab 2 dari 10

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Bayang-Bayang Masa Lalu


Suasana di sekitar mereka terasa aneh saat Kiyonna dan Ethan kini memutuskan untuk berpindah dari resort dan duduk di tepi pantai, dengan maksud agar dapat berbincang dengan lebih santai sambil menikmati pemandangan.


Malam semakin larut, dan cahaya bulan memantul lembut di permukaan air.


Angin malam menyapu lembut, namun dingin yang merambat di antara mereka bukan berasal dari udara malam, melainkan dari bayang-bayang masa lalu yang tiba-tiba muncul kembali.


Ethan menatap lautan, seperti sedang menghindari tatapan Kiyonna.


Hening sejenak sebelum dia akhirnya bicara dengan suaranya yang tenang, namun tersirat nada pahit yang terselip di sana.


"Aku ingat bagaimana kamu pergi dulu," ujarnya. "Tanpa sepatah kata pun, kamu memutuskan semuanya begitu saja. Setelah bertahun-tahun bersama, kamu pergi dan menghilang. Dan aku pun tidak pernah tahu alasannya."


Kiyonna terdiam. Kenangan itu seolah kembali menghantamnya. Masa-masa di mana dia dan Ethan bersama, dan bagaimana dia tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkan segalanya.


Saat itu Kiyonna merasa keputusannya sudah benar, sebuah pilihan yang dia buat demi kebaikan mereka berdua.


Namun kini setelah mendengar Ethan mengungkit kembali masa lalu, perasaan bersalah yang selama ini dia coba kubur pun mulai muncul kembali.


"Aku benar-benar patah hati setelah kamu pergi, Kiyonna," lanjut Ethan dengan suaranya yang lebih berat. "Aku sudah mencoba untuk melupakanmu, tapi ternyata itu tidak mudah. Butuh waktu yang lumayan lama untuk bisa bangkit, untuk tidak memikirkanmu setiap hari lagi dan lagi."


Kiyonna menghela napas panjang dengan tenggorokan yang terasa seperti tercekik. Ia tidak pernah membayangkan bahwa keputusannya dulu akan melukai Ethan sedemikian dalam.


"Ethan, aku… aku minta maaf," katanya dengan suara pelan. "Aku tahu aku salah. Waktu itu, aku pikir pergi adalah yang terbaik, tapi sekarang aku sadar betapa egoisnya aku. Aku tidak seharusnya meninggalkanmu tanpa penjelasan."


Ethan berbalik menatapnya dengan kilau biru maniknya yang tajam, namun ada kilatan emosi yang sulit diartikan di sana.


"Kamu benar, itu memang sangat egois. Tapi kamu sudah membuat keputusanmu, dan aku tidak punya pilihan selain menerima." Ethan terdiam sejenak, sebelum kemudian menyungginkan senyum tipis.


"Tapi kalau kamu memang benar-benar ingin aku memaafkanmu, ada syaratnya."


Kiyonna menatapnya dengan alis melengkung indahnya yang terangkat. "Syarat? Apa syaratnya?"


Ethan mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Kiyonna, dan dengan suara pelan namun jelas, dia berkata, "Syaratnya, kamu harus menjadi istriku."


Jantung Kiyonna pun sontak berdegup kencang. Lalu selama beberapa detik dia pun tidak tahu harus berkata apa. Wajah Ethan terlihat serius, dan Kiyonna tidak bisa membaca ekspresinya.


Wanita itu hanya terdiam, kata-kata yang ingin diucapkannya seakan tersangkut di tenggorokan.


Namun beberapa saat kemudian Ethan tertawa kecil, dan Kiyonna pun menyadari bahwa pria itu ternyata tidak serius dengan ucapannya.


"Tenang saja, aku hanya bercanda," ucap Ethan seraya tertawa lepas.


Kiyonna pun menghela napas lega meski jantungnya masih berdebar cepat. "Ck, Ethan! Kamu benar-bensr membuatku terkejut!" serunya antara sebal dan malu, karena sempat mengira pria itu berkata serius.


“Hei, aku memang masih sedikit kesal padamu,” tegur Ethan sambil tersenyum. "Tapi aku juga sudah belajar untuk memaafkan. Lagipula, kita sudah dewasa sekarang."


Kiyonna tersenyum. Merasa lega bahwa meskipun bayang-bayang masa lalu sempat menghantui mereka, setidaknya mereka bisa melanjutkan percakapan dengan lebih ringan.


Namun jauh di dalam hatinya, sesungguhnya dia pun tahu bahwa cerita mereka memang belum selesai.


Ataukah... Hanya dirinya yang beranggapan begitu??


'Jangan terlalu terbawa, Kiyonna! Ingatlah pada pengalaman hidupmu bersama Michael. Cinta tak cocok untukmu!' batin Kiyonna pun mulai memberikan peringatan kepada diri sendiri.


Ya, sejak perceraiannya dengan Michael, Kiyonna mungkin sudah lelah fisik dan jiwa. Pria yang ia kira akan menjadi pasangan sejati hingga seumur hidupnya ternyata tidak sesuai dengan harapan.


“By the way, apa kabarmu, Kiyonna?” Kembali suara maskulin Ethan pun terdengar, membuyarkan lamunan wanita itu dan menghadapkannya kembali kepada realita.


“Aku hanya mendengar berita kalau kamu pindah ke Kanada dan telah menikah di sana. Tapi…"


Manik biru Ethan seketika tertuju kepada jari manis Kiyonna, menatap bayangan bekas cincin di sana dengan sorot penuh arti. “Apa hidup sedang terasa sulit akhir-akhir ini?” Tebaknya dengan suara pelan dan dalam, seolah mampu menyentuh relung hati terdalam Kiyonna.


Wanita itu pun buru-buru menarik tangan kanannya dan menutupinya dengan jari tangan kiri. Ah, rasanya memalukan sekali, ketika mantan yang kamu tinggalkan malah mengetahui kondisimu yang sedang terpuruk.


Kiyonna tercekat dan memekik pelan, ketika tiba-tiba saja tangan Ethan menarik tangan kanan yang Kiyonna tutupi. Dengan santainya, Ethan mencengkram dan mengamati jari manis Kiyonna yang polos.


“Hm… kamu tidak mengenakan cincin,” gumamnya pelan dengan senyum samar penuh arti.


Kiyonna menarik kembali tangannya sambil melemparkan tatapan galak kepada pria itu. “Bukan urusanmu, Ethan! Dan tolong yang sopan sedikit, jangan suka menyentuh sembarangan karena~~”


Perkataan Kiyonna sontak terpotong karena sesuatu yang tak terduga telah terjadi, yang membuat wanita itu diam terpaku dengan manik membelalak lebar.


Ya Tuhan, apa ini benar-benar terjadi??


Kiyonna rasanya masih tak percaya, ketika tiba-tiba saja serta tanpa permisi Ethan telah menarik tengkuknya, lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir Kiyonna, dan memagutnya dengan keras tanpa ragu.


Ciuman itu hanya berlangsung selama beberapa detik, begitu cepat berlalu hingga Kiyonna bahkan tidak benar-benar yakin itu telah terjadi. Mungkin ia hanya berimajinasi, karena emosinya yang tidak stabil pasca bercerai dan bertemu lagi dengan mantan yang…


“Bibirmu ternyata masih sama manisnya seperti dulu,” guman Ethan seraya menyeringai dan menjilat bibirnya sendiri.


Sial. Ternyata Kiyonna sama sekali tidak berimajinasi!!


Wanita itu terlihat marah. Kiyonna bermaksud untuk menampar Ethan yang menurutnya telah bersikap sangat kurang ajar dan tidak menghargainya, namun pria itu dengan mudahnya menangkap pergelangan tangannya.


“Kenapa kamu marah?” Tanya Ethan dengan wajah seolah tak berdosa. “Yang aku lakukan tadi tidak ada seujung kuku dari perbuatanmu di masa lalu, Kiyonna. Aku hanya mencium bibirmu, tapi kamu? Menghancurkan hatiku. Jadi anggap saja yang tadi itu adalah sebuah penebusan.”


Ethan bangkit dari atas pasir dan berjalan kembali ke dalam resort, meninggalkan Kiyonna begitu saja yang masih terdiam dengan wajah keruh.


“Dasar gila…” desisnya dengan tatapan nyalang yang tertuju kepada punggung lebar pria itu yang bergerak semakin menjauh.


Bukankah tadi dia bilang sudah memaafkan?! Lalu kenapa perlu penebusan segala?!


Kiyonna pun kembali teringat pada masa pacaran dengan Ethan, dan seketika Kiyonna baru tersadar. Benar juga.


Ia ingat jika di balik sifat menyenangkan, wajah yang tampan dan otak pintar Ethan yang dulu membuat Kiyonna jatuh cinta, ad

a juga beberapa sifat Ethan yang kurang ia suka.


Yaitu posesif, clingy, dan… PENDENDAM.


***




Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab